Shadow Of Princess

Shadow Of Princess
Episode 12


__ADS_3

"Putri,apakah anda akan segera ke istana Qian Lian Do?" Aku mengangguk.


"Apakah aku boleh ikut?" Aku menggeleng.


"Kamu tidak usah ikut. Aku takut kamu terluka." Wajah Anming memerah aku terkekeh. "Sebaiknya kamu kembali ke Xixuegui. Disana kamu akan aman." Lanjutku Anming mengangguk.


Aku memberikan gelang berwarna kemerahan yang diberi ibu. "Putri,saya tidak pantas menerima ini. Ini merupakan gelang kehormatan keluarga kerajaan." Aku menyuap nasi.


"Tidak,dengan ini aku merasa kamu akan aman pulang ke sana. Karena, Jiangshi yang kita hadapi bukan seperti sebelumnya. Kali ini mereka dikendalikan oleh seseorang."


"Baiklah putri aku mengerti." Anming menunduk. Setelah makan Anming pamit pulang. "Kakek,aku pamit dulu." Dahi kakek Baojia berkerut.


"Lalu,temanmu tadi?". Aku tersenyum menggeleng pelan.


"Aku menyuruh nya pulang." Kakek Baojia mengangguk.


"Baiklah,kalau begitu kamu hati hati di jalan." Aku tersenyum melangkah keluar menuju istana Qian Lian Do.


Para penjaga berdiri tegak mengawasi orang yang keluar masuk. Mereka membungkuk begitu aku tiba.


"Selamat datang tuan Li Huang." Ujar mereka serempak. Seorang wanita berusia 19 tahun surai kecoklatan dan iris mata kelabu membungkuk.


"Selamat datang tuan Li Huang." Aku menatap nya sinis melangkah masuk. Aku duduk di singasana menatap mereka yang berkumpul. Mereka membungkuk hormat. "Tuan,bagaimana perjalanan anda?" Tanya wanita itu tersenyum.


"Hm." Jawabku malas dia menunduk. Aku mengelus kursi singasana lembut. Apakah seperti ini menjadi raja. Duduk diatas memperhatikan mereka yang menyanjungmu. Aku tersenyum pahit.


"Bagaimana keadaan Qian Lian Do belakangan ini?" Wanita itu membungkuk.


"Semua nya berjalan lancar. Kecuali,susunan militer yang bermasalah."


"Baiklah,aku mengerti." Aku bangkit melangkah pergi. Dia mengikuti aku berhenti mengangkat tangan. "Jangan ikuti aku. Aku ingin sendiri." Aku menoleh.


"Dayang Han,siapkan air hangat untukku." Dayang Han dia adalah orang yang mengurusku selama di istana Qian Lian Do.


"Baik tuan." Ujarnya.

__ADS_1


Aku meregangkan tubuh menatap matahari yang bersinar terang. Aku beranjak bangkit mandi dan berganti pakaian. Aku melangkah keluar menuju ruang makan. "Selamat pagi tuan." Aku menganggukkan kepala membalas sapaan mereka. Wanita itu muncul dia membungkuk. "Tuan,sarapan anda sudah siap." Aku menghembuskan napas melangkah masuk. Aku duduk di kursi menatap hidangan di depan.


"Tuan,ada surat dari Wang Jian Li." Ujar pengawal kerajaan memberikan gulungan kepadaku. Aku membaca surat dan terdiam.


"Katakan pada mereka untuk berkumpul besok." Pengawal itu menatap ku lamat.


"Apa yang terjadi tuan?" Aku menggigit bibir bawah.


"Nanti akan kuberitahu." Dia mengangguk melangkah pergi.


Aku meremas surat apa yang kukhawatirkan akan segera terjadi. Tapi,aku tak menyangka jika mereka juga ikut campur.


Perguruan Lieren adalah mereka yang akan menjadi pembasmi Jiangshi. Kak Li Lian orangnya pendiam namun sangat ahli menggunakan sihir. Itu sebabnya dia bisa di terima di perguruan Lieren.


Kak Li Lian bahkan sejak aku datang ke istana dia jarang terlihat. Soalnya dia setiap hari berlatih kultivasi. Usianya sepantaran dengan kak Luan.


Dan,ayahanda mengutus kak Li Lian langsung hanya untuk membantuku. Tapi,jika mereka turun langsung aku pasti akan ketauan. Semoga saja kak Lian tidak menyadari kekuatanku.


