Senja Di Ujung Istanbul

Senja Di Ujung Istanbul
Bab 18. Keluar!


__ADS_3

Aku baru menyadari satu hal jika nyawa manusia nyatanya begitu kerdil. Tidak ada yang bisa menolak takdir yang namanya kematian, bahkan penguasa sekalipun.


Dokter mengatakan Mas Hamish mengalami kerusakan memori otak cukup parah. Dan sedikit saja pemicu membuat otaknya berpikir keras, berusaha mengingat-ingat semua yang tidak tercakup dalam ingatannya akan berakibat fatal.


"Dia bisa saja tiada jika kalian memaksa otaknya bekerja keras."


Kalimat yang dokter ucapkan nyatanya membuat aku dan Ibu syok. Seakan-akan ada petir menggelegar di puncak siang yang terik. Tak menyangka jika efeknya semengerikan itu.


"Jangan memaksanya jika dia belum mampu. Tolong, ini semua demi kebaikan Pak Hamish sendiri."


Ibu memeluk tubuhku, dengan kepalaku bersandar di bahunya. Kami menyayangi orang sama, ingin pria yang saat ini terbaring di atas ranjang sudah sembuh dari sakitnya.


Walaupun mustahil jika itu terjadi dalam waktu dekat, kami tak putus asa untuk tetap berharap agar Mas Hamish yang kami kenal bisa kembali.


"Perkembangan Pak Hamish sebenarnya sangat baik akhir-akhir ini. Tapi karena ada satu pemicu yang membuatnya memaksakan diri bekerja keras, merangsang sel-sel otak untuk mencakup hal yang telah hilang, sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi."


Apa yang dikatakan oleh dokter benar adanya. Aku melihat sendiri bagaimana Mas Hamish kesakitan, dengan berkali-kali berusaha melawan rasa sakitnya itu dengan memukuli kepalanya sendiri.


"Lalu, bagaimana Mas Hamish sekarang, Dok? Apa yang harus kami lakukan saat ini?"


Ibu sudah mengatakan semuanya. Ibu sudah menunjukakn masa lalunya. Apakah Mas Hamish masih bisa sembuh?


Di detik ini keinginanku sudah tidak lagi terlalu tinggi. Bukan lagi agar ingatan Mas Hamish pulih dan berakhir mencintaiku, mendampingiku saat anak ini terlahir kedunia, melainkan ... aku hanya ingin agar Tuhan menyelamatkan suamiku, baik dia mampu mengingatku ataupun melupakanku selamanya.


Terkadang manusia selucu itu. Saat harapan yang digantungkan begitu tinggi hingga tidak mematok dan mengingat kualitas diri, dia akan kecewa ketika harapan itu jatuh dan tak bisa diperjuangkan. Padahal di dunia ini, siapa yang bisa memberi jaminan akan sebuah keberhasilan?

__ADS_1


Jawabannya ... tidak ada.


Tidak ada yang bisa memastikan semua usaha akan berhasil. Sekuat apa pun kita pengupayakan, setekun apa pun kita mengusahakannya, semua kembali pada takdir dan keteteapan Yang Kuasa. Sebagai seorang hamba, kita cukup mengoptimalkan usaha dan berakhir berserah diri apa pun yang akan terjadi ke depannya.


"Kamu yang sabar, ya! Ibu yakin jauh di lubuk hati Hamish namamu tersimpan namamu. Hanya dia yang belum menyadarinya. Ibu yakin suatu saat Hamish akan sadar tanpa kita meminta dia mengingat semuanya. Maafkan Ibu! Maafkan Ibu yang sudah membuatnya semakin runyam."


Ibu menangis. Aku tidak tega melihat seorang Ibu menangisi putranya yang sedang sakit. Aku tidak kuat melihat air mata keluar dari mata tua itu.


"Amiin." Hanya itu yang sanggup terucap dari bibirku.


Air mata, asa, keinginan, sudah lama terbuang tanpa berani untuk mengharapkan kembali.


