Sentrifugal

Sentrifugal
Eps. 21: Demon


__ADS_3

"Membosankan."


01 kembali ke tendanya setelah memeriksa sekeliling, dia juga punya asumsi yang sama kalau ternyata level permainan ini jauh lebih dinaikkan dari permainan sebelumnya.


Lokasi tenda mereka adalah yang terjauh dari posisi ransum, meski begitu, hal ini sama sekali bukan halangan bagi 01 yang punya pistol dan pisau. Mereka bisa dengan santai pergi ke lokasi ransum tanpa perlu bersusah payah.


Oleh karena itu, sekarang yang 01 lakukan hanyalah duduk santai di bawah pohon rindang sembari menunggu 02 terbangun dengan sendirinya.


...***...


Di lokasi lain, Cindy lebih awal bangun ketimbang Baskara karena kebetulan Cindy juga gak terlalu banyak makan saat acara perjamuan.


Kepala Cindy agak sedikit berputar, ia mulai meraba sekitar untuk mencoba duduk dan menyadarkan diri. Pada situasi ini, rasa heran juga Cindy rasakan karena dia merasa ada logistik yang seharusnya ada tapi malah dihilangkan di permainan kedua ini.


Mencoba tenang, setelah beberapa menit mengumpulkan nyawa, dia baru membangunkan Baskara.


"Bas, bangun Bas..." Ucapnya sembari menggoyang-goyangkan badan Baskara.


Gak lama kemudian, Baskara bangun dengan terkejut! Dia langsung duduk dan memperhatikan keadaan sekitar.


"Loh?! Kita kok ada di tenda?" Katanya panik.


"Aku juga kaget, tapi kayaknya ini lokasi permainan kedua." Jelas Cindy yang masih pening.


"Ah begitu, lo liat surat peraturan permainan gak Cind?" Tanya Baskara, namun fokusnya kini berubah saat melihat Cindy terus menerus memegangi kepalanya.


"Cind, lo gak apa-apa?"


Namun Cindy diam tanpa menjawab apapun, dari tangannya sudah ada surat berisi permainan kedua yang langsung dia serahkan ke Baskara.


Baskara menerima surat itu, tapi dia masih gak bisa mengabaikan rasa sakit yang Cindy rasakan.


Baskara meraih bahu Cindy, "Cind, mau istirahat lebih lama lagi?"


Dan di sini Cindy mulai bereaksi, "gak apa-apa Bas, kamu fokus baca surat peraturan aja. Aku cuma sakit kepala biasa." Jawab Cindy pada akhirnya.


"Serius?" Tapi Baskara masih perlu memastikan.


Cindy melempar senyum, "iya."


Karena takut Cindy juga kedinginan, Baskara seketika melepas jas, kemudian ia selimuti tubuh Cindy yang cuma memakai dress minim itu dengan jasnya.


"Istirahat sebentar, gue mau baca surat ini di luar sekalian ngelihat keadaan sekitar." Ucap Baskara. Cindy hanya tertegun tak bisa berkata apa-apa lagi.


...***...


04 membuka mata dengan rasa jengkel.


Dia tersadar dengan kondisi dimana sedang dipeluk oleh 03 begitu eratnya.


"Si bangs*t cabul ini benar-benar lahir tanpa etika."


"Tapi tunggu, kenapa ini bukan di kamar? Apa yang terjadi?" Ucap 04 dalam hatinya. Dia segera melepas pelukan 03 dan bangkit pergi ke luar tenda.


"Hah? Hutan..." Setelah menyadari akan hal itu, dia bergegas masuk lagi ke dalam tenda untuk melihat perlengkapan.


"Sial, kenapa cuma ada ini?!" Katanya geram.


Saking gak percayanya, 04 sampai menggeledah seisi tenda yang padahal bisa terlihat sangat jelas kalau sama sekali gak ada apa-apa selain barang wajib mereka.

__ADS_1


"Bangs*t, makin lama makin anj*ng juga Sentrifugal sialan ini." Dengan cepat 04 menyambar sepucuk surat peraturan permainan yang tadi tergeletak di sampingnya.


Setelah membaca keseluruhan isi peraturan, dan melihat map, dia makin murka!


"ANJ*NG JAUH BANGET BANGS***TTT!!!"


Karena emosinya yang meluap inilah makanya dia langsung menginjak burung 03 dengan kencangnya!


"BANGUN B*BI!"


*BUAAAGH!


03 langsung bangkit dari mimpinya.


"IHIIIK!!!" Dia meringis karena ngilu.


