Sentrifugal

Sentrifugal
Eps. 30: War


__ADS_3

Grace mendobrak pintu ruang kantor Yohan dengan rasa amarah dan kelelahan.


*BRAAAK!


Yohan yang tengah meeting dengan para klien pun segera memutuskan meminta izin meninggalkan meeting untuk sementara.


"Mohon maaf sauadar-saudara sekalian, sepertinya saya ada urusan mendadak, meeting akan kita mulai lagi sore ini. Terima kasih." Ucap Yohan, kemudian dia keluar dari ruangan itu.


"Kenapa ribut?" Tanya Yohan, dia berjalan dengan santai menuju tempat lain, dari belakang Grace juga mengikuti.


"Kelly sudah bertindak terlalu jauh, dia utus 2 orang mantan player untuk menghabisi 09, dan 10 tadi malam. Kita gak bisa biarkan ini, Yohan." Jelas Grace.


Kini Yohan memilih untuk masuk, dan bicara di ruang monitor.


Yohan membakar cerutunya, "terus kita harus apa? Mau lapor langsung ke Game Master?" Kembali, Yohan melempar pertanyaan kepada Grace.


Tetapi di sini Grace terdiam, dia mengepalkan tangannya karena kesal. Sebenarnya Grace paham betul kalau dia melaporkan insiden ini kepada Game Master, bisa-bisa skandal pertaruhannya dengan Kelly juga ikut terbongkar dan itu sangat berbahaya bagi Grace, karena menurut Grace, Sentrifugal itu bukan cuma hal sepele baginya.


"Ya gue minta solusi dari lo, gue bilang begini ke elo karena gue masih menghormati lo sebagai senior!" Ucap Grace mencoba meyakinkan Yohan lagi.


Yohan menyilangkan tangannya, dan dia menatap Grace begitu intimidatif, "Grace, kalo lo menghormati gue, lo gak akan terima taruhan bodoh ini. lagi pula lo tau segila apa Kelly. Dia itu manipulatif, apapun dia lakukan demi uang."


Tapi di sini Grace juga merasa kalau Yohan terlalu main aman dan gak mau berkontribusi langsung ke permainan, "terus lo menganggap gue bodoh dengan terima taruhan dari Kelly? Asal lo tau, gue melakukan ini karena tindakan Kelly udah terlalu menyimpang! Apa lo gak sadar kemana player-player lain season lalu menghilang? Organ tubuh mereka dijual di pasar gelap!" Bentak Grace dengan murkanya.


Namun Yohan masih gak bergeming, dia menghisap cerutunya lagi dengan kuat, kemudian dia menunjuk layar monitor yang sedang menampilkan suasana tenda Lynx dan Gabriel.


"Lihat."


Grace memasang wajah heran, dia belum paham apa maksud dari Yohan.


"Kemari, perhatikan tumpukan ransum yang ada di dekat Gabriel." Ucap Yohan.


Dan kini Grace makin kaget lagi karena sekarang sudah ada 8 ransum yang dimiliki Lynx dan Gabriel.


"Mereka... Berarti sejak semalam mereka gak langsung pulang ke tendanya." Lanjut Grace.


"Grace, untuk melawan Iblis, lo juga harus jadi Iblis. Sekarang Lynx dan Gabriel sepenuhnya mengontrol permainan sampai sisa 5 hari ke depan, entah bagaimana nasib player yang lo dukung. 09, dan 10. Kelihatannya mental mereka jatuh setelah insiden semalam." Jelas Yohan.


Namun di sini Grace malah terlihat jauh lebih tenang, dia merasa lebih baik kalau permainan dikontrol sepenuhnya oleh Lynx dan Gabriel.


"Mereka berdua memang Iblis, apalagi Lynx, dia sangat kuat, jauh lebih kuat dari kita berlima, para VIP." Ucap Grace dengan nada datar.


"Gue rasa si anak bungsu ini datang dengan maksud yang khusus, siapa sangka Game Master punya sejarah buruk dengan keluarga pembunuh berantai." Sambung Yohan.


"Buat saat ini berarti fokus gue hanya menghalau Kelly."


Grace berbalik badan dan mulai melangkah ke luar ruangan.


"Bagaimana kelanjutan nasib dari 09, dan 10?" Tanya Yohan untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


Grace terdiam selama beberapa detik.


"Dia punya cukup motivasi untuk terus hidup."


...***...


Gue menatap secarik sobekan kertas yang ternyata undangan Lynx dan Gabriel untuk mengambil ransum di tendanya.


Seketika kami berdua lemas, gue dan Vivi duduk sejenak bersandar di bawah pohon tempat dimana kotak yang harusnya berisi ransum berada.


