Sentrifugal

Sentrifugal
Eps. 9: First Day


__ADS_3

Sesaat sebelum acara perjamuan, Grace bertemu seseorang yang sudah ia kenal sebelumnya. Perempuan dengan sebuah tatto semicolon kecil di lengan kirinya itu tengah santai menikmati udara malam di rooftop begitu tenangnya.


Grace berjalan menghampiri perempuan itu sembari sesekali memantik api untuk rokok yang sudah ada di antara bibirnya. Perempuan itu juga sadar ia didatangi oleh Grace, tetapi dia hanya diam, seolah-olah ia mengerti apa maksud dan tujuan Grace datang.


"Apa kabar, Lynx?" Tanya Grace, dia membumbungkan asap halus dari mulutnya. Perempuan yang Grace panggil 'Lynx' itu hanya menatap Grace, kemudian beberapa detik kemudian mulai membuka mulutnya, "gak pernah berjalan baik, Grace."


Grace tertawa kecil, "keluarga Wild memang terlalu unik, tak heran Game Master tertarik ke elo."


Lynx menyesap malam, "harusnya gue sadar, kalian ternyata turut andil di dalam konflik yang ada di dalam keluarga gue. Gue gak menyangka harus berada disini demi menyelesaikan dendam ayah, padahal gue juga membencinya."


"Biar bagaimana pun, serigala itu juga ayah lo, Lynx. Maaf karena gue hanya menyaksikan ketika ia meregang nyawa." Jelas Grace, nada suaranya mulai merendah.


"Gak apa, meski kami semua tahu kalau lo itu adalah ular, gue masih memiliki kepercayaan kepada elo walau hanya 1 persen." Lynx bangkit dari duduknya, kemudian dia berjalan melewati Grace begitu saja.


Namun Grace menghentikan langkah Lynx.


"Lynx."


"Ada apa?" Tanya Lynx.


"Sejujurnya gue gak hanya diam, gue juga menikmati tiap tetes darah yang mengucur deras dari leher ayah lo." Jawab Grace.


Tiba-tiba angin berhembus kencang mengibaskan rambut panjang mereka berdua.


Lynx masih berada di dalam bayangan bulan, kemudian ia merespon ucapan Grace dengan ketenangan yang gelap, kedua sorotan matanya menyala.


"Gue tau."


...***...


Gue terbangun dengan kejutan yang aneh, tubuh gue yang mencoba waspada, otak gue yang sedang memproses semua keadaan tiap adegannya mulai sadar. Gue terbangun di sebuah kamar dengan lampu remang-remang yang membuat suasana kian mencekam.


Gue meraba seluruh tubuh karena takut ada hal yang tak gue sadari direnggut dari diri gue, tapi ternyata semua masih ada di posisinya masing-masing.


Keringat dingin mengucur karena takut meski udara kamar ini lumayan dingin, dan saat gue berada dekat dengan cahaya lampu kamar, gue menyadari kalau di sebelah gue juga terbaring Vivi yang belum sadarkan diri.


Dengan paniknya gue menghampiri tubuh Vivi seraya mengguncangkan badannya agar ia segera bangun, "Hei, bangun Vi." Ah bukan! "Hei, bangun 09." Lalu gak lama kemudian Vivi mulai menggerakkan kedua matanya, dia juga terbangun dengan rasa terkejut yang sama.


"Ini dimana?!" Ucapnya histeris, "gue juga gak tahu!" Balas gue cepat.

__ADS_1


Vivi meraba tubuhnya sendiri, "lo apain gue?! Kenapa kita ada di kamar berduaan begini?" Cecarnya lagi, gue pun yang belum sadar sepenuhnya cuma bisa membela diri seadanya.


"Gue gak ngapa-ngapain lo! Gue juga baru aja bangun."


"Terus kenapa kita tiba-tiba ada disini?"


"Itu juga yang mau gue tau, ayo buruan bangun, kita harus cari tau apa yang terjadi disini."


Kami pun menyusuri seisi kamar, tetapi sama sekali gak ada hal yang aneh satu pun di sini, kecuali ketika kami melihat ada dua kotak yang lumayan besar tergeletak di sudut kamar, kotak itu terkunci dengan sebuah tulisan, 'buka dengan tanggal lahir.' sontak, gue dan Vivi saling beradu pandang.


"09, gue rasa, Sentrifugal udah dimulai."


"Ta-tapi kenapa mereka tahu tanggal lahir kita?"


"Kita coba buka dulu kotak ini."


Vivi mengangguk gemetar.


Akhirnya kami mencoba untuk membuka kotak ini dengan memasukkan sandi tanggal lahir kami, tak lama kemudian terdengar suara *klik yang menandakan bahwa kotak ini benar-benar bisa dibuka menggunakan sandi tanggal lahir kami. "Gue rasa mereka udah ngebongkar semua identitas kita." Ucap Vivi, gue hanya memvalidasi dengan anggukan.


Kami berdua menghela napas pendek dengan rasa takut yang masih menjalar, tutup kotak kami angkat perlahan-lahan, dan dari dalam kotak kami hanya menemukan kedua benda wajib yang harus kami bawa sesuai peraturan Sentrifugal.


Gue melihat, benda yang Vivi bawa adalah sebilah pisau belati dan semprotan merica. "Iya, ini cuma 2 benda wajib yang bisa ngebantu hidup kita. Lo bawa apa?"


