Senja Di Ujung Istanbul

Senja Di Ujung Istanbul
Bab 16. Dia Istrimu


__ADS_3

Seketika mulutku ternganga. Aku kesulitan menjawab apa yang sedang dia tanyakan.


"Ini punya siapa, Ra?" katanya lagi yang membuat bibirku tak mampu mengucapkan sepatah kata,


"Katakan! Apa benar kamu hamil?"


Apakah ini sudah waktunya?


Apakah sandiwara ini akan berakhir hari ini?


"Dan ini!" Mas Hamish mengeluarkan kardus susu ibu hamil yang aku simpan di sana. "Mengapa kamu menyimpan semua ini di sini? Siapa yang menghamilimu, hah?"


Bibirku bergetar, takut harus menjawab apa. Apa dia akan percaya bahwa ini adalah anaknya? Apa dia percaya jika aku mengatakan semuanya secara jujur. Aku ... takut.


"Jawab, Ra!" Suara bentakannya membuatku bergidik. Aku tak berani mnatap matanya yang sedang mengarahkan sorotnya dingin padaku.


"Aku pikir kamu wanita baik-baik, Ra!"


Ada nada penuh kekecewaan dari mulut lelaki itu. Tidak dapat disalahkan andai dia kecewa. Andai dia marah. Aku memaklumi itu. Namun, kalimat-kalimat berikutnya yang pria itu ucapkan sungguh membuat hatiku benar-benar terluka, terhina.


"Aku sebelumnya menganggap kamu wanita terhormat. Penampilanmu tertutup. Aku sempat berpikir negatif saat kamu tak mempermasalahkan ketika aku menyentuhmu saat itu. Wanita berpakaian tertutup biasanya selalu menjaga diri. Bahan mereka terbiasa enggan mau berjabat tangan dengan lawan jenis. Tapi ... kamu berbeda, Ra! Kamu bahkan mau menerima tawaran ibuku untuk merawatku yang jelas-jelas seorang laki-laki."


Aku memberanikan diri menatap bola matanya yang begitu tajam menghunus ke arahku. Mataku sudah berembun dan nyaris meloloskan cairan jernih di pipi andai kelopak mataku mengerjap. Namun, aku menahannya.

__ADS_1


"Dan sekarang aku baru tahu mengapa kamu melakukan itu."


"Apa?" tanyaku lirih yang bahkan nyaris tak bisa mengeluarkan suara.


"Kamu berpakaian tertutup hanya ingin menyembunyikan kebusukanmu, kan? Kamu ternyata mengandung anak haram." Suara Mas Hamish meninggi.


Aku ternganga, tidak percaya dia begitu tega mengatakan semua itu padaku.


Apalagi saat mengucapkan penghinaan itu cara bicaranya begitu enteng dan tidak berperasaan.


"Itu tidak benar. Itu tidak benar!"


Aku tak sanggup bicara apa pun. Aku sudah menangis sekarang, tak mampu membela diri. Mulutku seakan-akan terkunci rapat, tidak menyangka Mas Hamish mengira aku wantia sepicik itu?


Aku terisak. Ini benar-benar di luar batas kesanggupanku. Tidak menyangka akan mendapatkan rasa sakit bertubi-tubi saat suami meragukan anaknya sendiri.


"Ibu harus tahu. Ibu harus tahu semuanya."


Mas Hamish melangkah menjauh, lalu keluar dari kamarku sambil menggebrak pintu.


Sakit.


Tentu. Siapa yang tidak sakit diperlakukan seperti itu? Baru saja kami menjadi sahabat, saling bercertia dan bercengkerama, tetapi Mas Hamish sudah kembali pada stelan awal. Dingin dan membenciku.

__ADS_1


Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. Semua bukti sudah ada di depan mata. Mau mengelak juga percuma. Untuk apa aku mengelak? Mas Hamish tidak akan semudah itu percaya. Bisa saja dia memanggilkan dokter untuk memeriksa dan membuktikan tentang kehamilanku.


Aku sudah pasrah akan apa yang Mas Hamish lakukan terhadapku setelah ini. Aku sangat mengenalnya. Jika sudah kecewa, dia tidak akan memaafkan siapa pun dengan mudah.


Bubur yang berada di tanganku masih mengepulkan uap airnya. Tampilannya yang tampak lezat tidak membuat selera makanku membaik. Dari dalam kamar, aku masih mendengar suara teriakan Mas Hamish. Aku tahu dia marah. Aku tahu dia kecewa. Namun, aku tidak menyangka jika kemarahannya bisa semengerikan ini.


Aku meletakkan kembali mangkuk bubur itu ke atas nakas. Bukan tak mau menghargai apa yang sudah Mas Hamish berikan padaku. Akan tetapi, untuk saat ini perutku seakan penuh. Tidak bisa memasukakkan suapan ke dalam mulut.


Yang sakit bukan lagi ragaku, melainkan perasaan serta jiwaku. Kedua telapak tanganku menutupi wajah, lalu aku menangis, menumpahkan air mataku di sana.


Bagaimana teriakan mas Hamish yang sampai detik ini terasa berdengung di telinga. Bagaimana cacian Mas Hamish yang meyakini jika aku bukanlah wanita baik-baik cukup membuat perasaanku terjatuh. Hancur lebur, tersakiti sesakit-sakitnya.


Suamiku sendiri tega mengatakan hal yang merendahkan martabat wanita.


Aku tidak menghitung berapa lama aku menangis di sini. Seorang diri, meratapi nasib yang nyatanya jauh berbeda dari harapan. Hingga sebuah suara dengan beberapa orang merangsek masuk ke dalam kamar, membuat perhatianku seketika teralihkan.


"Lihat dia! Wanita yang Ibu bela-bela selama ini hanyalah wanita murahan yang tengah hamil tanpa suami!"


PLAK!


Suara tamparan itu mendarat tepat pada pipi Mas Hamish. Ibu dengan raut murka menatap putra semata wayangnya dengan tatapan tak percaya.


"Apa maksudmu?" Ibu bertanya dengan menunjukkan wajah begitu dingin. Mimik mukanya tampak kecewa dengan Mas Hamish. Kemudian beliau mengatakan kalimat yang cukup membuatku dan Mas Hamish terkejut. "Aira itu istrimu. Dan anak yang Aira kandung adalah anakmu."

__ADS_1


__ADS_2