
...***...
MOHON MAAF, karena menghilang cukup lama. Semoga masih ada yang lanjut baca. Karena kebetulan akhir2 ini banyak kendala sehingga terpaksa menghentikan up. Untuk masalah nanti kontrak atau tidak, novel ini akan tetap dilanjut sampai selesai
Terima kasih atas dukungannya. Jangan lupa beri like dan komentar agar author tahu kalau novel ini ada yg baca.
...***...
"Pokoknya aku mau makan yang lain."
Mas Hamish berubah seperti anak kecil. Aku sampai tidak mengenali suamiku itu. Apakah dia pria yang sama, yang meminangku lima tahun lalu?
Aku mengambil alih piring itu, lalu kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan baru untuk Mas Hamish. Dengan tubuh yang masih lemah, aku memutuskan memasak ulang. Tidak mungkin menyuruh Bi Rumi karena beliau pasti sudah lelah. Walaupun aku sendiri juga belum sehat benar, tetapi sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Tanpa bawang, Ra!"
Suara itu mengejutkanku. Aku menoleh ke belakang. Mas Hamish ternyata sudah berada di sana sembari menggulirkan roda kursinya.
Aku mengangguk mengerti. Mas Hamish tak sekali pun mengalihkan perhatiannya dari pekerjaanku, seakan-akan takut aku memasukan bahan masakan yang tidak dia inginkan. Setidaknya itu yang terlihat dari ekor mataku.
Masakan tanpa bawang?
Meski sudah mengiakan, tetapi aku tidak mengerjakan sesuai permintaan. Berusaha menutupi apa yang kumasak dengan badanku agar Mas Hamish tidak bisa memperhatikannya.
Hanya sebuah masakan sederhana, tetapi sebelum kecelakaan terjadi Mas Hamish sering memintaku untuk membuatkannya, yaitu seporsi tumis kangkung seafood dengan sedikit kuah. Untuk bawangnya aku cincang sekecil mungkin dan ditumis sampai benar-benar matang agar tidak terlalu terasa saat dimakan. Aku tidak tahu ini bisa berhasil atau tidak. Namun, aku harus mencobanya.
Mas Hamish tidak menunggu di meja makan, melainkan pada meja bar dengan dagu bertumpu di kedua tangannya. Jika diam begini, dia terlihat lebih manis. Aku tahu ingatannya belum pulih. Namun, sikapnya saat menungguiku memasak tetap sama. Ya, seperti apa yang dilakukannya sekarang.
Cukup dua puluh menit waktu berlalu, masakan sudah matang sempurna. Aku mencicipinya sedikit memastikan cita rasa yang diinginkan sudah sesuai. Lantas, aku membawanya ke meja bar di mana Mas Hamish sudah menunggu sejak tadi.
"Apa ini?" tanyanya dengan kedua alis saling tertaut, terlihat raut mukanya sangat menyebalkan.
"Ini tumis kangkung."
Dia menggeleng, lalu mendorong piring yang sudah kusajikan. Ekspresinya tampak jijik saat melihat makanan yang baru selesai kumasak.
"Buatkan yang lain! Aku tidak mau memakannya."
Aku menghela napas panjang. Bahkan, dia tak berniat mencicipinya dulu sebelum menyuruhku membuat masakan lain. Mengapa Mas Hamish suka sekali menguji kesabaranku?
__ADS_1
"Coba dulu, Mas! Kamu belum mencobanya, kan?"
"Aku bilang tidak mau, ya, tidak mau. Denger nggak, sih?"
"Ya udah, nggak usah makan!" Akhirnya kata itu yang keluar dari mulutku. Sudah lelah menghadapi rengekannya.
"Hei, aku lapar, Ra!"
"Makan yang ada."
"Tidak. Buatkan yang lain!"
Tanpa perasaan Mas Hamish hendak pergi setelah mengatakan hal tersebut padaku. Namun, spontan tangan ini menahan kursi roda yang hendak menjauh. Dia menoleh, menatapku tajam.
Aku menelan ludah.
Tak peduli akan pandangan kesalnya, tak peduli dengan perkataan buruk yang mungkin akan terlontar dari bibirnya, aku menangkupkan tangan pada kedua pipinya, menatap lekat mata jernih yang sedang membalas tatapanku. Untuk sesaat kami terdiam. Aku yang sebelumnya ingin sekali menasihatinya, berkata tegas agar dia tak berbuat semaunya, kini malah tak bisa mengucapkan sepatah kata.
Tatapannya itu mampu menekan keberanianku.
"Maaf," kataku yang kemudian melepaskan tangkupan tangan dari wajahnya. Mengambil kembali masakan yang sempat aku hidangkan untuk membuatkan Mas Hamish makanan yang lain.
