Senja Di Ujung Istanbul

Senja Di Ujung Istanbul
Bab 14. Takut Kehilangan


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Hubungan kami semakin dekat. Layaknya sahabat. Mas Hamsih tak segan menceritakan apa pun kepadaku. Bahkan, tentang hubungannya dengan Sofie yang kian membaik.


Jangan tanya tetang hatiku! Aku tidak tahu bagaimana saat ini bentuk serta rupanya. Apalagi saat Sofie datang kemari dengan senyuman bak malaikat, yang tidak aku mengerti apa maksudnya.


Seharusnya sandiwara itu tak perlu terlalu lama dilakukan. Aku sudah menyuruhnya berhenti, tetapi dengan tegas Sofie mengatakan jika ini demi kebaikan Mas Hamish. Aku seharusnya tidak boleh meragukan niatnya dalam membantu.


Ya! Dia benar. Semua demi kebahagiaan Mas Hamish, bukan kebahagiaanku. Aku harus selalu menahan rasa cemburu serta curiga yang acapkali datang tanpa bisa dicegah.


Dan kini, aku berdiri di sini, menatap Mas Hamish mulai bisa melangkahkan kaki tanpa menggunakan alat bantu berjalan. Meskipun pelan, aku melihat keteguhan serta kesungguhan hatinya agar kakinya bisa berjalan normal kembali.


Dua kali berjalan ke kanan dan ke kiri, bolak-balik dengan sempurna. Tidak goyah, apalagi sampai terjatuh seperti sebelum-sebelumnya, kemudian berhenti tepat di depanku.


Aku bertepuk tangan, memberikan selamat kepadanya. Akhirnya dengan ketekunannya dia bisa berjalan lebih cepat dari perkiraan dokter yang menangani.


Dia tersenyum, meraih kedua tanganku yang berbalut lengan panjang. "Makasih, Ra. Aku bisa berjalan seperti ini juga karenamu. Makasih sudah mendukung dan merawatku selama ini."


Aku membalas senyumnya dan mengangguk. "Sama-sama. Aku senang melihat perkembanganmu sangat baik. Ibu pasti ikut bahagia. Nanti aku akan meneleponnya."


"Kamu deket banget, ya, sama Ibu? Wajar sih, kamu baik. Ibu tidak memiliki anak perempuan. Pasti Ibu sangat menyayangimu."


"Iya, begitulah! Ibu sudah menganggapku sebagai anak sendiri karena aku juga tidak memiliki orang tua."


Terdengar tarikan napas yang disusul oleh embusan kasar. Tangan Mas Hamish melepaskan genggaman pada tanganku. "Aku jadi nggak sabar, Ra."


"Nggak sabar apa?"


"Saat kakiku sudah sembuh seperti sedia kala, aku akan meminang Sofie dan menikahinya segera."


Apakah ini akhir segalanya?


Apakah ini jawaban dari doa-doaku setiap malam?


Kesembuhan Mas Hamish adalah hadiah untuk Sofie, bukan aku. Apalagi anakku.


Aku menunduk. Tanganku gemetar. Aku merasa tak bisa menyembunyikan rasa sakit seperti biasanya.

__ADS_1


Hatiku benar-benar hancur.


...***...


Mungkin imunku sedang tidak baik-baik saja. Atau karena perasaan yang tak kunjung membaik. Perkembangan Mas Hamsih sangat pesat. Dia sudah bisa berjalan meski tidak bisa terlalu lama karena masih melakukan perawatan.


"Bi, di mana Aira?"


Sayup-sayup aku mendengar suara Mas Hamish di luar kamar. Aku memang tidak keluar sejak pagi. Tubuhku tiba-tiba panas. Bi rumi sempat aku minta membelikan obat khusus ibu hamil setelah berkonsultasi dengan dr. Ami yang menangani kandunganku.


Entah apa jawaban Bi Rumi. Aku tak mendengarnya. Masih menggigil di bawah selimut, tubuhku sedang demam tinggi.


Saat mataku memejam, aku merasakan sebuah telapak tangan menyentuh dahiku. Telapak tangan besar yang hangat. Sangat kontras dengan ragaku yang merasa menggigil dingin.


"Kamu belum makan?"


Suara itu ...


Aku tidak salah dengar, bukan?


"Mas--"


Aku belum sepenuhnya percaya jika saat ini yang berdiri menggunakan tongkat adalah Mas Hamish. Aku bahkan tidak sempat menggunakan kerudungku, tetapi dia malah bersikap biasa saja.


"Belum, ya?" tanyanya dengan suara teramat lirih.


"Aku sedang tidak naf su makan."


Orang sakit mana ada kan yang berselera makan? Apalagi sedang demam tinggi serta menggigil.


"Kamu mau apa? Biar aku belikan?"


Aku menggeleng. Mataku berkaca-kaca.


Kalimat pertanyaan itu ... sangat aku rindukan. Kalimat sama yang sering Mas Hamish katakan padaku saat hendak pulang dari tempat kerja.

__ADS_1


Kalimat yang sama saat suamiku membujukku yang sedang merajuk--


"Kamu mau apa, Ay? Biar Mas belikan."


--digaungkan dengan nada yang begitu rendah dan sarat akan kasih sayang.


"Jangan nangis! Aku tahu saat sakit itu menyedihkan. Tapi dengan bersedih seperti itu, sakitmu tidak akan sembuh."


Aku menyeka air mata yang tiba-tiba menetes. Dadaku terasa sesak. Sepertinya aku memang tidak bisa menerima andai Mas Hamish jadi menikah dengan Sofie.


Ini terlalu menyakitkan.


"Aku hanya sedang mengingat seseorang," kataku dengan suara begitu lirih.


"Siapa?"


"Seseorang yang sangat baik padaku. Kamu mengingatkanku padanya."


"Lalu, ke mana sekarang dia?"


Aku menggeleng. "Dia pergi. Aku tidak bisa membawanya kembali."


"Kalau begitu, anggap saja aku dia."


Kelopak mataku mengerjap, tak menyangka akan jawaban yang terucap dari bibirnya.


"Heem."


Hanya deheman yang kulakukan.


Hingga suara dering ponsel dari Sofie membuat Mas Hamish mengalihkan perhatiannya. Segera diangkat olehnya di depanku. Mas Hamish tidak menjauh, seperti tidak ada lagi rahasia antara aku dan dia. Lelaki itu benar-benar menganggapku sebagai 'sahabat'.


"Mas, kamu udah berangkat? Aku udah nungguin kamu loh sejak tadi!"


Baru kali ini aku mendengar suara Sofie saat melakukan panggilan telepon dengan Mas Hamish. Ternyata mereka sedang janjian untuk bertemu.

__ADS_1


Aku memandang Mas Hamish sendu dengan lelaki itu juga menatapku. Apakah dia akan pergi menemuhi Sofie sekarang?


__ADS_2