Sekilas Aku

Sekilas Aku
Chapter 8


__ADS_3

Liburan semester telah tiba. Tak seperti teman-temannya yang liburan akan pergi jalan-jalan ataupun berlibur ke rumah nenek atau ke tempat saudara lain, Nia hanya akan menghabiskan waktunya di rumah untuk membantu ayah serta ibunya. Oh iya tak lupa ada dua kakak Nia juga yang siap membantu yaitu Mas Dwi dan Mas Dadit.


Mas Dwi kebetulan juga sedang libur karena ia sekarang duduk di kelas 3 SMK yang menandakan bahwa sebentar lagi ia akan lulus. Sedangkan Mas Dadit sudah bekerja sehingga ia jarang berada di rumah.


Saat ini kebetulan sawah sedang panen sayur. Sayur yang dipanen ada sawi, bayam, kacang panjang dan juga ada cabai. Pagi-pagi sekali Nia sudah berangkat ke sawah untuk memanen sayuran. Kenapa harus pagi? Karena agar nanti ketika dijual sayuran masih terlihat segar atau fresh dan tidak layu.


Nia pov


Pagi ini aku pergi ke sawah memanen sayur bersama dengan ibu atau aku biasa memanggil ibuku dengan sebutan Emak. Berbekal jarik (kain gendong), krasak (karung) dan juga tali bambu dan tambahan tali rafia kami pun berangkat menuju ke sawah kulon.


Sesampainya di sawah aku mulai mbubut (mencabut) bayam bubut yang siap panen, sedangkan Emak lebih memilih mengambil sawi. Setelah selesai di cabut lalu sayur diuntingi atau diikat dengan tali bambu dan tali rafia sesuai dengan takarannya. Selesai diikat sayur dicuci untuk menghilangkan tanah yang menempel disayuran ketika dipanen. Selesai sayuran dicuci lalu ditaruh di karung agar bisa dibawa pulang dengan mudah dan disetor ke pedagang sayuran yang telah memesan.


****~~~~****


Jam menunjukkan pukul 09.00 pagi. Setelah dari sawah tadi lalu aku pulang bersih-bersih diri kemudian membantu Emak memasak dan membersihkan rumah. Hari ini rencananya aku dan Mas Dwi akan membuat jemblem (misro) untuk cemilan pendamping teh hangat dipagi hari. Tadi setelah dari sawah Mas Dwi sudah mengambil singkong di kebun belakang rumah, jadi sekarang tinggal dikupas dan diparut.


Aku pun mengupas singkong, lalu dicuci setelah itu aku parut (serut). Mas Dwi tengah mengupas kelapa untuk dijadikan campuran jemblem alias misro. Selesai dikupas gantian mas Dwi yang memarut kelapa sedangkan aku menyiapkan gula merah yang akan digunakan sebagai isi.


Selesai singkong dan kelapa diparut lalu dicampur setelah itu dibikin bola-bola dan tengahnya diisi dengan gula merah tinggal di goreng. Saat tengah asik menggoreng misro, tiba-tiba terdengar suara tidak asing yang tengah mengobrol dengan Emak di ruang tamu. Masa sih suara dia?


“Niaaaa!!! Duh anteng banget sih, sampai aku ke sini aja nggak digubris sama sekali?”, kata Avi yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku yang tengah asik menggoreng.


“Eh, Avi??!!! Beneran kamu ya, aku kira tadi bukan, yaampun beneran deh aku nggak tau, habis kemarin kamu kan bilangnya belum tahu bisa ke sini apa nggak, eh taunya sudah di sini! Kapan sampai sini?”, sahutku yang sedikit terkejut, karena memang aku berfikir tadi cuman salah dengar.


“Aku udah sampai sini dari semalem hehe, sebenarnya waktu aku menghubungimu lewat pesan teks kemarin aku sedang diperjalanan ke sini, mau bikin kejutan buatmu hehehe... gimana kangen nggak sama aku? Apa udah dapet temen baru yang lebih dari aku?”, tanya Avi dengan sedikit candaannya.


“Oh, jadi kemarin sengaja gitu nggak mau ngasih tahu aku kalau lagi jalan ke sini! Ish jahat banget sih sama sahabat sendiri!”, sahutku sambil sedikit memanyunkan bibir.


“Tentu aku pasti kangen dong! Kamu nggak tahu apa aku tuh kesepian tahu nggak karena kamu nggak ada, aku nggak ada temen yang biasa aku ajak curhat. Tahu sendiri aku kan susah akrab sama orang! Eh sampai lupa, nih cicipin gorengannya. Untung udah mau kelar tinggal yang di penggorengan doang tinggal di angkat.”, lanjutku kemudian.


