
Aku tidak salah dengar, kan?
Aku pikir Mas Hamish datang untuk memarahiku. Tapi ... ternyata malah meminta maaf.
"Mengapa?"
Rasanya sangat janggal jika Mas Hamish tida-tiba meminta maaf setelah aku mengatakan hal buruk tadi. Melihat wajah murkanya yang selama lima tahun bersama tak pernah sekalipun dipertunjukkan padaku, aku yakin dia tidak semudah itu meredam emosinya. Tentu saja aku merasa syok karena suamiku biasanya selalu bersikap lembut padaku, sekarang justru menjadi kasar dan tidak sabaran.
"Karena aku merasa sudah keterlaluan padamu."
Menunduk, Aku tidak menyangka dia mengatakan hal tersebut. "Nggak papa. Aku ... juga minta maaf karena tidak sopan. Maaf."
"Ra!" Lagi, dia memanggilku.
"Ya!"
"Tadi, Sofie juga mengatakan kalau dia tidak enak sudah membuatmu sedih. Dia wanita baik-baik, Ra. Bahkan setelah kamu pergi, dia yang menyadarkanku kalau aku sudah keterlaluan bicara padamu. Aku harap kamu jangan bicara buruk jika Sofie datang lagi ke rumah ini."
Oh, jadi semua ini karena Sofie.
"Apa kamu datang minta maaf karena Sofie yang memintamu?" tanyaku dengan ragu. Semoga tanggapanku salah. Namun, apa yang aku harapkan tidak terjadi.
Mas Hamish mengangguk.
"Tapi ... aku merasa apa yang dikatakan Sofie itu memang benar. Meskipun kamu seorang pelayan di sini, tetapi kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik. Aku tidak seharusnya berkata kasar seperti itu."
Baru saja aku merasa Mas Hamish berubah, mulai melunakkan hati padaku, ternyata semua itu berkat campur tangan Sofie.
Aku tertawa miris dalam hati. Tidak tahu harus berterima kasih atau semakin membenci kehadiran Sofie karena kejadian ini. Jika aku menyalahkannya, bukankah aku termasuk wanita yang jahat?
Entahlah! Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Aku sebelumnya mengira kamu adalah wanita yang sengaja datang untuk mendekatiku." Mas Hamish melanjutkan kalimatnya. "Maafkan aku telah salah paham. Aku hanya ingin menjaga hati wanita yang kucintai sehingga selalu bersikap dingin padamu. Sebenarnya aku tidak ada masalah denganmu. Tapi ... karena perasangka burukku kalau Ibu tidak menyukai Sofie dan berusaha mendekatkanmu padaku sehingga aku ... berusaha membuatmu membenciku."
__ADS_1
Berusaha menjaga hati orang yang dicintai?
Pernyataan yang cukup membuat hatiku menjerit. Sebegitu cintanya kah Mas Hamish dengan perempusn itu? Sampai dia takut bersikap baik pada wanita lain, termasuk aku.
"Sudahlah! Ini sudah malam. Aku mau tidur." Tak ingin membahas masalah Sofie lagi, aku memutuskan mengakhiri perbincangan. Sudah cukup dianggap pihak ketiga dalam sebuah hubungan padahal aku adalah istri sahnya. Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi terkait hubungan Sofie dan Mas Hamish. Akan tetapi, saat aku hendak menutup pintu, lagi-lagi Mas Hamish menahanku.
"Ra!"
"Apa lagi, Mas?" Sudah malas mendengar pembahasannya yang tak jauh-jauh dari Sofie. Mataku sejak tadi memanas, menahan pedih agar air mata tak menetes ketika Mas Hamish masih di depanku.
"Besok pagi yang bikin sarapan kamu, kan?" Dia bertanya memastikan. "Jangan Bi Rumi, ya! Aku merasa kurang cocok dengan masakannya."
Kedua alisku menyatu heran. "Lalu, apa masakanku cocok di lidahmu?"
Dia mengangguk. "Entah mengapa akhir-akhir ini hidungku sensitif, perutku langsung mual jika membau sesuatu. Tapi aku tidak merasa begitu saat memakan masakanmu. Jadi aku ingin kamu yang menyiapkan makanan untukku, bukan Bi Rumi."
Aku mengangguk cepat. Setidaknya meskipun ingatannya hilang, Mas Hamish tetap menyukai masakanku. "Tidurlah! Besok aku buatkan sarapan untukmu."
