
Bibi langsung mengayunkan pedang nya ke arahku. Belum sempat aku mengkhawatirkan Do Jian dan pasukan yang sudah memulai pertempuran. Aku langsung menghindar menghilang.
Sebagian Jiangshi sudah kalah namun karena mereka makhluk immortal tentu saja kami kalah akan kekuatan mereka. Pasukan kami juga tak mau kalah mereka terus berjuang.
Aku juga tak tinggal diam meskipun harus melawan bibi. Tapi,apa boleh buat yang salah tetap salah. Biarpun, dia adalah keluarga ku tapi aku juga harus tegakkan kebenaran.
SRAK!
"Ugh!" Bibi tersenyum dia berhasil melukai tubuhku. "Sial!" Padahal aku sudah berubah menjadi Jiangshi masih belum bisa mengimbangi kekuatan bibi.
"Li Shang, walaupun kamu berubah menjadi vampir masih belum bisa mengalahkan ku. Darah campuran seperti mu tidak pantas menjadi anak kakakku. Dasar anak pembawa sial." Ujarnya aku mengigit bibir menatap nya yang terkekeh pelan.
"Bibi,kenapa kamu begitu membenci ku? Apa salah yang telah ku perbuat?" Tanya ku. "Kamu sudah membuat kakakku kehilangan kekuatan dan apa kamu tau apa yang selanjutnya terjadi?" Bibi mengangkat pedang nya aura ini sama dengan milikku.
Aura putih yang pernah kugunakan bertarung. Dalam pedang itu tercium bau darah keturunan murni.
"I-itu.." Ujarku gagap bibi menyeringai. "Kekuatan ibumu." Ujar nya membuat aku merasa ada sesuatu yang janggal.
"Apa maksudmu, bi?" Tanya ku bibi merangsek maju aku segera membuat tameng.
CTAR! PRANG!
Bibi merusak tamengku dengan pedang nya membuat tameng ku pecah. Tak tinggal diam dia langsung menusukku aku menunduk. Mulutku mengeluarkan darah dan jantung ku berhenti berdetak.
Mata ku nanar mendongak melihat wajahnya yang dingin. "Seharusnya,aku membunuh mu sejak dulu. Kalau bukan kakak yang menghalangi..." Dia menggantung kalimat nya tersenyum.
"Ching'er,apa kamu mau tau satu rahasia?" Bibi mendekat ke telinga ku berbisik pelan. "Sewaktu umurmu 7 tahun kami yang menjemput ibu mu sesuai janji. Tapi,apa kamu tidak penasaran tentang kematian ayahmu yang tiba tiba dan jejak ibumu yang menghilang?"
Aku meliriknya yang semakin dalam menancapkan pedangnya ke jantung ku. Samar samar kudengar suara teriakan para pasukan dan juga Do Jian.
__ADS_1
"PUTRI SHUWANG! PUTRI.." Aku memejamkan mata darah masih terus mengalir dari mulutku.
Aku ingat seharusnya kekuatan terlarang tidak kugunakan pada waktu itu. Aku mengerti apa yang akan terjadi kekuatan ku akan berkurang.
Dan,mungkin lebih berbahaya lagi aku bisa tewas. "Kenapa? Apakah suara calon suami mu terlalu berisik? Atau, kalau perlu aku juga melenyapkan nya." Aku membuka mata kulihat bibi mencabut pedangnya meninggalkan ku yang tergeletak.
Sebelum aku kehilangan kesadaran Do Jian dan Lung bertarung habis habisan dan bibi akan menyerang nya.
Bibi muncul di belakang Do Jian mengangkat pedang nya. Do Jian tidak menyadari nya sebelum mata pedang itu mengejar punggung Do Jian. Aku muncul di depan bibi.
SRAK! TES... TES... TES..
"AKH!" Lagi darah ku keluar mengalir membuat tanah yang dipijak dibasahi darah. Do Jian menoleh terkejut aku tersenyum.
"Tak apa aku baik baik saja." Ujarku bibi naik pitam menancapkan lebih dalam. Membuat aku semakin kesakitan.
"Put-putri.." Ujar Do Jian terbata tubuhnya bergetar. Do Jian mengatupkan rahang menendang tubuh Lung. Membuat tubuh Lung kelimpungan. Belum sempat Lung membuat pertahanan. Do Jian muncul di depan Lung membuat nya terperangah.
