
Langkah gue semakin penuh pengawasan ke sisi kiri dan kanan hutan, sorot mata Vivi di belakang juga gak henti-hentinya untuk awas memperhatikan area belakang kami.
Gue memperlambat langkah, kali ini lebih memilih untuk berjalan beriringan di sebelah Vivi sembari menyusun strategi.
"Kalau kita lurus terus, beberapa ratus meter lagi pasti sungainya kelihatan, tapi firasat gue gak enak Vi. Kita harus giring mereka ke tempat yang lebih luas." Bisik gue kepada Vivi.
"Enggak Ram, kayaknya lebih baik kalau kita pergi ke tempat yang jauh lebih sempit, terus ninggalin mereka. Setelah kita ambil ransum, kita langsung kabur lewat rute pendek di sisi kiri sungai." Sanggah Vivi.
Setelah gue pikir-pikir lagi, idenya Vivi cukup bagus untuk situasi kami saat ini, jadi gue memilih untuk menyetujui memakai rencananya.
"Oke, lo lihat celah yang bagus gak Vi? Kalau dari peta, ada 1 tempat yang gue rasa area paling ideal, dan itu 50 meter lagi di sebelah kiri." Ucap gue.
"Sebentar, menurut insting lo, kira-kira dari sisi mana mereka bakalan muncul?"
Gue pun mempertajam indera pendengaran gue, dan selama awal rasa curiga muncul, entah kenapa selalu dari sisi kanan radar rasa bahaya gue bekerja.
"Lo yakin sama gue gak?"
Vivi menatap gue penuh rasa yakin, "sejuta persen." Katanya mantap.
"Dari sisi kanan, gue yakin mereka dari kanan."
"Bagus, berarti celah yang kita punya sangat ideal buat ngejebak mereka. Lo ada rencana tambahan, Ram?"
"Gue berasumsi dari segala macam kemungkinan terburuk, dan yang paling buruk adalah kalau mereka serang kita, yang diincar paling awal itu pasti elo Vi. Jadi begini... Gue mau lo jalan di depan gue, dan biarin gue megang belati lo, kalau gue ditangkap dari belakang, setidaknya gue bisa tusuk penyerang gue dari depan. Sementara gue diserang, gue mau lo terus kabur dan lari untuk ambil ransum. Setelah itu kita ketemuan lagi di rute yang tadi kita bicarakan, gimana?" Ucap gue menjelaskan rencananya.
"Asal lo yakin lo bisa lolos gue akan setuju sama rencana ini." Jawab Vivi.
Gue balas menatap Vivi, "sejuta persen."
Vivi pun mengerti, kemudian dia mengoper belatinya kepada gue dan Vivi jalan paling depan menuju area hutan yang kami tuju di 50 meter di depan.
Dari detik, berubah menjadi menit, dan setiap menitnya adalah hal yang begitu krusial bagi gue, juga Vivi.
Setelah beberapa saat kemudian, ternyata benar dugaan gue. Mereka berdua pun muncul dari belakang, tapi anehnya...
"Woi anj*ng, pacaran mulu lo! Asik banget." Panggil 03 dengan tenang.
Gue gak diserang.
Kemudian gue dan Vivi pun menoleh ke arah belakang kami.
"Ngapain lo berdua ngikutin kami?" Tanya gue waspada sembari memberi aba-aba dengan tangan yang gue yang gue belakangi ke arah Vivi sebagai tanda kalau Vivi harus bersiap.
"Hei, 10. Kalau masih mau tegak, lebih baik serahkan ransum itu ke kami." 03 menyeringai dengan begitu mengerikan.
Sementara itu dalam hati gue, "si anj*ng."
04 gak henti-hentinya terus menyorotkan pandangannya ke arah Vivi, kayaknya dia ini mulai mengendus rencana kami, makanya yang dia incar adalah Vivi.
Dan selang beberapa detik kemudian, firasat gue benar.
"Lo mau kabur ya, 09?" Ucap 04 tiba-tiba, dia langsung menunjukkan jarinya ke arah Vivi. "Sayang, kamu incar si 09 dulu, kita lagi dijebak sama mereka." Lanjutnya.