Hari ini kami sudah menghabiskan waktu dari tenda menuju kemari, susah payah melewati macam-macam jalan terjal, dan ternyata malah cuma ada surat ini.


Matahari kian terik, sekarang sudah ada di atas kepala kami berdua. Sedari tadi gue dan Vivi bergantian minum dari air di dalam bambu yang sepanjang jalan kami temui, lalu sekarang persediaan kami habis.


"Tendanya Lynx, dan Gabriel itu lebih jauh lagi dari tenda kita, kalau kita kesana hari ini, bisa-bisa sampainya malam." Ucap gue kepada Vivi.


"Lynx dan Gabriel? 01, dan 02?" Tanya Vivi.


Gue mengangguk, "iya, semalam gue gak sengaja dengar Grace menyebut nama asli mereka."


"Oh begitu."


"Ya udah, begini aja, gue rasa semua player hari ini akan kumpul di tenda Lynx dan Gabriel. Jadi kita akan kesana besok." Jelas gue.


"Kok besok, Ram?"


Dia tersenyum, "oke."


"Nah, mumpung di sini, kita mending ke sungai untuk isi air minum sekalian bersih-bersih." Usul gue.


Vivi bangkit lebih dulu, kemudian dia mengulurkan tangan untuk membantu gue berdiri.


"Ayo?"


Gue tersenyum sembari meraih tangannya.


"Ayo."


...***...


Lynx bangun dari tidurnya, dia langsung pergi keluar tenda sambil merentangkan kedua tangannya. *Hoaaam~


"Bagaimana tidur anda, Nona?" Sambut Gabriel yang sedari tadi melakukan push up di samping tenda.


"Lumayan." Jawab Lynx datar.


Dia melirik ke arah tumpukan ransum yang jumlahnya masih sama.


"Loh, belum ada satu pun yang sampai?" Ucap Lynx.

__ADS_1


Gabriel yang meyudahi push up ke 1000-nya pun menghampiri Lynx, "sama sekali belum ada tanda-tanda." Responnya.


"Hmm, jangan bilang mereka tersesat."


Akhirnya Lynx pun memutuskan untuk menyiapkan obor supaya bisa bersiap menghadapi malam hari, tetapi saat dia mulai bergerak, Gabriel menahannya.


"Saya sudah siapkan obor." Sahutnya.


"Sial, sekarang kerjaanku cuma menunggu para bocah tol*l itu." Sungut Lynx sebal.


...


Singkat cerita, selama beberapa jam menunggu dengan bosannya, gak lama kemudian muncul lah tim pertama yang mencoba merebut ransum incaran mereka dari Lynx dan Gabriel.


Dan tim itu adalah tim Baskara, dan Cindy yang sudah susah payah berjalan jauh menuju lokasi tenda ini. Berkat asap yang Gabriel buat, mereka berdua pun bisa mencapai lokasi ini jauh lebih mudah.


Gabriel menyeringai saat menatap Baskara, "well, si bocah taekwondo ternyata sampai duluan."


"Kali ini gue gak akan kalah lagi." Ucap Baskara penuh percaya diri.


Lynx tertawa kecil, dia melirik Gabriel. "Aku saja, bagaimana?" Pintanya.


Gabriel pun hanya mengangguk dengan segurat senyuman mengerikannya. "Baik."


Lynx berteriak, "hei 05, kalau lo mau salah satu dari ransum ini, minimal pukul gue sekali."


Tapi Baskara malah terheran-heran, "gue gak lawan perempuan, suruh 02 kesini." Katanya.


Lynx tertawa begitu puasnya, "hahaha, oke oke, gue ini lawan yang mudah loh, coba lawan gue dulu, hadiahnya gue ubah, kalau bisa pukul gue sekali, gue kasih semua ransum ini buat lo." Tantang Lynx begitu santainya.


Mendengar tawaran itu, Baskara pun kini memantapkan tekadnya.


"Bas, melawan 01 gak semudah yang kamu kira, dia boss dari 02." Ucap Cindy mengingatkan Baskara.


"Cuma 1 pukulan, kita gak punya cara lagi, Cind."


Melihat tekad Baskara, kali ini Cindy yang bersuara. "Kamu jujur kan, 01? Cuma 1 pukulan?!" Katanya lantang kepada Lynx.


"Gue bermain adil, 1 pukulan dan lo akan dapatkan semua ransum ini." Jawab Lynx.


Baskara maju menghadap Lynx.


Kini keduanya saling melempar tatapan.


Gabriel bersiap memberi aba-aba dimulainya pertarungan.


Dan...


"Mulai!"

__ADS_1


__ADS_2