Sentrifugal

Sentrifugal
Eps. 25: Betting


__ADS_3

Gak seperti dugaan kami, ternyata malam lebih cepat tiba saat gue dan Vivi masih berada di jalan menuju tenda. Kami berdua berusaha terus menerus melangkah menelusuri hutan bermodalkan peta yang sebagian masih basah karena air sungai tadi.


Suasana hutan mulai mencekam saat para hewan nokturnal bermunculan memulai aktivitas mereka masing-masing, kami juga gak punya pencahayaan sama sekali di sini, segalanya betul-betul gelap gulita dan jalannya pun susah ditebak.


"Kayaknya kita harus cari tempat luas untuk istirahat deh Ram, terlalu bahaya buat kita telusuri hutan malam-malam begini." Usul Vivi yang juga sudah kelelahan.


Gak ada jalan lain, akhirnya gue pun menyetujui saran Vivi untuk beristirahat sejenak di bawah pohon rindang yang kami rasa lokasinya aman.


"Lo ngantuk Vi?" Tanya gue.


"Enggak sama sekali, kalo lo?" Balas Vivi.


"Enggak juga, saking takutnya gue sampe lupa kalau manusia butuh tidur." Jawab gue sekenanya.


"Sama, gue takut ada yang berkeliaran di sekeliling kita." Vivi duduk makin mendekat ke arah gue.


"Vi..." Panggil gue.


"Apa?"


"Kira-kira harimau bisa ngendus bau keringat kita gak ya?"


Vivi langsung mengendus aroma tubuhnya sendiri, "ah sial, kayaknya kalo gue jadi harimau, gue bakalan langsung sadar sih."


Gue makin was-was, "semoga pada pilek deh harimaunya." Lanjut gue asal.


Vivi mendengus, "lah bisa gitu."


Dan untuk setelahnya, kami berdua cuma bisa duduk diam sambil memasang telinga secara seksama agar terus waspada akan hal apapun yang ada di sekitaran tubuh kami.


Sampai pada suatu ketika...


Gue melihat ada cahaya aneh berpendar dari balik pohon besar lainnya di hadapan gue dan Vivi, tapi di sini Vivi sama sekali gak sadar karena dia sambil menutup kedua matanya.


Akhirnya gue menggoyangkan bahu Vivi.


"Apaan?" Kata Vivi, gue pun menunjuk cahaya yang berpendar itu. "Itu ada cahaya." Ucap gue.


Vivi kaget, dia reflex berdiri dari duduknya sampai menimbulkan suara gesekan ke semak-semak, dan tiba-tiba cahaya yang tadinya berjalan dari sisi kanan ke kiri kami itu berhenti bergerak.


"Gue rasa itu player lain Vi."


Vivi makin penasaran, "siapa tau itu Baskara dan Cindy?!"


"Bisa juga bukan loh." Ucap gue.


"Kita cek yuk! Mereka juga sadar sama keberadaan kita tuh." Vivi pun berjalan dan menghampiri sumber cahaya tadi, gue pun langsung gelagapan. "Vi! Hei!"


Mau gak mau gue pun menyusul Vivi, dan setelah kami melewati pohon yang menghalangi cahaya itu, kami terdiam untuk beberapa saat karena tak percaya dengan siapa kami bertemu.


"Bagus, kirain siapa, ternyata duo gelandangan." Ujar 02 dengan sinis.


"Eh... Hai, hehe." Vivi cuma tertawa pasrah.


01 melirik tajam tanpa berkata apapun.


"Kalian arah mau balik ke tenda?" Tanya gue mencoba mencairkan suasana.


"Kalau iya terus kenapa?" Tembak 02.


Dan gue langsung berkata terus terang, "kami kelamaan istirahat pas cari ransum, jadi kejebak di sini, kalau boleh kami mau numpang cahaya sampai ke arah dekat tenda kami." Jelas gue.