Saat hari mulai petang, Ayah mertua datang. Beliau memang sibuk bekerja menjalankan bisnisnya yang memiliki cabang menggurita. Aku menghampiri beliau sambil mengucapkan salam, diikuti Ibu yang mencium punggung tangan Ayah dengan penuh ketakziman.


"Bagaimana kondisi Hamish?" tanya Ayah kemudian dengan mata menatap aku dan Ibu secara bergantian.


Terdengar embusan napas berat dari bibir Ayah mertua. Aku kasihan kepada beliau. Pasti sekarang sudah lelah dan penat. Seharian bekerja mengurus perusahaan, dan kini malah memikirkan putranya yang kondisi kesehatan semakin menurun.


"Kalau saja Ibu bisa lebih sabar, Hamish tidak akan seperti ini." Ibu mertua menunduk. Air mata yang sudah mengering kini mulai menetes kembali.


"Sudah, Bu! Ini semua bukan salah Ibu. Jangan menyalahkan diri sendiri!"


"Tapi itu kenyataannya. Ibu nggak sesabar kamu. Hamish sangat berutung memiliki istri seperti kamu. Semoga Hamish cepat sadar dan mencintaimu seperti dulu."


Tidak ada tanggapan maupun jawaban yang keluar dari bibirku. Hanya anggukan yang kulakukan sembari mengembuskan napas kasar.

__ADS_1


Hingga kemudian mataku tak sengaja menatap arah ranjang di mana Mas Hamish berada. Ada gerakan kecil di sana--pada tangannya. Aku mengatakan pada Ibu tentang apa yang baru saja aku lihat, dan di sana Mas Hamish sudah membuka mata dengan pandangan mengarah padaku tajam.


Mengapa dia menatapku begitu?


"Hamish, kamu sudah siuman, Nak?"


Ibu langsung mendekati Mas Hamish. Lelaki itu diam saja, tak menjawab apa pun. Aku semakin takut dibuatnya, Apalagi tatapannya itu ... terlihat mengerikan di mataku.


Tidak ada yang kami perbincangkan setelah itu. Ibu memaksaku keluar kamar Mas Hamish dan memintaku untuk segera makan. Sementara Ayah berada di dalam.


"Ibu dengar kamu sakit tadi. Jadi Ibu langsung kemari. Kamu pasti belum makan, kan? Aira, ingat di perutmu ada calon anakmu. Kamu tidak boleh terlalu sedih karena akan berimbas pada kesehatan janinmu. Jangan lupa untuk selalu menjaga pola makan. Jangan sampai telat makan, ya."


Aku mengangguk. Merasa beruntung memiliki mertua berhati malaikat seperti orang tua Mas Hamish.


Memang kedua orang tuaku telah tiada. Namun, mendapatkan kasih sayang dari mertua layaknya orang tua kandung cukup membuatku mengerti bagaimana kasih sayang orang tua sesungguhnya.


Dua jam berlalu. Hari semakin malam. Melihat Mas Hamish sudah dalam kondisi baik meski tak mau bicara, Ibu dan Ayah pamit pulang. Ibu mengatakan akan kembali besok setelah menyiapkan keberangkatan Ayah bekerja.


Aku menyalami keduanya dan mengatakan untuk berhati-hati di jalan. Nyatanya suasana kembali sepi setelah kedua mertuaku pulang ke kediamannya sendiri.


Baru saja aku menutup pintu selepas melihat mobil mertua pergi, lalu membalikkan badan, kedatangan Mas Hamish yang tiba-tiba berada di belakangku mengejutkanku.


"Mas ... Hamish!"


Aku menelan ludah. Mas Hamish yang kukenal tidak seperti ini. Dia lebih dingin dari Mas Hamish yang baru saja siuman pasca koma.

__ADS_1


"Kemasi barang-barangmu! Aku ingin kamu keluar dari rumah ini, sekarang!


__ADS_2