Sial!
"Oh ho ho ho, begitu rupanya, hmm, berani juga kalian. Untung gue ini cerdas, hei 09, kalau dilihat-lihat... Kamu bikin gemes deh. Come to papa, hehe." Ucap 03 dengan begitu liarnya, dia langsung berlari menuju Vivi!
Gue menoleh ke belakang dan berteriak, "sekarang!"
Vivi pun beranjak kabur dari tempat kami, dia menerobos hutan yang paling lebat agar bisa terus melanjutkan perjalanan menuju ransum. Sementara gue menghadang 03 dengan menendang tulang keringnya sekuat tenaga!
*BUAAAGGGHH!!!
03 pun tumbang dengan kesakitan, "UAAAKKKHHH TULANG KERING GUE BASAH!!!" Ringisnya.
Kaki gue juga berdenyut karena gak kalah kesakitannya, sial, seumur-umur gue gak pernah berantem sama siapa pun.
__ADS_1
Langkah kaki gue mulai pincang, dan disaat itu juga gue segera menjaga jarak dari mereka untuk perlahan-lahan mundur supaya bisa menyusul Vivi.
"Bangun b*bi! Dia mau kabur itu!" Bentak 04.
"Kamu aja kejar, tulang keringku linu nih sialan!" Balas 03.
"Brengs*k!"
Seketika gue langsung mengangkat tangan gue sembari menggenggam belati kuat-kuat.
Pergerakan 04 yang ingin maju menyerang gue tiba-tiba terhenti.
"Kenapa 04? Lo mau serang gue? Sini maju." Ucap gue agak gemetar.
Melihat ekspresi dan gelagat gue, bukannya takut, 04 malah menyeringai dan makin mendekat.
"Gue gak yakin tuh lo berani serang gue, dari respon tubuh lo, kayaknya... lo ketakutan, ya?" Ucap 04 begitu yakin.
Dan sialnya...
Tebakan dia benar. Untuk gue yang di luar sana pendiam juga anti sosial, memegang belati begini aja bagi gue udah termasuk hal-hal ekstrim yang belum pernah gue lakukan.
"Tau apa lo soal gue? lebih baik kalian mundur dan cari ransum di lokasi lain." Ucap gue lagi.
03 bangkit dari ambruknya, "udah susah-susah gue baca peta, disuruh cari ransum di tempat lain? Bangs*t banget lo."
"Langsung serang dia, dia gak punya keberanian untuk pakai belatinya." Perintah 04.
03 tertawa sembari menjulurkan lidah, "oke sayang."
Dia dan tubuh gempalnya pun berlari ke arah gue dengan kedua tangan siap untuk grappling! ⁰¹
Gu-gulat?
Sial kalau kena tamat riwayat gue!
Gue pun melompat menghindar dan berguling ke sisi lain, sementara 03 yang sudah kepalang berlari kencang dan gak bisa berhenti malah memeluk pohon yang ada di depannya!
Gila, dentumannya aja ke pohon sekeras itu!
"Woi, kalau mau dipeluk itu jangan kabur!" Bentak 03.
Buat gue yang gak punya basic bela diri sama sekali, ketemu 03 yang adalah seorang pegulat itu bunuh diri. Kau gue udah masuk ke dalam area grapplingnya dia, gak ada celah untuk gue bisa kabur lagi, hal minimal yang bisa gue terima dari terkaman 03 adalah patah tulang.
Sial sial sial!
Ayo pikirkan sesuatu, kalau enggak, tamat riwayat gue!
"Mau kabur kemana lo brengs*k?!" 04 yang sadar kalau gue berlari seketika berteriak guna menyadarkan 03.
"Dasar cacing! Orang kurus kalau lari pasti kencang banget deh, sial!" Maki 03 yang juga mulai mengejar.
Sebenarnya gue mau kabur yang jauh banget, tapi gue takut kesasar karena petanya gue serahkan ke Vivi, dan satu-satunya lokasi yang gue tau adalah lokasi ransum yang letaknya ada di seberang sungai.