Ada segaris senyum yang terbit di bibirnya tertangkap pada indra penglihatku. Mungkin kehadiran Sofie malam ini membuat mood Mas Hamish membaik. Walaupun rasanya menyakitkan saat menyadari alasan mengapa suamiku berbuat baik padaku, tetapi setidaknya aku bisa melihat dia tersenyum.
...***...
Ini adalah hari ketiga pasca Sofie datang ke rumah ini. Dia memang tidak lagi berkunjung, tetapi aku sering sekali memergoki Mas Hamish melakukan panggilan telepon maupun video bersama perempuan itu.
Jika diperbolehkan, ingin sekali aku memaki Sofie. Mengatakan pada perempuan itu bahwa bantuannya untuk menenangkan Mas Hamish sudah terlalu jauh. Dia tidak perlu lagi datang dan memutuskan hubungan yang seharusnya memang sudah selesai sejak Mas Hamish menikahiku. Namun, lagi-lagi aku harus diam, memendam rasa sakit itu sendiri.
Terkadang aku takut jika Sofie bersilat lidah, dan justru membuat hubunganku dengan Mas Hamish semakin memburuk. Bagaimanapun saat ini Mas Hamish begitu memercayai perkataan Sofie.
Anggap saja aku terlalu berburuk sangka. Entahlah, terkadang perasaan seorang istri jarang meleset.
Sampai detik ini, aku belum sepenuhnya memercayai Sofie. Meragukan tujuan perempuan itu mau membantuku. Apalagi aku hanya memintanya menjenguk ke rumah sakit, tetapi dia melakukan lebih dari itu. Hingga berlanjut tetap berhubungan dengan Mas Hamish sampai sekarang.
"Mas, sarapannya sudah siap."
__ADS_1
Aku mengetuk pintu kamar Mas Hamish yang sedikit terbuka. Menoleh kemudian, Mas Hamish mengangguk padaku. Gerakannya sedikit lambat saat menggulirkan kursi roda, lalu berhenti tepat di ambang pintu.
"Ra, apa hari ini dokternya jadi datang?"
Mas Hamish memintaku memanggil Dokter Fisioterapi untuk datang ke rumah. Mengingat kakinya membutuhkan penanganan yang tepat agar bisa berjalan lagi seperti semula sehingga harus menjalani serangkaian terapi dari ahli profesional.
"Iya, mungkin sekitar satu jam lagi baru datang."
"Heem, baiklah. Masih ada waktu untuk bersiap-siap."
Aku membiarkan Mas Hamish keluar dari kamarnya, lalu mengajaknya ke meja makan yang mana sarapannya sudah aku siapkan di sana.
"Terima kasih." Mas Hamish mulai menikmati sarapan yang baru saja aku ambilkan. Gerakan tangannya terhenti tiba-tiba setelah menyendokkan satu suap di mulut.
"Apa masakanku tidak enak?" tanyaku kemudian menyadari dia menghentikan makannya.
Pria yang dagunya ditumbuhi rambut-rambut kecil menggeleng pelan. "Kamu udah makan? Kalau lapar, makan saja di sini."
"Eh?" Pernyataannya kali ini benar-benar tidak aku duga. Biasanya Mas Hamish selalu ingin sendiri saat makan. Tidak mau aku dekati. Namun, apa yang dikatakannya kemudian cukup membuatku terkejut.
"Aku nggak papa kok makan satu meja denganmu."
"Serius?" Aku tidak mau dianggap kegirangan maupun kecentilan.
"Iya, Ra! Tenang aja, Sofie nggak akan marah hanya karena kita makan di satu meja yang sama."
Senyum yang nyaris terukir di bibirku langsung menghilang begitu nama Sofie lagi-lagi disebut di antara perbincangan kami.
Apakah aku harus berterima kasih dengannya? Mengapa rasanya makin sakit saat mendengar sikap bersahabat Mas Hamish yang ditunjukkan padaku karena kebaikan Sofie?
Rasanya aku tidak rela mengakui semua itu. Namun, tidak ada pilihan lain. Cemburu pun sepertinya tidak berguna. Aku tetap mengangguk mengiakan.
"Baiklah, terima kasih."
__ADS_1
Tidak mau berdebat. Aku duduk pada kursi tepat di seberang Mas Hamish Walaupun suamiku melakukan semua ini karena campur tangan Sofie, tapi ... aku berharap ini adalah titik awal kami bisa bersama lagi.