
Jarum itu langsung mengejarku menembus hanfu menusuk kulit. "Akh." Erangku. Darah mengalir membanjiri pasir yang kupijak.
Aku terduduk lemah. "Bagaimana Li Huang? Apa sekarang kamu menyerah?"
Aku meludah. "Jangan mimpi!"
"Kalau begitu aku akan membuatmu semakin menderita." Ujar Yuan mengacungkan tangan cahaya kemerahan muncul.
Mataku menyipit. Aura dingin menguar ke sekeliling. Panasnya gurun pun padam seketika. Lalu tiba tiba jantungku seakan berhenti berdetak. Rasa sakit mendera tubuh. Jejak pasir ditubuhku menusuk kulit. Aku menjerit kesakitan.
"Darah campuran sepertimu pantas untuk disiksa." Aku terkekeh membuat Yuan bingung dahinya berkerut.
"Yuan jangan salahkan aku jika kamu akan tewas di tangan ku." Aku memejamkan mata fokus menyatukan kedua kekuatan menjadi satu.
Aku tidak pernah melakukannya tapi ini merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan ini hanya bisa digunakan saat aku terdesak. Dengan perantara pedang suzaku.
Cahaya kebiruan dan kemerahan menyatu kedalam pedang suzaku. Aku membuka mata pedang suzaku berubah menjadi semerah darah. Sepasang sayap keemasan mencuat. Bulu bulu bertebangan di angkasa.
"Sekarang kamu akan tau kekuatan sebenarnya seorang darah campuran." Ujarku membuat Yuan bergidik ngeri. Aku merangsek maju mengayunkan pedang ke arah Yuan.
Yuan berkelit aku menyeringai melemparkan pedang suzaku ke arahnya. "Hong Long Xiexian," Yuan bergeser aku menyeringai pedang itu berputar kembali mengejarnya.
JLEB!
Pedang itu menusuk Yuan tepat di jantungnya. "Bagaimana bisa.." Aku menghampirinya tersenyum samar.
"Yuan,ada satu hal yang perlu kamu ingat. Jangan pernah meremehkan kekuatan lawan."
"Heh, panglima tertinggi menasihatiku. Padahal kamu sendiri adalah seorang pembohong. Tapi,kamu akan menyesal sudah membunuhku. Dan semua rahasia mu akan terbongka." Yuan memandang ku nanar aku mencabut pedang.
Mata Yuan terpejam jatuh terkulai. BUM! Suara ledakan memekakkan telinga terdengar. Aku menoleh melihat kak Wuqing yang berusaha mengalahkan gerombolan Jiangshi.
Aku melesat terbang di antara mereka. Aku mengacungkan tangan membentuk tameng. "Apa kakak baik baik saja?"
__ADS_1
Kak Wuqing menyeka darah yang menempel di sudut bibirnya. "Aku baik baik saja." Salah satu Jiangshi mundur ke belakang. Tamengku menghilang aku mengangkat pedang. Kak Wuqing berdiri dengan susah payah napas nya tersengal. "Ching'er kamu terluka parah. Apa yang terjadi denganmu?" Tanya kak Wuqing khawatir.
"Jangan pikirkan kak. Aku baik baik saja." Jiangshi itu merangsek maju aku mengayunkan pedang. Tubuh Jiangshi pun tercabik cabik.
“Kalau seperti ini kita akan kehabisan tenaga." Rutuk kak Wuqing terus merangsek maju. Pedang di tangannya sudah berlumuran darah.
Napasku tersengal. Darah masih merembes di hanfu. Luka ditubuh masih belum pulih sepenuhnya. Apalagi setelah menggunakan kekuatan tertinggi. Pasti menguras energi di tubuh. “Kak menyingir!” Titahku. Kepala kak Wuqing menoleh sekilas.
“Tidak! Kamu bisa tewas jika menghadapi mereka sendirian. Apa kamu meragukan kekuatanku sebagai dewa?” Hardik kak Wuqing berang. Aku terdiam menghela napas.
“Tak bisakah aku menghabisi mereka?” Tanyaku mengacungkan pedang. Kak Wuqing melirik lalu berdecih.
“Kamu gila." Ucap kak Wuqing melompat mundur. Lalu dalam sekali ayun Jiangshi hancur lebur. Tampak api kebiruan berkobar melahap mereka hingga berubah jadi abu. Aku menarik napas menatap hamparan pasir yang kosong. Tubuhku ambruk jatuh ke tumpukan pasir. Bahu naik turun dengan napas memburu.
"Tuan! Tuan! Tuan!" Pasukanku mendekati kami. Mereka tampak panik Zhang Chagyi membungkuk hormat. "Maafkan atas kelalaian kami tuan!" Ujar mereka serempak.
