Senja Di Ujung Istanbul

Senja Di Ujung Istanbul
Bab 08. Tatapan yang Berbeda


__ADS_3

"Apa aku mengganggu?"


Jelas. Aku merasa sangat terganggu dengan kehadiran Sofie. Ini sudah terlalu malam bagi seorang wanita yang hendak bertamu ke rumah seorang pria. Ingin sekali untuk menjawab bahwa kedatangannya tidak diharapkan. Namun, aku berusaha menahan diri agar tidak lepas kendali.


Mas Hamish menggeleng. Ekspresi dinginnya langsung berubah lembut. "Tidak! Mana mungkin kedatanganmu menggangguku?" Dia beralih bicara padaku. "Ra, bawakan minuman untuk Sofie. Jangan bengong saja di situ!"


Aku mengangguk. Tak ada pilihan lain selain menurut. Posisiku bukan lagi nyonya rumah, melainkan seorang pelayan. Beranjak dari duduk setelah memastikan api yang sempat aku nyalakan sudah padam, aku berjalan melewati belakang Sofie. Bibirku berbisik lirih begitu berada di dekatnya. "Apa maumu malam-malam begini datang kemari, Sofie?"


"Jangan berperasangka buruk. Aku sudah berjanji pada Mas Hamish untuk menyempatkan datang saat dia sudah pulang." Begitu tenang dia menjawab, seakan-akan tidak peduli akan perasaan cemburuku.


"Sofie, aku harap kamu mengingat apa yang pernah kita bicarakan. Aku--" Perkataanku terpotong karena Mas Hamish tiba-tiba menyuruhku bergegas.


"Ra, mengapa masih di sana? Buruan buatkan Sofie minum!"


Helaan napas berat sebagai reaksiku menanggapi sanggahan Mas Hamish. Aku memilih berlalu dari sana sembari diikuti Bi Rumi. Baru beberapa langkah kakiku terayun, suara Mas Hamish terdengar lagi. Namun, dengan intonasi yang begitu ramah. Sangat berbeda ketika bicara kepadaku.


"Sofie, aku tahu pasti kamu sangat sibuk sampai kemari malam-malam begini. Ayo, kita ngobrol di depan!"


Bunga pada vas biru bercorak abstrak di belakang pintu sekarang menjadi tempatku melempar pandang. Aku memilih melihat itu daripada harus menyaksikan suamiku sangat akrab saat berbicara dengan wanita lain.


Setelah menghela napas, berusaha menambah stok kesabaran dan rasa cemburu, aku dan Bi Rumi berjalan menuju dapur, menyiapkan suguhan untuk Sofie.


"Maaf, Non. Tadi Non Sofie tiba-tiba nyelonong ke belakang. Padahal Bibi udah ngelarang."


Aku menggeleng. "Nggak papa, kok, Bi! Nggak masalah." Tidak mungkin aku memarahi Bi Rumi, kan? Dia seharian sudah bekerja, dan seharusnya bisa beristirahat malam ini, tetapi karena kedatangan Sofie, waktu tidur berliau terganggu.


Usai membuatkan teh hangat sebagai jamuan tamu, aku mendadak malas untuk mengantarkannya. "Tolong antarkan ke ruang tamu, ya, Bi! Setelah ini Bibi istirahat saja."


"Iya, Non."


Namun, baru saja Bi Rumi melangkahkan kaki, aku menahannya. Mungkin emosiku agak labil, aku merasa harus mengawasi apa yang sedang Sofie dan Mas Hamish perbincangkan jika sedang berdua.


"Bi, biar Aira saja yang membawanya."


Dua gelas teh hangat sudah tersaji di meja. Aku tidak langsung menjauh dari sana, melainkan berdiri tepat di belakang kursi. Sofie melirik ke arahku. Aku menyadari satu hal, tatapan Sofie seakan-akan tidak menyukai keberadaanku. Sangat aneh bukan jika Sofie merasa terganggu kalau memang tidak ada niatan lain berkunjung ke rumah ini?


"Mas, apa kamu yang menyuruhnya berdiri di sana?" Aku mendengar Sofie berkata pada Mas Hamish.


Lelaki itu menoleh ke arahku yang langsung berkata sedikit kasar terdengar di telinga. "Apa yang kamu lakukan di sana! Mau menguping pembicaraan kami?"


Aku menggeleng cepat. "Aku hanya berjaga-jaga kalau kalian membutuhkan sesuatu."

__ADS_1


"Kami tidak butuh apa-apa. Menyingkirlah! Mengganggu saja!"


Kulayangkan pandangan ke arah Sofie, menuntut jawaban akan maksudnya berkata seperti itu kepada Mas Hamish. Seharusnya dia memintaku duduk bertiga dengan mereka, kan? Padahal dia tahu siapa aku sebenarnya. Namun, sepertinya Sofie tak peduli. Perempuan yang mengenakan dress selutut itu memalingkan muka saat bersitatap dengan mataku.


"Sudah, masuk saja sana, Ra! Kamu mau ngapain di sini terus? Mau jadi satpam?" Mas Hamish menghardikku. Aku tak bisa lagi mengawasi mereka dari dekat.


Aku hanya memantau mereka dari jauh, mengintip dari balik pilar-pilar yang memisahkan antara ruang tamu dengan ruang tengah. Terdengar tawa dan canda yang begitu renyah di antara mereka. Mas Hamish yang dingin berubah hangat saat berhadapan dengan Sofie.


"Aduh!" Terdengar suara Sofie melenguh sembari mengucek mata,


Aku ragu bahwasannya dia sedang kelilipan di dalam ruangan. Bagiku sangat mustahil. Baiklah, anggap saja aku sedang cemburu. Tapi ... rumah ini memang terjaga kebersihannya. Mas Hamish alergi debu-debu, terutama binatang berbulu. Dia akan bersin-bersin jika memang dirasa udara atau tempatnya berada tidak dalam kondisi bersih.


