
Menangislah jika itu membuatmu tenang..
Menangislah jika itu memberi penyelesaian..
Jadikanlah, air mata sebagai bentuk do'amu pada Tuhan...
_Tanya
Hari mulai sore Tanya baru pulang dari kampus, setelah sampai di rumahnya, rumahnya terlihat sepi, ia memberi salam tidak ada yang menjawab, Bu Kinan tidak nampak di rumahnya, Tanya berpikir mungkin mereka pergi keluar kota dadakan lagi, seperti tahun lalu, ia pun pergi ke kamar tanpa memeriksa seluruh rumah, saat Pak Adam sampai pikiran gadis ini telah salah, kedua orangtuanya tidak pergi keluar kota.
“Tanya!! apakah kamu ada dirumah? Kenapa rumah ini sangat sepi? “Teriak Pak Adam.
Tanya yang mendengar suara Ayahnya, langsung turun dari kamar ia menyangka Bu Kinan pergi dengan Pak Adam, karna sejak sore tadi, Bundanya tidak terlihat, nyatanya Bu Kinan tidak bersama suaminya, merekapun panik lalu menelpon Bu Kinan, tapi suara handphone Bu Kinan terdengar di area Rumah ini.
“Loh, aku kira Ayah sama Bunda pergi keluar kota lagi, dari tadi rumah ini sepi, terus Bunda mana Yah? “
“Bunda!! apa maksud kamu? “ Tanyanya balik.
“Iya, Bunda sama Ayahkan!! soalnya sejak tadi sore sampe malam Bunda tidak terlihat, aku pikir Bunda pergi lagi sama Ayah mangkanya aku tidak telpon. “
“Ayah tidak pergi sama Bunda, orang tadi pagi kamu lihat Bunda sibuk di dapur. “
“terus Bunda kemana? coba aku telpon. “
Tanya menelpon Bu Kinan, namun suara itu tidak jauh dari jarak dia berdiri dan dari kamar Bu Kinan suara itu terdengar,Tanya dan Ayahnya terus mengikuti sumber suara itu yang berasal dari kamar Bu Kinan, setelah di depan pintu kamar, Pak Adam mengetuk pintu.
Tok.. tok.. tok..
“Sayang!! apakah kamu ada di dalam? Tolong buka pintunya! “ Masih tidak ada jawaban, kini giliran Tanya yang mengetuk.
“Bunda, ini Tanya, tolong buka pintunya!!“ Masih tidak ada jawaban.
Tanyapun mencoba membuka pintu itu, namun terkunci mereka semakin khawatir, takut terjadi sesuatu pada Bu Kinan, karna sejak kemarin dia mengobrol dengan Bu Kinan, ia merasa aneh ketika melihat wajah Bu Kinan yang pucat, ia ingin bertanya namun takut.
“Ayah, pintunya terkunci, Tanya takut terjadi sesuatu pada Bunda. “ Ia menunjukan wajahnya yang tegang.
Pak Adam akhirnya, mendobrak pintu kamar dengan sekuat tenaga, dengan usahanya pintu itu terbuka juga, mereka melihat Bu Kinan sudah terbaring di lantai, dengan wajah yang pucat.
“Bunda!! bangun..“ Teriak gadis malang itu sembari memeluk Bundanya.
Dengan gesit mereka membawa Bu Kinan kerumah sakit, Tanya terus menangis, begitupun dengan Pak Adam, yang sangat panik, ia takut terjadi sesuatu pada istrinya.
“Sayang, apa yang terjadi sama kamu? Kamu harus kuat. “Dia menggendong istrinya hingga ke ruang rawat.
“Ayah, aku takut Bunda kenapa-kenapa? Apa mungkin kecelakaan di tahun lalu menyebabkan Bunda sakit lagi Yah? “ Pikiran Tanya sudah ke mana-mana.
“Tanya.. Tanya kamu harus tenang dulu, Ayah yakin Bunda pasti baik-baik saja, sekarng kamu shalat do’ain Bunda, biar cepat sadar. “
Gadis yang sedang merasakan kegundahan ini, pergi ke mushollah untuk melaksanakan shalat.
“Tuhan, kenapa engkau selalu beri kesakitan itu pada Bunda? Kenapa tidak pada diriku saja? aku rela menukar sehatku untuk Bunda, aku rela merasakan sakit itu demi Bunda. Jika terjadi sesuatu pada Bunda, mungkin hatiku masih belum bisa menerimanya. Tolong sembuhkan Bunda yaAllah, hanya engkau yang dapat menyembuhkan. “Tangisnya dalam do'a.
Saat Tanya kembali , Bundanya masih belum sadar dan Dokter sudah keluar dari ruang rawat, Dokterpun memberitahu kondisi Bu Kinan, yang semakin memburuk ini ia memberitahukan segalanya, termasuk penyakit yang sedang di derita Bu Kinan yaitu Kelainan jantung.
