
Dari sisi lain yang berbeda, 02 dan 01 sudah ada di lobby dari Apartemen, mereka yang telah sadar lebih dahulu daripada yang lainnya sudah bersiap untuk memulai.
"Tunggu di sini, saya mau berkeliling." Ucap 02, sementara 01, hanya terduduk di atas sebuah sofa sembari memejamkan matanya dengan tenang. Melihat 01 yang sudah mulai berada di mode fokusnya, 02 menyeringai, kemudian dia pergi untuk berkeliling mencari mangsa.
Tetapi, saat 02 tengah berkeliling, tanpa sadar momen ini adalah momen yang paling dinantikan oleh 03, dan 04 yang ternyata sudah lebih dahulu sampai di lobby. Sedari tadi mereka bersembunyi memperhatikan gerak-gerik 02, dan 01. Dirasa suasana sudah mulai aman, 03 dan 04 baru mulai berani untuk menghampiri 01 yang tengah sendirian.
03 duduk di sebelah 01, dia dengan lancangnya menyandarkan tangan kanannya ke bahu 01 seraya tertawa kecil. "Oh kasihan anak imut ini, dimana pengawal kamu, manis?" Ucap 03 dengan perilaku yang makin kurang ajar. Dia memainkan tangannya di rambut 01, sesekali membelai rambut hitamnya itu seraya terus menggoda 01.
"Hei, kamu tidur kah? Satu? Ketiduran di sebelahku itu hal yang gawat loh. Bisa-bisa aku—"
Belum sempat 03 menyelesaikan kata-katanya, dia terbelalak saat melihat ada genangan darah dari bawah kakinya. "Lho!.. Darah siapa ini?" Tanyanya masih belum sadar, kemudian 04 berteriak, "03! Lihat pahamu!" Katanya penuh histeris.
Dan 03 pun menatap pahanya sendiri, dia terhentak bukan main kala melihat sebilah pisau sudah menancap di pahanya sedari tadi tanpa ia sadari.
"LO..." Ekspresi mesumnya berubah menjadi ekspresi terkejut.
01 membuka matanya, dia menengok ke sisi kiri tubuhnya, kemudian menatap balik tajam ke arah 03.
"Sendiri pun gue mampu membantai kalian semua." Ucapnya dingin dengan aura membunuh yang terlampau tinggi hingga membuat bulu kuduk 03, dan 04 merinding.
"HUAAA!!!" 04 yang makin panik langsung menyeret tubuh 03 yang masih mematung tanpa respon apapun, "ayo kita kabur dulu dari sini, permainan belum dimulai tetapi kita sudah berdarah-darah!." Akhirnya mereka berdua pun pergi menjauh dengan membawa rasa shock yang tak akan pernah mereka lupakan.
01 yang sudah menarik pisaunya dari paha 03, dengan tenangnya ia menyibak darah yang menempel dari pisau itu hingga pisaunya kembali bersih. Kemudian 01 juga mengeluarkan sebuah pistol yang dia simpan dari dalam jaketnya, merasa sudah benar-benar sendirian, 01 menaruh kedua benda mengerikan itu di sebelah meja yang ada di dekatnya begitu saja.
Dia duduk bersandar lagi dengan nyaman, lalu kembali memejamkan matanya.
...***...
Lain halnya di lantai lain, 05 dan 06 sedari tadi tidak bertemu siapa-siapa. Mereka berdua malah memilih untuk mengecek setiap kamar berharap bertemu salah seorang dari kami, meski pada malam perjamuan kami ini terlihat memiliki konflik satu sama lain, tetapi bagi mereka berdua semalam itu hanyalah konflik perkenalan yang bisa saja terjadi dimana pun.
"Hei, kamu itu musisi ya?" Tanya 06, dia penasaran bukan main, pasalnya dari 2 benda yang player bisa bawa, yang 05 pilih adalah sebuah gitar dan sepasang stik drum.
05 menengok ke arah 06 sembari tersenyum, "panggil aja Bas." Jawabnya tenang.
"Bas? Bukannya itu gitar?" 06 kebingungan.
"Nama gue Baskara, panggil aja gue Bas, iya gue musisi hehehe." Lanjut 05, atau Baskara ini.
"Kamu gak takut kalau pakai nama asli bisa jadi masalah buat kita?"
Baskara menggaruk-garuk dahinya dengan telunjuk seraya berpikir, "gak ada di peraturannya kita harus manggil satu sama lain dengan nomor. Toh muka kita udah pasti dikenali yang lain, kan?"
"Ah iya, kamu bener." 06 menyetujui.
"Dan, nama lo siapa?" Tanya Baskara lagi, kini dia melambatkan laju kakinya agar bisa berjalan beriringan dengan 06.
"Nama gue... Cindy." Jawab 06, atau Cindy.
"Oke Cindy, mohon bantuannya!" Pinta Baskara ramah, dia tersenyum manis di hadapan Cindy, sampai-sampai Cindy tersipu malu.
