Senja Di Ujung Istanbul

Senja Di Ujung Istanbul
Bab 17. Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

Ini benar-benar di luar dugaan. Aku tidak menyangka Ibu akhirnya mengatakan semua itu kepada Mas Hamish.


Aku menggeleng. Takut akan apa yang selama ini aku cemaskan terjadi.


"Apa maksud Ibu?" Mas Hamish mengusap pipinya sendiri. Pasti sangat sakit merasakan tamparan Ibu yang sampai suaranya terdengar nyaring.


Isyarat gelengan kepala aku lakukan, berharap Ibu tidak melanjutkan. Biarlah untuk sementara Mas Hamish tidak mau denganku; Mas Hamish membenciku. Aku tidak peduli asalkan jangan sampai ingatannya yang hilang itu tidak kembali selamanya.


Aku melakukan semua ini hanya ingin agar dia bisa kembali seperti sedia kala. Sudah ikhlas menjalani semua, berharap kesabaranku dalam menghadapi cobaan ini akan memberikan akhir bahagia.


Namun, sepertinya Ibu tak mendengar permintaanku.


"Biarkan dia tahu semuanya! Biarkan kepalanya terbuka agar tidak terus-menerus mencari Sofie lagi, dan lagi. Biarkan dia sadar dengan tingkah lakunya yang salah itu."


"Mengapa Ibu bicara seperti itu? Aku tahu kalau Ibu tidak meyukai Sofie, tapi bukan begini caranya dengan mengarang cerita bahwa Aira itu istriku. Ibu, aku mohon. Jangan percaya dengan ucapannya. Dia sudah membuat kebohongan besar. Andai tadi aku tidak menegcek bufet yang ada di kamar ini, pasti kebohongannya terus-menerus beralanjut sampai anaknya lahir di rumah ini. Orang-orang akan menganggapku sudah menghamilinya. Menghamili wanita murahan sepertinya."


"Cukup, Hamish!"


Ibu membentak. Sementara aku hanya bisa menangis.

__ADS_1


Aku memang selemah itu. Begitu lemah sampai tidak tahu harus mengatakan apa. Bahkan, tak mampu untuk menjawab seluruh tuduhan Mas Hamish padaku.


"Sampai kapan kamu akan begini?" Ibu melanjutkan kalimatnya. "Aira itu istrimu. Kamu sudah menikah dengannya lima tahun lalu setelah putus dari Sofie. Apa kamu ingat! Kamu sudah tidak ada hubungan dengan Sofie. Istri kamu itu Aira. Dan Sofie hanya mantan pacarmu saja. Tidak lebih!"


Suara itu berhenti ketika keheningan tiba-tiba menyapa.


Aku tidak tahu bagaimana reaksi Mas Hamish setelah mendengar semuanya. Tiada terkaan yang mampu menyimpulkan apa yang akan terjadi setelah ini. Aku harap semuanya akan baik-baik saja.


Hening.


Tiada suara apa pun hingga detik jam pada dinding mendominasi ruangan.


Aku sempat bernapas lega saat tidak melihat tanda-tanda seperti apa yang sejak tadi aku cemaskan. Namun, hal itu nyatanya tidak berlangsung lama karena di detik berikitnya ... Mas Hamish tiba-tiba histeris.


Dia meremas rambutnya sendiri bersamaan teriakan di kepala, lalu ambruk kemudian berguling di lantai.


Dia semakin histeris. Aku takut ada sesuatu yang memengaruhi otaknya. Ini masih terlalu dini untuk menjelaskan semuanya. Ini terlalu cepat untuk memberi tahunya.


Mas Hamish butuh waktu untuk memahami segalanya dengan perlahan, bukan dengan paksaan. Apalagi kemarahan.

__ADS_1


"Hamish, Hamish!" Ibu gegas membungkuk, mengguncang tubuh Mas Hamish. Aku pun tak tinggal diam. Segera turun dari ranjang demi melihat kondisi suamiku itu.


Dia berontak ketika tangan kami menahan tarikan tangannya yang sedang menjambak rambut sendiri. Tak hanya itu. Mas Hamish ternyata juga membentur-benturkan kepalanya pada lantai.


"Mas, sudah, Mas! Jangan begini!"


Tangisku pecah. Kesakitan yang selama ini aku tahan agar dia tak sampai kehilangan memori selamannya nyatanya akan sia-sia.


Aku takut.


Benar-benar takut kehilangan suamiku selamanya.


Andai waktu boleh diputar ulang, lebih baik Mas Hamish pergi saja bersama Sofie. Tidak perlu merawatku dan berakhir begini. Lebih baik dia bersama Sofie jika dengan mengingatku saja bisa sesakit ini.


"Mas, jangan begini! Ibu--"


Aku tergugu di sana. Merasa kasihan serta bersalah. Karena keegoisanku ingin mendapatkan perhatian dari suamiku, aku terlupa akan kondisinya yang memang belum sepenuhnya sembuh. Tangisku rasanya tidak berguna jika melihat Mas Hamish kesakitan begini.


Ibu pun tak bisa melakukan apa-apa karena Mas Hamsih sejak tadi berusaha memukuli diri sendiri, menyakiti kepalanya dengan beberapa kali membentur-benturkan lantai.

__ADS_1


Hingga kemudian dia memejamkan mata bersamaan suara teriakan kencang yang membuat aku dan Ibu histeris hampir bersamaan.


Mas Hamish tak sadarkan diri.


__ADS_2