Senja Di Ujung Istanbul

Senja Di Ujung Istanbul
Bab 19. Diusir


__ADS_3

Jelas saja aku terkesiap dengan apa yang Mas Hamish katakan.


Pergi?


Dari rumah ini?


Itu adalah hal yang sampai detik ini tidak pernah aku sangka. Kalimat tajam dan kejam itu bisa begitu mudah diucapkan olehnya.


"Apa maksudmu, Mas?"


"Jangan temui aku lagi! Sejak awal aku tahu dan sangat mengerti jika kamu adalah wanita licik."


Sampai detik ini perubahan Mas Hamish begitu kentara. Dia sampai tega mengucapkan hal menakitkan tersebut. Aku melihat kilatan amarah serta kebencian di wajahnya.


"Kau dari dulu ingin menggantikan posisi Sofie, kan? Ibu memang sejak awal tidak menyukai Sofie, tapi itu bukan berarti orang lain akan dengan mudah menggantikan posisinya di hatiku."


Mas Hamish tersenyum culas. Lelaki yang sudah lima tahun ini menjadi suamiku saat ini sangat mudah terprovokasi. Aku sampai tidak sanggup mengenali dan mengendalikannya.


"Sofie sudah sangat baik padamu. Dia selalu menyuruhku untuk berbuat baik karena kamu yang merawatku. Aku tidak menyangka wanita sebaik Sofie rupanya bisa kamu manfaatkan seenak hati."


"Tapi ... aku tidak pernah--"


"Cukup! Kemasi barang-barangmu. Jangan pikir dengan wajah lugumu itu aku bisa terperdaya. Mungkin kedua orang tuaku mendukungmu. Mereka mengarang cerita agar aku tidak lagi menjalin hubungan dengan Sofie. Bravo! Kamu hampir berhasil, Ra! Kamu hampir berhasil menipuku ... dengan wajah polosmu!"


Mas Hamish mundur beberapa langkah, lalu dia berteriak mencari Bi Rumi.

__ADS_1


"Bi! Bi Rumi!" Suaranya melengking di udara. Aku tidak mengerti apa yang saat ini dipikirkannya. Mengapa Mas Hamish bisa berpikir sejauh itu? Menganggap aku adalah wanita jahat yang sengaja menggeser posisi Sofie dan ingin menjebaknya.


Harapan dan untaian doa yang selama ini aku panjatkan nyatanya tak semudah itu mendapatkan persetujuan. Aku masih dihadapkan pada kerikil-kerikil kecil, bahkan jurang yang curam serta lekuk yang berliku.


Sangat sulit digaris bawahi jika semua ini adalah takdir yang harus kujalani.


Aku hanya berdiri dengan menatap nanar pada tas yang dilemparkan Mas Hamish padaku. Pakaian-pakaian yang berada di kamarku sudah dimasukkan ke dalam tas oleh Bi Rumi seperti perintah Mas Hamish.


Awalnya aku pikir Mas Hamish hanya main-main. Namun, ternyata apa yang diucapkan laki-laki itu dilakukan dengan begitu sadar.


"Seharusnya itu cukup!" ucapnya sembari melempar uang lembaran ratusan ribu di depan wajahku. "Jangan kembali lagi! Aku tidak sudi kakimu mengotori lantai rumahku!"


Aku terkesiap. Apakah ini semacam talak?


Tetapi Mas Hamish tidak sadar mengatakannya? Dia belum mengingat apa-apa. Terutama hubungan pernikahan kami.


"Keluar, Aira! Keluar dari sini sekarang juga!"


Mataku memejam. Cairan hangat lagi-lagi meleleh di pipi. Dadaku sesak merasakan kegetiran hidup yang jauh dari harapan. Apalagi cinta dan kasih sayang.


Aku mengambil tas koper dan lembaran uang itu, memungutnya satu per satu. Dari ekor mata aku melihat bagaimana wajah sinis Mas Hamish saat menatapku mengambil uang yang dilemparkan padanya ke wajahku.


Terhina?


Tentu. Aku yang selama ini diperlakukan sangat baik oleh suamiku sendiri, kini mendapatkan sikap yang berbanding terbalik.

__ADS_1


Perlahan kuseret koper ini keluar dari rumah ini. Rumah yang sudah kutempati selama lima tahun. Yang mana masuk dengan perasaan haru dan bahagia karena dipenuhi cinta kasih seorang suami, kini justru keluar dengan hina dan penuh caci maki.


Mungkin aku terlihat bodoh di mata semua orang. Mau saja dihinakan oleh suami sendiri. Namun, aku bisa apa dalam kondisi seperti ini?


Langkahku perlahan menjauh, menyapa singkat pada satpam yang berjaga di depan, lalu wajah sendu Bi Rumi yang tak tega kepadaku.


"Non, Non Aira!"


Bi Rumi berlari diam-diam, mengikutiku dari belakang. Menghentikan langkah, aku menoleh pada wanita yang sudah menemai Mas Hamish sejak masih remaja. "Iya, Bi."


"Non mau ke mana? Ini sudah sangat malam." Bi Rumi berkata dengan nada penuh kekhawatiran. Aku sendiri juga belum sepenuhnya mengerti akan ke mana malam-malam begini. Tapi, aku tidak mungkin terus-terusan berada di rumah ini karena Mas Hamish tidak menginginkanku.


Mungkin, bisa saja aku berdebat dengannya, menjelaskan semuanya secara detail dengan menunjukkan bukti-bukti pernikahan kami. Namun, mengingat bagaimana dia merasakan kesakitan ketika berusaha mengingat semuanya membuatku berpikir ulang.


Aku rasa menjauh lebih baik. Tidak ada sesuatu yang bisa dipaksakan, terutama perasaan. Meskipun aku tahu, sangat sakit menyadari jika suami yang selama ini meratukanku malah berbalik membenci dan mengusirku, lalu berakhir mencintai wanita lain.


Aku menggeleng menjawab pertanyaannya. Kemudian, Bi Rumi menggandeng tanganku. "Tetap di sini, Non. Pak Hamish akan menyesal sudah memperlakukan Non dengan kejam. Pak Hamish sedang tidak menyadari apa yang sudah dilakukannya. Jangan pergi, Non! Kalian akan memiliki anak."


Andai Mas Hamish tidak keras kepala, mungkin aku bisa mengajaknya bicara. Namun, saat ini aku hanya ingin menyelamatkan hati serta perasaanku. Aku belum kuat jika terys dicaci dan dicurigai tanpa aku bisa mengatakan apa pun.


"Non, jika Non Aira tahu sejak awal kalau ...."


Keningku berkerut. Ada hal yang sengaja ditutup-tutupi oleh Bi Rumi dan saat ini hendak dibicarakan.


"... Non Sofie pandai mempengaruhi orang lain."

__ADS_1


"Sofie? Apa mungkin?"


Sofie merupakan sarjana psikologi, lalu melanjutkan jenjang Magister Psikologi. Apakah aku boleh berpikiran buruk padanya?


__ADS_2