
Gue berhenti di satu titik pijakan batu yang paling terjal, sepatu gue teramat licin dan poisis gue benar-benar gak baik saat ini, sementara gue sedang memperkirakan jarak untuk melompat ke pijakan batu lainnya, 03 di belakang juga mulai menapaki langkah pertamanya.
"Lo gak akan pergi jauh, hahaha!" Katanya puas, dia maju perlahan-lahan menghampiri gue yang masih gemetar tak yakin.
Si brengs*k ini sama sekali gak kenal takut, dia terus mendekat meski sadar kalau bobot badannya jauh lebih gak menguntungkan posisinya saat ini.
"Langkah lo cuma bikin kita jatuh tau gak, mundur lo!" Bentak gue, tetapi 03 sama sekali gak menggubris peringatan tadi.
"Lelaki sejati itu gak akan mundur kalau udah punya tujuan, lagian gue gak akan mati kalau cuma hanyut di sungai begini, no no no!" Balasnya penuh keyakinan, semakin percaya diri dia, semakin panik pula gue.
Hingga pada suatu ketika, saat keadaan makin mendesak dan gue juga sama sekali gak punya celah untuk kabur, 03 meraih dan mencengkram pakaian gue.
"Lo mau ngapain anj*ng?!" Teriak gue, gue pun mencoba memukul dia berulang-ulang kali, tapi sial! Pukulan gue yang lemah ini gak ngasih efek apa-apa ke 03.
03 menyeringai dengan raut wajah bak Iblis yang kelaparan, "hei gue ini habis buat kesepakatan yang menyenangkan, dan buat gue... Perintah seperti ini bukan perintah pertama yang gue jalani, loh."
"Maksud lo apa anj*ng?!" Gue terus mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan diri, tetapi 03 malah dengan mudahnya mengangkat tubuh gue yang memang jauh lebih kecil darinya.
Tubuh gue meronta sejadi-jadinya, "lepas bangs*t!!!"
"Enteng banget deh, lo itu kalo makan sedikit ya?" 03 menggeser pinggulnya, dan sekarang tubuh gue udah ada di atas aliran sungai yang siap menelan dan menyeret tubuh gue sampai hancur.
"ARRRGH BANGS***T LEPAS ANJ***NG!!!"
"Hahaha, lepas? Lo mau gue lepas sekarang nih, yakin?"
"J-jangan di sini anj*ng!!!"
Dan tanpa rasa berdosa sama sekali, 03 melepas cengkramannya semudah itu.
"Selamat jalan."
Gue pun seketika jatuh dan terhempas ke dalam sungai!
*BYUUURRR!
Gak perlu waktu lama, arus sungai yang brutal ini dengan mudahnya menyeret tubuh gue sangat kencang sampai-sampai tanpa sadar badan gue udah membentur banyak banget bebatuan, batang pohon dan berbagai macam hal yang gue lewati tanpa bisa melawan sama sekali.
03 tertawa penuh kegembiraan, "BHAHAHAHA!!! Kenceng banget alirannya gila!"
Dia juga melambaikan kedua tangannya, "jangan hati-hati di jalan, semoga gak masuk Surga! Cewek lo buat gue ya!"
Sebegitu girangnya dia sampai berjalan begitu gemulainya kembali kepada 04, "yes yes yes... Gue dapet jatah lagi malam ini."
04 tertawa puas, "bagus."
"Oh iya dong! Kalau cuma bunuh si 10 yang cupu itu sih bukan perihal susah." Ucap 03 dengan bangganya.
"Kalau gitu sekarang giliran kita menyeberang sungai, 09 pasti udah sampai di sana." Perintah 04.
Mereka berdua pun berjalan menapaki bebatuan sungai, tetapi saat sudah ingin sampai di pijakan paling besar yang langsung terhubung dengan sudut hutan lainnya, 04 terdiam bingung.
"Ayo jalan sayang!" Ucap 03 di belakangnya yang tak sabar.
"Hei, kemana jalan menuju pijakan besar sana?" Tanya 04.
"Tadi ada kok!" Jawab 03 yang juga bingung.
"Lihat ini!" Ucap 04, dan 03 pun mulai maju kemudian dia mengintip dari belakang.
"Oh, pasti tadi ditendang 10 pas dia mau jatuh." Lanjut 03 yang masih bersikap tenang.
Sementara 04...
"TOL*L APA YA! Kok bisa 10 dibiarin ngelakuin itu hah?!" Bentaknya.
__ADS_1
"Ya mana aku tau!"
