
"Aku doain semoga kamu selalu sukses." Do Jian mengangguk beranjak bangkit tapi tiba tiba sebelah kepalanya terasa sakit berdenyut.
Dan mata kanan nya juga sangat sakit. "ARGH!" Erang Do Jian sebelum jatuh pingsan. Li Luan yang melihat Do Jian pingsan membawanya ke istana untuk diobati oleh tabib
"Yang mulia, dia tak apa apa hanya saja..." Ujar tabib Liangyi sedikit khawatir dia menatap Li Lian yang kebingungan. "Ada apa sebenarnya tabib Liangyi? Apakah dia parah?" Tabib Liangyi menggeleng.
"Tidak hanya saja dia terkena kutukan karena melakukan ikatan dengan darah campuran. Karena, kekuatannya sangat besar tubuhnya tak sanggup menerima sehingga dia menolak dan menimbulkan tanda di sebelah wajahnya." Li Luan terpaku tak percaya dengan apa yang didengar dari tabib Liangyi.
Perlahan area mata kanannya timbul aksara kuno. Li Luan terperangah tak percaya dengan perubahan Do Jian.
"Sekarang,dia hidup dengan raga manusia tapi jiwa Jiangshi yang kejam." Tabib Liangyu menelan ludah kasar Li Luan menoleh.
"Apa maksud anda tabib Liangyu?" Tanya Li Luan. "Itu,yang mulia dia akan menjadi tak terkalahkan. Kekuatan nya akan sama seperti tuan Li Shang prajurit yang tak kenal mati."
"Apakah dia akan menghisap darah seperti Jiangshi?" Tabib Liangyu menggeleng. "Tapi,dia akan ketagihan membunuh jika merasakan aroma darah."
"Ugh." Mereka menoleh menatap Do Jian yang perlahan membuka matanya. "ARGH." Do Jian menyentuh mata kanannya dia meringis kesakitan.
"Tuan,anda tidak apa apa?" Tanya tabib Liangyu khawatir. "Uh,kepalaku terasa sangat sakit. Dan mata ku kenapa perih?" Tanyanya kebingungan.
"Tuan,anda tak perlu khawatir. Anda hanya kelelahan saja." Ujar tabib Liangyu berbohong. "Iya kamu hanya kelelahan saja." Sahut Li Lian.
"Tapi,kenapa aku merasa aneh?" Batin Do Jian. Dia melirik air yang mengenang di dalam cangkir. Dahinya berkerut.
"Bisa ambilkan cermin." Pinta nya mereka saling tatap. "Tapi,disini tidak ada cermin." Do Jian menggeleng. "Tidak mungkin tidak ada cermin di istana. Jangan bohong aku tau kalian menyembunyikan sesuatu. Katakan yang sebenarnya atau aku.."
__ADS_1
"Baik tuan tunggu sebentar." Belum sempat Li Lian mencegah tabib Liangyi yang terburu buru keluar. "Ah.." Li Lian menghembuskan napas kecewa.
"Putra mahkota,ada apa? Kenapa anda begitu gelisah?" Li Lian menggeleng dia tersenyum paksa. "Bukan apa apa. Aku hanya khawatir denganmu." Sahutnya dia berdiri di ambang pintu menunggu tabib Liangyu.
"Tabib Liangyu dimana dia? Kenapa dia sangat lama jangan bilang dia kabur." Batin Li Lian mengoyangkan kakinya sesekali dia mengamati Do Jian yang kesakitan.
Tak lama tabib Liangyu membawakan cermin. Do Jian merebut cermin itu menatap bayangan dirinya dengan terkejut. "Ini.." Dia melihat mereka satu persatu.
"Apa yang terjadi dengan wajahku?" Tabib Liangyu menarik napas menghembuskannya pelan. "Sebenarnya, anda terkena kutukan." Jawab tabib Liangyu Do Jian terpaku.
Bagai tersambar petir dia terkulai lemas. "Kenapa bisa aku begini? Apa yang terjadi?" Tabib Liangyu menelan ludah.
"Maafkan saya tuan. Apakah anda pernah melakukan kontak fisik dengan darah campuran?" Do Jian terpaku dia baru ingat kalau dia pernah melakukannya.
