Sentrifugal

Sentrifugal
Eps. 29: Control


__ADS_3

Semalaman suntuk, sama sekali mata gue enggan terpejam karena rasa pedih yang gue rasakan di sekujur tubuh.


Untungnya gue bawa kotak P3K.


Dini hari tadi gue panik bukan main karena Vivi gak kunjung sadar, ternyata saat gue cek, ada sedikit pendarahan di kepala belakang Vivi, rupanya dia jatuh membentur sebuah batu.


Namun setelah mendengar pernapasan Vivi mulai stabil lagi, rasa khawatir gue mulai sirna.


Mata kiri gue lebam, jadi gue cuma bisa mengandalkan penglihatan di bagian mata kanan aja. Agak susah sebetulnya, tapi apa boleh buat.


Tanpa sadar, sekarang matahari sudah kembali meninggi, tanda kalau hari kedua kini telah dimulai. Sejujurnya gue takut karena sadar kalau gue sedang diincar saat ini.


Tetapi Grace berkata sesuatu sebelum ia pergi mengubur jenazah 07, dan 08.


Dia bilang, "mulai hari ini, selama Sentrifugal berlangsung, nyawa kamu akan jadi nyawa yang paling krusial. Tapi kamu gak perlu khawatirkan itu, aku pasti akan melindungi kamu, Rama. Jadi biar kamu fokus untuk terus menang apapun caranya."


Sebenarnya bukan itu yang gue ingin dengar, tapi Grace keburu pergi karena dia punya masalah yang harus segera dituntaskan.


Gak lama kemudian, Vivi pun mulai siuman, dia langsung menguatkan kedua lengannya untuk saling tumpu menumpu membantunya duduk.


"Kepala lo gimana?" Sambut gue, Vivi yang pucat itu menatap seluruh tubuh gue dengan wajah lesu.


"Elo yang gimana, lo luka di sekujur badan lo Rama, astaga." Ucapnya dengan nada sedikit mengomeli.


Gue tertunduk.


Sekarang Vivi seolah-olah sedang mencari sesuatu, "ransum kita mana?" Tanya Vivi.


"Ke-kenapa, Vi?" Gue langsung memberikan ransum kami ke Vivi.


"Lo belum makan dari kemarin, udah makan belum?!" Katanya lagi.


"Udah kok Vi, lo gak perlu sekhawatir itu." Ucap gue.


"Gimana enggak?! Lo itu selalu gerak sesuai intuisi lo terus Ram, sadar gak sih kalo lo bahkan gak punya waktu buat mengkhawatirkan diri lo sendiri!" Bentak Vivi.


Gue terkejut saat dengar Vivi yang tiba-tiba sangat bersikap serius begini.


"Kita diincar, Vi." Ucap gue dengan nada parau.


Vivi pun menurunkan emosinya, dia meraih bahu gue dengan lembut.


"Sejak awal kita diserang juga gue sadar kalau kondisi kita adalah yang paling diincar dari tim lain. Gue juga tau kalau semalam ada suara letupan pistol dari tangan 01." Ucap Vivi pelan.


"Jadi lo juga tau kalau ada Grace di sana?" Tanya gue.


Vivi mengangguk, "gue juga menyaksikan pembunuhan itu."


"Maaf karena gue terlalu lemah, Rama. Bukan maksud gue untuk bikin lo bersusah payah sampai akhirnya babak belur begini." Vivi mulai menitikan airmatanya.


Tapi gue gak mau mendengar itu, sontak gue raih kedua bahu Vivi dan menatapnya serius.


"Lo gak lemah Vi! Lo sadar gak kalau lo itu udah berkali-kali selamatkan nyawa gue?! Mulai dari kejaran 07, saat gue hanyut di sungai, dan semalam! Kalau gak ada lo, gue udah berkali-kali mati Vi!" Ucap gue sangat mendalam.


Vivi hanya menunduk setelah itu, dia kembali melanjutkan isak tangisnya.


"Gue malahan sangat berterima kasih Vi. Sejak awal, lo selalu ada."


Kalau dipikir-pikir, saat masih berkomunikasi via twitter juga... Vivi selalu jadi opsi pertama saat dimana gue menceritakan tiap masalah yang sedang gue alami.


Yang gue gak sangka adalah, sampai kini pun Vivi masih jadi penolong hidup gue.


Semenjak detik itu, gue memutuskan untuk gak akan jadi orang lemah lagi.


...***...