__ADS_1
Sudah lama Bu Kinan menderita penyakit ini, namun dia tidak pernah memeriksakannya pada Dokter, hingga kondisinya memburuk.
“Sepertinya istri Bapak sudah mengalami penyakit kelainan jantung ini sudah lama, tapi istri Bapak tidak pernah memeriksakan kondisinya itu lebih lanjut lagi, atau bahkan tidak pernah di ambil serius soal rasa sakitnya itu.“ Ujar Dokter.
“Memang benar Dok, Istri saya tidak pernah mengatakan apapun soal sakitnya itu. “ Ia semakin panik. “Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu sakit? “Ujarnya.
Tanya yang mendengar percakapan keduanya, ia langsung menghampirinya dengan pelan dan berbicarapun terbatah-batah.
“A.. Ayah, apakah benar yang dikatakan Dokter kalau Bunda sakit? *kalau sakitnya itu sangat parah, la... Lalu Bunda bisa sembuh lagikan Dok? Ayo katakan Dokter, Ayah aku enggak mau kehilangan Bunda. “ Cucuran air mata itu sudah hampir membasahi pipi Tanya.
Pak Adam memeluk Tanya sembari menenangkannya. “Tanya, kamu tenang sayang, InsyaAllah Bunda pasti sembuh. “
Suasana semakin tegang, ketika suster memanggil Dokter dengan panik.
“Dokter!! keadaan pasien yang bernama Bu Kinan, semakin buruk detak jantungnya semakin melemah. “
Dokter langsung berlari, dan segera mengambil tindakan sampai detak jantungnya kembali normal lagi, semuanya kembali tenang .
“Bagaimana keadaan Bunda saya Dok? “ Tanyanya.
“Alhamdulillah, semuanya sudah kembali normal, semoga Bu Kinan segera pulih kembali. “ Ujar Dokter.
Tanya masuk keruang rawat, ia membacakan beberapa ayat Al-Qur'an di telinga Ibundanya. Tidak lama sang Bunda sadar, dari masa kritisnya, ia sangat bersyukur dan bahagia karna Allah sudah mendengar do’a nya.
“Ayah!!Bunda sudah sadar. “ ia langsung membuka pintu, dan memberi kabar baik ini, Dokterpun langsung memeriksakan keadaan Bu Kinan.
“Alhamdulillah, Bu Kinan sekarang sudah baik, tapi Bu Kinan tidak boleh kecapean dan harus sering chekup ke Dokter, karna penyakit ini cukup serius. “
“Ada rasa tenang, ada rasa khawatir soal kondisi yang terjadi pada Bunda, aku kira ketakutan ini akan berakhir setelah kecelakaan itu , tetapi rasa takut itu masih berlanjut sampai sekarang, dengan kondisi yang berbeda. “ Ujarnya dalam hati.
“Iya Bun, Tanya yakin Bunda pasti sembuh. “ Dia mengecup kening Bundanya.
Moment haru ini, membuat suaminya Bu Kinan meneteskan air mata, setelah beberapa hari di rawat, akhirnya Bu Kinan di bolehkan pulang ke rumah dengan syarat yang di berikan Dokter, Dokter menyuruh Bu Kinan agar tidak menyepelekan penyakit ini.
Hampir setiap pagi Tanya selalu menyempatkan waktunya pergi ke kamar Bu Kinan untuk melihat kondisinya lebih lanjut dan untuk memberikan obat, gadis berhijab ini tidak ingin Bundanya sampai telat meminum obat.
“Selamat pagi Bundaku yang cantik. “ Sapanya sambil memegang obat dan air minum.
“Selamat pagi juga sayang. “ Sapanya balik.
Tanya pun duduk di samping Bundanya, sambil menyuruh Bundanya minum obat, Pak Adam yang memperhatikan di dekat pintu sambil tersenyum.
“Sekarang Bunda minum obatnya dulu ya. “
Pak Adam, datang menghampiri mereka dengan memberi pelukan hangatnya, dan memberi semangat pada istrinya, agar tetap kuat.
“Sayang, kamu harus kuat ya, aku janji apapun akan aku lakukan untuk kesembuhan kamu. “
“Aahhh.. Udah dong jangan sedih-sedihan, Tanya jadi ikut sedih lagi dan Tanya juga hampir lupa, kalau sekarang aku harus pergi ke toko.” Ia pamit pada orangtuanya.
Sudah beberapa minggu tidak menyapa bunganya, ia tidak datang ke toko, karna kesibukannya, karna masalah yang sudah di hadapinya, hari-hari ini Tanya lebih sering menangis, lebih sering diam dari pada tersenyum. Sampai karyawannya merasa Tanya bukan Tanya yang dulu mereka kenal, ia datang saja tanpa berucap, dia hanya menghampiri bunga kesayangannya yaitu Cinta dan Kekuatan, gadis ini menaruh bunganya di tempat khusus, tempat yang tidak boleh orang lain masuk, kecuali dirinya.