__ADS_1


02 melempar tanya ke 01, "bagaimana?" Ucapnya.


01 mulai membalikkan badannya, dia terus menyorot ke arah gue, kemudian setelah itu dengan entengnya dia memberi perintah ke 02, "hajar dia sekali pukul, kau masih sadar dia boleh ikut kita."


Tapi di sini Vivi gak terima sama sekali, dia langsung maju menghadap 01. "Apa-apaan lo!?" Bentaknya. Namun gue segera menahan Vivi dan menarik tangannya kembali ke belakang. "Gak apa-apa Vi." Gue pun memasang wajah serius, Vivi menahan langkah gue lagi, "Rama lo lupa mereka siapa?!"


Gue menatap Vivi dengan tenang, "sekarang yang terpenting itu keamanan kita, biarpun harus dipukul, asalkan kita aman untuk beberapa waktu, itu hal yang setimpal menurut gue."


Vivi terpaku tak bisa berkata apa-apa lagi, dalam hatinya, "sial, dia udah masuk mode permen karet."


Benar, saat Vivi lebih dulu menyapa 01 dan 02, gue lagi buka bungkus permen karet dari belakang.


"Gila ya, aura lo berubah, lo dari yang tadinya penakut jadi pemberani cuma gara-gara permen karet? unik juga lo. Gak sangka gue."


02 berdiri di harapan gue yang cuma menatap dia dengan mata sendu dan penuh gagah berani.


"Pukul. Tapi ingat kesepakatan lo." Ucap gue penuh percaya diri.


02 mulai menanggapi gue dengan serius "Oke, rapatkan gigi-gigi lo."


"Ram!" Panggil Vivi.


"Lo bisa diem gak? Sialan, berisik banget." Ujar 01, raut wajahnya murka bukan main.


Vivi hanya bisa mengepalkan tangan dengan geram, dia gak bisa menghalau lagi karena itu udah jadi keputusan gue.


02 pun memasang kuda-kuda mantap sementara gue juga udah menyiapkan kepala yang siap dihajar. Entah apa yang terjadi di dalam diri gue, tapi gue merasa akan lebih baik begini daripada kami harus menerima kemungkinan lain yang jauh lebih mengerikan di dalam hutan.


Lagi pula, pukulan manusia itu sesakit apa sih?


Itu asumsi pertama gue yang harusnya gak pernah terlintas di kepala ini.


Segalanya terasa cepat, dan bahkan gue gak sadar kapan tinju 02 sudah mendarat di wajah gue... Tiba-tiba saja tubuh gue terpental dengan rasa perih yang membakar di sekujur wajah, juga sakit yang luar biasa di leher, pandangan gue buyar dan hampir menghitam.


Anehnya, biarpun segalanya terasa sangat cepat, entah kenapa otak gue memproses rasa sakit ini begitu lambat sampai-sampai gue merasa kalau kecepatan realita udah gak normal lagi, ada darah yang melayang di depan wajah gue, jelas betul kalau itu adalah darah yang keluar dari mulut dan hidung gue.


Sakit.


Demi apapun. Sakit banget.


Adegan selanjutnya adalah ketika badan gue terputar, kemudian menghantam tanah ditarik oleh gravitasi hingga ambruk gak tersisa.


*BRUGH!


Pening, juga berdengung...


Satu-satunya suara yang bisa gue dengar adalah suara berfrekuensi tipis yang keluar dari mulut Vivi, dia terus memanggil nama gue seraya menepuk-nepuk pipi ini.


Hingga beberapa menit kemudian...


Roh gue seolah-olah kembali lagi ke raganya.


Gue mulai bisa mengatur napas!


*Hosh... Hosh... Hosh....


"Ram?! Lo gak apa-apa?" Tanya Vivi khawatir, sementara gue hanya bisa menjawab dengan sebuah anggukan kepala.


01 tersenyum tipis.