03, dan 04 memulai pencarian jauh lebih awal ketimbang hari kemarin. Mereka sama sekali gak pulang ke tenda dan malah terus berjalan ke arah selatan menuju lokasi ransum di area ini.


Singkat cerita, telah sampailah mereka di lokasi tempat ransum berada, tetapi ada hal janggal yang terjadi di sini.


"Loh, gak ada harimau sama sekali sayang." Ucap 03 yang mengitari area sekitar berkali-kali.


"Ya bagus dong! Ambil sana ransumnya, aku udah lapar setengah mampus. Sialan." Perintah 04.


Dengan sigap, 03 pun langsung menghampiri kotak yang berisi ransum. Namun lagi-lagi, ada hal lain yang memancing ketertarikan 03.

__ADS_1


"Sayang!" Panggilnya.


"Apa lagi?!" Tanya 04 emosi.


"Kayaknya kita nemuin hal yang jauh lebih mudah ketimbang harimau, hehe." Sungut 03.


Dari hadapannya sekarang ternyata ada Baskara dan Cindy yang juga baru sampai di lokasi yang sama. Baskara langsung mengangkat gitarnya sebagai senjata.


"Hati-hati Bas, mereka yang ngalahin 07 dan 08 sebelumnya." Ujar Cindy.


"Iya, Cind."


03 memberi salam dengan melambaikan tangannya, "hai, kayaknya di antara player lain, baru kalian yang belum pernah ketemu kami. Gue gak mau ribut antar player manapun lagi hari ini, jadi... Biarin gue ambil ransum ini dengan tenang, oke?" Ucap 03 dengan nada penuh ancaman.


Gak lama kemudian 04 muncul tepat dari belakangnya, "gue udah muak, kalau kali ini benar-benar harus bunuh salah satu dari kalian, gue pasti akan lakukan." Sungut 04.


Mendengar ucapan dari 03, dan 04 yang mengerikan, Baskara gak mencoba untuk mundur lagi, sekarang dia malah memberanikan diri untuk terus maju dengan mengambil ancang-ancang siap melawan.


"Oh, jadi lo memilih untuk maju." Sambut 03, dia juga akhirnya memutuskan maju dengan mental yang sudah sangat mantap.


"Awas saja kalau sampai gagal lagi." Ancam 04 kepada 03.


"Oh tenang sayang, aku gak akan gagal untuk jatah malam ini. Hehehe." 03 mengepalkan kedua tinjunya.


"Gak akan gue biarkan lo menang." Ucap Baskara.


"Terserah, bangs*t. Badan gue ini butuh nutrisi biar kuat ngelakuin apa aja tau." Balas 03.


"Gue gak perduli."


Baskara melesat menghujamkan gitarnya ke arah kepala 03, tetapi 03 sengaja menerima serangan yang ternyata membentur lehernya itu!


*BUAAAGH!


Hal selanjutnya yang terjadi adalah...


"Mana berasa." 03 sama sekali gak merasakan apapun karena lapisan otot yang diselimuti lemak tebal di lehernya itu sudah seperti tameng tebal bagi tubuh 03.


"Sial!"


03 melirik Baskara dengan aura penghancur yang siap melindas apapun di hadapannya, "lelaki sejati itu tangan kosong, bro."


Melihat 03 sangat serius menghadapinya, Baskara pun mulai melakukan pemanasan untuk kedua kakinya. Untuk sekarang, dia akan mengerahkan segala kemampuan yang membuat dia sebagai seorang juara.


"Taekwondo?" Tanya 03.


Baskara menatap dengan percaya diri, "satu-satunya upaya yang bisa gue lakukan untuk menghabisi lo." Jawabnya.


03 menyeringai, "cocok."


Kini Baskara mulai berlari kencang untuk melancarkan tendangan ke titik vital 03 yang kembali diam untuk menerima serangan, meski ukuran tubuh mereka gak jauh berbeda, tapi untuk kelas berat jelas Baskara kalah telak. Dan satu hal yang saat ini paling mudah untuk Baskara serang adalah bagian kepala 03!


Dia melompat tinggi untuk melakukan tendangan memutar, *hup!


Tubuh Baskara seolah sangat fleksibel di udara sampai-sampai 03 hanya bisa melihat dengan tenang saat kaki kanan Baskara mulai terlihat melesat ke arah rahang 03!


Namun lagi-lagi, 03 menahan serangan Baskara dengan telapak tangannya yang tebal sebagai pelindung rahang.


"Dia cepat!" Ucap Baskara membatin saat ia sadar tiba-tiba 03 melakukan gerakan itu dengan santainya.


