
Sekelebat bayangan muncul didepan kami membuat kuda yang dinaiki melengking. Aku dengan cepat memegang ikatan kuda supaya tidak terjatuh.
Dari jauh aku bisa tau siapa yang muncul didepan kami. Aku turun dari kuda di ikuti kedua pria yang disisi ku.
"Selamat datang tuan Li Shang." Ujarnya lembut seraya merentangkan kedua tangan. Didalam kegelapan aku belum bisa melihat wajahnya.
Karena,aku masih berwujud manusia jadi tidak bisa melihat dengan jelas dibalik kegelapan.
"Li Shang apa kamu sudah lupa denganku." Dia menyeringai menunjukan deretan gigi putih yang berjejer rapi. Tak ada taring yang mencuat disana. Aku mundur ada yang aneh dengan dia.
"Kenapa? Kamu takut?" Dia terkekeh membuat pasukan ku bergidik ngeri. Aku menelan ludah. Dia melangkah keluar muncul didepan kami.
Cahaya matahari yang ditutupi pohon membuat sinarnya remang. Aku memperhatikan dengan seksama. Seorang wanita dengan caping yang menutupi wajah.
Darahku terasa berdesir jantungku berdetak lebih cepat. Suara nya bahkan tak asing terdengar jangan jangan dia bukannya dia adalah orang yang selalu menerorku. Dia juga hadir dalam mimpiku.
Dibalik caping dia menyeringai menatapku. "Waktu yang pas akhirnya kamu datang juga Li Shang atau kupanggil kamu Ching'er?" Do Jian menatap ku tak mengerti sedangkan Do Weiheng terpaku.
"Si-siapa kamu?" Dia tersenyum walau wajahnya tersembunyi tapi hidung dan bibirnya nampak jelas. Hidung yang mancung dan bibir mungil merah ranum disertai kulit yang putih.
"Anggap saja kalau aku adalah bibimu. Bukankah sudah kubilang kalau kita akan bertemu? Apa kamu ingat gadis belia yang kamu temui di rumah makan Ruonting? Dia adalah suruhanku dan kamu tau apa yang terjadi selanjutnya." Ujarnya mataku terbelalak kaget. Bibi? Sejak kapan? Sebenarnya, apa yang sudah terjadi?.
Aku menutup mulut menahan rasa kaget. "Tidak mungkin." Dia menggeleng. "Bagaimana bisa kamu melupakan aku? Padahal aku adalah bibimu keluarga mu satu satunya." Dia mendekat Do Jian bersigap mengeluarkan pedang. Sedangkan aku sudah terhuyung tubuhku langsung lunglai.
Do Weiheng yang didekatku segera menangkap tubuhku yang hampir ambruk. "Tuan." Bisiknya mengguncang bahuku.
"Li Shang,jangan lupa kodrat mu sebagai wanita. Ibumu tak pernah berharap kamu jadi seperti ini." Ujarnya dia melirik Do Jian yang sudah mengeluarkan pedang menghadang langkah bibi yang mendekatiku.
__ADS_1
"Cih,benda berkarat seperti itu takkan mempan padaku." Dia mengeluarkan pedang yang bercahaya terang kemilau nya membuat siapapun silau.
Pedang itu muncul dari tangannya. Bibi kemudian mengayunkannya. Dalam sekali ayunan membuat seluruh hutan menjadi terang. Dia tersenyum beruntung dia tidak mengarahkan nya pada Do Jian dan pasukan ku.
"Li Shang keluarkan pedang mu dan buat pedang ini menjadi yang terkuat. Supaya aku bisa menghabisi keturunan sialan ini." Dia menunjuk Do Jian. Aku yang masih kaget berdiri mengeluarkan pedang yong jian.
Bibi tertawa kekeh membuat suara nya mengelegar di seluruh hutan. "Bagus ini yang paling kutunggu." Bibi menjentikkan jari kemudian aku tau apa yang akan datang para vampir.
Bukankah mereka yang ingin pertempuran ini? Akhirnya, semua nya akan berakhir apakah akan menjadi yang terbaik atau justru menjadi yang paling buruk.
Para vampir menatap pasukan dengan tak sabar air liur mereka menetes membuat siapapun jijik melihatnya.