"Kalian semua.." Aku menahan kak Wuqing yang meringis kesakitan. Segera aku berdiri menatap mereka.
"Lalu,tuan sendiri?" Aku melirik kak Wuqing tersenyum.
"Aku harus pulang." Aku Wuqing tersenyum sumringah dia langsung menggandeng tanganku.
"Akhirnya,kamu pulang." Ujarnya senang.
"Baiklah tuan jika itu perintah anda. Kami semua undur diri. Terima kasih tuan Li Huang." Kak Wuqing bengong.
"Li Huang?" Aku menyikut lengannya kak Wuqing terdiam.
"Kalian semua hati hati di jalan. Selamat tinggal." Mereka membungkuk lalu berangkat pergi menaiki kuda. Suara derap langkah kuda terdengar jauh. Sekilas Zhang Chagyi menatapku sebelum pergi. Aku menghela napas.
Hari sudah sore kami memutuskan untuk pulang. Setelah memastikan hutan sepi kak Wuqing pun berubah wujud. Suara lengkingan burung phoenix terdengar membahana. Kak Wuqing melirikku. "Ayo Li Huang." Aku pun naik ke punggungnya. Dalam sekejap kami pun melesat ke angkasa.
....
__ADS_1
Aku memandang keluar jendela sudah tiga hari aku tinggal disini. Menatap keramaian di luar sana. Hilir mudik kesibukan istana langit tak pernah usai. Ada saja yang dikerjakan oleh penduduk kerajaan langit. Suara ketukan pintu terdengar aku melangkah membuka pintu.
Seorang dayang membawakan beberapa obat. "Letakkan disana." Dia mengangguk melangkah masuk meletakkan nya di atas meja dekat ranjang.
"Selamat pagi putri Ching'er." Aku menoleh seorang pria berusia 31 tahun surai yang kelabu dan iris biru safir menyunggingkan senyum. Aku mengangguk. "Putri,bagaimana keadaanmu? Apakah kamu sudah minum obat?" Aku mendengus dia terkekeh. "Putri,anda tak boleh bersikap seperti itu. Jangan lupa kekuatan anda sudah menguras tenaga."
"Baiklah,aku akan minum obat." Aku melangkah malas. Dia tersenyum mengikuti duduk di dekatku. "Anming,sejak kapan kamu menjadi tabib?" Anming terdiam dia berpikir sejenak.
"Mungkin... sejak saya kecil." Dia tersenyum lebar. "Lalu,putri sendiri sejak kapan menjadi seorang prajurit?" Gerakanku meneguk obat terhenti. Kutatap lekat manik safir miliknya.
"Sejak usia ku 12 tahun.” Anming terperangah.
"Apakah anda tidak takut dengan kematian?" Aku menggeleng.
"Justru aku menginginkan kematian." Anming menghela napas pelan. Matanya menatapku iba. Kuhabiskan semangkuk obat tandas. Meski pahit aku harus bertahan demi agar cepat sembuh.
"Putri,ulurkan tangan anda." Dia memeriksa denyut nadi memastikan jika obatnya bekerja. Tapi,seperti kejadian sebelumnya dia menggelengkan kepala pelan.
"Ini sudah obat ke 99 yang kuberikan pada putri. Tapi,luka dalam putri tidak melakukan penyembuhan." Dia terlihat putus asa aku menghembuskan napas.
"Ching'er bagaimana keadaanmu?" Tanya kak Wuqing khawatir. Langkahnya melebar memasuki kamar. Langsung saja Anming berdiri dan menepi. Kak Wuqing mendekati ranjang.
"Seperti sebelumnya." Kak Wuqing menatap Anming galak.
"Hei,apa kamu tidak bisa mengobati adikku dengan benar?" Anming membungkuk ketakutan. Nyalinya menciut dihadapan kak Wuqing. Maklum saja dia adalah putri dewa phoenix sekaligus calon pemilik istana langit.
"Putri,saya sudah berusaha keras tapi obat yang saya berikan tidak juga memberikan khasiat." Kak Wuqing mendekat dia mencekik leher Anming kuat.
"Kak,hentikan." Napas Anming tersengal dia berusaha melepaskan cengkraman kak Wuqing. Kak Wuqing berdecak, dilepaskannya cengkramannya. Anming terjatuh lemas lalu menarik napas dalam. Napas memburu cepat. Dirabanya leher yang terasa sakit.
"Dia bilang padaku akan mengobati mu sampai sembuh tapi.."
"Putri, saya masih ada satu cara." Kami menoleh serempak.
__ADS_1