"Iya,lalu apa hubungannya?" Li Luan mengusap wajah. "Ya ampun, Shuwang kamu memberikan dia kekuatan tanpa batas pada pria yang merupakan tawanan perang. Apa yang kamu pikirkan?" Batin Li Luan.
Dahi Do Jian berkerut rasa penasaran menyergap dirinya. "Katakan saja." Li Luan menghela napas. "Tuan,jika anda merasakan aroma darah anda tak akan bisa berhenti membunuh. Karena anda memiliki jiwa Jiangshi."
Do Jian bersandar dia memejamkan mata. "Itu artinya aku tak akan bisa berhenti membunuh." Samar tabib Liangyu mengangguk. Do Jian menyunggingkan senyum membuat Li Luan bergidik ngeri.
"Hah,bahkan putri Shuwang tetap memberikan ku kekuatan tanpa batas hanya untuk melindungiku. Dan aku dengan raga lemah ini malah membuat kekuatan putri menjadi sia sia."
Do Jian membuka mata menoleh memandang cahaya sore yang menyinari taman istana. "Tabib apa aku bisa keluar dari sini?"
Tabib Liangyu berpikir sejenak. "Tuan mau kemana?" Do Jian menghela napas berat. "Aku akan meninggalkan Wang Jian Li dan Qian Lian Do menuju sebuah tempat yang mungkin bisa menggunakan kekuatan putri Shuwang." Do Jian menghela napas.
"Aku tak mau kekuatan hanya menjadi sia sia." Sambung Do Jian. "Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Aku akan membuatkan obat untuk berjaga jika nanti kamu sakit."
__ADS_1
"Terima kasih." Do Jian tersenyum dia mengangguk. "Tuan tidak perlu sungkan begitu." Ujar tabib Liangyu dia membungkuk kemudian melangkah keluar.
"Apa kamu akan tetap pergi juga? Lalu,bagaimana dengan kutukan itu?" Do Jian menggeleng. "Aku baik baik saja. Jangan khawatir." Li Luan mangut mangut.
"Baiklah,jika itu keinginanmu." Ujar Li Luan tak lama tabib Liangyu datang. "Tuan ini obat nya jangan lupa diminum jika rasa sakitnya datang." Do Jian mengangguk.
Pagi yang mendung langit yang gelap menandakan akan segera turun hujan. Namun,Do Jian tetap melangkah pergi. "Yang mulia kaisar dan permaisuri saya pamit dulu."
Do Jian membungkuk Li Quin terpana akan sikap Do Jian. "Nak,hatimu sungguh baik tidak salah selama ini putriku menunjuk mu." Puji Li Quin.
"Maafkan kami nak telah salah menilaimu. Aku pikir Shuwang.." Air mata Yin Xia mengalir Li Quin mengusap bahunya. "Yin Xia relakan anak kita pergi dengan tenang." Yin Xia mengangguk pelan mengusap air mata.
"Yang mulia apa saya masih boleh kemari?" Li Quin tersenyum. "Tentu saja ini juga merupakan rumah bagimu. Kami menerima ku dengan tangan terbuka." Li Luan mengangguk.
"Iya,kamu adalah bagian dari keluarga kami juga." Do Jian menggeleng. "Saya hanyalah pengawal putri Li Shuwang. Mana pantas saya berada di sisi keluarga kerajaan."
"Hah,ternyata kalian adalah orang yang sama." Yin Xia dan Li Luan tertawa. "Yang mulia saya harus segera pergi." Li Quin mengangguk.
"Tentu saja, doa dan restu ku mengiringi kalian." Ujar Li Quin. Do Jian menaiki kuda dia tak mau ada yang mengantarkannya pergi. Dia memacu kuda dengan cepat meninggalkan Wang Jian Li.
Meninggalkan kenangan dan memori tentang Li Shuwang. "Walaupun aku pergi jauh aku akan tetap mengingatmu." Gumam Do Jian.
Dia mendongak menatap langit. "Aku tau kamu pasti melihatku. Aku hanya berharap untuk segera bertemu dengan mu, secepatnya."
Do Jian memacu kuda dengan semangat menuju arah utara Wang Jian Li. Sebuah kota yang akan menjadi saksi bisu kesetiaan Do Jian. Min Li daerah kumuh dengan satu kenangan yang tak terlupakan.
......................BERSAMBUNG....................
__ADS_1