"O-oke... Bas."
"Oh ya, Cindy, lo bawa 2 benda apa?"
"Ah, aku bawa sebotol painkiller dan sebotol obat-obatan penenang." Jawab Cindy yang juga ikut ramah.
"Wah, lo prepare banget, Cind... Gue jadi malu karena malah bawa gitar."
Cindy tertawa kecil, "aku mahasiswi kedokteran, jadi aku rasa obat-obatan itu penting untuk kehidupan kita bertahan selama permainan dimulai."
Baskara mengepalkan tangannya di hadapan Cindy dengan kedua mata berbinar-binar. "Oke kalau begitu, tenang Cind... Meski gue gak bawa benda-benda yang berguna, tapi gue ini juga atlet taekwondo, gue akan berusaha ngejaga lo."
Cindy tersenyum simpul lagi, dia lega ternyata dia berpartner dengan orang baik-baik. "Oke, Bas."
...***...
Kembali lagi bersama gue, dan Vivi yang sedang mengikuti duo mencurigakan ini menuju ke tangga darurat arah bawah. Gue menyuruh Vivi untuk menjaga jarak dari posisi gue agak jauh supaya kalau gue diserang, Vivi masih ada kesempatan untuk kabur.
"Jauh amat, sini deketan, kita berdua gak akan ngapa-ngapain kok." Ucap 07.
"Bawel banget lo t*i." Balas gue tegas.
"Wah anj*ng juga, semenjak makan permen karet jadi lebih berani ya lo." 07 mulai geram.
__ADS_1
"Tenang, mereka bukan tandingan kita." Lanjut 08.
"Kenapa lo mancing-mancing emosi dia sih?! Bisa mati kita!" Bisik Vivi, tapi gue masih berpegang teguh sama rencana gue, jadi gue sama sekali gak membalas kata-kata Vivi.
"Lo berdua asalnya dari mana?" Tanya 08 saat kami mulai turun ke lantai bawah.
"Lo juga, sok akrab banget bangs*t." Jawab gue makin memancing.
"Oh oke, kalau gitu kami juga gak akan cerita dari mana asal kami."
"Emang makin kurang ajar si anj*ng satu itu, lo aja yang mimpin jalan Van, mau gue kasih pelajaran ke si bangs*t ini." Maki 07.
08 mengela napas, "sial." Kemudian mereka pun bertukaran tempat. 07 sekarang ada di sebelah gue, dia langsung mengalungkan lengan berototnya ke leher gue. "Lo ada masalah apa sama kami bangs*t? Kenapa lo sombong banget? Lo sadar gak kalau tim kalian ini yang paling lemah, inget, peraturan gak melarang kita untuk saling bunuh." Ancam 07, anehnya, meski sebenarnya gue ketakutan juga, gue tetap harus berpegang dengan segala rencana gue, dan salah satu rencana gue adalah memprovokasi 07.
Vivi juga ketakutan, dia meremas ujung baju gue kuat-kuat.
"Terus, lo mau bunuh gue sekarang juga?" Ucap gue kemudian, disini Vivi yang tadinya takut jadi marah ke gue, "lo gila?!" Bentaknya.
07 tertawa, "liat tuh temen lo, dia aja sadar kalau kalian cari ribut sama gue itu salah."
"Kita gak ada maksud begitu 07, sumpah, mungkin 10 masih shock dan gak siap untuk ada disini makanya dia ngomong sembarangan." Bela Vivi, dia langsung berdiri di depan gue untuk melindungi.
Sial, Vi... Seandainya lo sadar apa maksud gue melakukan ini.
Gue menarik lengan Vivi untuk mundur lagi.
"Lo takut? Sini, bunuh gue! Gede badan doang lo kayak b*bi." Fu*k, gue benar-benar gak mau berkata ini, tapi ini harus gue lakukan.
"Brengs*k... 10, jangan-jangan..." 08 menghampiri gue dan 07 yang kian memanas, 08 berdiri di hadapan 07 dengan posisi siap untuk menahan.
"Zo, apapun yang terjadi lo gak boleh ledakin amarah lo sekarang, gue akan jelaskan nanti, tahan 10 menit lagi!" Ucap 08 seraya terus menenangkan.
Dengan begini gue tahu, ternyata 08 yang lebih dulu bangun.
"Woi banci, gue tanya sekali lagi, lo takut? Pake rok aja lo anj*ng! Tol*l gedean otot daripada otak!" Bentak gue dengan sesekali gue membuat ekspresi meremehkan.
07 makin gelap mata.
"Lo kenapa sih 10? Ada apa ini?! Lo harus kasih tau gue!" Bentak Vivi juga yang makin panik.
Tapi gue gak bisa berhenti disini, sebentar lagi gue menang meski dengan resiko yang luar biasa mematikan.
