
POV Irham
Setelah menyelesaikan sholat ashar kulirik jam 16.20 terpampang jelas dipergelangan tanganku ketika aku meliriknya.
Tidak terasa Berjam jam aku sudah melakukan aktivitas dari tadi .
Kuambil hp yang terletak diatas meja membuka setiap notifikasi yang masuk .
Seketika mata ku terfokuskan ke chat seseorang yang kutunggu dari tadi balasannya.
Iyaa dia membalasnya;
("Apa kakak serius ingin ta'arufan dengan ku?"...)
Lama aku berpikir panjang tentang chat itu, apakah dia Meragukan ku apakah kata kata ku belum menunjukan keseriusan.
Memang pantas jika dia bertanya keseriusan karena semuanya lewat sosmed, keseriusan lelaki dibuktikan dengan tindakan bukan kata kata wajar dia meragukanku. Aku bergumam sendiri dan memikirkan kembali tentang keraguannya.
Aku hanya membacanya seketika aku dapat lampu hijau walau dia hanya menanyakan keseriusanku, aku sudah tau tindakan apa yang harus aku lakukan.
Akupun bersiap siap untuk membereskan meja dihadapan ku dan memasukkan semua barang yang penting kedalam tas kerja, dan bersiap-siap pulang kerumah orang tua .
Berjalan menuju parkiran tidak lupa juga aku bilang kepada karyawan kepercayaanku dan paling lama kerja Ditoko, untuk menghandle toko 2 hari mendatang.
Jarak rumah dari toko lumayan memakan waktu 45 menit lamanya.
17.10 aku sudah sampai dirumah ini rumah yang sejak dua tahun yang lalu kutinggal karna ingin Mandiri.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam tuan." Bibi Ainun membukakan pintu.
"Dimana para orang rumah bi." Ucapku sambil melihat berbagai sisi ruang tengah .
"Ibu dan bapak masih ditoko tuan kalau nak Irfan ada dikamar tuan." Ucapnya.
"Baiklah bi terimakasih infonya, saya masuk dulu menuju kamar saya." Langsung melangkah kan kaki masuk melewati bi Ainun.
"Iyaa tuan."
"Oh yaa bi jika ayah ibu pulang bilang saja jika saya ada dikamar kalau mereka bertanya."
"Iyaa tuan."
__ADS_1
Kulangkah kaki ini menuju kamar yang kutempati dari masih kecil walaupun kutinggal tetapi ruangan itu tetap rapi dan bersih.
Cekrek ganggang pintu kubuka dan masuk kedalam puas aku memandang dari berbagai sisi tidak ada yang berubah sedikit pun dari dulu,, hanya saja perasaanku bahwa tidak lama lagi aku membawa istri kerumah ini kekamar ini membuat sudut bibirku tertarik keatas.
Apa yang sedang kupikirkan. Mengapa pikiranku terlalu jauh kesana apa karna usiaku ini telah memasuki usia matang .
Hah tak bisa ku pungkiri bahwa aku harus melepas status bujangan ini , dan sedikit memukul kepala sendiri karna berpikiran terlalu jauh.
Aku segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi aku segera menuju lemari untuk mengambil pakaian, banyak pakaian yang tersusun dan aku memilih baju kaos dan celana pendek santai.
Karna berdiam diri dikamar membosan kan
Lebih baik menemui keluarga diluar.
Kulihat ayah dan ibu baru saja datang akupun menyapa mereka
"Baru pulang yah Bu?"
"Iya ham banyak yang pesan kue jadi ayah dan ibu sibuk mengatur segalanya." Ayah berucap.
"Iya nak jam berapa sampai kesini tadi?" Kata ibu.
"Baru aja Bu jam lima an tadi Bu?"
"Alhamdulillah nak banyak yang percaya sama toko kita tiap hari menjual sampai 100 kue untung saja karyawan ayah dan ibu tambah lagi.
"Alhamdulillah ayah ibu bisa nih bikin cabang lain toko kue diluar kota .." tanya ku kepada mereka.
"Bisa sih ham tapi ayah ibu belum sempat dan belum punya orang kepercayaan juga jadi sulit membuat cabang diluar kota lagi." Kata ayah.
"Ohh" ucapku .
"Kalau gitu ayah ibu kekamar dulu pengen mandi nanti kita lanjut ngobrol lagi sudah sholat magrib." Ucap ayah.
Aku hanya menganggukkan kepala dan berdiri setelah ayah ibu meninggal ku kekamar aku ingin menemui Irfan.
Cekrek kubuka perlahan kamar Irfan dan dia langsung menyembunyikan benda pipih itu dibawah bantal.
"ayo ngapain itu." Sambil memperhatikan gerak geriknya.
"Gak ko bang cuma main game aja. Sambil tersenyum kepada ku."
__ADS_1
"Game terus belajar yang benar biar jadi anak pintar."
"Iya bang".
"Sudah mandi belum?"
"Belum bang."
"Mandi sana gak lama sholat magrib ini.
"Oke bang." Langsung berdiri menuju kamar mandi.
Aku memang selalu tegas kepada adikku walaupun begitu demi kebaikannya juga .
Setegas tegasnya tetapi aku juga tau batasan agar dia bisa terbuka ketika ada masalah.
Kutunggu sampai selesai mandi karna aku ingin mengajak Irfan sholat dimasjid.
Tidak lama menunggu dia mandi mungkin dia mandi asal asalan begitulah sifatnya membuat aku hafal .
"Abang nungguin Irfan nih." Tanyanya.
"Iyaa Abang mau ajak kamu sholat dimasjid."
"Yes yes yeees." Ucapnya kegirangan.
"Ko senang banget sih?" Tanya ku bingung.
"Senang lah karna aku jarang sholat dimasjid kalau gak ada Abang aku selalu sholat sendiri dikamar."
"Emang gak sholat berjamaah sama ayah ibu fan. "Ucapku menanggapi kata kata Irfan.
"Gak bang Irfan malas keluar kamar." Jawabnya dengan santai.
"Dasar emang pasti ini gara gara game kan?.."
"Emang iya bang." Dengan sedikit tersenyum menanggapi.
"Game Mulu akibatnya ini virus game kamu itu dek."
"Iya iya bang kapan kelar nih debat kalau Abang ngajak debat terus pake baju aja belum gak lama nih azan." Dengan sedikit sindiran yang menohok diucapkannya.
"Siapa juga yang larang kamu dek pake baju , yaudah pake baju sana Abang tunggu diluar.."
__ADS_1
"Oke bang."
***