
Sesuai jadwal yang ditentukan, dokter datang tepat pukul delapan pagi. Mas Hamish sudah bersiap mengikuti serangkaian proses terapi. Dari pemeriksaan, juga penyuluhan. Mereka terlibat perbincangan serius. Aku menghampiri lalu berhenti tepat di samping kanan kursi roda Mas Hamish.
"Bagaiana perkembangannya, Dok?"
"Nah, tepat waktu sekali Bu Aira datang."
Sejenak aku mengarahkan pandangan ke arah Mas Hamish, meminta jawaban akan maksud dari dokter tersebut. Tapi, lelaki itu tak memberi jawaban apa pun.
"Jadi begini." Dokter memulai bicara. " Pak Hamish harus berlatih untuk menggerakkan kakinya. Tidak perlu terlalu berat. Cukup latihan duduk, kemudian berdiri. Bisa dibantu dengan ada penyangga semacam meja di depannya. Nanti saya catatkan tahapan-tahapannya yang sebaiknya dilakukan dengan urut sesuai petunjuk."
Aku mengangguk mengerti.
"Bu Aira tinggal memastikan Pak Hamish melakukan sesuai prosedur yanv saya catatkan."
"Baik, Dok. Akan saya lakukan."
Dokter merapikan perlengkapan usai memastikan sudah tidak ada lagi yang perlu disampaikan. Aku mengantarnya keluar, meninggalkan Mas Hamish di kamarnya sendiri.
...****************...
Malam itu, aku hendak mengecek keadaan Mas Hamish di kamarnya. Dia harus meminum obat yang memang masih harus dikonsumsi. Aku melangkah menuju kamar utama kemudian, mengetuk pintu meskipun posisi pintu sedang terbuka. Namun, baru saja ketukan pertama kulakukan, aku melihat Mas Hamish beranjak dari kursi roda dan ... terjatuh.
Gegas aku berlari mendekat, lalu membungkukkan badan di depannya. "Kenapa berdiri, Mas? Kalau butuh sesuatu mengapa tidak memanggilku?"
Dia diam saja saat aku bicara, kemudian memukuli kakinya sendiri sambil marah-marah. "Dasar kaki tidak berguna!"
Aku menggeleng pelan. Mas Hamish mendadak bertingkah aneh,
"Ayo, aku bantu berdiri!"
__ADS_1
Tapi ... dia menepis tanganku.
"Tidak, aku seharusnya bisa melakukannya sendiri," katanya menolak dengan keras kepala.
"Mas, jangan memaksakan diri. Kamu masih membutuhkan bantuan." Aku berusaha mengingatkannya untuk melakukan sesuai perintah dokter. Berdiri tanpa penyangga tubuh sangat berbahaya pada kaki Mas Hamish yang memang belum sembuh benar.
"Aku nggak lumpuh, Ra! Kakiku baik-baik saja." Suaranya meninggi. Aku sempat terhenyak. "Aku hanya butuh latihan keras agar kakiku bisa digunakan lagi." Terdengar embusan napas berat dari bibirnya. Dia berusaha mengubah posisinya dari tersungkur menjadi duduk tanpa mau menerima uluran tangan dariku.
Aku melihat sendiri raut wajah Mas Hamish tampak kesal. Mungkin karena kondisi kakinya yang belum juga membaik. Namun, bukannya suamiku belum lama keluar dari rumah sakit. Sudah sewajarnya jika kakinya belum sembuh sepenuhnya.
"Aku tahu. Kakimu baik-baik saja."
Dia menatapku. "Kamu bicara begitu hanya karena ingin menghiburku, kan?" Lalu, bibirnya tersenyum miris. "Dokter hanya memintaku melakukan gerakan-gerakan kecil. Itu artinya proses sembuhku masih lama."
"Memang kenapa kalau lama? Mengapa kamu ingin terburu-buru?"
"Apa maksudmu? Setiap orang sakit pasti ingin segera sembuh. Pertanyaan macam apa itu?"
"Sampai kapan?" Mas Hamish menatapku tajam. Aku tidak tahu mengapa lelaki itu mendadak berubah seperti ini. Baru beberapa menit aku tinggal bersama dokter, tetapi keadaannya sudah seperti orang yang tidak memiliki semangat sembuh. Bahkan, seperti orang yang sedang berputus asa.
"Ada apa, Mas? Kenapa kamu tiba-tiba berubah?"
"Sudahlah! Itu bukan urusanmu."