"Pedang yong jian." Matanya berkaca kaca seperti melihat sesuatu paling berharga di depannya.
Seorang pria muncul di belakangnya. "Jangan lupa dengan tugasmu." Ujarnya bibi mengangguk tersenyum.
Pria itu menatap ku dibalik kegelapan kilat cahaya iris kemerahan terlihat jelas. Aku menelan ludah taring nya mencuat keluar. "Tuan,siapa dia?" Tanya Do Weiheng.
"Vampir." Sahut Do Jian pelan, Do Weiheng melirikku. "Hanya bocah ingusan. Apa benar dia adalah anak Shang?".
"Iya,memang benar dia adalah Ching'er anak Shang kakak iparku." Bibi menyeringai. "Bibi,hentikan! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bibi berpihak pada mereka?" Protes ku membuat kedua orang di depanku tertawa terbahak bahak.
"Jangan lupa Ching'er didalam darah mu ada dua aliran yang mengalir. Sekarang,kamu harus memilih salah satunya. Apakah menjadi manusia atau vampir?" Pertanyaan bibi membuat aku terdiam. Aku sadar akan perkataan bibi kalau didalam diriku ada dua darah yang mengalir.
Dan dengan egoisnya aku malah memilih menjadi keduanya. Seharusnya,aku menjadi salah satu diantara keduanya.
"Putri Shuwang.." Do Jian memegang bahuku erat. "Tidak apa perkataan nya memang benar." Aku menoleh sebagian tatapan prajurit ngeri melihatku.
__ADS_1
"Xin Er apalagi yang kamu tunggu aku sudah mulai tak sabar merasakan darah campuran anak dari si pengkhianat Shang!" Pria itu keluar begitu juga yang lain.
Pasukan vampir yang tak terhitung jumlah nya membuat kami sedikit gentar. Apalagi sekarang mereka sudah menambah kekuatannya menjadi lebih kuat.
Mereka merangsek maju kami mengeluarkan senjata masing masing. Salah satu vampir menyerang Do Weiheng. Do Weiheng dengan sigap mengeluarkan pedang.
Dia menangkis serangannya dengan sekali ayunan. Tak tinggal diam vampir itu kembali menyerang. Aku dengan cepat membantu tapi bibi datang menghalangi.
Aku menghilang menghindari serangan. Do Jian datang membantu tapi naas seorang pria berwujud vampir muncul dan memukul wajah Do Jian.
BUK!
Sebuah pukulan mendarat di wajah Do Jian. Do Jian meringis darah keluar dari sudut bibirnya. Aroma darah yang tercium membuat pria itu menutup hidungnya.
"Xin Er dia ternyata.." Aku menelan ludah bibi menoleh. "Lung jangan bilang dia kunci nya." Do Jian mundur aku dengan cepat menyerang bibi. Aku mengayunkan pedang ke lengan kirinya.
"Akh!" Bibi meringis melompat pindah ke tempat lain. Aku menghilang lalu muncul di dekat Do Jian menariknya dari sana.
"Sialan!" Pekik bibi keras Lung muncul di atasku mengincar Do Jian. Aku memutar tubuhku dan melempar Do Jian ke tempat aman.
Aku mengangkat pedang membuat cakar nya dan mata pedang ku beradu. "Hah,seharusnya kamu meletakkan kelemahan mu di tempat yang kuat bukan lemah seperti itu."
Aku menghilang lalu muncul di sisi kanannya menendang perutnya. Lung terjatuh meringis kesakitan. Suara teriakan dan aroma darah tercium pekat. Aku menoleh pasukan sudah banyak yang terluka parah.
Kedua kubu sudah mulai kelelahan walau kami kalah jumlah tapi setelah berlatih cukup lama akhirnya kami bisa mengimbangi kekuatan mereka walaupun, tidak semua.
"Lung,lawanmu hanya si rambut perak. Biarkan aku menghabisi anak si pengkhianat ini." Ujar bibi kesal dia muncul di depanku. "Aku serahkan padamu." Lung menghilang dan muncul di depan Do Jian belum sempat aku mengkhawatirkan nya bibi muncul dan menyerangku.
__ADS_1
"Lawan mu aku Ching'er!" Teriak bibi keras.