
"Sungai masih jauh, Ram?" Tanya Vivi.
"Masih jauh Vi." Jawab gue sambil menarik tangan Vivi yang mau naik ke atas bebatuan, *hup!
"Huft... Jauhnya, padahal kita udah jalan satu jam."
"Kita harus lebih khawatir sama harimaunya Vi, jarak gak jadi masalah asalkan kita gak dapat serangan dari apapun."
"Iya sih, Ram."
Oh ya, di rute yang sedang gue dan Vivi jalankan ini adalah salah satu rute yang gue rasa lebih aman meskipun jaraknya agak jauh. Kami tetap harus waspada walau pun harimau jarang banget aktif di siang hari. Dan tanda kalau kami semakin dekat dengan ransum adalah sungai yang dari tadi kami bicarakan.
Sepanjang jalan, gue dan Vivi saling bahu membahu untuk terus melewati berbagai macam rintangan dari hutan ini. Tiap langkah yang kami lewati selalu diselimuti oleh rasa waspada yang berkecamuk.
"Lo baik-baik aja, Ram?" Vivi mengatur kembali napasnya yang sudah sangat memburu.
Gue juga berhenti sejenak karena penglihatan gue mulai pudar, "gak apa-apa Vi, makin cepet kita gerak, makin cepet juga kita sampai."
"Yakin? Lo itu gak makan apa-apa loh kemarin." Vivi masih mencoba memastikan.
"Iya, yuk jalan lagi." Ucap gue selanjutnya.
Vivi pun akhirnya mencoba mempercayai kata-kata gue meskipun ia juga sebetulnya sangat amat khawatir.
...***...
Setelah sakit kepalanya reda, Cindy yang sekarang sudah jauh lebih baik mulai bisa bergerak, dia pergi ke luar untuk menemui Baskara yang ternyata sedang memeriksa sesuatu.
"Kamu lagi apa Bas?" Tanya Cindy, ia mulai melangkah makin mendekati Baskara.
"Kayaknya nasib kita lagi bagus." Jawab Baskara dengan nada senang.
"Hmm? Kenapa?"
Sesuatu yang sedari tadi Baskara periksa pun ia tunjukkan ke hadapan Cindy.
"Ada satu kotak ransum tepat di depan tenda kita, Cind!" Lanjut Baskara bahagia bukan main.
"Ransum? Makanan untuk kita?" Cindy masih belum mengerti maksud Baskara karena dia sama sekali belum membaca isi surat peraturan yang tadi dia berikan ke Baskara.
Baskara tersenyum lebar, kemudian ia memberi surat itu lagi kepada Cindy, "coba lo baca, ini tentang permainan kedua."
Cindy pun membaca isi keseluruhan surat itu, tetapi raut wajah Cindy yang tadinya kebingungan malah berubah menjadi ekspresi ketakutan.
"B-Bas..." Katanya bergetar.
"Iya?" Baskara menoleh ke belakang.
"Tadi, waktu aku bangun, aku gak sengaja dengar suara raungan yang gede banget di sekeliling tenda kita. Aku kira itu cuma halusinasi aku aja, tapi setelah baca surat ini..." Ucapan Cindy terhenti ketika dari sebuah pohon besar di depan mereka, Cindy melihat sesosok ekor harimau yang samar-samar muncul dari balik pohon.
__ADS_1
Baskara mulai sadar.
Cindy memberi kode kepada Baskara dengan menunjuk jarinya ke pohon besar tersebut.
Baskara pun menoleh lagi ke arah yang Cindy tunjukkan.
Ekspresi bahagianya pun seketika sirna. "Si-sial."
"Bas, mundur pelan-pelan, masuk tenda lagi!" Bisik Cindy penuh penekanan.
Baskara mengangguk paham, dia mengambil ransum dari dalam kotak dengan sangat perlahan, kemudian Baskara berjalan lagi menuju tenda bersama Cindy.
Mereka menutup tenda, dan duduk saling berhadapan di dalam tenda.
"Si-sial, Cind. Gue kira kita yang paling beruntung." Ringis Baskara.
Cindy masih berkeringat dingin, dia berkata dengan sangat pelan, "aku rasa dia tidur."