Dari sini, sembari berlari dari kejaran 03, dan 04 gue juga sekaligus menghambat mereka agar Vivi juga punya waktu untuk mencari ransum dan kabur.
Gue kerahkan seluruh tenaga gue berlarian di dalam hutan yang bekelok-kelok dari pohon satu ke pohon lainnya meski napas gue tersengal-sengal agar mereka berdua bisa terkecoh.
"AYOOO GUE PASTI BISA AAARRRGHHH!!!"
...***...
01 terbangun dari istirahat sejenaknya, dia melihat 02 sedang merapihkan tenda seraya membuat rencana untuk eksekusi permainan kedua ini.
"Sedang apa, Gabriel?" Tanya 01.
"Ah, Nona sudah bangun. Saya sedang mempersiapkan rencana selanjutnya. Oh ya, bagaimana dengan rencana anda sebelumnya?" 02 balik bertanya.
__ADS_1
01 pun teringat akan rencananya yang ternyata sangat sia-sia. Tapi dia gak mau mengakui itu, dengan angkuhnya 01 berkata sambil membuang muka, "lancar kok."
"Hmm, baik." Balas 02.
"Jadi, bagaimana dengan rencanamu?" 01 kembali pada mode seriusnya.
"Untuk sementara waktu ini, rencana saya hanyalah mengumpulkan ransum sebanyak mungkin selama kita bertahan di hutan ini." Jawab 02.
"Terlalu sederhana." Balas 01, kemudian dia seolah-olah sedang memikirkan sebuah rencana yang jauh lebih menarik.
"Lantas, apakah anda ada rencana lain?"
Dan akhirnya 01 menemukan ide cemerlangnya.
"Aku punya rencana yang jauh lebih memukau."
"Jelaskan pada saya, Nona."
01 menatap 02 dengan tajam.
"Kita akan mengontrol permainan ini."
...***...
Gue kian makin dekat dengan sungai yang alirannya deras bukan main, jantung gue berdegup sangat gak normal, dan sekarang napas gue terus memburu seiring makin pendeknya jarak 03, dan 04.
Di sini gue seketika langsung memikirkan keadaan Vivi, apakah dia sekarang udah di seberang sungai atau malah...
"Gak! Vivi pasti selamat!"
Gue harus tetap sadar dan waras di tengah-tengah keadaan yang gila ini.
Akhirnya gue pun memutuskan untuk melompat menjajaki tiap bebatuan yang ada di sungai deras ini, perlahan demi perlahan gue melompat meski kaki gue gemetar tanpa henti.
"Sial, dia udah mau menyebrang sungai, kamu susul dia!" Perintah 04.
"Mana bisa?! Gila ya? Kamu kira aku salmon!" 03 malah menolak dan justru memaki 04.
"Ya terus gimana dong?!"
"Kamu aja sana gih, kan badan kamu kecil, pasti bisa lompat-lompat di bebatuan hehe."
04 seketika terdiam dalam amarah karena dia juga takut untuk mencoba menyeberang. "Brengs*k."
03 mencolek bahu 04, "kecuali aku dapat jatah malam ini, gimana?" Katanya dengan wajah cabulnya.
04 lagi-lagi harus merelakan tubuhnya, "ah t*i."
Tapi bukannya menyuruh 03 mengejar gue, justru perintah 04 adalah...
"Tapi bunuh dia. Buat dia hanyut ke sungai."
03 langsung terbahak-bahak, "oh gampang dong kalau cuma itu, hahaha!"
Dari depan, gue menoleh ke arah 03 dan 04. Sial, kenapa si 04 menyeringai sambil ngeliatin gue?
F*ck, pasti mereka punya rencana jahat.
Begitu pula dengan 03.
"Kayaknya ada yang langsung pindah dunia, nih, hehe."
...°°°...
...[SENTRI INFO]...
__ADS_1
Grappling adalah salah satu teknik gulat atau kuncian yang biasanya digunakan untuk mendominasi, dan menghentikan pergerakan lawan.