
Do Jian terpancing dengan pertanyaan Jienji. "Apa maksudmu?" Jienji menaikkan alisnya menyeringai. Aku merangsek maju mengayunkan pedang ke arahnya.
Jienji menghindar masih tersenyum mengejek. "Sama seperti ayahmu."
"TUTUP MULUTMU!" Teriakku kencang kedua pria dibelakang ku mundur. Aku terus mengayunkan pedang tapi Jienji terus menghindari seranganku.
"Ayah dan anak memiliki takdir yang menyedihkan." Aku benar benar geram. Aku berhenti berdiri didepannya. Jienji menatapku tajam menunggu serangan dari ku.
Jienji merangsek maju mengepalkan tangan siap meninju ku. Aku menyeringai kali ini aku menggunakan hong heise. Menggabungkan kedua darah ku menjadi satu dan menjadikan pedang ku memiliki kekuatan kegelapan dengan darah murni di dalamnya.
Aku tau ini berisiko terakhir aku melawan murid Yuan aku hampir saja tewas. Kali ini aku akan melakukannya.
Meskipun kekuatan sihir ku akan menghilang atau nyawa ku yang melayang. Aku menarik napas aura hitam bercampur kemerahan bertemu bersatu dengan pedangku.
Pedang yong jian berubah menjadi hitam kemerahan. Jienji mundur perlahan wajah nya tampak takut.
Aku mengangkat pedang merangsek maju. Jienji menghilang dengan cepat aku juga menghilang mengejarnya.
Aku menyeringai. "Ketemu." Aku muncul di depannya Jienji yang tak siap menerima seranganku kelabakan.
"Hong Long Xiexian." Teriakku seraya melemparkan pedang yong jian. Pedang yang berwarna merah di kelilingi aura hitam melesat menembus jantung Jienji. "ARGH!" Teriak Jienji di ambang kematian. Kedua pria itu menelan ludah kasar sedangkan pria tua itu gemetar.
Dalam sekali lempar tubuh Jienji hancur lebur menjadi debu. Aku berjalan dengan terhuyung pada akhirnya aku membunuh mereka.
"Heh,menyedihkan." Aku benar benar menderita. Rasa sakit dan penyesalan menjadi satu. Pembunuh? Kata kata Do Jian masih tergiang di telingaku.
Aku mencabut pedang yang kini berubah menjadi lebih kuat. "Kamu menginginkan darah manusia." Bisikku lirih.
Aku tau setiap mengubah pedang yong jian menjadi lebih kuat di atas batas. Maka,dia harus merasakan darah manusia baru kembali normal.
__ADS_1
Aku mengubah diri menjadi manusia normal. Ku angkat telapak tangan dan menggoreskan nya membuat darahnya mengalir.
Perlahan, pedangku menjadi tenang. Aku menoleh kedua pria itu menatap ku lekat. Seakan mereka tak percaya dengan yang barusan terjadi.
"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Do Weiheng mendekat. "Aku..." Aku menarik napas kemudian menghembuskan nya pelan. Aku menatap Do Jian dengan rasa sedih yang amat dalam.
"Tuan,katakan sebenarnya apa maksud nya tadi." Desak Do Weiheng tak sabaran. "Pak,bisa antarkan kami di tempat yang tenang." Ujarku mengabaikan Do Weiheng.
"Tentu saja nak. Ikuti aku." Pria tua ini mengantarkan kami ke sebuah gubuk yang tak jauh dari bukit Tien Chen.
"Silakan masuk." Ujarnya kami mengangguk masuk kedalam. Tak ada apapun disini gubuk ini sangat sepi.
"Rumah saya memang sepi. Karena,saya tinggal sendiri. Perkenalkan saya Xiu Jun." Pak Xiu Jun menyalami kami. "Mau saya buatkan minum?" Tawarnya ramah.
"Tentu saja paman. Aku sangat haus." Ujar Do Weiheng pak Xiu Jun terkekeh. "Tentu saja akan aku buatkan. Kalian silakan duduk." Pak Xiu Jun meninggalkan kami bertiga.
"Do Jian..." Ujarku lirih Do Jian melirikku tak ada jawaban disana. "Aku minta maaf." Kataku lirih air mata ku serasa ingin jatuh. Do Weiheng menghela napas panjang.
