Separuh Sayap Yang Hilang

Separuh Sayap Yang Hilang
2. Meninggalkan desa tercinta


__ADS_3

Perpindahan yang sering di lakukan oleh keluarga Tanya telah membuat putrinya merasa sedih. Dia merasa berat hati untuk meninggalkan desa tercintanya ini, karena beberapa proyek di kota harus di kerjakan Pak Adam, terpaksa mereka harus pindah rumah lagi.


“Ayah, apakah hari ini kita harus pindah rumah lagi? Pokoknya jika kita pindah rumah lagi disana harus ada tumbuhannya.”Ujar gadis itu.


“Iya sayang, hari ini kita akan pindah lagi dan Ayah sudah siapkan tumbuhan kesukaan kamu disana.“Jawab Pak Adam dengan senyum di bibirnya, sambil memegang pundak Tanya.


“Ayah, enggak bohongi akukan! “ Katanya sambil menatap Pak Adam.


“Tidak dong, masa Ayah bohong sama Putri Ayah sendiri. “


Gadis itu merasa senang, setelah mendengar jika rumahnya disana telah di penuhi tumbuhan. Kehidupan di kota dan di Desa pasti akan ada perbedaannya dari cari bicaranya ataupun dari penampilannya, bahkan dari cuacanya sendiri.


“Baiklah, semoga aku betah disana. “ Katanya sembari mengangkat bahunya sedikit.


Merekapun membereskan semua barang-barang yang mau di bawa ketempat tinggal baru, Tanya tidak lupa untuk membawa Bombom kura-kura kesayangannya. Pak Adam ataupun Bu Kinan selalu tertawa ketika gadis kecilnya berbicara dengan peliharaannya itu.


“Bom, semoga kamu betah di rumah baru itu .” gadis itu terus membuat kerutan pada wajahnya.


“Tanya, gadis kecil Bunda jangan sedih, kalau kamu sedih nanti Bombom ya ikut sedih juga.“Bu Kinan terus menghibur putrinya, tapi gadisnya itu masih belum juga terhibur.


Pak Adam dan Bu Kinan sudah naik ke mobil, sedangkan Tanya masih berdiri menatap rumahnya, dan masih menatap semua keindahan pada desa ini.


Selamat tinggal desaku yang menyejukan,


Banyak kenangan yang aku tinggalkan,


Banyak kisah yang sudah aku buat,


Suka dukaku lalui disini.


“Tanya! Ayo naik, nanti Ayah tinggalin kamu disini sendirian, kamu mau? “ Ujar Pak Adam sambil menyalahkan klakson mobil, menyuruh Tanya segera masuk kedalam mobil.


“Iya, Yah, Tanya segera naik.”gadis ini terus memandang desanya dari kaca mobil, ia berharap semoga kelak dia bisa berkunjung kembali ke desa ini.


Ketika mobil di jalankan, gadis itu terus memandang desanya dengan membuka kaca mobil. Gadis yang sering mengikat rambutnya ini benar-benar sedih, sesekali ia menundukan wajahnya sembari mengusap kura-kuranya. Saat perjalanan yang cukup membosankan ini, Tanya merasa perutnya sudah memanggil untuk meminta asupan.


“Ayah!! Kita berhenti dulu yuk,Tanya sudah dapat panggilan nih. “ katanya pada Ayahnya, sambil menepuk perlahan bahunya.


“Maksud kamu panggilan alam!! Atau panggilan apa? “ tanya Pak Adam.


“Bukan panggilan alam Yah, tapi panggilan dari perut aku. “ jawab gadis itu sambil cengengesan.


“Oh, jadi putri Ayah laper. “ Pak Adam baru memahami perkataan anaknya ini.


Pak Adam menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan mencari warteg. Akhirnya mereka menemukan makanan kesukaan Tanya, yaitu sayur asam, ikan asin dan sambal terasi.


Setelah makan, merekapun melanjutkan perjalanannya lagi. Pak Adam masih sempat-sempatnya membohongi putrinya sendiri, Pak Adam bilang pada putrinya jika perjalananya masih memakan waktu 5 jam lagi.

__ADS_1


"What? Lima jam lagi. " Gadis itu menepok jidatnya dan menempelkan punggungnya di bangku mobil.


Kejahilan Pak Adam pada putrinya, telah membuat dirinya tersenyum sendiri. Ketika melihat ekpresi kebosenan Tanya.


"Akhirnya, kita sampe juga! "


"Kita sudah sampe Yah? " tanya gadis itu.


"Iya, kita sudah sampe dan ini rumah baru kita." Jawab Pak Adam sambil tersenyum.


"Berarti tadi Ayah bohongi Tanya. "


"Iya." Senyumnya lagi.


"Ayah ini! " Gadis itu kesal.


"Jangan cemberut makin jelek. " Ledek Pak Adam.


"Biarin aku di panggil jelek juga, sing penting Bunda sayang. Benarkan Bun?! "


"Iya sayang, kamu kesayangan Bunda!! "


"Sudah jangan banyak bicara, cepat rapihkan semua barang-barang ini. " Suruh Bu Kinan.


"Barangnya terlalu banyak Bunda, Tanya pusing bawanya. " Keluh Tanya.


