
POV Nana
Sebenarnya aku ragu membalas chat nya tapi mengapa tangan ini bertolak belakang dengan hati ini.
Membuat tangan Tampa disuruh mengetik dengan perlahan.
Ketika sedang mengetik aku kembali lagi menghapus dan begitu seterusnya aku ragu dengan segala keputusan yang ada dalam benak ini.
Karna aku belum begitu mengenalnya, jangan kan mengenal memandang wajah nya dengan inten aku tak pernah karna aku sering mengenalinya hanya dari cerita Lala.
Aku beralih dari hp meletakkannya kembali keatas meja dan berpikir sejenak , kak Irham menunggu jawabanku setelah pikiran ku tenang mungkin sekarang pikiranku belum tenang masih ada waktu nanti atau besok itu lah yang ada dipikiran ku sekarang.
Aku memandang keluar dari jendela kamar ini.
kulihat langit begitu panasnya diluar karna cuaca hari ini cerah dan panasnya seakan membuat Kerongkongan ku kering.
Aku malas menapakan kaki dari duduk ini walaupun aku merasa haus, karna pikiranku ikut melayang seakan ikut kearah pandanganku.
Ta'aruf berarti kak Irham ingin aku menjadi calon istrinya, apakah aku sekarang siap menjadi istri, pantaskah aku bersanding dengannya, yaallah jika dia yang terbaik untukku maka permudahkan segalanya kuikuti takdir yang kau gariskan untukku yaallah Aamiin.
Berbagai pikiran melintas dikepala membuat aku semangkin betah memandang keluar karna kamar dekat belakang rumah yang tertuju dengan hutan yang terawat pemandangan yang indah setiap mata yang melihatnya.
Setelah puas memandang kubaringkan tubuh ini diatas kasur , aku ingin istirahat sejenak menghilang kepenatan yang kurasakan.
Walaupun aku merasa kantuk tetapi sulit untuk memejamkan mata setiap aku terpejam pikiran ku berkeliaran entah mengapa aku dari tadi tidak tenang apa karna chat itu .
"Aregghhh".aku pun memijit pelipisku yang terasa pening.
"Apa yang harus aku katakan kepada kak Irham".
"Keputusan apa yang harus aku ambil."
"Nana, ini kan masih ta'aruf belum istri mengapa pikiran ku jauh sekali, apakah aku berharap jadi istrinya, hey itu belum pasti Na itu baru ta'aruf dia pasti bisa membatalkan jika dia tidak tertarik denganmu." Segala pemikiran melintas di kepala.
Iya aku bisa jawab sebisa ku tidak ada kesan yang mengharapkan jika dia membatalkan karna tidak tertarik kan lebih baik.
Perlahan kubuka kembali chat tadi.
__ADS_1
("Apa kakak serius ingin ta'arufan dengan ku?"...)
Kutuliskan pesan dan langsung kukirim, sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan kepadanya karna watak ku agak gengsian dan malu takut dikira ngarep atau sebagaimanannya aku hanya mampu menuliskan itu saja.
Kumatikan data dan bergegas keluar dari kamar untuk mengambil minum dari tadi aku sebenarnya haus tapi karna malas berakhir dengan kehausan seperti ini .
Dua gelas air putih ku habis kan dengan beberapa kali tegukan membuat dahaga yang tertahan menjadi plong.
Dimana ibu kok sepi banget apakah ibu tidur. Aku bergumam sendiri sambil celingak celinguk mencari keberadaannya.
Dikamar, di wc, dikebun belakang aku tidak menemukan ibu dimana kah ibu.
Akupun duduk di sofa ruang tengah sambil menonton tayangan televisi.
Sambil memakan cemilan yang kuambil dari dapur tadi.
Entah mengapa aku melupakan niat ku mencari keberadaan ibu.
"Nana, sini bantu ibu bawa belanjaan ibu!". tiba tiba suara ibu mengalihkan pandanganku dari tv.
"Ibu kira kamu tidur tadi sayang,, ibu malas bangunin..."
"Nana gak tidur cuma baring baring aja Bu, kalaupun tidur ibu cubit aja pasti bangun."
"Ihh gak banget itu mah ibu Kya ibu tiri mu aja Na."
"Boleh juga sih ada ibu tiri,, kalau ayah mau punya istri lagi. aku gak perlu bantu ibu lagi didapur.." sambil cengengesan didepan ibu.
"Ohh anak nakal mau kamu gak dikasih makan sama ibu tiri hah.."
"Kan ada ibu yang ngasih makan."
"Ogah mah ibu ngasih makan , kalau ada ibu tiri kamu mah diurus nya aja ibu angkat tangan." Dengan mimik muka yang serius.
"Ko ibu ngomong gitu sih."
"Siapa yang mulai hayo?"
__ADS_1
"Ihh ibu Nana kan cuma becanda ihh ibu seriusan gak lucu ah ibu gitu." Sambil bergelut manja di lengan ibu.
"Bukannya malah bantu ibu malah gitu kata kata memang anak nakal yah."
"Iya deh Nana bantu." Sambil membawa semua belanjaan ibu kedapur.
"Rasain tu sekali kali ibu kerjain." Sambil menahan tawa beralih menuju sofa dan duduk disitu.
Setelah selesai menaruh belanjaan didapur dan balik lagi keruang tengah,,
"Ibu maaf yah Nana salah."
Sambil menatap ibu dengan sedih.
"Lain kali harus sopan sama ibu jaga juga kata kata biar gak nyinggung dan membuat sakit hati bukan cuma sama ibu sama siapapun harus sopan."
"Iyaa Bu Nana cuma niat bercanda Bu tadi."
"Bercanda antara dua pihak harus tertawa bukan cuma salah satu pihak kalau itu bukan bercanda tapi buat kecewa dan sakit hati ".
"Iyaa Bu Nana salah." Dengan mata berkaca kaca .
"Ko mau nangis ibu cuma ngasih pencerahan sama kamu ibu gak marah."
"Iya Nana salah bu." Tidak sanggup lagi menahan air mata langsung lolos dari pelupuk mata.
"Sini sini anak ibu cup cup cup jangan nangis dong. " Sambil memeluk dan mengelus punggung dengan lembut.
"Ibu itu sayang sama Nana jadi ibu cuma ingin Nana menjadi anak yang sopan dan tau tentang batasan bercanda."
"Iyaa Bu makasih yah udah ngendidik Nana..."
"Iyaa sama sama sayang udah dong udah gede kok cengeng sih malu sama cicak tuh diliatin."
"Bodo amat deh bu,, biarin aja cicak pada ngiri aku disayang sama ibu." Sambil mencium pipi ibu dengan sayang.
***
__ADS_1