
Terhuyung di dalam gelap, gue kembali bangkit demi bertahan dari permainan ini hingga semuanya usai. Dari kejauhan, suara serangan 08 masih terdengar tak ada hentinya!
"DIMANA LOOO?!" Teriaknya menggema ke seluruh lorong.
Gue berdiri menempelkan tubuhku rata dengan dinding tepat di samping pintu kamar 01, dan 02, dalam kelam yang tak terbayangkan, gue pasrahkan saja bersembunyi dibalik gelap berharap 08 pergi atau melewati gue begitu saja.
Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki itu menghilang, gue rasa... Suasana sudah mulai aman.
Tetapi ternyata nggak sama sekali, lambat laun gemuruh langkah kaki dari 08 berdentum lagi kali ini semakin cepat dan makin dekat!
*DRAAP DRAAP DRAAP DRAAP!!!
Gue berusaha jongkok dan melindungi diri dengan kedua tangan, tetapi tak lama kemudian...
*BRUAAAGH!
Pintu kamar 01, dan 02 terbuka begitu saja! Dari sedikit cahaya yang timbul dari kamar itu, bisa gue lihat dengan jelas bahwa ada sesosok tangan yang menyeret 08 masuk ke dalam kamar yang mendadak ditutup lagi itu!
*BRAAAK!
Melihat 08 ditangkap oleh 01, dan 02, gue shock beberapa saat. "Kenapa mereka..."
Saat hendak pergi meninggalkan kamar ini, dari dalam kamar terdengar suara pertarungan yang heboh dan gila! Kamar mereka bergemuruh penuh bising hingga tak lama kemudian suara tubuh seseorang yang membentur lantai menjadi penutup dari pertarungan itu.
Tanpa pikir panjang lagi gue lari sekencangnya dari sana kemudian mencari keberadaan Vivi, juga 06 yang entah sekarang bersembunyi dimana.
Gila, kalau dipikir-pikir lagi apa 01, dan 02 sengaja membuka pintu? Atau jangan-jangan mereka berusaha buat membantu gue?
Gak, gue gak ada waktu untuk memikirkan mereka, lolos dari para psycho itu aja udah syukur, sekarang fokus gue adalah menunggu pagi.
...***...
Hari ke 2
Pagi sudah datang, matahari pun terbit menyinari Apartemen bersamaan dengan menyalanya seluruh listrik. Gue sudah lemas dan capek banget karena gak ada henti-hentinya bergerak tanpa makan sedikit pun. Dan di sudut tempat ini, Vivi beserta 06 datang menemui gue dengan rasa syukur.
"Lo gak apa-apa?" Tanya Vivi.
"Lo ada minum?" Ucap gue lagi tanpa menjawab pertanyaan Vivi, mendengar itu Vivi segera memberi gue sebotol air minum yang dia hemat-hemat sedari kemarin.
Gue meminum air itu secukupnya, kemudian dengan sisa tenaga seadanya, gue kembali menggerakan tubuh kaku gue. "Ayo kita lanjut cari 05."
Vivi, dan 06 mengangguk.
Kami pun berjalan atas arahan 06, dia yang memimpin jalan karena dia rasa dia tahu kemana tujuan akhir 05 sebelum mereka berpisah.
"Gimana kamu bisa lolos dari 08?" Tanya 06.
"Entah, kejadiannya cepat banget, gue juga gak tahu... Tapi secara gak langsung gue ditolong 01, dan 02."
Mereka berdua terkejut mendengar pernyataan gue.
Apalagi Vivi, "serius? Kok bisa lo ketemu mereka?"
"Gue gak sengaja masuk kamar mereka, terus gue dilempar ke luar sama 02, dan saat gue tahu 08 masih mengejar gue, tiba-tiba aja 02 menyeret 08 masuk ke kamar mereka dan mereka pukulin." Jawab gue sejujurnya.
Dari sini langkah 06 terhenti, sorot matanya mendadak berlinang.
"Kamu yakin 02 udah balik ke kamarnya lagi?" Tanya 06 mencoba meyakinkan dirinya.
__ADS_1
"Iya, gue lihat dia bareng 01."
Setelah itu 06 berlari cepat menuruni tangga darurat, sontak gue dan Vivi hanya bisa berbagi pandangan kemudian ikut berlari mengejar 06.
"Tunggu!" Teriak Vivi.
Gue menahan bahu 06 karena bingung kenapa dia lari, "hei 06 tunggu. Lo kenapa lari?"
"Kita gak ada waktu, Baskara pasti luka parah sekarang, soalnya kemarin aku dan dia berhadapan dengan 02, terus Baskara ngorbanin dirinya agar aku selamat." Jelas 06 seraya menitikan airmata, melihat responnya dia... Gue gak bisa menahan lagi, dan malahan juga berlari beriringan.
"Oh iya..."
...
Kami pun berlari dan terus mencari, setiap sudut tempat, lorong, manapun kami mencoba menemukan keberadaan Baskara tapi nihil... Kami sama sekali gak bisa menemukan dia, hingga akhirnya samar-samar kami semua bisa mendengar suara gitar yang sedang dimainkan.
"Itu Baskara! Ikut aku." Ucap 06, dia segera berlari lagi menuju sumber suara gitar.
Dan benar saja, akhirnya kami bisa menemukan Baskara yang sudah pucat bersender di dinding sembari memeluk gitarnya. Dia lemas bukan main dengan segala luka di sekujur tubuhnya. 06 langsung menghampiri Baskara kemudian merebahkan tubuh Baskara, dengan tindakan seadanya dia mencoba melihat pupil mata Baskara yang kian lama kian redup. "Bas... Bas... Kamu dengar aku Bas?!" 06 menggerakkan sekujur tubuh Baskara, sementara gue dan Vivi hanya bisa melihat mereka.