"Aku hanya perlu bersikap tenang. Dan biarkan mereka datang." Gumamku menghabiskan sarapan. "Antarkan berkas ke ruanganku." Dia mengangguk pelan aku melangkah masuk kedalam kamar. Mulai mengerjakan berkas yang bertumpuk.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. "Iya masuk." Dia melangkah masuk meletakkan dokumen di atas meja.


Dia menatap ku yang menyalin berkas dan memeriksa dengan cepat. "Tuan,apa perlu saya bantu?" Aku menggelengkan kepala.


"Tidak,aku bisa sendiri. Cepat keluar." Ujarku ketus dia tersenyum kecut melangkah pergi. Aku mengambil berkas yang diantar nya membaca setiap lembar. Aku terperangah terkejut melihat isi berkas yang diantar. Aku menutup mulut tak percaya.


"Berkas ini tentang kaisar Cheng Yu dan kaisar Do Gio. Lalu, ini nama ayah."


Aku melanjutkan membaca dan ternganga tak percaya. "Perang? Dan apa yang terjadi dengan ayah? Kenapa tak ada lanjutannya?"


Aku membongkar berkas berikutnya. Berharap bisa menemukan lanjutan aku mendesah kecewa. "Sial!" umpatku kesal aku bersandar mengacak surai frustasi. Helaan napas berat terdengar.


Aku menatap berkas itu menggenggam erat. "Kenapa aku tak bisa menemukan apapun?" Aku mengusap wajah kasar. Aku menyimpan berkas itu ke dalam laci.


"Huft." Aku berbaring di kasur yang hangat memejamkan mata.

__ADS_1


"Jangan bergerak." Aku membuka mata. Seorang wanita berpakaian hitam dan memakai caping mengacungkan pedang.


Dia menyeringai aku meraba raba mencari pedang suzaku. "Sial,pedangku malah jauh." Aku menelan ludah berpikir. "Bagaimana bisa kamu masuk kedalam?"


"Kamu tak perlu tau. Aku selalu punya cara dan tak ada yang bisa mengalahkan ku." Ujar nya dengan angkuh. "Dan,aku datang untuk membunuhmu." Dia mengangkat pedang mengayunkan ke arahku.


Aku dalam sekejap berubah wujud. Bulu kemerahan bertebangan di udara. Dengan cepat aku melompat ke meja mengambil pedang suzaku. Aku mengeluarkan pedang mengayunkan ke arahnya.


Dia menghindar dan merangsek maju ke sisi kiriku. Aku membalas serangan nya mengayunkan pedang membuat kedua pedang kami beradu.


"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Dia menyunggingkan senyum. Aku mendorong pedangku lebih kuat membuatnya mundur.


Aku mengangkat pedang dengan cahaya berpendar muncul menyatu kedalam pedang perlahan wujud phoenix menghilang.


Surai ku berubah menjadi putih irisku berubah keemasan. Aku memandang lurus kedepan. Dia terperangah sebelum aku mengayunkan pedang.


Dia pergi keluar aku mengejarnya. Dia terus berlari menghilang di balik kegelapan malam. "PENGAWAL! PENGAWAL! PENGAWAL!" Teriakku kencang.


Pengawal berkumpul mereka membungkuk hormat. "Cepat kejar dia atau kalian semua dihukum." Mereka gemetar ketakutan.


"BAIK,TUAN!"


Aku menatap dia yang menunduk. "Tuan,apa anda baik baik saja?" Tanya nya.


"Hm." Jawab ku malas. Aku melangkah pergi meninggalkan mereka. Aku mengetuk pegangan kursi menunggu mereka. Selang tak berapa lama mereka tiba dengan wajah pucat pasi. Aku menatap mereka tajam. "Dimana dia? Apa yang terjadi?"


Mereka saling tatap kemudian menunduk takut. "Maafkan kami tuan. Kami tidak bisa menemukannya." Aku mengeluarkan pedang mereka gemetar ketakutan.


"Ampuni kami tuan." Mereka bersujud aku mendekat mengangkat pedang. "ARGH!" Teriakan mereka terdengar jelas. Darah membasahi lantai istana.


"Jika kalian tidak melaksanakan perintahku. Aku tak akan segan menghabisi kalian." Aku menoleh dia menunduk mengigit bibir.


"Baik tuan." Ujar mereka serempak.


"Bawa mayatnya keluar aku tak mau dia ada disini." Ujarku kembali ke kamar. Padahal baru saja aku akan beristirahat dengan tenang.

__ADS_1


Aku berbaring di ranjang memejamkan mata. Saat ku pikir aman justru aku tak menyadari jika dia selalu mengawasiku.


__ADS_2