
Malam yang kelam, kini berubah menjadi malam terang benderang kala sinar bulan tak lagi dihalangi oleh awan hitam pekat.
Sosok Grace bersinar dengan segurat luka tipis di bibirnya, kini pakaiannya sudah kotor akibat noda dari tiap pukulan, dan tendangan yang Enzo bersama Ivan lakukan.
Napas Grace memburu, sudah 1 jam lebih durasi pertarungan ini berlanjut. Meski sekarang kaki kiri Ivan sudah pincang, dan pergelangan tangan kiri Enzo patah, mereka masih mempunyai kesadaran yang gak wajar untuk terus berkali-kali bangkit melawan Grace.
"Mereka benar-benar gak normal. Kalau begini caranya biasa-bisa gue kalah kehabisan tenaga." Ucap Grace membatin.
Dari kejauhan, tanpa Grace sadari, ada 01 dan 02 yang rupanya belum pergi terlalu jauh semenjak berpisah dengan gue dan Vivi.
"Gabriel, aku rasa mereka berdua pakai doping." Kata 01, dia duduk di atas batu bersih yang sudah 02 tataki jasnya.
02 yang sejak tadi mengamati pun setuju dengan pendapat 01. "Saya rasa juga demikian. Sekarang 2 manusia berkepala anjing itu bergerak diluar kontrol otak mereka, doping sudah menyebar luas dan terus menerus memberikan stimulan ke tiap-tiap jaringan syaraf di tubuh mereka."
"Dengan kata lain, saat ini Grace sedang melawan zombie." Lanjut 01, tiba-tiba dia mulai bangkit dan ingin berjalan menghampiri Grace.
"Nona, anda mau pergi kemana?" Tanya 02.
"Bantu Grace. Lagi pula, aku juga gak tahan kalau melihat pengganggu permainan seperti mereka. Sekalian ingin mengetes seberapa kuat doping itu bekerja." Jawab 01 yang sudah membulatkan tekadnya.
"Baiklah, Nona."
Tetapi langkah 01 berhenti sesaat sebelum muncul dari pepohonan ketika melihat gue yang mulai bangkit dari kekalahan.
"Survival mode, lagi?" Desis 02.
Grace melirik ke belakang setelah ekor matanya sadar kalau gue tengah berusaha untuk berdiri lagi meski dari kepala gue sudah dipenuhi darah yang mengering.
"Rama?!" Grace terkejut, tetapi rasa kejutnya gak bisa terlalu lama karena Enzo dan Ivan juga gak henti-hentinya melancarkan serangan tanpa jeda.
Grace kembali fokus pada petarungan, karena belum sempat menghindar, dia berusaha menahan serangan yang datang itu dengan blocking⁰¹.
*BUGH!
*BUGH!
*BUGH!
Ada kondisi dimana rasa sakit yang tadinya menggerayangi sekujur tubuh gue hingga membuat gue gak sanggup lagi untuk bergerak bahkan seujung kelingking pun lenyap.
Dan gue gak tau apa yang saat ini gue rasakan, yang jelas ada luapan amarah yang menggebu-gebu saat melihat Vivi yang sudah terkapar dengan lemasnya.
"Bang...s*t." Kata gue, masih dengan kepala tertunduk, juga kaki yang belum pulih.
"Rama, bawa 09 menjauh! Biar aku yang tahan mereka." Pinta Grace.
Tapi di telinga gue sama sekali gak terdengar suara Grace, hanya ada 1 bisikan kata yang sedari tadi berputar mengelilingi pikiran dan telinga gue, bisikan itu berkata...
...[BUNUH]...
...[BUNUH]...
...[BUNUH]...
Terus menerus begitu.
Pening.
Kepala gue rasanya mau meledak.
"Rama!" Teriak Grace.
Dan dalam sekejap mata, lagi-lagi tanpa menggubris setiap panggilan Grace, gue maju menyerang salah seorang dari manusia berkepala anjing ini.
Gue gak paham bela diri sama sekali.
Namun satu hal yang gue ketahui saat itu adalah, gue sangat amat marah.
Beberapa pukulan asal dan tendangan gak beraturan gue hujamkan ke tubuh Enzo!
*BUAGH!
*BUAGH!
*BUAGH!