*TAAAP!!!


03 kini menggenggam pergelangan kaki Baskara dengan kuat.


"Hoi, ternyata lo amatiran ya." Sungut 03 begitu percaya diri.


Melihat kaki kanannya dengan mudah 03 tangkap, Baskara gak kehabisan akal, dia sengaja membuat kakinya tertangkap supaya dia bisa makin mendekat.


"Yakin?" Baskara tertawa kecil, sekarang posisinya mendadak berubah!


Baskara menekuk kaki kanannya yang sudah tertangkap dengan cepat agar lututnya bisa menghantam hidung 03!


Dan kena telak!


*BUAAAGGGHHH!!!

__ADS_1


03 Terhuyung, dia gak sangka kalau akan dapat serangan mendadak yang ternyata sangat sakit ini, kemudian, tanpa dia pahami juga ternyata genggaman tangannya mulai melemah sampai Baskara bisa meloloskan kakinya lagi.


Melihat momentum itu, Baskara tentu gak akan melewatkannya! Mumpung dia masih terbang di udara, untuk sekali lagi Baskara melakukan tendangan berputar yang sekarang giliran kaki kirinya lah yang bertindak menghantam rahang 03!


*BUUUAAAGGGHHH!!!


"LO NGAPAIN B*BI!!!" Teriak 04 sangat frustrasi melihat lagi-lagi 03 kalah dengan player lain.


Mata 03 mulai memutih tanda-tanda kesadarannya makin menipis, "bangs*t, gue lapar." Katanya sebelum jatuh tumbang dan pingsan.


*DUAGH!


Baskara berhasil mengalahkan 03 dengan teknik yang paling dia andalkan dengan singkat.


04 mulai panik, dia langsung berlari ke kotak ransum dan berniat untuk segera kabur dari hadapan Baskara!


Melihat itu, Cindy juga berlari mengejar 04 agar dia juga bisa merebut ransum keduanya.


"AAARRRGH! Minggir lo bangs*t! Jangan ikuti gue sialan!" Maki 04.


Cindy gak mau menyerah, "itu milik kami!"


Namun rupanya 04 lah yang lebih dulu sampai ke kotak ransum, dia membuka kotak itu dengan mudahnya, kemudian selanjutnya dia hanya terdiam shock.


"Apa?"


Benar-benar shock kala mendapati isi dari kotak itu hanya sebuah sobekan surat peraturan permainan dengan tulisan yang dibuat menggunakan arang sisa bakaran kayu bertuliskan.


...[Semua ransum ada pada kami, kalau mau ambil, jalan lurus ke barat....


...-01, 02]...


Cindy terdiam kala melihat 04 hanya bisa berlutut geram sambil menangis histeris. "Bangs*t, bangs*t, bangs*t." Racaunya sangat-sangat putus asa.


Kemudian dengan hati-hati Cindy mendekati 04, "hei, apa yang terjadi dengan ransumnya?"


"Ambil nih biar lo puas anj*ng!" Bentak 04 sembari melempar potongan surat yang ia kepal itu ke arah Cindy.


Cindy pun membaca sobekan surat itu dengan rasa lemas, segera ia beritahukan Baskara mengenai isi surat tersebut yang juga membuat Baskara terpantik emosinya.


"01, 02 brengs*k."


...***...


Dari sisi hutan yang paling tenang, Lynx menguap karena tidak tidur semalaman.


"Ada baiknya anda tidur sejenak, Nona." Ucap Gabriel.


"Berapa total ransum yang ada di kita, Gabriel?" Tanya Lynx, dia mulai terlentang di dalam tenda.


"Kita memiliki 8 ransum, Nona." Jawab Gabriel.


"Makanlah 1 kalau lapar." Perintah Lynx.


"Saya akan menunggu anda selesai istirahat." Balas Gabriel.


"Oke, bangunkan aku kalau ada player lain yang sudah datang. Aku mau lihat bagaimana ekspresi kelaparan mereka."


"Baik."


Dengan begini, sesuai rencana Lynx dan Gabriel sebelumnya, mereka benar-benar mengontrol jalannya permainan secara telak.


...×××...


...[POIN RANSUM SEMENTARA / GLUTTONY]...


...Player: 01-02 / 8 Ransum...


...Player: 05-06 / 1 Ransum...


...Player: 09-10 / 1 Ransum...


...Player: 03-04 / 0 Ransum...


...Harimau hidup: 01...

__ADS_1


...Harimau tewas: 09...


__ADS_2