Senja Di Ujung Istanbul

Senja Di Ujung Istanbul
Bab 13. Tempat Kenangan


__ADS_3

Ini memang terlihat aneh, tetapi saat bibir Mas Hamish mengucapkan 'ya', aku tak sanggup menyembunyikan senyum.


"Ke mana?" tanyanya kemudian.


"Nggak jauh. Hanya dekat-dekat sini."


"Okey! Apa aku perlu ganti baju?"


Aku menggeleng menanggapi. "Nggak usah. Begitu sudah cukup."


"Cukup apa?"


"Cukup--" Aku jadi bingung sendiri menjawabnya. Tidak mungkin mengatakan cukup tampan, bukan? Dia sudah menganggapku sebagai teman. Aku tidak mau hubungan baru yang terjalin antara aku dan Mas Hamish rusak begitu saja karena ketidaksabaranku.


Namun, dia mlalah tertawa.


"Mengapa wajahmu merah? Apa kamu sedang memikirkan yang tidak-tidak?"


"Kamu sedang meledekku?" Pipiku mengembung. Rasanya seperti sedang dipermainkan. Dia makin tertawa. Sudah lama sekali tidak melihat tawa renyah suamiku sejak kecelakaan itu terjadi.


"Wajahmu lucu! Baiklah, aku akan menurut ke mana pun kamu membawaku pergi."


Rasanya begitu lega. Akhirnya keinginanku jalan-jalan bersamanya terlaksana juga.

__ADS_1


...***...


Hari sebenarnya semakin siang, tetapi udara masih terasa sejuk. Hujan memang sudah reda, tetapi matahari tampak malu-malu menampakkan diri di balik awan yang memutih.


Bayangan pada genangan air memantulkan kami berdua, aku yang berjalan sembari mendorong pelan kursi roda Mas Hamish.


Ini adalah tempat kami berkencan pertama kali. Berkencan setelah sah menjadi pasangan suami istri. Bukan langsung melakukan bulan madu seperti pasangan pengantin lainnya, melainkan lebih seperti orang yang baru berpacaran.


Aku masih mengingat jelas bagaimana Mas Hamish selalu meminta izin saat hendak menggandeng tanganku. Pria itu begitu manis, juga sangat sopan. Kami masih malu-malu hanya untuk menunjukkan perasaan.


"Kamu tahu, Ra!" Suara Mas Hamish mengalihkan perhatianku.


"Apa?"


"Benarkah?"


Aku cukup melambungkan harapan saat Mas Hamish merasa mengingat sesuatu. Apalagi dengan jelas lelaki itu mengatakan mengingat masa-masa indah pada tempat ini. Sama seperti apa yang baru saja aku pikirkan.


"Iya. aku tidak salah lagi. Ini tempatnya."


Wajahku bersemu. Mataku nyaris berkaca-kaca. Tidak menyangka Mas Hamish juga mengingatnya.


"Tempat apa?"

__ADS_1


Aku begitu mendambakan jawaban darinya. Mengingikan jawaban yang sesuai dengan harapanku, mimpi-mimpiku. Namun, sepertinya memang aku tidak boleh menggantungkan harapan terlalu tinggi.


"Ini adalah tempatku pertama kali menyatakan perasaan kepada Sofie."


Jawaban Mas Hamish meruntuhkan segala asa yang baru saja aku bangun. Melenyapkan senyuman dan rona kemerahan yang sempat tersirat di wajahku. Menghapus memori indah yang baru saja aku bayangkan kembali.


"Oh." Hanya itu yang mampu terucap di bibirku.


Memangnya aku bisa bicara apa?


Mau marah, juga tidak mungkin aku lakukan, bukan? Bukan salah Mas Hamish jika mengingat Sofie di tempat ini. Namun, salahku karena tidak tahu jika tempat kami pertama kali berkencan adalah tempat di mana Mas Hamish menunjukkan perasaan kepada perempuan itu.


"Dia sangat cantik saat itu. Di bawah hujan, kami berlindung di sana, pada pendopo itu!" Telunjuk Mas Hamish mengarah ke sana. "Ternyata lima tahun berlalu tempat ini tidak banyak berubah."


Tidak ada yang berubah, tetapi sudah banyak yang seharusnya terlewati. Dan bahkan tidak kamu sadari.


Aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan kisah klasik dua orang anak muda yang sedang dilanda cinta. Menutup rapat hati dan perasaanku agar tidak dihinggapi rasa sakit juga cemburu buta.


Setiap bibirnya menceritakan Sofie, matanya berbinar bahagia. Aku tak mampu merusak rasa senangnya itu. Tak ingin senyuman lepasnya menghilang lagi saat bicara padaku.


Terkadang rasa dilema melanda tanpa bisa dicegah. Ingin menutup telinga rapat-rapat, tetapi aku sedang bersikap layaknya sahabat baik. Ingin menyudahi obrolan ini, tetapi Mas Hamish tampak bersemangat menceritakan.


Dan sekarang aku hanya bisa mendengar, menikmati setiap kebahagiaannya yang nyatanya mengiris lukaku semakin dalam.

__ADS_1


__ADS_2