Beberapa mengenai tubuh Enzo, tetapi sebagian besar lainnya meleset sangat jauh.
"Serangan tol*l macam apa itu." Dengus 01 yang lagi-lagi hanya menjadi penonton.
Melihat gue sedang bertarung sendirian, Grace sekarang kembali fokus untuk menumbangkan Ivan.
__ADS_1
Ivan berlari kencang dengan kakinya yang sudah pincang, melihat Ivan semakin mendekat, Grace segera memperkuat pijakan kaki kirinya, setelah jarak dia dan Ivan hanya tersisa beberapa ratus senti lagi, Grace langsung melesatkan tendangan kaki kanannya dengan kuat menghantam lutut kaki Ivan yang pincang sampai bengkok ke depan!
*BUAAAGGGHHH!
*KRAAAKKK!
Barulah di sini Ivan berteriak kesakitan setelah kesekian serangan Grace hempaskan.
"UAAAKKKHHH!!!" Ringisnya, tubuhnya langsung ambruk tak bisa berdiri lagi karena patah tulang di kakinya sangat fatal.
"Bisa ngomong juga lo bangs*t." Grace yang geram segera menarik topeng anjing itu untuk mengetahui siapa identitas penyerang mereka.
Grace terhentak, dia baru sadar ternyata itu adalah Ivan atau 08, sosok player yang kalah di permainan sebelumnya.
"Sial, itu berarti satu lagi..."
Sadar kalau ternyata penyerang di permainan ini adalah salah seorang dari mantan player, Grace langsung menarik satu topeng yang dikenakan penyerang sisanya.
Gue terdiam, Grace terdiam.
Dalam lamunan gue, "lo... 07?"
Grace mencengkeram pakaian taktikal 07 alias Enzo, kemudian membantingnya ke tanah!
*BUAAAGGGHHH!!!
"Rama, cukup. Ini urusanku." Perintah Grace serius.
Gue pun menurut diam, kemudian segera mundur dan menghampiri Vivi.
Grace menyeret tubuh Enzo sejajar bersama tubuh Ivan. Keduanya sudah tumbang, tapi tubuhnya terus meronta seolah-olah gak mau berhenti untuk terus menyerang.
Akhirnya, 01 muncul mendekati Grace.
"Bunuh mereka berdua." Ucap 01.
Grace yang baru sadar akan kehadiran 01 hanya saling beradu pandangan dengannya.
"Lynx. Sejak kapan lo di sini?" Tanya Grace.
Dalam hati, gue hanya bisa berkata, "Lynx? Nama asli 01 adalah Lynx?" Lalu gue pun gak berani untuk ikut campur jauh lebih lanjut.
02 pun sekarang muncul dari belakang 01, atau saat ini Lynx.
"Gabriel." Sambut Grace.
Gila, dengan begini sekarang gue tau siapa nama asli 01 dan 02.
"Ada doping berbahaya di dalam tubuh 07, dan 08. Mereka gak akan berhenti menyerang kalian kalau jantungnya belum meledak." Ucap Lynx.
"Lagian kok bisa-bisanya ada penyerangan di tengah-tengah permainan begini, VIP itu kumpulan orang tol*l kah isinya?" Sambung Gabriel.
Grace melirik bengis ke arah Gabriel. "Tutup mulut lo bangs*t, dengan adanya gue di sini itu sebagai bentuk profesionalitas dan tanggung jawab sebagai VIP."
Gabriel tersenyum tipis menyeringai saat menanggapi ucapan Grace.
Dan tak lama kemudian, Lynx menembak jantung Enzo dan Ivan secara brutal tanpa sedikit pun raut wajah iba.
*DOR!
*DOR!
Darah segar menyeruak dari dada Enzo dan Ivan, keduanya tewas seketika.
"KENAPA LO TEMBAK?!" Bentak Grace.
Tapi Lynx hanya bersikap dingin, "sejak awal doping masuk ke tubuh mereka, status 2 orang ini udah mati, Grace." Ucap Lynx.
Gue mematung gak bergeming sama sekali. Selama gue hidup, ini adalah pembunuhan pertama yang gue saksikan secara langsung.
01, bukan, Lynx... Gue gak sangka dengan perbuatannya. Dia itu Malaikat pencabut nyawa, kah?