Gue pun menunjukkan 2 benda yang gue bawa, itu adalah kotak P3K dan sekotak permen karet. Vivi terbelalak, "kotak P3K oke lah, tapi bro! serius lo? Permen karet?!" Gue mengangguk malu, "i-iya, permen karet ngebantu gue untuk tetap tenang."


Vivi menghela napas lagi, "semoga gue gak salah jadiin lo partner."


Tapi gue mencoba meyakinkan Vivi, "gue gak akan menghambat lo, gue janji!" Ucap gue seraya menenangkan, untungnya Vivi langsung tersenyum lagi setelah sedari tadi menunjukkan ekspresi tegang. "Oke, toh mau gimana lagi kan? Lagian gue udah kepalang benci sama hidup gue, mati di sini pun gak jadi masalah."


Mendengar itu gue hanya membalas dengan senyuman nanar, "setidaknya kita berusaha menang." Gue mencoba menyemangati, dan Vivi mengangguk pelan.


...


Singkat cerita, setelah menegaskan kesadaran kami, gue dan Vivi pun telah menyiapkan mental untuk keluar dari dalam kamar untuk melihat keadaan di luar. Vivi menyelipkan belatinya di kantung celana yang lumayan dalam, beserta semprotan mericanya. Sementara gue cuma mengantongi beberapa permen karet, karena gue gak bisa membawa kotak P3K yang lumayan besar itu.


"Lo siap?" Gue memegang gagang pintu seraya meyakinkan Vivi.


"Siap." Jawab Vivi.

__ADS_1


Dan kami pun keluar dari kamar, setelah pintu terbuka, kami menatap kedua lorong dari sisi kiri dan kanan kami. "Kita... Ada di Apartemen?"


"Iya, kayaknya kita ditempatin di kamar yang berbeda-beda."


"Oke, kalo begitu kita cari untuk pergi keluar Apartemen."


Gue, dan Vivi melangkah ke lorong sisi kanan yang juga suasananya temaram, seluruh lorong berisikan lampu-lampu dengan pencahayaan redup yang sepertinya sengaja dibuat begini. Saat kami berjalan dengan penuh kewaspadaan, tiba-tiba kami mendengar suara langkah kaki lain yang jaraknya terasa tak jauh dari kami.


"Ada orang lain di sini." Kata gue, Vivi berjalan di belakang gue dengan hati-hati, sementara gue memimpin jalan karena gue yakin suara langkah itu datangnya dari depan kami, dan juga... Dari ritme suaranya, mereka juga terdengar penuh kehati-hatian saat mendengar langkah kami.


Kian dekat, kian waspada lah kami, begitu pula dengan mereka. Dan... Saat kami sudah berada di area dekat lift dimana menjadi area tengah kedua lorong bertemu, disitu kami berempat pun saling bertatapan wajah satu sama lain. Kami menjumpai dua laki-laki dengan raut wajah yang tak kalah waspada namun juga mengintimidasi, mereka adalah...


"Gue kira si 02, bikin panik aja anj*ng." Ucap salah seorang dari mereka. "Lo berdua nomor berapa?" Tanya gue.


"Gue 07." Ucapnya, kedua laki-laki ini punya tipikal badan yang jauh lebih atletis dari gue meski pun tinggi kami sama, mereka masing-masing memegang baseball bat di tangan kanannya.


"Gue 08." Sambung laki-laki di sebelahnya lagi.


"Kalian juga baru sadar?" Tanya Vivi.


"Kami udah sadar dari beberapa menit yang lalu, terus kami keliling untuk cari petunjuk, tapi kami takut ketemu si 02 psikopat itu, makanya kami bawa senjata." Jawab 08.


"Lo berdua gak bawa senjata apa-apa? Apalagi lo 10, lo itu kan udah ditandain si 01." Sahut 07, lagi-lagi gue sama Vivi hanya bisa berbagi pandang.


"Ka-kami lebih bawa benda buat bertahan." Jawab gue.


"Yah, kami juga gak perduli sih sebenarnya, jadi karena lo berdua kelihatan bukan ancaman, ada baiknya kita berempat berjalan bareng. Kalau ada si 02, lumayan lo berdua bisa kami jadikan tumbal. Hehe." Mata 07 memicing, dia menatap gue mencoba memberi kesan rasa takut.


Tapi anehnya, itu sama sekali gak bisa mendominasi, karena gue tahu... Ada monster yang lebih mengerikan dari mereka berdua. Ini adalah hari pertama, gue punya rencana yang dibalut adrenalin luar biasa.


"Oke." Kata gue tegas.


"Lo yakin, 10? Bisa-bisa mereka manfaatin kita berdua." Bisik Vivi.


Gue gak langsung menjawab, gue dan Vivi berjalan di belakang 07 dan 08 dengan jarak yang lumayan, tangan kanan gue udah meraba isi kantong untuk membuka sebutir permen karet. Lalu mengunyahnya.


"Serahkan semuanya ke gue." Ucap gue penuh keyakinan, sementara Vivi yang bersiap mulai percaya dengan tekad yang gue bawa, tangan kanan Vivi selalu siaga di saku celananya yang berisi belati.


Dengan perasaan campur aduk, dan kenekatan yang dikumpulkan oleh rasa takut, kami bersiap untuk segala macam kemungkinan terburuk.

__ADS_1


__ADS_2