Senja Di Ujung Istanbul

Senja Di Ujung Istanbul
Bab 12. Mengajaknya Pergi


__ADS_3

"Apa kamu mengingat sesuatu?" Ada harapan yang begitu kuat saat menanyakannya. Paling tidak, mungkin ada seberkas bayangan wajahku di kepalanya.


"Tidak. Aku tidak mengingat apa pun."


"Lalu?"


Itu tadi bayangan apa? Mengapa dia mengatakan dejavu? Apakah aku terlalu banyak berharap agar ingatannya kembali?


"Mungkin dulu aku pernah terjatuh seperti ini bersama Sofie. Jadi aku merasa pernah mengalami ini sebelumnya."


Bukan. Bukan Sofie. Itu aku. Kami memang pernah terjatuh bersama saat itu dengan Mas Hamish memelukku, melindungi kepalaku agar tidak terbentur pada lantai. Sama persis dengan kejadian yang baru saja terjadi. Namun, mana mungkin aku mengatakan hal tersebut.


Aku hela napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengembuskannya perlahan. "Ayo, aku bantu berdiri!"


Sebaiknya Mas Hamish kembali ke kursi roda. Aku berdiri kemudian, lalu mengambil kursi roda yang sempat ditinggalkan Mas Hamish, meletakakn di dekat lelaki itu.


"Hati-hati!" kataku tanpa menatap wajahnya.


Entah hanya perasaanku atau memang benar, aku merasa Mas Hamish sedang menatapku. Namun, aku hanya menunduk, tak lagi berani mengarahkan pandangan pada matanya.


Usai memastikan Mas Hamish berada di kursi roda, aku mendorong kursi roda tersebut mendekati sofa. Dia diam saja saat kedua kakinya aku angkat untuk dijulurkan ke atas sofa sehingga tak lagi menggantung ke bawah. Dia tadi sempat terjatuh, sehingga aku memeriksa kondisi kakinya yang mungkin terkilir karena pendaratan yang tidak sempurna.


"Tunggu di sini! Aku akan kembali."


Tak lagi menunggu jawaban darinya, aku beranjak pergi menuju lemari penyimpanan kotak obat. Mengambil minyak urut dengan merek tertentu, lantas kembali ke mana tempat Mas Hamish berada.


Aku duduk pada sofa, mengaplikasikan minyak urut tersebut pada kaki Mas Hamish. Kami biasa melakukan ini secara bergantian sebelumnya. Saat aku lelah, Mas Hamish memijatku. Begitupun sebaliknya.


Aku tidak berani melakukan gerakan berlebihan dalam memijit kakinya. Hanya gerakan ringan yang setidaknya mengurangi rasa sakit pada engkel kaki.


"Ra!"

__ADS_1


"Heem." Aku menanggapi dengan deheman.


"Mengapa kamu baik padaku?"


Aku menghentikan gerakan tanganku yang sedang memijit, lalu mengarahkan tatapan ke arahnya.


"Apa ada yang salah?" tanyaku.


Dia menggeleng. "Tidak. Hanya saja aku ... merasa tidak enak padamu."


"Kenapa?"


"Karena selama ini aku selalu bersikap dingin dan tidak pernah mau mendengar perkataanmu."


"Karena kamu menganggapku memiliki maksud lain. Iya, kan?" Aku menebak tepat sasaran.


Lagi, dia menangguk "Maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Tapi, Ra, aku merasa nyaman bisa mempunyai teman ngobrol sepertimu."


"Kalau begitu, kita berteman," kataku kemudian sembari mengulurkan tangan.


Mas Hamish tersenyum. Senyuman teduh yang sudah sangat lama sekali tak terlihat olehku. Uluran tanganku disambut olehnya, lalu kami saling berjabat tangan.


Hujan sudah mulai reda. Sisa-sisa rintik air masih tampak menetes pada ujung dedaunan yang lebat. Aku menilik jam yang berada di pergelangan tangan kiri. Masih pukul sembilan pagi. Rasanya tidak terlalu siang jika mengajak Mas Hamish jalan-jalan hari ini.


Mempersiapkan semua sebelum berangkat, aku nyatanya belum menawari Mas Hamish tentang rencanaku ini. Sangat konyol, bukan? Aku terlalu percaya diri bahwa lelaki itu akan mau menerima ajakanku.


Aku berdiri pada ambang pintu, meremas ujung gamis karena bingung harus memulai dari mana. Mas Hamish sedang sibuk dengan ponselnya. Tentu saja ponsel baru karena ponselnya yang lama rusak dengan layar retak parah saat kecelakaan. Entah siapa yang saat ini sedang dihubunginya.


Aku mendadak gugup hanya untuk bicara dengan suamiku sendiri.


"Ra, ada apa? Mengapa berdiri di sana?"

__ADS_1


Aku mengembuskan napas kasar, membuang segala kegugupan melanda yang nyatanya selalu gagal aku lakukan.


"Kamu sedang sibuk, kah?" Aku memulai dengan pertanyaan.


Dia menggeleng. "Tidak. Tadi aku sedang menghubungi Sofie karena sejak kemarin pesanku belum dibalas."


Pantas saja wajah Mas Hamsih tampak kesal tadi. Ternyata hanya karena pesannya tidak dibalas Sofie.


"Mungkin dia sibuk." Aku mencoba menenangkan meskipun hatiku sakit.


"Aku tahu, tapi ... tidak biasanya dia begini. Aku hanya sedang mencemaskannya." Dalam beberapa saat raut wajah Mas Hamish tampak murung. Begitu besar perasaan suamiku terhadap Sofie sampai mengkhawatirkan perempuan itu hanya karena tak membalas pesan. Namun, hal tersebut tak berlangsung lama karena setelah itu dia menatapku kembali. "Lupakan tentang Sofie. Kamu sendiri, ada apa mencariku?"


Mendadak aku gelagapan.


"Aku ...."


"Ya!"


Dia menggulirkan roda kursinya ke depan, maju ke arahku. Aku semakin menarik napas panjang, memasok kekuatan agar berani mengatakan tujuanku padanya.


"Aku ..." Jeda. Aku benar-benar gugup. Tidak biasanya aku seperti ini. Seakan-akan ada benang kusut membelenggu dan membuat lidahku kelu.


"Kenapa, Ra?"


"Apa Mas Hamish mau aku ajak keluar?"


"Keluar?" Dia malah membeo, membuatku semakin gugup saja. Tidak bisakah dia mengangguk saja untuk mengiakan?


"Jalan-jalan. Mungkin kamu merasa bosan di dalam rumah terus. Tapi ... kalau tidak mau, aku nggak papa, kok. Aku tidak akan memak--"


"Aku mau," ucapnya tegas yang cukup membuatku tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2