"Sekarang gimana cara kita ke seberang sana?! Jarak kita ke batu besar itu bahkan jauh lebih panjang dari kaki kita!" Lanjut 04 meneruskan omelannya.
Bukannya memberi solusi lain, yang malah 03 katakan adalah, "coba kamu duluan lompat, bisa berenang kan?"
04 menjambak rambutnya sendiri dengan kencang.
"Iya gak sih? Hehe." 03 masih serius dengan usulnya.
"BANGS*T BANGS*T BANGS*T!!!" Maki 04 dengan begitu frustrasinya.
...***...
Dari sudut sungai yang lain, di tepian berbeda, Vivi berlari dengan sangat teramat kencang sembari membawa ransum yang sudah dia temukan.
"RAMAAA!!!" Teriaknya kencang, gue pun sadar kalau itu suara Vivi meski sayup-sayup, tetapi di tengah aliran sungai yang ternyata juga dalam ini gue hampir berkali-kali tenggelam dibuatnya.
Vivi gak henti-hentinya mengerahkan seluruh tenaga yang dia punya, gerakan kakinya lincah melewati tiap rintangan yang ada di pinggiran sungai, sampai pada suatu ketika Vivi berhasil menemukan aliran sungai yang jauh lebih tenang karena ada sebuah bendungan di depannya.
Vivi berusaha untuk lebih dulu sampai di bendungan itu membalap tubuh gue yang masih kesulitan untuk melawan arus. Dan ketika dia sudah berada di tepi sungai yang berada di dekat bendungan, Vivi langsung melompat terjun sambil menggigit ransum dan peta kami.
*BYUUURRR!
Tangan kanan Vivi berpegang erat ke bendungan batu, dan tangan kirinya terus dia rentangkan agar bisa menggapai tubuh gue, melihat jarak Vivi yang kian lama kian dekat, gue pun berusaha semaksimal mungkin untuk fokus dan sadar agar bisa menggapai tangan Vivi.
Meski terus membentur bebatuan tajam, gue masih berjuang hingga...
*TAP!
Tangan Vivi berhasil gue gapai, sekuat tenaga Vivi menarik tubuh gue agar gue juga bisa berpegangan ke bendungan!
*ERRRGGGH!
Hingga pada akhirnya gue pun bisa menggapai bebatuan.
Dan...
Setelah bersusah payah meloloskan diri dari 03, dan 04 demi mendapatkan ransum sialan ini, kami berdua akhirnya bisa beristirahat di tepian sungai dengan perasaan mulai tenang, *hosh... Hosh... Hosh...
Napas kami sama-sama terus memburu, kami gak saling mengucapkan kata apapun selain cuma beradu pandangan selama memulihkan diri.
Vivi mengepalkan tinju ke arah gue, dan gue membalas tinjunya pelan, *tuk
"Thanks, Vi."
...
Singkat cerita, kami berdua memilih istirahat lumayan lama karena energi kami benar-benar sudah sangat amat habis.
Gue merasakan rasa sakit, juga nyeri di sekujur tubuh karena terus menerus terbentur batu sungai, tetapi meski sedang sakit, yang gue perhatikan malah darah mengering yang ada di dahi Vivi.
Tapi gue gak bertanya apapun mengenai hal itu, jadinya gue hanya diam tanpa melempar kata.
"Ransum pertama ini buat lo." Ucap Vivi pada akhirnya, dia memberikan ransum itu kepada gue, tapi gue cuma tersenyum sambil berkata, "berdua."
"Lo kan belum makan apa-apa Ram." Lanjut Vivi.
"Kita punya waktu 7 hari di tempat ini, apapun yang terjadi kita harus hemat-hemat ransum ini, tetep buat berdua." Balas gue lagi.
"Dasar, ya udah kalo gitu kita simpen aja dulu." Sungut Vivi sebal.
Gue mencoba berdiri perlahan-lahan.
"Mau kemana?" Vivi juga ikut berdiri.
__ADS_1
"Air sungai ini kayaknya bisa kita minum Vi." Ucap gue yang udah duduk di tepian sungai, airnya jernih dan saat gue cium juga gak ada bau yang aneh, akhirnya gue memberanikan diri untuk meminum air itu, *gulp... Gulp...
"Wah! Segarnyaaa."
Vivi duduk di sebelah gue, dia juga mulai berani meminum air sungai.
"Wah, rasanya kayak air mineral kemasan." Ujar Vivi.
"Huft... Gila, ya"
"Hm? Apanya?" Vivi melirik.