"Bangun, kita udah ada di lokasi permainan kedua."


"GILA YA?! JANGAN DIINJAK PAS LAGI BANGUN!"


"Ya siapa suruh bangun terus!"


"Lelaki sejati itu burungnya—"


Belum sempat 03 menyelesaikan kata-katanya, 04 langssung menampar muka 03 dengan surat peraturan permainan.


"BACA NIH!"


*PLAAAK!


...***...


"Selamat datang, VIP Kelly."


Kelly menyesap rokoknya yang sebentar lagi akan padam, dia berjalan dengan santainya di lorong yang menghubungkan pintu masuk penjaga ke ruang tahanan para player yang belum dipulangkan.


Suara langkah sepatunya menggema ke seantero ruangan, dia kini semakin dekat dengan kedua orang player yang tengah pingsan akibat obat bius.


Kedua player itu adalah 07, dan 08.


Atau nama asli mereka, Enzo Mateo, dan Ivan Zoya.


Kelly menyundutkan rokoknya ke lengan Enzo, *psshhh


Kaget bercampur perih, Enzo meronta sekeras mungkin sampai-sampai Ivan juga terbangun.


"UAAAKKKHHH!!!"


"Berisik tol*l, baru disundut begitu aja udah teriak kayak disunat lo, b*go." Ucap Kelly sambil menampar pipi Enzo!


*PLAAAK!


"Lo juga bangun anj*ng!" Tamparan kedua langsung mendarat ke pipi Ivan.


*PLAAAK!


"Lo siapa bangs*t! Sakit t*i!" Bentak Enzo.


Kelly yang udah sensi, sekarang makin sensi lagi.

__ADS_1


"Gue malaikat pencabut nyawa lo bangs*t!" Kelly kali ini udah gak pakai tamparan lagi, kepalan tinjunya sekarang melesat cepaaat menuju rahang Enzo!


*BUAAAGGGHHH!!!


Sampai Enzo kembali pingsan.


Sekarang sorotan mata Kelly berpindah menuju Ivan yang memiliki respon berbeda dengan Enzo.


"Ampun, maaf maaf... Gue gak akan bicara sembarangan, tolong." Ringisnya ketakutan, di hadapan Kelly seolah-olah dia cuma seekor tikus kecil yang sedang diterkam elang beringas dari puncak gunung.


Emosi Kelly menurun.


"Oh bagus, masih ada yang tau diri."


"Biarin gue hidup, gue mohon. Gue cuma mau segera pulang dari tempat ini." Pinta Ivan dengan nada bicara yang parau benar-benar pasrah gak bisa berbuat apa-apa lagi.


Kelly mulai tertawa kecil, dia merasa terhibur karena kepasrahan Ivan.


"Manusia, manusia... Selalu begini kalau udah tau sebentar lagi bakalan mati." Ucap Kelly enteng.


Ivan makin gemetar, "tolong jangan, tolong, saya mohon, tolong jangan." Dia sampai tersujud di depan Kelly sambil menangis.


Kelly gak kuasa menahan tawa.


"BHAHAHA!!!"


Dia tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit, "lucu banget bangs*at. Tadi masih ngomong elo-gue sekarang udah pake saya, nangis lagi anj*ng. A HA HA AHAHAHA anj*ng perut gue sakit banget t*i."


Kelly makin cekikikan, suara tawanya beradu besar dengan suara isak tangisnya Ivan.


Terus menerus begitu sampai Kelly udah kehabisan tenaga untuk tertawa.


"Cup cup cup... Masa cowok nangis sampai sebegininya sih, di depan cewek lagi. Malu tau." Kelly mengelus-elus kepala Ivan.


"Tolong, tolong saya masih mau hidup, saya akan ngelakuin apapun asalkan masih bisa selamat keluar dari tempat ini." Isak Ivan masih berlanjut.


"Iya iya, lo gue biarin hidup kok. Tapi ada syaratnya."


Kepala Ivan langsung terangkat dan menatap ke arah Kelly begitu seriusnya.


"Saya siap!"


Segurat senyum jahat terukir lagi dari wajah Kelly.


"Menggonggong."


"Woof!"


"Terus."


"Woof! Woof! Woof!"


"TERUUUS!!!"


Ivan membuang sisi kemanusiaannya di hadapan Iblis. Demi mendapat jaminan hidup, kini dia menjadi hewan peliharaan Kelly.


"WOOF! WOOF! WOOF! WOOF! WOOF! WOOF! WOOF!"


"AHAHAHAHA!!!"

__ADS_1


__ADS_2