
Pagi hari ini Nia bangun lebih awal. Itu dikarenakan rutinitas dia di hari pasaran yaitu membantu ibunya untuk berjualan. Pagi-pagi dia sudah mengantar minuman ke pelanggan yang berjualan di pasar. Setelah itu ia pun bersiap-siap mandi lalu berangkat sekolah. Kemarin sepulang sekolah ia telah berjanji dengan teman-temannya untuk berangkat sekolah bersama. Kebetulan angkot langganan mereka sedang tak bisa mengantar. Alhasil mereka pun memutuskan untuk berkumpul di rumah Dhiki untuk kemudian menyetop angkot bersama.
Selesai mandi, bersiap dan sarapan, Nia lalu menuju ke rumah Dhiki. Sampai di rumah Dhiki sudah ada Winda dan Ogi.
“Eh, Nia sudah dateng tuh, tinggal grub Wetan nih yang belum nyampe.”, ucap Ogi ke Winda dan Dhiki.
“Bentar lagi paling. Nah, itu mereka sudah nongol. Yaudah yuk nunggu angkot!”, sahut Winda dan segera ke pinggir jalan untuk menyetop angkot.
Selang sepuluh menit mereka menunggu akhirnya ada angkot juga. Tapi kali ini naik angkot pick up. Tau kan mobil pick up? (Tapi mobilnya yang ada tutup sama tempat duduknya ya. Naiknya dari belakang ini ilustrasinya, tapi belakangnya dibuka ya bukan ditutup)
Nah dengan senang hati mereka menaiki mobil itu.
“Eh eh, tunggu deh, ini kayaknya gak muat kalau kita naik semua. Ada sayurannya tuh, gimana?”, Abi menyela teman-temannya karena memang tidak muat, apalagi tempat duduk tinggal 4 anak lagi yang bisa duduk.
“Udah gapapa, Bi! Keburu telat entar kita dihukum lagi kalau telat, yuk naik aja! Tenang aku tak gandhul wis! (gandhul \= gandul /gelantungan)”, kata Nia.
Kaya gini teman
“Eh, Nia serius mau gandhul? Kaga takut jatuh?” Sahut teman-teman Nia.
“Udah santai, biasa juga gandhulan begitu, yuk lah naik, jangan kelamaan ngobrol, makin siang nih!,” sahut Nia dengan santai mulai siap-siap pegangan dibesi atap mobil.
__ADS_1
Setelah dua puluh menit perjalanan mereka pun sampai di sekolah. Lalu mereka menuju ke kelas masing-masing. Nia, Dhiki, dan Leni di kelas 7A, Winda dan Ogi di kelas 7D, Ken dan Abi di kelas 7F.
Nia pov
Jam pertama hari ini adalah pelajaran olah raga. Jujur aku tuh paling nggak terlalu suka berolahraga, soalnya kemampuan non akademikku begitulah, intinya aku nggak jago olah raga. Pengen nggak ikut olah raga tapi bingung alasannya apa. Yah, dengan terpaksa mau nggak mau aku pun ikut pelajarannya.
“Ayo anak-anak cepetan baris, kita akan melakukan pemanasan terlebih dahulu!”, Pak Andi sudah memanggil kami dari halaman sekolah. Aku dan teman-teman segera menuju ke halaman sekolah untuk melakukan pemanasan.
Selesai pemanasan Pak Andi selaku guru olah raga memberitahu bahwa hari ini akan dilakukan pengenalan olah raga basket. Pertama - tama kami diajarin cara untuk mendribble bola yaitu memantul-mantulkan bola dengan tangan ke lantai.
Aku yang masih awam dengan basket agak kesusahan saat melakukannya karena teknik yang aku lakukan salah sehingga telapak tanganku terasa panas.
“Nia, jangan gitu mendribblenya, sakit pasti tuh tanganmu.”, kata Nur sambil mendekatiku.
“Gimana Nur? Susah banget tahu, dari tadi nggak bisa-bisa. Tanganku udah panas nih! Udeh berasa kaya abis nahan timpukan batu!”, jawabku sedikit bercanda.
“Yah kumat ceriwis nih bocah, gini loh caranya, dorong bolanya pake jari-jari tangan. Dorong ke bawah rada kenceng biar bolanya bisa mantul. Nih begini! Ayo cobain!”, jawab Nur sambil memperagakannya.
——~~~————-~~—
“Oke anak-anak, sudah bisa cara mendribble bola di tempat. Sekarang kalian belajar mendribble bola sambil lari dari ujung ring sebelah sini sampai ring sana ya! Baik ayo tiga-tiga gantian dari absen pertama!”, Pak Andi memberikan instruksi kepada kami.
Murid-murid pun satu persatu melakukan apa yang diperintahkan Pak Andi hingga tiba waktu giliranku. Nur yang absennya setelahku menyemangatiku. Aku pun dengan rileks mulai melangkah pelan hingga berlari sambil mendribble bola basket itu. Saat putaran ke dua dari arah ring ujung kembali ke ring di mana Nur menungguku, celana trainingku yang kepanjangan melorot keinjek kaki dan aku pun jatuh tersungkur. Nur dari kejauhan langsung lari menghampiriku.
“Nia, kamu nggak apa-apakan? Hmm... Ada yang lecet nggak?”, tanya Nur sambil menahan tawa.
“Udah kalau mau ketawa-ketawa aja Nur, noh kaya anak-anak yang lain ketawa ngakak sampai puas tuh!”, sahutku dengan sebal lalu beranjak untuk berdiri.
__ADS_1
“Ya ampun, sumpah malu bangett!!!! Sakit sih nggak pas jatuh, tapi malu bangett, untung celana nggak melorot banget, jadi nggak kelihatan, coba kalau pada tahu aku jatuh karen celanaku melorot keinjek kaki, aduh malu banget aku!”, batinku dengan sedikit menahan rasa jengkel karena ditertawakan oleh teman-teman.
Dan selama jam pelajaran olah raga sampai jam pelajaran terakhir, tregediku saat olah raga pun menjadi bahan candaan teman- teman sekelas.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Seperti biasa, Nia dan teman-temannya langsung menuju ke gerbang sekolah untuk segera menaiki angkot. Sembari menunggu angkot terisi penuh tanpa sengaja Nia teringat dengan teman masa kecilnya. Yah, kalian benar, sebelumnya kalian masih ingat kan tentang satu-satunya teman Nia yang sangat memahaminya? Ia adalah Avi, teman dekat satu-satunya Nia.
Avi adalah teman yang sangat memahami dan sangat mengerti mengenai kondisi Nia. Ia menjadi penyemangat serta tempat Nia untuk berkeluh kesah. Tapi itu dulu, saat Avi masih di sini. Sekarang sudah tidak lagi. Semenjak Avi pindah, mereka pun lost contact. Ingin menghubungi lewat surat, tapi tidak tahu alamatnya, bagaimanamau mengirimnya?
Telepon? nomornya saja juga tidak tahu. Jadi mau tidak mau Nia harus sabar menunggu hingga momen liburan sekolah. Biasanya Avi akan berkunjung ke rumah neneknya jika libur sekolah tiba. Meskipun sudah dua kali liburan ia tidak datang, mungkin sedang ada hal yang penting sehingga tidak bisa datang.
**TBC**
***Hai-hai aku dateng bawa chapter 4***.
***Jangan bosen-bosen ya buat mampir diceritaku yang abal-abal ini. Jangan lupa like dan vommentnya***.
***Kritik dan saran selalu aku tunggu***.
__ADS_1
***See you next chapter teman-teman***.
***Salam hangat dari Ms. Chocho***