Senja Di Ujung Istanbul

Senja Di Ujung Istanbul
Bab 11. Dejavu


__ADS_3

Pagi itu, waktu seakan terasa lebih lama. Dari satu, dua, tiga detik yang berputar pada jarum jam dinding begitu berarti. Hujan mulai mengguyurkan curahnya pada permukaan bumi sehingga aku kesulitan keluar untuk mengajak Mas Hamish ke suatu tempat.


Hari ini bertepatan dengan tanggal pernikahan kami, yaitu tepat lima tahun. Walaupun Mas Hamish tidak mengingat apa pun, aku hendak mengajaknya ke suatu tempat yang mungkin bisa mengingatkannya dengan memori-memori indah kami. Namun, cuaca nyatanya tidak bersahabat. Hujan turun sejak pagi, tanpa meminta izin pada banyak orang yang terpaksa menunda janji karena kehadirannya.


Aku menjulurkan tangan, menengadah pada rintik hujan ke luar jendela. Percikan air bagaikan buliran kristal terpecah, lalu menciprat ke permukaan wajah yang langsung membuatku memejamkan mata.


"Ra, apa yang kamu lakukan?"


Kelopak mata yang sempat memejam seketika terbuka begitu suara Mas Hamish mengejutkanku. Aku menoleh kemudian, mendapati pria itu sudah berada di belakangku.


"Oh, tidak ada. Hanya menunggu hujan," kataku dengan membalikkan badan menghadap ke arahnya.


"Apa kamu tidak ada kerjaan sampai-sampai hujan saja kamu tunggu?"


Aku menunduk. Dia masih saja dingin, tetapi kalimat yang diucapkan jauh lebih baik dari hari ke hari.


"Apa kamu membutuhkan sesuatu sampai mencariku kemari?"


Tidak mungkin Mas Hamish tiba-tiba datang jika tidak membutuhkan sesuatu. Aku menunggu jawaban darinya tanpa mendekat, membiarkan lelaki itu menyuarakan keinginannya.


"Aku ... ingin latihan jalan. Apa ... kamu mau membantuku?"


Tak bisa bibirku menyembunyikan senyum. Aku juga tidak tahu, mengapa Mas Hamish sulit sekali meminta bantuan padaku. Mungkin semua itu karena dia masih menganggapku ... orang asing.


Dan di sinilah kami sekarang, berada di ruang tengah yang mana semua kursi serta meja sudah disingkirkan menepi. Hanya ada karpet yang dibiarkan terbentang sebagai alas lantai.

__ADS_1


Mengambil alat bantu jalan berkaki dua, lalu meletakkannya di depan kursi roda Mas Hamish, aku membantunya berdiri. Kedua tangan ditumpukan pada pegangan besi. Mas Hamish mulai mengangkat tubuhnya dengan menapakkan kedua kakinya di karpet.


"Hanya latihan berdiri, kan?" tanyaku memastikan. Menurut petunjuk dokter, latihan Mas Hamish harusnya diawali dengan latihan ringan.


Namun, dia menggeleng.


Tidak menjawab pertanyaanku, Mas Hamish mulai menggerakkan kakinya.


Begitu pelan lelaki itu berusaha melangkahkan kaki, dengan aku tetap mendapinginya. Aku melihat sendiri bagaimana ekspresi Mas Hamish yang seakan-akan menahan rasa sakit pada bagian sendi. Dia terlalu memaksakan diri agar cepat bisa berjalan sehingga mengabaikan urutan latihan yang direkomendasikan oleh dokter fisioterapi.


Satu langkah, dua langkah bisa dilewati dengan baik. Aku tetap berada di sisinya, memastikan dia tidak sampai terjatuh. Jarak satu meter sudah bisa dilewatinya. Buliran keringat keluar di pelipis serta dahi. Aku merasa Mas Hamish sudah tidak kuat menahan kakinya sehingga aku memutuskan mengakhiri semua.


"Cukup! Kita hentikan latihannya. Ini sudah terlalu lama."


Mas Hamish menggeleng. Tatapannya lurus tajam mengarah padaku. Namun, itu hanya dilakukan sebentar saja karena di detik berikutnya dia kembali fokus ke depan, kembali melangkahkan kaki.


Langkahnya makin berat. Aku tahu dia kelelahan. Seharusnya hari ini cukup belajar duduk dan berdiri secara berkala, tetapi dia sudah berjalan sejauh lima meter. Mengabaikan rasa sakit yang mendera, sampai wajahnya tampak memerah.


Aku mengikutinya dari belakang, memandang tubuh yang tertatih-tatih ingin segera bisa berjalan. Sampai kemudian kakinya tak mampu lagi menopang tubuh. Nyaris saja dia terjatuh andai aku tak segera menangkapnya. Namun, hal itu justru membuat berat bebannya menimpaku sepenuhnya.


"Ra!" Lelaki itu memekik.


Tanganku berusaha menggapai-gapai alat bantu jalan, tetapi tubuh suamiku nyatanya memiliki berat yang tak mampu aku pertahankan. Sudah berusaha sekuat tenaga, tubuhku berakhir terhuyung ke belakang dengan Mas Hamish turut terjatuh menimpaku.


Mataku menutup, tak sempat melindungi kepala yang mungkin saja terbentur lantai. Akan tetapi, aku tak merasakan sakit pada bagian belakang kepala seperti apa yang kucemaskan. Ada sesuatu yang mengganjal di bawah kepalaku.

__ADS_1


Sebuah dekapan pada bagian kepala membuatku terlindungi.


Aku membuka mata, yang mana langsung dihadapkan wajah dingin Mas Hamih. Lengan lelaki itu melingkar di kepalaku, yang saat ini aku jadikan bantal. Dalam posisi seperti ini, aku ... tak mampu bicara. Rasanya degup jantungku berkerja lebih giat memompa darah. Aku harap Mas Hamish tidak menyadarinya.


"Kamu nggak papa?" tanyanya tanpa mengubah posisi.


Aku yakin saat ini wajahku sudah memerah. "Nggak papa." Aku memalingkan muka, tak lagi menatapnya.


"Maaf, aku tak sengaja. Seharusnya aku mendengarkanmu."


Tapi ... dia tak kunjung memindahkan tubuhnya dariku.


"Mas ...."


"Ya!" Dan dia begitu santai menjawab panggilanku.


"Apa kamu nggak sadar sedang berada di atasku?"


"Astaga!" Mas Hamish langsung berguling. Aku berdehem, membenarkan posisi. Pun dengan Mas Hamish, saat ini sudah duduk dengan tubuh menegak. Suasana menjadi canggung. Aku bahkan hanya bisa menekuri lantai tanpa berani menatapnya. Bisa-bisanya dia tak sadar sudah menindihku cukup lama.


Sunyi mengambil alih waktu. Suara deras hujan mulai terdengar lemah, bergantikan rintik-rintik kecil yang berjatuhan mengenai jendela kaca. Cukup lama kami hanya berdiam tanpa kata. Hingga kemudian, suara Mas Hamish memecahkan kesunyian yang sempat melanda.


"Maaf, aku tak menyadarinya. Aku harap kamu nggak berpikir macam-macam terhadapku. Aku hanya ... merasa dejavu dengan posisi seperti itu."


Saat itu juga aku mengalihkan perhatian ke arahnya.

__ADS_1


Apakah itu artinya Mas Hamish mengingat sesuatu?


__ADS_2