“Wah makasih loh Ni, aku terharu dikangenin. Ya, kamu masih seperti dulu ya, nggak berubah. Coba deh lebih buka diri buat temen-temen yang lain Nia, kan ada Ken, atau Dhila.”, balas Avi sambil memakan gorengan.


“Yaudah yuk ngobrol di depan, kebetulan udah selesai juga nih gorengnya!”, ajakku ke Avi.


Kami pun ke ruang depan tak lupa misro yang aku bikin aku bawa. Sampai di ruang depan kami memulai sesi curhat antar teman. Avi menceritakan kehidupan dia saat di kota, pun sebaliknya aku juga menceritakan hari-hariku di sini.

__ADS_1


“Nia, nanti main ke rumahku ya, sekalian ajak teman-teman yang lain. Sudah lama kan sejak terakhir kali kita kumpul? Aku di sini soalnya nggak lama cuman dua hari, besok juga sudah siap-siap balik ke Jakarta.”


“Yah, cepat amat, masa sudah mau balik sih Vi? Aku kan belum cerita banyak. Kamu tahu, sebentar lagi budhe ku, kakak ayahku yang itu akan balik ke sini, terus mau menetap dan tinggal di sini. Aku jadi tambah takut.” Aku akhirnya menceritakan ke Avi soal budhe Titin yang akan balik ke kampung. Bukannya aku nggak senang, tapi aku nggak tahu kenapa budhe selalu sinis setiap bertemu denganku. Kadang aku takut dengannya.


“Nggak papa Ni, kalau kamu merasa nggak nyaman bilang aja sama ibu atau ayahmu. Jangan takut. Nggak mungkin budhemu bakalan nyakitin kamu kan? Tapi kalau kejadian kaya dulu yaudah kamu ke rumah eyang uti ku aja, kamu tahu kan eyang sayang padamu juga. Pasti eyang bakal bantuin kamu. Nanti aku bilangin ke Eyang deh.” Avi pun memenangkanku dengan kata-katanya.


Mungkin bagi kalian aku terlalu penakut atau terkesan berlebihan. Tapi, saat mendengar kalau budhe Titin bakalan tinggal serumah dengan keluargaku aku menjadi tidak tenang. Selain ketidaksukaan beliau terhadapku ia juga sering memperlakukanku dengan kasar saat aku kecil dulu apalagi kalau aku sendirian di rumah. Aku nggak berani cerita ke ayah sama ibu, soalnya budhe selalu mengancam aku bakalan mukulin aku kalau sampai ngadu. Makanya aku nggak pernah cerita.


Nia pov end


****~~~~****


Author pov


“Hai, Avi!!! Wah lama nggak ketemu kamu makin tinggi ya? Ya ampun!!!,” Winda yang baru sampai di rumah Avi sudah berteriak heboh. Maklum saja, dulu Winda, Avi, Nia, Dhiki dan Ogi adalah teman sepermainan dari mereka kecil sampai sekolah pun mereka satu kelas. Winda memang heboh kalau ada Avi, soalnya Winda merasa kalah tinggi sama Avi. Apalagi sekarang Avi tambah tinggi aja.


“Hai Win! Duh kamu juga makin tinggi kok, tapi masih tetep tinggian aku, hahahaha!!”, sahut Avi dengan tawa senangnya berhasil membuat Winda kesal.


“Oke stop saling sapanya kaya baru kenal aja, sekarang kita udah ngumpul nih, pada mau ngapain nih?”, tanya Ogi yang sudah tak sabar untuk memulai kegiatan apa untuk reuni mereka yang sebentar.


Flashback on


Hari ini murid-murid kelas 5 sd mendapat tugas mandiri yaitu IPS. Mereka disuruh untuk membuat rangkuman buku mengenai sejarah di Indonesia menuju kemerdekaan.


Nia, Dhiki, Avi, Winda dan Ogi memutuskan untuk mengerjakan bersama. Karena selain tugas IPS mereka juga memiliki tugas matematika.


“Eh Gi! Vi! Dhik!, ntar kumpul yuk di rumah Nia buat ngerjain tugas IPS sekalian tugas matematika. Nah, nanti kita ngerjain matematikanya barengan kan masih ada yang belum paham tuh, ntar kita tanya-tanya aja ke Nia, dia kan jago matematika.”, Winda pun memanggil teman-temannya dan mengusulkan untuk belajar di rumah Nia.


“Eh jangan di rumahku, kan kalian tahu sendiri mana pernah bisa belajar di rumahku.”, jawab Nia atas usulan Winda.


