
POV Nana
Selesai melakukan sholat Magrib , aku segera membantu pekerjaan ibu didapur memasak dan menggoreng ikan setelah selesai akupun menyajikan makanan diatas meja bersama ibu.
Kini keluarga ku menyantap makanan dengan tenang.
Dentingan sendok terus berirama mengikuti sampai selesai ritual makan.
Seperti biasa selesai makan akupun segera mencuci piring dan membersihkan dapur .
10 menit kini telah selesai mencuci piring dan membersihkan dapur.
akupun membuatkan 2 cangkir teh untuk ayah dan ibu karna kebiasaan mereka selesai makan selalu menonton serial tv diruang tengah.
Tidak lupa juga aku menyiapkan roti untuk kedua orang tuaku.
"Ayah ibu ini teh dan rotinya silah kan dinikmati." Sambil meletakan nampan teh dan setoples roti dimeja.
"Iyaa nak terima kasih ." Ucap ayah
"Iyaa yahh ."
"Ibu serius banget sih nontonnya." memperhatikan ibu yang tidak menoleh sedikit pun kepadaku.
"Eh sayang,, ini lagi seru serunya filmnya jangan ganggu fokus ibu."
"Iyaa udah ibu lanjut Nana mau kekamar aja."
"Iya sayang. Ucap ibu Tampa menoleh kepadaku sedikitpun.
"Nana kekamar yah." Sambil berucap kepada ayah.
"Iyaa nak jangan lupa sholat isya jangan Langsung tidur." Ucap ayah.
"Iya yah pasti." Berlalu masuk kamar.
Aku pun membaringkan tubuh ku dikasur namun pikiranku masih saja teringat akan chat dari kak Irham jujur dari tadi sebenarnya aku selalu mengecek hp dan lagi lagi aku selalu saja menarik nafas dengan kasar.
Aku juga bingung mengapa aku begini menantikan balasan kak Irham.
Sedangkan dia tidak membalas pesan yang kukirimkan tadi, dia hanya Melihat Tampa membalas dan aku jadi berpikir apakah dia serius dengan kata katanya.
__ADS_1
Ku letakkan hp keatas meja, lebih baik aku membaca Al-Qur'an sambil menunggu waktu sholat isya.
Lembar demi lembar kuhabiskan ketika membaca Al-Qur'an.
perasaan yang dari tadi gelisah kini lebih tenang.
suara Azan isya pun berkumandang, membuat aku mengakhiri bacaanku.
Ketaruh kembali Al-Qur'an ditempat semula aku mengambilnya, dan melangkah kan kaki keluar kamar menuju tempat berwudhu.
Ternyata ayah dan ibu sudah wudhu duluan dan kulihat mereka memasuki kamar.
Akupun bergegas mengambil air wudhu dan mengusap ke bagian bagian yang di anjurkan.
Melaksanakan kewajiban sebagai umat Islam.
Selesai sholat akupun kembali merebah kan tubuh ini dikasur dan seketika aku terbangun lagi ternyata aku belum menggosok gigi dan mencuci muka ritual yang kulakukan setiap ingin tidur.
Melakukan perawatan sederhana walau sederhana yang penting rutin itulah yang kutanam kan kepada diri sendiri.
Setelah selesai melakukannya akupun kembali merebahkan tubuh ini, sambil menyetel lagu sholawat dihp sambil mengikuti setiap kata yang kudengar membuat aku terbawa suasana dan tertidur pulas.
POV Irham
"Waalaikumsalam silahkan masuk do ." Ucapku kepada Edo.
"Iyaa sini masuk do, lama sudah gak pernah kesini mentang mentang gak ada Irham jadi gak pernah singgah." Ibu menimpali Edo dengan sapaannya.
"Iyaa Tante Edo lagi banyak kerjaan jadi gak banyak waktu, palingan akhir pekan baru ada waktu senggang." Sambil duduk disofa.
"Pantesan sekarang udah sibuk bukan Edo yang dulu lagi yang selalu santai." Ucap ayah menyahuti Edo.
"Iyaa Om, dulu bisa santai tapi sekarang harus frofesional."
"Iya iya frofesional ada gak pendampingnya."Sahut ibu dengan sedikit kedipan ke Edo.
"Masih diusahakan itu Tan, doain Edo biar cepat nemunya."
"Emang barang hilang apa pake Nemu Nemu segala ucapku ." Dan dibalas tertawaan dari semua.
•••
__ADS_1
"Lama lo bro gak nongkrong lagi sama kita makin sukses aja sekarang..."
"Biasa aja kawan belum sukses masih diusahakan menuju kesuksesan." Ucapku menimpali kata kata Rehan.
"Iyaa makin jarang aja keliatan."Ucap Adi kembali."
"Iyaa nih Irham gak bakal kesini kalau gak gue paksa." Kata Edo.
"Maaf kawan kadang saya kecapean pulang kerja dan langsung kerumah orang tua membuat tidak ada waktu untuk kesini."
"Kami maklumi itu Bro, secara kamu juga jauh dari tempat kerjamu." Kata Rehan memaklumi ketidak bisaku.
"Kapan nih ada rencana ngelepas masa bujangan." Ucap Adi kepada kami bertiga tiba tiba.
"Mentang mentang sudah punya istri memojokkan kami yang belum punya nih." Kata Rehan menyahuti.
"Bukan begitu hidup berumah tangga itu lebih indah ada yang menemani, kenapa sih belum ada rencana kesana padahal kalian sudah pada mapan semua."
"Bukan belum punya rencana tapi jodohnya belum Nemu."Ucap Edo kembali.
"Usaha dong kalau gak diusahakan gak bakal dapat secara hidup berumah tangga itu lebih berwarna secara nih gue udah perpengalaman kawan." Ucap Adi meyakinkan kami semua.
"Iyaa sih di."ucap Edo .
"Gimana kalian dua ham , Rehan."ucap Adi sambil Melihat aku dan Rehan secara bergatian.
"Kalau ta'aruf ku diterima aku akan langsung melamar nya." Ucapku pelan kepada Adi namun tidak terlalu didengar mereka .
"Aku akan melamar wanita pujaan ku dari dulu,, tapi aku belum berani menemuinya sekarang karna aku pernah berbuat salah." Ucap Rehan membuat kami bertiga ingin mendengar cerita nya lebih lanjut.
'Kenapa gak ditemui lalu minta maaf ."kata
Adi kembali.
"Belum saatnya ."
"Nanti diambil orang bagaimana."
"Secepatnya aku akan menemuinya Minggu depan ." Ucap Rehan kembali dengan mimik muka yang sedih.
"tempat nya juga jauh dari sini dan itu ada diperdesaan kecil akupun ingin sekali kembali kesana tapi pekerjaan ku disini menumpuk."
__ADS_1
Aku hanya menyimak saja setiap perbincangan yang mereka bahas jujur akupun bingung dengan pikiranku selalu saja gelisah tertuju ke Nana, bagaimana bila dia tidak ingin ta'arufan dengan ku.
Setelah waktu 23.50 akupun memutuskan untuk pulang karna aku lelah ingin istirahat apalagi besok ingin kedesa Nana, harus menyiapkan tenaga karna memakan waktu lumayan lama kesana.