Senja Yang Kunanti

Senja Yang Kunanti
Bab15. Gak Peka


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar Irfan aku pun kekamar sebentar untuk mengganti baju Koko dan mengambil sarung untukku pakai.


Setelah selesai aku menuju kamar Irfan dan berdiri didepan pintu kamar Irfan,


Kulihat pintu mulai terbuka.


"Bang Irfan udah siap nih." Dengan baju Koko yang agak berantakan dia menghampiriku.


"Fan kamu mau kemana ko bisa begini bentuk nya gak ada rapi rapinya ini." Sambil memperhatikan penampilan yang ambur adul.


"Irfan buru buru bang takutnya Abang ninggalin. "


"Kan abang udah bilang mau nungguin kamu dek ."


"Iya-iya bang ini mah tinggal di rapiin kerahnya sama kancingnya udah beres bang."


"Sini Abang bantuin dek ."dengan telaten merapikan kerah baju dan kancing baju Irfan.


"Nah ini udah rapi Ayo berangkat dek ."


"Ayo bang."


Jarak masjid tidak terlalu jauh dari rumah ini berjalan sebentar sudah sampai.


"Bang tadi Abang udah wudhu belum?" Tanya Irfan, Ketika sudah sampai didepan masjid.


"Udah fan .."


"Aku belum bang."


"Yaudah ayo Abang temanin ketempat wudhunya.."


"Gak usah bang Abang duluan aja masuk .."


"Beneran ini gak ditemani."


"Beneran bang ."


"Yaudah sana jangan lama lama !!"


"Oke bang." Dengan berlari kecil Irfan meninggalkanku.

__ADS_1


Aku duduk dibarisan ke 2 saf yang telah dirapikan, dan Azan pun berkumandang dan Irfan pun sudah ada disampingku.


Seluruh jama'ah melakukan sholat dengan tenang.


Sampai dengan sujud terakhir dan berdoa meminta memohon itulah yang dilakukan setiap insan.


''''Logika dan perhitungan


manusia tidak akan pernah


menang melawan kekuatan Allah.


Jadi selama kau menjadikan Allah


tempat satu satunya tempat meminta


dan berharap, maka yakinlah tak ada yang tak mungkin untuk Allah kabulkan''''


Selesai melakukan sholat Magrib aku dan Irfan pulang kerumah, dan diperjalanan pulang para bapak bapak menyapa.


"Nak Irham jarang kelihatan sekarang?"


"Sekarang tinggal dimana?"


"Nak Irham tambah ganteng aja sekarang?"


"Kenapa belum punya istri?"


Banyak pertanyaan bertubi tubi yang bapak bapak jama'ah tanyakan kepadaku dan kujawab seadanya dan sejujurnya saja.


Mereka memang sangat mengenal ku dari dulu aku selalu sholat di masjid karna pindah rumah membuat mereka bingung kenapa tidak melihatku lagi.


"Singgah dulu pak kerumah." Ucapku ramah ketika sudah didepan rumah.


"Lain kali aja nak ham kami lewat saja dulu."


"Iyaa pak ." Ucapku sambil tersenyum kepada mereka


Percakapan kami pun terhenti, aku menoleh mencari keberadaan Irfan.


Dan ternyata Irfan berada dibelakang dari tadi hanya terdiam.

__ADS_1


"Dek kamu kenapa?"


"Gak apa apa bang. Sambil masuk kerumah melewati pagar rumah dengan cemberut."


"Yakin kamu dek gak apa apa?"


"Yakin lah bang." (Sambil membatin aku dicuekin dari tadi sangking serius ngobrol dengan bapak bapak masih nanya aku baik baik aja malah bapak bapak tadi ada yang nginjak kakiku karna ingin tau apa saja tentang Abang huh).


"Bagus lah kalau gitu."


"Iss Abang gak pekaan jadi orang. Sambil nyelonong masuk ke kamarnya ."


"Ditanya kenapa gak dijawab bilang Abang gak pekaan aduh kenapa lagi bocil itu.."


°°°


Setelah selesai makan malam ayah ibu mengajak ngobrol diruang tamu.


"Ham apa kamu udah pertimbangkan apa yang ayah ibu pinta ke kamu Minggu lalu? " Tanya ayah kepadaku.


"Iyaa nak ibu berharap kamu cepat cepat, apa perlu kamu ibu jodohkan ke anak kerabat ibu atau ayahmu saja , kalau kamu belum punya calon?..."


"Insya Allah sudah ada calonnya, tapi gak tau dia mau gak sama Irham Bu.."


"Tapi Irham akan berusaha besok langsung Bu, karna Irham belum puas tanya hanya lewat hp Bu."


"Bagus kalau gitu , ibu tidak masalah dia dari keluarga seperti apa yang penting dia bisa jadi istri yang baik untukmu Nak itu sudah cukup."


"Iyaa Bu, insyaa Allah dia gadis yang baik."


"Dia gadis dari kota mana? "Tanya ayah.


"Dia satu desa tempat tinggal Lala yah.


"Oh iyaa , lumayan memakan waktu juga kesana jika besok kamu kesana."


"Akan aku perjuangkan walau sejauh apapun yah ."


Nah begitu memang anak laki laki itu memang harus berani ambil keputusan dan berjuang ini baru anak ayah. Sambil menepuk nepuk punggungku dengan tertawa dengan suara khasnya.


Dan di ikuti ibu dengan tertawa seadanya Tampa dilebih lebihi..

__ADS_1


***


__ADS_2