“Hmm, gimana kalau di rumahmu aja Vi! Nah belakang rumahmu kan kebun tuh, kita belajar di kebun aja gimana? Ntar aku bawa tikar deh.”, usul Dhiki yang biasanya pendiam akhirnya menyahut juga.


“Boleh deh, ke rumahku, ntar aku bilang eyang uti. Biar kalau kalian datang bisa langsung masuk.”


Akhirnya mereka memutuskan untuk belajar di rumah Avi. Tepatnya di kebun belakang rumah Avi. Mereka akan belajar sekitar jam 1 siang setelah pulang sekolah.

__ADS_1


Sesuai kesepakatan saat ini Winda, Dhiki, Ogi dan Nia tengah berkumpul di rumah Avi. Tak lupa juga Dhiki sudah membawa tikar untuk alas mereka belajar nanti. Mereka lalu menuju ke kebun belakang. Tikar sudah di gelar lalu mereka langsung mengambil posisi duduk masing-masing. Setelah itu mereka pun mulai mengerjakan tugas merangkum terlebih dahulu karena yang dirangkum tak terlalu banyak. Selang 20 menit rangkuman telah selesai mereka kerjakan. Mereka memutuskan beristirahat sejenak untuk melemaskan tangan dan punggung yang pegal.


“Hei teman-teman! Lihat itu apaan ya? Kok kaya jebakan buat nangkep burung?”, Ogi bersuara di tengah keheningan mereka yang tengah beristirahat.


“Mana Gi? Eh iya, samperin yuk! Itu ada burung yang udah masuk jebakan belum ya?”, Nia menyahut sembari berdiri dan berjalan menuju jebakan itu.


Krek... brukkk..


Tak lama saat mereka mendekat ke jebakan tersebut terdengar suara seperti kayu yang patah, ternyata disebelah kanan mereka baru saja ada satu burung yang masuk ke jebakan. Kalian mau tahu seperti apa jebakan itu? Jebakan itu terbuat dari tanah yang digali berbentuk segi empat dengan kedalaman sekitar 15 sampai 20 cm lalu keramik lantai yang digunakan sebagai penutup lubang tanah dan sebatang kayu yang tidak terlalu kuat sebagai penyangga keramik. Mengapa kayunya tidak terlalu kuat? Ini bertujuan supaya saat nanti ada burung yang menuju jebakan kayu akan ambruk ketika tersenggol burung tersebut, seperti yang terjadi barusan.


“Woi cah kae lo, enek siji manuke, manuk thilang len, dijupuk yok diingu, kiro-kiro digoleki ora ya karo sing gawe lubang kanggo njebak manuk kui?”“Hei teman-teman, itu ada satu burung, burung kutilang loh, diambil yuk dipelihara, kira-kira dicariin nggak ya sama yang bikin jebakan burung itu?”, kata Winda yang telah berada di tempat burung yang terperangkap tadi.


Saking asiknya melihat jebakan burung dan berdiskusi untuk mengambil burung itu atau tidak mereka tidak sadar bahwa mereka sudah menghabiskan waktu hampir satu jam. Akhirnya mereka pun kembali ke tikar untuk melanjutkan mengerjakan tugas Matematika.


Flashback off


“Ah iya, bener banget kita dulu pernah belajar di kebun belakang buat bikin tugas eh bilangnya mau istirahat bentar malah kita asik liatin burung sampai lupa waktu!”, sahut Nia.


“Oke deh sekarang kita bakal ngapain nih?”, Tanya Avi.


“Gimana kalau kita bakar-bakar aja, di kebun Nia ada ubi sama singkong tuh! Nia boleh kan minta? Kata Dhiki memberikan pendapatnya.


“Yaudah ambil aja tuh lewat situ tinggal lompat pagar.”, kata Nia dengan santainya menyuruh Dhiki untuk mengambil singkong sama ubi yang kemudian dibantu Winda.


Singkong dan ubi sudah tersedia. Kayu untuk bakar-bakar sudah ada juga. Tadi saat Dhiki dan Winda mengambil ubi, Nia, Ogi dan Avi pun memilih untuk mengumpulkan kayu bakar. Mereka berlima pun memulai acara bakar-bakar tak lupa juga saling bertukar cerita satu sama lain.


T


B


C


Hai teman-teman maaf banget ya baru up, lagi banyak tugas nih jadi baru sempet up. Jangan bosen ta buat mampir serta jangan lupa kritik, saran, like dan vommentnya.


Salam hangat dari Miss Chocho. Thank you ^_^

__ADS_1


__ADS_2