"09, 10 tolong bantu aku bawa Baskara ke kamar kami!" Pinta 06 makin panik, dia mencoba mengangkat tubuh Baskara sendirian, dan di sini gue langsung sigap membopong tubuh Baskara dibantu oleh 06.
"Kita bawa Baskara ke kamar gue dan 09." Ucap gue.
"Kamar kalian lebih dekat?" Tanya 06.
"Iya, dan gue bawa kotak P3K."
Dan tanpa saling melempar pertanyaan lagi kami bertiga membawa Baskara ke kamar gue dan Vivi.
Saat di jalan, langkah kami terhenti ketika menemui 01 beserta 02 sedang berjalan juga dari ujung lorong yang lain.
"Please, kami lagi gak dalam kondisi bagus, biarin kami lewat kali ini." Ucapnya dengan gemetar.
01 memberi kode kepada 02 untuk menyingkir dan membiarkan kami lewat. Sorot mata penuh amarah 06 terus ditujukan ke arah 02 yang hanya membalas tatapannya dengan sinis.
"Dasar kejam." Ucap 06 geram saat dia berpapasan melewati 02. Sementara 02 hanya tertawa kecil tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Berbeda dengan 06, entah kenapa mata gue dan 01 saling bertautan seolah-olah kami saling mempunyai rasa penasaran terhadap satu sama lain.
...
Setelah sampai di kamar, kami segera membaringkan Baskara dan 06 langsung merawat dia dengan segala macam alat seadanya. Sembari menunggu Baskara pulih, kami beristirahat dan makan secukupnya. Suasana pun mendadak jadi tenang setelah berbagai macam kegilaan yang telah kami lewati.
"Terima kasih banyak, 09, 10. Setelah ini kalian berdua boleh mampir dan makan persediaan makanan di kamar kami." Ucap 06 yang mulai tenang, dia duduk di samping ranjang Baskara, gue dan Vivi juga terduduk di hadapannya.
"Iya sama-sama, kami cuma ngelakuin hal yang seharusnya manusia lakukan." Sambut Vivi.
06 tersenyum lega.
"Kalo boleh tahu, apa lo ini dokter?" Tanya gue kepada 06.
"Iya, kebetulan aku ini mahasiswi kedokteran." Jawab 06.
"Wah, kayaknya bagus kalau lo jadi sekutu kami." Usul Vivi, gue pun menyetujui kata-katanya.
"Itu pun kalo lo gak keberatan." Sambung gue.
"Gak masalah, kita bisa saling tolong menolong, aku gak bisa menahan diri tiap ada orang yang kesakitan karena apapun itu." Jawab 06.
__ADS_1
Gue dan Vivi tersenyum.
"Kalau kalian gimana?" Tanya balik 06.
"Gue seniman, gak tahu kalau 10 ini apa." Vivi melirik ke arah gue.
"Ah, gue cuma karyawan biasa." Jawab gue pelan.
"Begitu... hmm, kayaknya kita semua seumuran, jadi mohon bantuannya ya teman-teman." Pinta 06.
"Oke." Ucap gue.
"Oh ya, ngomong-ngomong lo manggil dia pakai nama, apa kalian seakrab itu?" Vivi melempar pertanyaan lagi, dan sebetulnya gue juga agak penasaran mengenai hal ini.
Gestur tubuh 06 mendadak malu, "ah itu... Iya, sebenarnya Baskara dan aku saling panggil nama karena kami rasa lebih enak kalau pakai nama asli." Jawab 06.
"Wah seru juga, kalau gitu kalian bisa panggil gue Vivi!" Vivi malah kegirangan karena hal ini.
"Nama aku Cindy." Sambut 06.
Tak lama kemudian kedua perempuan ini dengan cepat melirik ke arah gue.
"Kalau kamu?"
"Kalo lo?"
Gue kaget, "gu-gue juga?"
"Iya, nama lo siapa?" Cecar Vivi.
Akhirnya gue mengaku, "nama gue Rama."
Tapi anehnya Vivi malah gak sadar kalau gue adalah teman twitternya.
"Nama lo mirip temen gue, ya memang agak pasaran juga sih namanya." Respon Vivi, dia kelihatan cuek banget.
"Salam kenal, Rama." Sambut Cindy.
"Iya Cind."
Gak lama kemudian, Baskara mulai sadar dari tidurnya. Cindy pun segera mengecek kembali kondisi Baskara, "Bas... Kalau masih sakit jangan dipaksa bangun." Tapi Baskara memaksa, dia melihat ke sekeliling.
"Ini kamar kita Cind?" Katanya.
"Ini kamar 09, dan 10. Mereka bantu aku buat selamatin kamu." Jawab Cindy.
Baskara menoleh ke arah gue dan Vivi.
"Makasih banyak 09, 10." Ucap Baskara tertatih.
"Iya, istirahat aja hari ini, besok permainan pertama selesai, dilihat dari kondisi kalian, kayaknya kalian juga udah dapat 1 poin." Balas gue.
"Iya, gue dapat 1 poin karena udah bikin 02 marah."
"Nyali lo gede juga."
"Lebih ke sial sih, hehehe." Baskara tertawa kecil.
"Oke, kalau begitu kita semua jangan ada yang kemana-mana sampai besok, gue yakin para Player lain gak akan cari kita lagi."
__ADS_1
Kami pun setuju, dan sekarang kami beristirahat.