"Jangan keseringan mengeluh tidak baik." Ujar Bu Kinan.


Gadis itu pun membawa barang-barang pribadinya dan menaruhnya ke kamar, gadis itu harus melalui anak tangga sekitar 50 kurang sedikit. Hingga akhirnya gadis itu mampu melakukannya dengan baik, Tanya senang setelah melihat kamarnya yang sangat indah, karna banyak tumbuhan kaktus dan bunga mawar dari gambar wallpaper.


Tidak lama Bu Kinan masuk ke kamar Tanya.


“Gimana sayang kamarnya indahkan? “ tanyanya sambil melirik ke seluruh kamar.


“Iya Bun sangat indah, ternyata kali ini Ayah benar. “jawabnya sembari merapihkan buku-buku.


Bu Kinan tersenyum, lalu menghampiri putrinya dan duduk bersama di atas kasur.


“Hari ini pasti kamu lelah, badan kamu juga pasti pada sakit.“ katanya.


“Iya nih Bunda, semua badan Tanya sakit. “ Tanya melihat Bu Kinan seperti orang yang tidak merasa cape sedikitpun, ia rela pergi ke kamar putrinya hanya untuk melihat keadaannya semata, gadis ini malu pada dirinya sendiri yang masih ke kanakan itu.


“Sini, biar Bunda pijati kamu ya. “ Bu Kinan langsung mengambil kakinya, lalu memijatnya.


“Tidak perlu Bunda, mending Bunda aja yang Tanya pijat.“Tanya merasa tidak nyaman dengan sikap Bu Kinan, seharusnya yang memijat lebih dulu dirinya, namun ini berbalik.


“Sudah diam saja kamu, nanti kita gantian.“Ucap Bu Kinan, yang sangat menyayangi putrinya itu sembari menahan kakinya.

__ADS_1


Pada akhirnya, mereka saling pijat. Tanya berharap ini kali terakhir dia pindah rumah.


“Bunda, semoga aja ini adalah hari terakhir kita pindah rumah ya.“ ujarnya pada Bu Kinan dengan harapan Ayahnya tidak lagi di tugaskan keluar kota terlalu lama.


“Aamiin, semoga saja sayang, sudah sekarang kamu tidur jangan sedih-sedihan mulu. “


Seusai shalat subuh, Tanya pergi ke perkebunan kecilnya di samping rumah yang sudah di penuhi tumbuhan. Gadis itupun menyiram semua bunga kesayangannya bersama Bombom.


"Bom, semoga kamu suka sama dunia baru ini!"


Sedang asyik bermain, Tanya di panggil Bu Kinan.


“Tanya!! Ayo sarapan dulu.”


“Iya Bunda, Tanya datang.”Sahutnya.


Saat di meja makan, Bu Kinan dan Pak Adam mengobrolkan sesuatu tentang masa depannya, mereka ingin putri mereka masuk sekolah umum seperti anak-anak lainnya, karna sejak kecil Tanya selalu homeschooling, dia belum pernah merasakan sekolah seperti biasanya.


"Tanya, Ayah mau daftarkan kamu ke sekolahan umum. "


Orangtua Tanya ingin mendaftarkan putrinya ke sekolahan umum, mereka merasa selama ini telah membuat putrinya kurang bersosialisasi, karna selama ini gadis itu selalu belajar di rumah sampai umurnya 17 tahun.


"Terserah Ayah sama Bunda saja, karna hanya Ayah dan Bunda saja yang tahu mana yang terbaik buat Tanya." Ujarnya.


Mereka pun memeluk putri kecilnya itu dengan penuh cinta, dan melanjutkan sarapannya.


Selintas Tanya merasa khawatir dengan sekolah barunya itu, ia khawatir jika semua hal yang baru itu tidak mengasyikan. Daripada Tanya pusing memikirkan hal yang baru, ia menghampiri Bu Kinan yang sedang memasak.


“Hallo Bunda.. “ Sapanya.


“Hallo juga sayang, tumben kamu mau ke dapur." Sapa balik Bu Kinan.


“Iya nih Bun, daripada aku enggak ngapain-ngapain mending bantuin Bunda masak.”


Dia, membantu Bu Kinan memasak walaupun hanya mengiris bawang, Bu Kinan jago sekali memasak, masakannya lezat udah kayak chef-chef yang ada di televisi, tangannya begitu lihai bagaikan halilintar cepat dan gesit.


“Bun, aku mau deh jago masak kayak Bunda. “


“Yakin! Kamu mau kayak Bunda jago masaknya. “


“Yakinlah Bun, biar nanti suami aku betah dirumah, kayak Ayah. “ ia sedikit menghalu, biar keadaan di dapur tidak membosankan.


“Dasar, kamu ini masih kecil udah ngomongin suami." Bu Kinan mengacak rambut Tanya.


“Biarin.” dia, tertawa kecil sambil mengiris bawang.


Senja mulai menampakan keindahannya pada semesta, yang menandakan hari sudah sore.

__ADS_1


Senja kau mengajarkan ku apa artinya sebuah janji dan bukti.


_ Tanya 🕊


__ADS_2