Hanya kata singkat seperti itu, aku bisa luluh dengannya. Aku memutuskan kembali pada barstool. Piring itu kuletakkan pada tempat semula, yaitu tepat di depan Mas Hamish.
Mataku tak beralih sedikit pun darinya begitu tangan kekar itu menyendokkan tumis kangkung yang baru saja kubuat, lalu memasukkan ke dalam mulut.
Pandangan mata Mas Hamish mengarah padaku sembari mulutnya melakukan gerakan mengunyah. Aku menunggu responnya dengan jantung berdebar, takut jika dia tak menyukainya, atau mungkin memuntahkan tanpa perasaan langsung di hadapanku. Namun, apa yang aku cemaskan sama sekali tidak terjadi.
"Lumayan." Hanya kata itu yang meluncur ringan dari bibirnya. "Aku mau memakannya. Bawa ke meja makan!"
Dia menggerakkan kursi roda ke belakang, lalu berputar arah keluar dari area dapur. Aku menunduk lantas mengembuskan napas lega. Setidaknya urusan makan sudah terselesaikan.
...***...
Waktu menunjuk tepat di satu angka. Pukul sembilan malam ketika langit pekat dengan beberapa bintang berpijar menghiasi. Aku berada di belakang rumah, duduk di lantai, menekuk kedua kaki sembari menyalakan api kecil untuk membakar berkas-berkas lama. Termenung dalam lamunan, aku memasukkan satu per satu lembaran kertas itu pada kobaran api di depanku.
Cahaya pada api kecil itu membesar begitu beberapa tumpukan kertas telah terbakar. Ide memusnahkan berkas-berkas tak terpakai dengan cara membakarnya ini berasal dari Mas Hamish. Setelah semua transaksi tercatat pada basis data, kami membakar berkas-berkas yang tidak berguna agar tidak memakan tempat. Tak jarang kami mengobrol sampai larut, dan berakhir tidur di tengah malam karena lupa waktu.
"Ra, sedang apa kamu?"
__ADS_1
Suara itu mengalihkan perhatianku. Aku menoleh ke samping. Tampak Mas Hamish berada di kursi rodanya sembari memperhatikan api yang kunyalakan.
"Seperti yang kamu lihat. Kenapa kamu kemari, Mas? Butuh sesuatu?"
Dia menggeleng. Tubuhnya membungkuk, mengambil kertas bekas yang berada di sampingku. "Apa ini?"
"Oh, itu berkas-berkas dua tahun lalu. Aku memusnahkannya karena sudah memakan terlalu banyak tempat."
"Kau yang mengerjakannya?"
"Baru kali ini." Aku mengambil alih kertas bekas itu dari tangan Mas Hamish. "Biasanya kamu yang melakukannya."
"Aku?" Telunjuk Mas Hamish mengarah pada dirinya sendiri. "Kau banyak tahu tentangku? Apa kita sebelumnya dekat?"
Bayangan api itu menerpa wajah Mas Hamish saat mataku mengarah ke sana. "Begitulah!
Aku tersenyum, kembali memasukkan kertas-kertas bekas itu pada api yang munyala.
"Sedekat apa?"
Detik itu juga gerakan tanganku berhenti. Tanpa melihatnya; tanpa menoleh padanya, aku menunduk kemudian berkata, "Lebih dari sekedar dekat. Aku tahu semua tentangmu, kecuali masa lalumu."
Sebelumnya aku merasa tidak perlu tahu bagaimana masa lalu Mas Hamish. Dia bisa menjadi suami yang baik saja sudah membuatku bahagia. Bagiku mengenang masa lalu sama saja menciptakan luka batin baru, dan hal itu selama ini sebisa mingkin aku hindari. Namun, ternyata aku salah. Mas Hamish rupanya memiliki masa lalu yang belum selesai.
"Jadi, kita benar-benar pernah dekat? Apa yang aku pikirkan benar?"
"Pikirkan? Pikirkan apa?" Pandanganku langsung kualihkan pada Mas Hamish demi menunggu jawaban darinya.
"Ibu sengaja menyuruhmu menjagaku karena ingin mendekatkan kita, kan?"
"Apa?"
Tampak Mas Hamish ingin melanjutkan kalimatnya. Namun, terpotong dengan suara wanita yang mendadak muncul di antara kami.
"Selamat malam!"
Aku dan Mas Hamish menoleh nyaris bersamaan. Keningku mengernyit melihat siapa yang datang malam-malam begini. Dan di belakang perempuan itu ada Bi Rumi yang menatapku takut-takut.
"Sofie?" kata Mas Hamish yang sepertinya juga tidak menyangka akan kedatangan Sofie yang tiba-tiba.
__ADS_1