“aku merindukan semua kebahagiaan itu, aku ingin sekali bisa seperti Cinta yang selalu memberikan aroma harum, yang selalu memberikan senyum di mata mereka yang melihat dirinya, dan aku juga ingin seperti kekuatan, karna kamu mampu hidup dimanapun kamu inginkan, engkau kuat meskipun angin menerjang, hingga badai, tapi aku tidak bisa melakukan itu semua, aku lemah, aku lemah. “ Ia menangis di bawah bunga-bunga itu.
__ADS_1
Gadis ini merasa lega saat mencurahkan isi hatinya pada mereka, memang mereka tidak bisa bicara seperti kita, tapi mereka mampu menyembunyikan segala rahasia kita, hoby lama yang di miliki sejak kecil, telah menjadikan ia seseorang yang aneh, tapi dirinya senang melakukan semua hal yang penuh dengan imajinasi.
Gadis ini, meninggalkan tokonya dengan mata sembab, sekuat apapun dia menyembunyikan itu dari dunia, tetap saja sedih itu akan terlihat, bahkan ketika ia berjumpa dengan Satria di kampusnya, ia mencoba menyembunyikan itu, tapi Satria tidak bisa tertipu.
“Tan, kenapa mata kamu sembab? Kamu abis nangis! “
“Haa... Maaf aku tidak dengar, kamu bicara apa? “ Ia pura-pura tidak mendengarnya.
“Kenapa mata kamu sembab? “ Tanya lagi Satria.
“Oh, ini semalem itu aku kurang tidur. “
“Yakin, aku rasa kamu sedang berbohong, karna matamu tidak hanya sembab, namun ada sesuatu yang sedang kamu bendung dari matamu itu, kamu tidak perlu membohongiku Tan. “ Ujarnya.
Akhirnya, Tanya menceritakan semuanya pada Satria, Pria inipun mendengarkan ceritanya dengan baik, sehingga Satria ikut merasakan kesedihannya, meskipun kini masih menjalani masa ta'aruf, Satria sangat perduli pada keluarga Tanya.
“Tan, kenapa kamu baru kasih tahu soal sakit yang di derita Bunda kamu? “
“Maafin aku Sat, aku tidak ingin mereka yang mendengarkan ceritaku ini menjadi kasihan padaku, lagi pula aku tidak terlalu suka cerita sama orang terlalu sering. “ Jawabnya.
Terbelenggu diam itu yang sedang di lakukan pemuda ini, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi , ia tidak ingin terlalu banyak bicara, sehingga menimbulkan hal yang tak di inginkan.
“Yasudah, aku pergi kuliah dulu ya, kalau sesutu terjadi tolong kabarin aku. “ Satria pergi ke kampusnya.
Saat di depan orangtuanya, Tanya belajar tegar, belajar untuk tidak menangis, sedangkan saat di luar ia sekarng banyak diamnya. Retno yang melihat temannya diam, ia bertanya.
“Tan, tumben kamu banyak diamnya hari-hari ini! Kenapa sih? “ Tanya Retno.
“Enggak apa-apa kok Ret, aku cuman sedikit tidak enak badan saja. “ Jawabnya.
“Kamu sakit? Yasudah kamu tidak perlu ikut materi ini dulu, biar nanti gue yang catetin, mending sekarang kamu ke UKS. “Retno menyuruh Tanya istirahat di ruang UKS.
“Tidak perlu, paling sebentar lagi juga sembuh. “Dia menolak.
Retno, tidak bisa berbuat apa-apa lagi, meskipun temannya itu tidak terlihat fokus saat materi di mulai, ia sering menegur Tanya dengan suara pelan, karna Tanya sesekali melamun.
“Tan, kamu baik-baik sajakan! Kalau kamu terus melamun kayak gini, nanti yang ada semua materi ketinggalan, ayo Tan fokus!“Ujar Retno.
Materi selesai di bahas, Tanya pergi untuk melaksanakan shalat ashar, ia mengajak temannya Retno.
“Retno, kita shalat ashar dulu yuk. “Ajaknya.
Mereka berdua, melaksanakan shalat ashar bersama, saat masuk ke musholah Tanya melihat Bara sedang shalat, ia bersyukur sebab Bara sudah benar-benar berubah, jika bukan karna hidayah Allah, mungkin Bara masih melakukan hal yang tidak elok lagi.
Saat Tanya keluar dari musholah, dia bertemu dengan Bara, Bara pun menyapanya dengan salam.
“Assalamu'alaikum.” Sapanya lalu pergi sembari senyum.
“Wa'alaikumsalam.”Jawab Tanya dengan pelan, lalu melihat ke arah Bara.“MasyaAllah, sekarang dia bisa menjaga pandangannya juga. “ ia mengagumi perubahan Bara.
Tidak ada kata terlambat bagi mereka yang ingin berubah..
Pasti akan ada kesempatan bagi mereka yang ingin berubah.
__ADS_1
_Tanya