Melihat Lung yang terluka parah bibi melompat kabur. Tapi, sebuah rantai muncul dari bawah tanah mengikat kaki nya membuat dia jatuh terjerembab.
"ARGH!" Ikatan rantai itu semakin kuat mengikat kakinya. Bibi meronta bahkan dia menggunakan pedang nya melepaskan ikatan tapi nihil. Ikatan rantai nya semakin kuat melukai pergelangan kaki bibi. Bibi meringis kesakitan.
Do Jian dia berlari menemui ku. Aku yang tergeletak tak berdaya karena luka yang kualami. Lagipula,kekuatanku sudah mulai berkurang karena kekuatan terlarang yang digunakan. Napas ku juga sudah mulai tak beraturan.
Do Jian memelukku, menatapku lamat aku bisa melihat matanya berkaca kaca. Perlahan dengan sisa tenaga aku mengusap wajahnya.
"Do Jian,jangan sedih... aku.. baik baik saja." Ujarku Do Jian menggelengkan kepala. "Tidak putri kamu harus segera di bawa ke tempat aman. Aku akan membawamu pergi dari sini." Do Jian mengendong ku. Aku mengenggam erat ujung hanfunya.
"Jangan.. aku masih ingin disini." Aku menggelengkan kepala masih ingin ikut perang. "Putri,kondisi mu tidak memungkinkan untuk ikut perang."
__ADS_1
"Tidak.. Ini semua demi Qia Lian Do. Aku ingin kamu menjadi pemimpin masa depan Qia Lian Do." Ujarku napasku terasa tercekat seperti nya ajal ku sudah dekat.
"Putri,aku tak menginginkan itu semua. Yang kuingin kan hanya satu.. Aku.." Do Jian menghela napas. Aku mengangkat tangan sebuah tameng muncul.
Lung terpental jauh menghantam pohon membuat nya roboh. Do Jian menoleh terkejut melihat Lung yang terkulai.
"Putri.. apa yang sudah kamu lakukan?" Aku menurunkan tangan tubuhku terasa lemas. "UHUK..UHUK..UHUK!" Aku terbatuk mengeluarkan darah. Do Jian panik dia mengguncang tubuhku supaya aku tidak kehilangan kesadaran.
"PUTRI! PUTRI SHUWANG!" Teriaknya aku menyeka darah dari mulutku tersenyum.
"Do Jian.. mendekatlah." Pintaku Do Jian mendekat kedua mata kami bertemu. Aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Bibirnya yang tipis dan iris mata yang sebiru safir. Aku menarik tubuhnya membuat kedua bibir kami bertemu.
Mata Do Jian terbelalak, terkejut dengan perlakuan ku. Do Jian meronta aku menggunakan sihir membuat tubuhnya tak bisa bergerak.
Sihir terakhir yang ku gunakan pada Do Jian. Aku membuat Do Jian menjadi lebih kuat dengan cara seperti ini. Aku memasukkan seluruh kekuatan ku padanya. Aku juga tak peduli apakah Do Jian sanggup menerima nya atau tidak yang penting dia bisa selamat.
Cahaya kegelapan dan kemerahan muncul mengelilingi Do Jian. Perlahan,iris mata Do Jian berubah menjadi merah darah surai nya berubah menjadi putih pucat.
Aku melepaskan nya melihat perubahan Do Jian. "Ma..af." Ujarku lirih Do Jian mengeleng. "Tidak,putri jangan tinggalkan kami." Dia memelukku bahkan aku merasakan air mata nya membasahi pipiku.
"Putri,ku mohon jangan pergi." Mataku terasa berat tubuhku bahkan terasa semakin lemah bahkan untuk bicara saja aku sudah kesusahan.
"Do.. Jian.. aku.. aku.. minta maaf atas.. segalanya.. aku.. men.." Suaraku tercekat napasku tersengal. Kekuatan yang ku gunakan sudah kuberikan pada Do Jian.
"PUTRI SHUWANG!" Do Jian mengguncang tubuhku. "Putri kumohon jangan pergi." Aku melihat bibi yang masih terikat dan Lung yang mendekati tameng.
Do Jian yang mendapat kekuatan Jiangshi milik Li Shuwang
__ADS_1