Semuanya Akan Menjadi Satu

Semuanya Akan Menjadi Satu
Episode 16.


__ADS_3

 


Di malam harinya setelah beberapa jam makan malam ,entah kenapa aku sangat ingin duduk diteras lantai dua ,mungkin udaranya pasti sangat sejuk jika malam malam duduk disana. Saat itu juga aku memutuskan untuk pergi keteras lantai dua itu.


 


Aku berjalan santai ,dan setelah disana apa yang aku lihat ,ternyata ada Luhan yang sedang berdiri didekat pagar teras. Aku mendekatinya.


"Belum tidur kamu?".Tanyaku mengawali pembicaraan ,sepertinya Luhan tipikal pria yang dingin, yang tidak akan bicara jika tidak diajak bicara duluan.


"Belum ... Aku hanya sedang rindu keluargaku di Cina".Dia membalikkan badannya dan duduk disofa yang ada diteras ,aku mengikutinya dan duduk disebelahnya.


"Aku juga sering rindu keluargaku yang ada di Indonesia".Jawabku.


"Tapi setidaknya kamu dan keluarga kamu masih berada dilangit yang sama kan?".Lanjutku setelah tidak mendapatkan respon apapun dari Luhan.


"Kecuali dengan ayahku".Jawabnya dengan singkat.

__ADS_1


"Ohhh ayah kamu udah meninggal?".


"Iya ,ayahku meninggal setelah sehari ibunya Hyuka meninggal".Mendengar jawaban Luhan aku baru mengetahui kalau ibunya Hyuka sudah meninggal.


"Kapan?".


"Pas pertama kali kita debut ,malamnya abis perform keluarganya Hyuka memberi tahu jika ibunya Hyuka meninggal ,dan kebesokan siangnya keluargaku memberitahukan jika ayahku meninggal".Dia menjawabku dengan tatapan matanya kearah langit.


"Sabar ya .. Pasti tuhan sudah merencanakannya ,yang pasti tuhan tidak akan memutuskan sesuatu yang kedepannya tidak baik".Sebenarnya aku sangat canggung berbicara dengan Luhan.


"Tapi sekarang aku sangat rindu sama ayahku ,ketika hari pertama ayahku meninggal aku tidak melihat pembakaran mayat ayahku". Aku melihat kearahnya ,dia sedikit mengeluarkan air mata ,apa itu sebabnya Luhan sedikit berbeda dari yang lainnya?. Aku mencoba untuk menenangkannya dengan cara merangkul tubuh Luhan.


"Apa yang bisa aku lakukan selain menangis? Apa dia bisa menemaniku disaat aku sedang rindu?".Tanyanya sambil menoleh kearahku.


"Berdo'a Luhan ,selain bisa menenangkanmu itu bisa membuat ayahmu semakin tenang jiwanya".Luhan diam tidak menjawab apa apa.


"Sejak 16 tahun aku harus hidup jauh dari keluarga ,hidup mandiri di negeri orang.. Jika dibilang rindu dengan orang tua aku sangat rindu Luhan ,aku pulang setiap satu tahun sekali dan tidak mempunyai banyak waktu untuk bertemu". Kataku lagi.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mendengar ceritaku dan memberi ketenangan ,kamu lebih muda dariku tapi sangat pintar menenangkanku ,boleh aku memelukmu?".Jawab Luhan,aku diam seribu bahasa mendengar jawaban dari Luhan.


"Pelukan ini cuma tawaran ,tawaran mau kamu jadi adikku?".Katanya lagi . Aku mengangguk ,lalu dia memelukku dengan sangat nyaman.


Aku berusaha untuk tidak melepaskan pelukannya karena kurasa ,Luhan sedang membutuhkan pelukan yang mampu menenangkan dia.


(Sebenarnya ,ternyata Disaat Raina dan Luhan berpelukan ,Mark melihatnya).


"Tidurlah ,sudah malam".Kata Luhan sambil mengelus rambutku.


"Iya ... Kamu juga ,jangan lupa berdoa untuk ketenangan jiwa ayahmu".Jawabku.


"Siap ... Terima kasih".


"Jangan sungkan untuk memanggilku ketika kamu butuh teman curhat".Kataku lagi.


"Baiklah ,yasudah aku antar kamu kekamarmu".

__ADS_1


'Mark mengumpat dibalik dinding yang ada didekat teras itu ,dan melihat Luhan mengantarkan Raina kekamarnya'.


Akhirnya ,Raina masuk kekamarnya dan Luhanpun juga pergi kekamarnya ,sedangkan Mark yang mengintip Raina dan Luhan dari kejauhan ,lalu kembali kekamarnya.


__ADS_2