Begitu pula dengan 02, "siapa sangka survival modenya aktif. Wah, penuh kejutan."

__ADS_1


"Survival mode?" Ujar Vivi.


"Mode yang muncul saat jarak lo dengan kematian cuma setipis tissue." Jawab 02.


"Jadi lo benar-benar punya niat untuk bunuh dia?!" Bentak Vivi makin geram.


02 menghampiri Vivi, "dipukul sekuat tenaga itu ya harus sampai dia gak bisa bangun lagi dong, kalau dia mati itu bukan salah gue." Ucapnya sangat intimidatif.


Vivi gak mampu melempar kata apapun lagi.


Sementara itu, gue yang ternyata gak sampai kehilangan kesadaran mulai mencoba berdiri lagi walau pun pandangan gue masih sangat buyar. Vivi dengan sigap memapah gue, "pelan-pelan." Katanya.


01 bersiap untuk posisi memulai perjalanan lagi, setelah 02 sudah berada di belakangnya, mereka memimpin jalan kami.


Gue yang masih sempoyongan, dengan dibantu Vivi berjalan mengikuti iringan mereka.


...***...


Saat hari semakin larut, dari ruangan monitor hanya tersisa dua VIP, yaitu Yohan dan Grace.


"Cuma ada beberapa manusia yang mampu mengendalikan seratus persen kemampuan pikiran mereka. Setelah melihat 10 bisa bertahan dari pukulan 02, sekarang gue sadar kenapa lo sangat memperhatikan 10 sejak saat malam perjamuan pertama." Ucap Yohan sembari meminum secangkir kopi.


Grace meregangkan tubuhnya yang kaku karena sedari tadi cuma memperhatikan monitor, *uhh~


"Cuma player favorite season ini, kok." Sanggah Grace kemudian, mencoba menepis dugaan Yohan.


"Tapi kenapa lo terasa memihak dia?" Tanya Yohan kian serius.


Grace melirik Yohan, "gue bertaruh 1 milyar untuk kemenangan 09, dan 10." Jawabnya.


Yohan pun memicingkan matanya, "dengan siapa?"


"Gue." Kelly muncul dari luar ruangan, masih bersama dengan rokok yang menyala dari mulutnya.


"Lo bertaruh ke player mana?" Tanya Yohan lagi.


Tapi kali ini Kelly cuma menyeringai, "kalau mau tau, ikut taruhan juga dong biar gue untung 2 milyar nih, hehe."


Yohan membuang muka, dia gak habis pikir dengan kelakuan Grace dan Kelly.


"Terserah kalian saja. Tapi kalau sampai Game Master tau soal ini, gue gak bisa bantu sama sekali."


"Buat apa juga percaya sama orang yang bahkan kita sama sekali gak pernah ketemu dia." Tepis Kelly.


Mendengar ucapan Kelly, untuk pertama kalinya Yohan menampilkan wajah seriusnya yang ternyata memiliki aura jauh lebih gelap dibandingkan semua VIP disana.


"Hei, jaga ucapan lo, Kelly."


Atmosfer suasana kian lebih menakutkan Kelly rasakan, tubuh Kelly terasa berat, gravitasi seolah-olah sedang menekan kedua kakinya untuk tunduk di hadapan Yohan yang padahal baru memberikan peringatan biasa.


Dari pucuk kepalanya, keringat dingin mulai berdesir ke pipi Kelly.


Kali ini tampak segurat ekspresi puas timbul dari mimik wajah Grace, dia memandangi Kelly seolah-olah seperti sedang memandang anak kecil bodoh yang gak tau caranya melangkah aman untuk hidupnya.


Kelly menggerutu dalam hati, "brengs*k."


Kemudian dia yang gak mau membuang harga dirinya langsung memutar badan dan beranjak pergi dari ruang monitoring begitu angkuhnya.


Grace mendengus.


"Dasar."

__ADS_1


__ADS_2