"Iya,aku adalah Li Shuwang. Maafkan aku Do Jian sudah membohongimu." Tangis ku yang berusaha kubendung akhirnya tumpah ruah. Do Weiheng terperanjat kaget wajahnya berubah pucat pasi mendengar perkataanku.
"Do.. Jian.. Aku minta maaf." Do Jian menatapku lamat entah kenapa sorot mata nya makin membuat ku kesakitan.
"Maaf." Ujarnya lirih Do Jian mungkin sekarang terpukul menerima kenyataan yang begitu cepat.
Aku tak mengerti rahasia yang disimpan selama 19 tahun terbongkar karena kebodohanku. Aku menangis sesenggukan tak peduli bagaimana tanggapan Do Weiheng.
"Aku pikir aku bisa membunuh Li Shang. Tapi,justru Li Shang adalah orang yang selama ini selalu bersamaku." Do Jian melirikku bibirnya menyunggingkan senyum getir.
"Putri,kenapa anda melakukan semua ini?" Tanya nya aku tau Do Jian sedang marah. Tapi,dia berusaha menahan amarahnya. "Apa mungkin kamu takut aku akan membunuh mu?" Aku menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Tidak,aku tidak takut kamu membunuhku. Bahkan,jika aku tewas di tanganmu aku rela." Ucapku seraya tersenyum Do Jian menunduk.
"Tunggu jadi kamu adalah putri Li Shuwang?" Tanya Do Weiheng aku menganggukkan kepala. "Akhirnya,rahasia ku di ketahui orang banyak." Aku mengusap air mata yang begulir berjatuhan.
"Seorang wanita yang menyamar jadi pria dan setengah vampire yang tidak tau harus memilih seperti apa."
"Lalu,kenapa putri melakukan ini semua?" Tanya Do Weiheng penasaran. "Karena,aku ingin membalas budi ayahanda."
"Budi? Kenapa?" Tanya Do Jian mendesak. "Aku bukanlah anak kandung kaisar Li Quin. Aku hanya anak angkat karena kaisar menginginkan anak perempuan dan orang yang merawatku adalah dayang kerajaan jadi aku dibawa dan disanalah awal mula aku menjadi seorang putri."
Do Weiheng mengusap wajah tak percaya dengan ceritaku. "Tidak mungkin kaisar mengangkat anak. Apalagi,dia adalah.." Kalimat Do Weiheng terputus.
"Anak setengah vampire." Sahutku membuat Do Weiheng terdiam. "Tentu saja kaisar tidak tau kalau aku setengah vampire."
"Mereka hanya tau aku adalah keponakan seorang dayang." Sahutku membuat semua terdiam. "Jadi,selama itu kamu menyembunyikan rahasiamu?" Aku mengangguk pelan.
"Jadi, Do Jian dan Do Weiheng bisakah kalian menyimpan rahasia ini sampai perang selesai?" Tanya ku pelan. "Apa jaminan kamu tidak mengkhianati kami?"
Aku memberikan giok hijau. "Simpan ini karena ini merupakan barang berharga bagiku." Do Weiheng menggeleng. "Ini tak bisa jaminan. Aku mau yang lebih."
"Giok hijau adalah lambang klan Xixuegui mungkin kalian berpikir ini milik Wang Jian Li. Jika aku mengkhianatimu bawa giok ini ke kaisar Li Quin." Do Jian menatapku.
"Ada dengan giok ini?" Aku terdiam. "Kalian akan tau suatu hari nanti. Tapi,apapun terjadi aku takkan mengkhianati kalian."
Percakapan kami terhenti tatkala paman Do Weiheng membawakan kami teh. Asap teh mengepul membuat tenggorokan terasa kering.
"Nak,tanganmu terluka kamu perlu diobati." Ucap pak Xiu Jun tulus aku mengangkat tangan baru menyadari kalau aku terluka. Pak Xiu Jun menarik tanganku mengobati luka.
"Terimakasih pak." Ujarku menggerakkan tangan ku dengan pelan. "Tidak apa. Aku hanya teringat putraku." Ujar nya sedih Do Weiheng mendekat.
__ADS_1
"Paman.. harus kuat lupakan semua masa lalu dan capailah masa depan yang ada di depan mata." Ujarnya dengan guyonan membuat pak Xiu Jun menjitak kepala nya pelan.
"Dasar!" Do Weiheng mengusap kepala nya seraya tertawa pelan.