"Harimau itu salah satu hewan yang aktif pas malam, kan?" Tanya Baskara.
Cindy mengangguk, "penciuman mereka juga tajam. Kita gak boleh sembarang buka ransum ini."
Baskara memberi tanda oke, "kita cuma makan ransum ini pas kita lapar aja, sementara bisa terus kita simpan."
Cindy pun setuju dan kini mereka berdua lebih memilih untuk diam, dan mencerna keadaan sekitar sembari memikirkan strategi yang mantap agar bisa bertahan di permainan kali ini.
...***...
Keduanya buta arah.
"Kita udah lewat sini 3 kali loh, kamu serius gak sih?!" Maki 04 kepada 03 yang masih belum sadar diri kalau dia salah jalan.
"Alah, bener kok, lihat, inikan maksudnya kita harus lewat pohon besar, ini lho pohon besarnya!" Tunjuk 03 ke sebuah pohon yang memang sangat besar.
"Terus, dimana ransumnya?!" 04 makin gak sabaran.
"Ya pasti di sini dong! Emosi mulu, aku sikat lagi baru tau rasa!" 03 juga akhirnya mulai sewot.
"Sial!"
Akhirnya dengan rasa emosi masing-masing, mereka pun saling mencari ke berbagai macam sudut di sisi pohon besar itu, mulai dari semak-semak, dahan yang tumbang, hingga rerumputan, semua mereka sibak!
Tapi nyatanya, pencarian mereka nihil.
Hingga pada suatu ketika, 04 melihat ada kejanggalan pada peta yang dipegang 03. Di peta tersebut, 04 melihat ada sesuatu yang tertutup oleh jempol 03.
"Coba lihat petanya." Pinta 04 makin sensitif.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Sini petanya!"
"Emangnya kamu bisa baca peta? Hah?! Lelaki sejati itu—"
"SINI AH LAMA!"
"Dih ngamuk."
04 merebut peta ransum dari tangan 03 begitu cepatnya, kemudian dia mulai melihat secara seksama gambar apa yang tadi tertutup jempol 03.
Setelah menelaah secara singkat, dia mulai paham kalau ternyata mereka harus melewati sungai dulu sebelum tiba di lokasi ransum.
"Lihat nih!" Tunjuk 04 sangat murka, 03 pun mendekatkan kepalanya ke gambar yang 04 tunjukan.
"Itu apa? Air? Tandanya apa?"
"TANDANYA ITU SUNGAI TOL*L!!!" Bentak 04.
"Loh! Tadi gak ada di situ! Beneran, kok sekarang baru ada?!"
"Makanya punya jempol jangan gede-gede!" Maki 04 lagi, tapi 03 cuma tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, ternyata ketutupan, kirain gak ada sama sekali."
"Sialan si b*bi ini." Gerutu 04 dalam hatinya.
Mencoba memulai perjalanan menuju sungai, tiba-tiba saja 03, dan 04 dikejutkan oleh sebuah suara dari sudut hutan yang berbeda.
"Apa itu harimau?" Tanya 03.
"Gak tau, kita harus dekati sumber suara." 04, langsung berjalan cepat meninggalkan 03 menuju sumber suara.
"Tunggu! Kakiku masih sakit nih!" Ringis 03.
Mereka berdua pun kini bersembunyi di sebuah batu besar sembari menunggu suara langkah kaki itu berjalan melewati mereka.
Setelah menunggu, dan menunggu. Akhirnya muncul wujud dari balik suara tersebut.
Dan usul dari suara itu adalah...
"Hei, itu bukannya 09, dan 10?" Ucap 04.
03 menyeringai, "wah, wah, wah, kayaknya mereka mau merebut ransum kita nih."
04 juga menggeram, "kita gak bisa biarkan mereka."
"Ayo."
Sebetulnya, gue dan Vivi juga merasakan hawa kehadiran yang sama dengan yang 03, dan 04 rasakan. Meski begitu, gue cuma memberi kode ke Vivi kalau ternyata ada orang lain yang lagi mengawasi kita saat ini.
__ADS_1
Akhirnya gue pun membuat keputusan, daripada kami malah membawa mereka ke posisi ransum berada, lebih baik kami pancing menjauh supaya bisa kami jebak.
Rencana kami pun dimulai!