Ternyata VIP yang bernama Kelly itu benar-benar...
pembohong.
Kejam.
Iblis.
Sejak awal 07, dan 08 gak dipulangkan ke tempat asalnya dan malah dimanfaatkan oleh Kelly untuk kepentingan ini. Tapi masalahnya, kenapa gue targetnya? Apa yang udah gue lakukan?
__ADS_1
Apakah ada dendam pribadi antara 07, dan 08 ke gue dan Vivi?
Dan lagi...
Kalau gue dan Vivi kalah.
Bisa-bisa nasib kami mirip 07, dan 08.
Sial. Kami betul-betul ada di Neraka.
Hingga beberapa menit kemudian berlalu. Malam ini pun bermula dengan penyerangan, dan berakhir dengan pembunuhan.
...***...
Grace termenung di atas rooftop Apartemen lokasi permainan sebelumnya.
Dari sisinya, udah terkumpul belasan puntung rokok yang sedari tadi terus menerus dia hisap.
Bukan perihal iseng, atau cuma sekedar beristirahat di sini, tetapi pagi ini, Grace memiliki janji temu penting dengan Kelly.
Gak lama kemudian, Kelly pun datang dengan wajah kemerahan tanda dia habis berpesta pora semalam.
"Yo, VIP Grace, mau bahas apa nih pagi-pagi?" Sapa Kelly yang mulutnya pekat bau alkohol.
Grace tersenyum, "bagaimana pestanya semalam? Seru?" Tanyanya.
"Oh seru dong, lo sih gak ikut, padahal kalo lo ikut bisa menang telak nih gue, hehe." Jawab Kelly dengan santainya.
"Kalo gue ikut, kalian gak bisa nontonin gue dong, hahaha..." Grace membalas tawa Kelly.
Kelly menatap Grace, dia mengangkat alisnya dengan wajah meledek. "Kalo lo kesel, ledakin aja Grace. Gue siap mendengarkan kok."
Maksud hati ingin memancing amarah Grace, tetapi Kelly malah gagal total. Amarah Grace sama sekali gak terpantik, dia malah terlihat sangat tenang pagi ini meskipun semalam adalah malam yang merepotkan baginya.
"Berapa banyak cctv yang udah lo manipulasi?" Tanya Grace lagi, dia mengorek saku celana Kelly dan mengambil rokok Kelly.
Dungunya, Kelly cuma diam saat Grace merogoh-rogoh saku celananya.
"Banyak anj*ng! Lo gak usah tau." Bentak Kelly.
Grace bengong, "katanya gue gak boleh tau, tapi lo barusan bilang banyak, gobl*k."
Kelly masih teler, "ah t*i lo."
Setelah mendapat rokok, sekarang Grace kembali meraba badan Kelly untuk mencari korek. "Korek lo mana bangs*t?"
"Si anj*ng. Pake korek lo sendiri gobl*k!" Maki Kelly.
Grace langsung membuang korek miliknya jauh-jauh.
"Gak ada, pinjem korek lo."
"Sint*ng." Sungut Kelly.
"Habis ini, apalagi rencana lo?" Grace menyalakan rokoknya, dan menghembuskan asap dari mulutnya tepat ke depan hidung Kelly.
"UHUK! UHUUUK! Bangs*t yang jauh bangs*t!" Ringis Kelly, matanya langsung memerah.
"Begitu aja batuk, culun."
"Apa pun lah gue lakukan, yang penting tuh ya, elo mampus, semua player mampus, gue makin kaya. Jelas dong? Hehehe." Jawab Kelly yang makin high. *Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Setelah mendengar ucapan Kelly, raut wajah Grace pun kembali serius.
Dia menarik kerah kemeja Kelly, kemudian Grace berbisik dengan suara berat penuh amarahnya.
"Lo yakin udah di atas awan?" Ucap Grace.
Dan di sini Kelly balas berbisik di telinga Grace, "gue bahkan udah party di langit ke 7, bro."
Grace tertawa kecil, "oke, gue akan pulangkan lo ke rumah."
"Kemana?"
"Ke Neraka."
...°°°...
...[SENTRI INFO]...
__ADS_1
Blocking. Teknik ini melibatkan penggunaan tangan dan lengan untuk memblokir pukulan lawan.