Penolakan lagi-lagi dilakukannya. Di sini aku menyadari akan hal yang akhir-akhir ini terabaikan olehku. Aku terlalu larut dengan kecemburuan pada Sofie, tetapi terlupa jika ada hati yang sedang ingin disembuhkan karena sebuah tragedi.
"Tapi sekarang adalah urusanku. Bukankah kamu ingin cepat aku pergi? Aku akan pergi jika kamu sudah sembuh, dan mengingat semuanya."
"Ingat semuanya? Memangnya ada yang aku lupakan. Semua terasa sama saja seperti lima tahun lalu. Tidak ada yang berubah--" Dia menghentikan kalimatnya sebelum kemudian menatapku. "--kecuali, kehadiranmu."
__ADS_1
"Dan kamu melupakanku, kan?" tanyaku dengan memiringkan kepala.
"Apa perlu aku mengingatnya? Ya, mungkin aku seharusnya bisa mengingat semua yang terjadi. Teman-teman, orang tua, bahkan pelayan."
Kata terakhir yang membuatku terluka. Walaupun memang saat ini aku dikenal sebagai pelayan, tetapi status itu seharusnya tidak terus-menerus diucapkan Mas Hamish saat bicara denganku.
"Dalam waktu sehari, apa kamu merasa begitu banyak sesuatu yang terjadi?" Bola mataku mengarah lekat pada wajahnya yang gusar. "Jika dalam sehari saja suah banyak kejadian yang membuat setiap orang bisa berubah, bagaimana dengan waktu lima tahun? Apakah kamu pernah berpikir, apa saja yang sudah kamu lewati selama lima tahun itu? Ada hal penting apa yang terjadi selama lima tahun itu?"
"Apa?" katanya singkat.
"Setelah lima tahun lalu kamu kecelakaan, kamu melupakan Sofie. Dan menjadi orang baru, membuka lembaran baru."
"Apa? Maksudmu aku melupakan Sofie sampai lima tahun." Dia menggeleng. "Tidak mungkin. Bagaimana aku bisa melupakan wanita yang sangat aku cintai? Bahkan sampai sekarang Sofie masih setia menantiku--"
Ucapan yang keluar dari bibirnya sama sekali tidak sesuai dengan harapanku. Aku pikir Mas Hamish akan menanyakan apa saja hal yang sudah dilupakannya selama lima tahun. Namun, ternyata aku salah. Mas Hamish lagi-lagi hanya mengingat Sofie. Semua tetang Sofie.
"--tapi aku malah mencarinya setelah kecelakaan dan kakiku cacat seperti ini. Aku benar-benar tidak tahu malu, kan, Ra! Aku seperti pria bodoh yang hanya meminta belas kasihan orang lain. Aku bahkan tidak meminta maaf pada Sofie yang sudah menungguku selama lima tahun tanpa kepastian."
Aku menggeleng. Semua itu tidaklah benar. Ada hal yang mungkin sudah dilewati Sofie lima tahun terakhir yang tidak kami ketahui. Melihat Sofie menjadi wanita yang memiliki karier mumpuni, pasti ada banyak sekali orang yang mendukungnya.
"Jangan menyalahkanmu." Mungkin dulu Sofie pernah merasakan sakit. Namun, aku yakin jika rasa sakit itu tidak lebih dari apa yang saat ini aku rasakan. Suami sendiri memilih memikirkan perasaan orang lain daripada perasaanku yang mengurusnya, yang merupakan istri sahnya. "Ini semua sudah takdir, Mas. Kamu harus ikhlas." Kalimat itu lebih kepada aku tunjukkan pada diriku sendiri.
"Aku tidak tahu," ucapnya pasrah. "aku harus segera sembuh, segera bisa berjalan lagi."
Aku tersenyum lega. Melihat Mas Hamish mulai menemukan rasa kepercayaan diri dan semangat sembuh, aku rasa lelaki itu sudah lebih baik.
"Karena aku ingin segera melamar Sofie seperti rencana awalku yang sudah gagal."
Senyuman di bibirku di detik itu juga langsung surut setelah mendenagr lanjutan kalimat Mas Hamish. Aku menjadi bingung. Ingin sekali Mas Hamish sembuh, tetapi tujuan lelaki itu berusaha bangkit dari keterpurukan membuatku ragu. Salahkah aku yang berharap dia lebih lama seperti ini saja?
__ADS_1
Aku tidak kuat jika melihatnya menikah lagi.