
Sudah pasti Mas Hamish tidak akan melewatkan kesempatan untuk pergi bersama Sofie. Aku yakin dia juga menantikan hal itu.
Meskipun hatiku begitu melarang Mas Hamish melakukannya, tidak ingin lelaki itu pergi berduaan dengan Sofie. Namun, aku bisa apa?
"Sofie, sepertinya kita tunda dulu. Aira sakit. Aku tidak tega meninggalkannya."
Aku cukup terkejut akan apa yang baru daja diucapkan Mas Hamish kepada Sofie.
Mas Hamish benar-benar peduli padaku. Dia bahkan melewatkan keinginan pergi bersama Sofie. Padahal aku yakin lelaki itu menunggu datangnya hari ini.
"Tapi, Mas ... kamu udah janji dateng jemput aku, kan?"
Apa?
Mengapa Sofie bicara begitu?
Mungkin merasa tidak enak padaku karena jawaban Sofie tidak seperti apa yang diharapkan membaut Mas Hamish menjauh dariku. Dia berdiri di dekat jendela, menutupi cahaya matahari yang masuk dengan pungung tegapnya.
Aku tak lagi mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Yang aku bingungkan adalah, mengapa Sofie malah bersikap merajuk saat Mas Hamish lebih memilih tidak pergi karena aku sedang sakit padahal perempuan itu tahu kalau aku adalah istri dari pria yang sedang dia ajak bertemu.
Keningku terasa berdenyut. Aku menggeleng pelan, lalu menarik selimutku rapat. Rasanya begitu dingin, demamku belum juga membaik.
"Ra, Aira!"
Sayup-sayup aku mendengar Mas Hamish memanggilku, tetapi aku tak mengerti mengapa rasanya sudah tidak kuat hanya sekadar membuka mata.
...***...
__ADS_1
Entah berapa lama aku tertidur. Telapak tanganku menyentuh sesuatu yang terasa basah di kening.
Ini adalah handuk kecil. Aku memungutnya dari atas dahi lalu meletakakn telapak tanganku di sana demi memeriksa suhu tubuhku.
Menghela napas dalam, aku merasa suhu tubuhku sudah turun, tidak sepanas tadi. Aku harus berterima kasih pada seseorang yang mau merawatku di saat aku sedang sakit.
"Ra, sudah bangun?" tanya Mas Hamish yang tiba-tiba masuk ke kamarku.
Telihat lengan kemjanya ditekuk sebatas siku, lalu membawa semangkuk makanan yang entah apa itu. Pastinya masih hangat karena terlihat ada uap air yang mengepul di atasnya.
"Tidak perlu bangun! Aku tahu kamu sedang sakit."
Mangkuk itu diletakkan pada nakas, lalu dia mengambil alih handuk kecil yang sedikit basah itu dari tanganku. Aku merasakan tangannya menyentuh dahiku, seperti sedang memeriksa panas pada tubuhku.
"Syukurlah, sepertinya demammu sudah turun."
"Kamu yang merawatku?" tanyaku memastikan.
"Menurutmu?" Dia malah menjawab dengan pertanyaan.
"Iya." Walaupun aku rasa tak mungkin, tetapi aku begitu percaya diri mengakuinya.
"Apa kamu senang?"
Pertanyaan apa itu? Aku mengerutkan kening. Bingung harus menjawab apa. Sementara Mas Hamish malah tertawa. Dia sepertinya sedang meledekku.
"Sudahlah, lupakan pertanyaanku! Ini, makanlah! Keburu dingin."
__ADS_1
Aku berusaha menegakkan badan dengan Mas Hamish membantuku duduk, meletakkan bantal dalam posisi berdiri pada kepala ranjang.
"Terima kasih," ucapku tulus.
Mas Hamish tampak seperti pria bertanggung jawab. Suami siaga yang sedang merawat istrinya. Aku bisa menyunggingkan senyum karenanya.
"Ini. Mau makan sendiri atau aku suapi?"
Aku tidak tahu maksud Mas Hamish mengatakan itu padaku. Entah sedang bercanda, atau memang ingin menyuapiku, aku tidak tahu.
Namun, aku tentu tidak ingin diangap kecentilan dengan memanfaatkan kesempatan. Aku pikir dia hanya sedang menggodaku agar aku tersenyum. Bukan benar-benar ingin menyuapiku sehingga opsi pertamalah yang aku pilih.
"Makan sendiri," kataku yang tak melepaskan senyuman di bibir.
"Baiklah. Aku tidak memaksamu. Makan yang banyak agar tenagamu kembali pulih."
Apa yang aku pikirkan selama ini tidak salah, bukan? Mas Hamish memang sebaik itu. Bagaimana aku bisa membenci suamiku hanya karena dia sedang sakit, dan tidak mengenaliku? Bukankah itu bukan kesalahannya?
Mungkin semua ini merupakan takdir Tuhan yang sengaja menguji kami sebagai pasangan suami istri.
Baru saja aku menyendokkan bubur itu ke mulut, tetapi aku tiba-tiba tersedak.
Aku terbatuk-batuk dengan bubur menciprat pada wajah juga tanganku.
"Hati-hati, Ra! Pelan-pelan saja. Nggak ada yang merebut makananmu!" Telapak tangan Mas Hamish menepuk pelan punggungku. "Katakan, di mana kamu menyimpan tisu?"
Aku mengatur napas yang tersengal, lalu menunjuk ke arah bufet yang terletak di ujung ruangan.
__ADS_1
Mas Hamish mengangguk, lalu mencari keberadaan tisu di sana. Aku membiarkannya, masih mengatur napas karena sakitnya tersedak tadi. Namun, baru saja aku merasa lebih baik, perkataan Mas Hamish berikutnya membuatku sulit untuk bernapas.
"Ra, kamu hamil?" tanyanya dengan mengangkat tespek yang sudah kusembunyikan di dalam laci.