"Anj*ng tinggal ngamuk terus ribut sama gue aja lama banget lo bangs*t! Lo takut ternyata anj*ng?!" Teriak gue lagi pada akhirnya, Vivi seketika lemas dan menjauh dari gue.
"Tamat riwayat kita..." Ucapnya nanar.
Dan sepersekian detik kemudian...
"MINGGIR LO ANJ*NG, GUE AKAN BUNUH SI BRENGS*K INI!!!" Teriak 07 super kencang, kedua matanya memerah dan seluruh urat di badannya mencuat keluar. Dia pun mendorong tubuh 08 hingga jatuh bergulingan ke lantai.
Gue pun mulai mundur beberapa langkah, "oke gue menang." Ucap gue membatin. Tapi setelah itu...
07 yang murka bukan main langsung mengayunkan baseball batnya ke depan kemudian dia berlari dengan kecepatan penuh ke arah gue, melihat itu seketika juga gue berlarian sekuat tenaga naik ke lantai sebelumnya lagi dan pergi sejauh mungkin bertahan dari kejaran 07 selama mungkin.
"BRENGS***K JANGAN LARI LO ANJ***NG!!!"
"Fu*k fu*k fu*k!!!" Gue meracau karena sebegitu paniknya dikejar lari 07 yang ternyata kencang banget.
"ARGH SIAAAL!!!"
...
Sesaat 07 masih berlarian mengejar gue dengan nafsu pembantaian yang menggebu-gebu.
08, dan Vivi terdiam di tempat yang sama untuk beberapa waktu, mereka membeku di sana karena terkejut. Vivi seolah gak percaya akan sikap gue, sementara 08 juga gak menyangka kalau gue akan senekat ini.
"Sebenarnya... Apa yang udah gue lewatkan..." Ucap Vivi menyendiri, dia yang shock sekaligus takut mulai menitikan airmatanya.
"Permainan udah dimulai semenjak kita bangun." 08 terduduk di sebelah Vivi.
"Mak-maksud lo? Kok gue gak tau?"
08 menatap Vivi, "Enzo pun gak tau, yang tau hanya orang yang lebih dulu bangun. Dan kayaknya 10 bangun lebih dulu ketimbang elo."
__ADS_1
"Jadi... 10 udah tau kalau permainan udah dimulai?"
"Iya, di tim gue, gue lah yang lebih dulu bangun, saat gue baru sadar, tiba-tiba terdengar suara alarm kecil yang menuntun gue ke sebuah surat yang berisikan tentang permainan pertama."
Surat itu berisi...
...×××...
...[GAME 01 / WRATH / AMARAH]...
...Amarah adalah emosi dari manusia yang paling murni, dan mudah dibentuk oleh berbagai macam keadaan. Seluruh sudut dan tiap tempat di Apartemen ini adalah arena yang paling cocok untuk memberikan amarah, mengeluarkan amarah, dan bertahan dari amarah!...
...[RULES OF WRATH]...
Player bertugas untuk membuat satu player lain di tim musuh mengeluarkan emosinya dengan cara apapun, buat lah mereka murka hingga meledak sejadi-jadinya, keluarkan lah sifat amarah mereka.
Player yang bangun lebih dulu dilarang memberitahukan ke partner kalau permainan sudah dimulai.
Player hanya dapat memberitahukan partner tentang permainan ini 30 menit sesaat permainan dimulai.
Player yang berhasil membuat player tim musuh emosi akan mendapat 1 poin, dan jika berhasil lolos dari amukan tim musuh akan mendapatkan bonus 1 poin lagi.
Player yang gagal memprovokasi, dan malah jadi target provokasi harus menghabisi player yang sudah memprovokasinya, jika gagal maka akan -1 poin.
Durasi permainan ini adalah 3 hari.
...×××...
"Oleh sebab itu, lo sama sekali gak dikasih tahu sama 10. Permainan pertama ini lumayan gila." Jelas 08.
Vivi langsung memproses seluruh kejadian mendadak ini, "itu berarti 07 belum tahu soal peraturan kalau dia gak menghabisi 10 kalian dapat -1 poin?"
08 mengangguk, "iya." Kemudian ia berdiri lagi, "sorry banget 09, mau gak mau gue harus kejar Enzo untuk kasih tau dia soal peraturan ini, kami gak mau poin kami minus. Dan setelah itu lo harus tau, kalau kami pasti akan incar 10 habis-habisan."
Vivi seketika berpikir cepat, "itu berarti gue juga gak boleh membiarkan 10 kenapa-napa."
...***...
"Ah... Kemana orang-orang, sampai pegal gue muter kesana-kemari." 02, melangkahkan kakinya sembari memegang lehernya yang kaku.
Saat ia hendak pergi ke banyak lantai untuk mencari mangsa, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki orang lain dari belakangnya.
02 menyeringai, dia menengok ke belakang.
"Oh, ini dia."
__ADS_1