"Coba sini aku lihat!"


Sekarang lihatlah! Mas Hamish dengan begitu perhatian menawarkan diri untuk meniup mata Sofie demi mengeluarkan kotoran yang membuat mata perempuan itu kesakitan.


Saat wajah mereka nyaris berdekatan dengan ibu jari serta telunjuk Mas Hamish berusaha membuka mata Sofie yang memejam, aku bergegas datang.


"Biar aku saja!"


Sontak Mas Hamish menjauhkan wajahnya dari Sofie. Aku mengembuskan napas lega. Paling tidak Mas Hamish masih tahu malu kalau mereka memang terlalu dekat sebagai lawan jenis.


Aku menggantikan posisi Mas Hamish duduk di depan Sofie setelah lelaki itu beranjak, dan berdiri.


"Apa kotorannya sudah keluar?" tanya Mas Hamish penuh perhatian.


"Heem, terima kasih sudah membantuku tadi."


Mas Hamish mengangguk, tersenyum hangat. Melihatnya bersikap lembut dengan wanita lain di depan mataku langsung, membuatku tidak tahan lagi.


"Maaf, ini sudah terlalu malam untuk seorang wanita bertamu." Aku tidak tahu mengapa berani sekali mengatakan itu. Padahal saat ini posisiku hanyalah seorang pembantu.


"Apa maksudmu, Ra!" Mas Hamish menatapku tak senang.


"Mas, ini sudah hampir pukul sepuluh malam. Seharusnya tidak boleh--"


"Jadi aku diusir?" Sofie menyela. Aku sempat terkejut dengan apa yang dia katakan. "Mas, aku sebenarnya sangat sibuk akhir-akhir ini, tapi karena sudah janji padamu untuk datang, jadi aku menyempatkan diri ke sini. Tapi--" matanya menatap ke arahku. "--sepertinya kedatanganku tidak diharapkan sampai kalian mengajariku tentang sopan santun."


Wajah Mas Hamish meradang. Aku tidak mengerti mengapa Sofie bisa mengatakan hal yang sanggup memancing kemarahan suamiku. Untuk saat ini aku hanya berharap Mas Hamish menyetujui apa yang aku katakan, dan membelaku.


Namun, aku salah.

__ADS_1


Aku terlalu berharap padanya.


Cinta mampu membutakan kebenaran walaupun ucapanku benar adanya.


"Ra, Sofie ini S2 universitas luar negeri. Dia lulus dengan menyandang predikat terbaik. Gak main-main. Kamu bisa-bisanya ngajarin dia! Kamu sendiri lulusan apa berani ngajarin dia? Hah!"


Aku sempat terkesiap dengan kalimat frontal yang keluar dari bibir suamiku. "Masalah adab bertamu tidak ada hubungannya dengan pendidikan, Mas!"


"Jadi kamu ngerasa lebih pinter? Kamu ngajarin orang sopan santun, sedangkan kamu sendiri nggak ngerti etika memperlakukan tamu."


"Tapi, Mas?"


Aku ingin menyela, membelah diri. Namun, gerakan tangan Mas Hamish seakan-akan mengintruksikan aku agar diam.


"Ingat, Ra! Kamu di sini bukan siapa-siapa."


Aku menatap Sofie dan Mas Hamish bergantian. Mulutku tak lagi bisa menyanggah omongan mereka. Siapa aku?


Aku istrimu. Aku istrimu! Namun, bibirku terkunci rapat, tak bisa mengatakannya.


"Aku memang bukan siapa-siapa." Mataku mulai memanas dan berembun. "Aku hanya pelayan, dan aku ... tidak berpendidikan."


Untuk beberapa jenak aku menatap mata jernih Mas Hamish. Ekspresi dingin dan marahnya berangsur hilang. Namun, aku mengabaikannya. Aku memilih beranjak pergi sembari menahan rasa sakit di hati.


Menutup pintu kamar, lalu menyandarkan kepala di belakangnya. Aku tak kuat menahan lagi. Mungkin Mas Hamish benar, aku tidak pantas untuk mengajari Sofie yang berpendidikan perihal adab. Dia pastinya lebih tahu. Dia pasti jauh lebih pintar dari aku.


Tapi ... tidakkah Mas Hamish mengerti bahwa aku cemburu?


Suara ketukan di pintu membuatku segera menyeka air mata dengan ujung baju. Mataku mungkin sudah memerah, pun dengan hidung. Namun, aku harus segera membukanya dan melihat siapa yang menggangguku malam-malam begini.


Hingga saat pintu itu terbuka, Mas Hamish sudah duduk di kursi roda sembari menatapku tajam. Aku tahu dia pasti sedang marah karena aku pergi begitu saja saat perselisihan tadi. Aku menunduk, menyiapkan telinga untuk mendengar semua ocehannya.


Hening.


Mas Hamish tak kunjung berkata apa pun. Aku masih menundukkan pandangan, tak menatapnya sedikit pun sambil menunggu-nunggu kata apa yang hendak dia ucapkan. Namun, lelaki itu masih saja diam meski waktu membentang cukup lama dengan kami yang belum beranjak dari posisi semula.


"Kalau tidak ada yang dibicarakan, aku masuk dulu!" ucapku kemudian yang hendak menutup pintu.


"Ra!"


Gerakan tanganku berhenti. Pintu yang nyaris menutup itu kembali terbuka, tetapi tidak terlalu lebar.

__ADS_1


"Aku ... minta maaf," ucap Mas Hamish kemudian yang membuatku terkejut.


__ADS_2