"Beberapa hari yang lalu kita ada di kota, sekarang udah ada di hutan. Gue gak kebayang seberapa kaya rayanya owner dari Sentrifugal sampai-sampai bikin kota buatan di pulau besar yang udah pasti milik pribadi ini." Jawab gue.
Vivi juga memiliki pendapat yang sama, "minggu lalu juga kita masih menjalani kehidupan normal, ketemu banyak orang dan ngerjain kegiatan kita sehari-hari, terus sekarang... Kita ada di sini, cuma ketemu beberapa orang asing yang belum pernah kita temuin sebelumnya, juga ngelakuin permainan gila yang diluar akal sehat kita."
Gue... Jadi teringat oleh perlakuan 03 tadi.
Karena itu, rasa ngeri menyelimuti lagi.
"Baru kali ini juga gue ketemu orang yang punya motivasi untuk membunuh orang lain semudah itu." Intonasi suara gue mulai melemah.
Vivi mendengus, "ya itu karena orang-orang di sekeliling dia terbiasa untuk nerima perlakuannya seburuk apapun konsekuensinya, termasuk membunuh manusia lain. Makanya... Jangan sekali-kali jadi jahat kalau gak mau keterusan. Berhentinya itu gak mudah."
Gue melirik ke arah Vivi, kemudian Vivi melanjutkan perkataannya.
"Kayak bokap gue."
"Bokap lo?"
Vivi mengangguk, "karena sudah sering main tangan ke nyokap, akhirnya gue pun turut merasakan seberapa ringannya tangan bokap ke diri gue sendiri. Tiap dia stress, tiap dia mabuk, atau tiap gue bikin dia marah tanpa sengaja sekali pun. Gila. Maksud gue... Nyokap dan gue itu cuma perempuan, Ram. Bisa apa kami? Sampai akhirnya gue pun tumbuh besar dengan didikan super keras, tapi gue malah terbentuk ke sisi lain yang dimana sangat bertolak belakang dengan ideologi keluarga gue. Sebetulnya gue ini merasa kalau tempat gue tuh bukan di sana, gue tuh bukan bagian dari mereka karena senyaman apapun fasilitas yang mereka kasih, tetap aja bagi gue itu bukan rumah. Sebab bagi gue, rumah itu berisi orang yang selalu menanti kepulangan lo, entah bagaimana pun elo menjalani hidup, kalau udah ada di rumah, itu tandanya lo berhak untuk beristirahat. Makanya gue rela untuk ikut Sentrifugal, setidaknya di sini gue bisa melakukan apapun yang gue mau entah menyelamatkan, atau membahayakan manusia lain. Tapi tenang aja Ram, sama sekali gue gak akan nyakitin lo." Jelas Vivi, dia begitu larut dengan emosinya sampai tanpa sadar tatapan dia ke mata gue terlalu dalam.
Senja pun datang, matahari yang tadinya memberi cahaya penuh gemerlap, kini perlahan-lahan mulai tenggelam.
Vivi tersadar, "sorry."
Gue cuma bisa merespon dengan segurat senyuman tipis, tanpa mengkoreksi cerita hidup Vivi, gue berucap dengan tenang...
"Ayo pulang."
Kedua mata Vivi berkaca-kaca, kemudian dia tertawa kecil sembari mengelap airmatanya.
"Ayo."
...***...
Jauh dari kata 'kesulitan', kosa kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi dari 01, dan 02 saat ini adalah 'bosan'.
01 terduduk di atas tubuh 2 harimau yang ditumpuk oleh 02. Pada hari pertama, mereka sudah dapat 2 ransum dengan begitu mudahnya.
Satu hal lagi...
01, dan 02 sama sekali tidak menggunakan senjata yang mereka bawa.
"Sayang, padahal kalau kita bawa mereka, kulitnya bisa untuk karpet di kamarku." Ujar 01, dia memandangi harimau paling atas yang langsung mati dalam sekali tendangannya.
"Kepalanya juga bisa jadi dekorasi pengganti kepala beruang kutub di perpustakaan pribadi anda." Usul 02.
"Ah jangan, beruang kutub itu kebanggaanku." Lanjut 01.
"Saya paham, itu adalah hewan pertama yang anda buru saat ulang tahun ke 17."
01 menatap celah dari pepohonan, ternyata suhu mulai menjadi lebih teduh karena hari ingin berganti malam.
"Gabriel, sepertinya kita butuh obor."
__ADS_1
"Saya akan siapkan."