
"Yang mulia, maaf jika saya bersikap tidak sopan." Ujar Yuen membungkuk dia menepis tangan Do Jian.
"Yuen, apa yang kamu lakukan? Sudahlah Yuen ayo kita pergi dari sini." Ajak Do Jian menarik lengan Yuen. "Tidak,aku tidak mau pergi sebelum memberitahu semuanya."
Mereka berbisik bisik menimbulkan keributan. Do Jian mengusap wajah ingin rasanya dia menyeret Yuen keluar. "Jangan sampai rahasia putri Shuwang terbongkar." Batinnya.
"Yang mulia anda harus tau siapa sebenarnya Li Shuwang. Dia adalah.." Suara Do Jian yang keras membuat semua terpaku. Sorot matanya nampak marah.
"CUKUP! HENTIKAN YUEN!" Yuen terperangah. "Do Jian,apa yang kamu pikirkan? Apakah yang terjadi sampai kamu membelanya? Dia adalah seorang pembunuh." Yuen meremas ujung hanfunya.
"Yuen,keluar dari sini sekarang juga. Aku tak mau melihatmu." Yuen menggeleng. "Tidak,aku tidak akan pergi. Jangan bilang kamu sudah tau siapa dia." Tunjuk Yuen ke arah tubuh Li Shuwang.
"Jangan bersikap lancang didepan putri atau aku akan memukulmu." Sergah Do Jian. "Aku tak peduli apa yang ingin kamu lakukan terhadapku. Tapi,ini penting aku harus memberitahu semua orang."
Yuen membalikkan badan dia tersenyum. "Yang mulia maaf atas keributan barusan. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan." Semua menahan napas penasaran dengan perkataan Yuen.
"Lihat saja Li Shuwang bahkan sampai matipun aku akan membuat mu menderita." Yuen menyeringai. "Putri Li Shuwang adalah anak berdarah campuran yang seharusnya tewas saat kaisar Cheng Yu."
Semua terkejut mereka menatap jasad Li Shuwang. Li Quin gemetaran dia terkulai. "Yang mulia! Yang mulia!"
"Tidak aku baik baik saja. Jangan khawatir." Semua nampak khawatir selir Hua Shing mendekat.
"Yang mulia anda jangan terlalu emosi. Ingat kesehatan anda." Nasihat selir Hua Shing. Li Quin menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Dan dia penyebab semua masalah yang menimpa kita." Semua terkejut Do Jian menarik Yuen paksa. "Do Jian,apa yang kamu lakukan?" Do Jian tetap diam.
"Do Jian apa kamu masih mencintai almarhum kak Yuan?" Tanya Yuen gerakan Do Jian terhenti dia menoleh.
"Jangan pernah tanyakan hal itu lagi." Jawab Do Jian. "Heh,aku sudah tau jawabannya. Kamu mencintai dia. Dia yang menjadi penyebab kekacauan."
"Cukup Yuen!" Yuen menggeleng dia memandang Li Quin lamat. "Yang mulia saya meminta anda untuk membakar jasad Li Shuwang. Karena,dia penyebab semua kehancuran." Li Quin terdiam menatap jasad Li Shuwang dia masih terkejut mendengar perkataan Yuen.
"Yang mulia, mohon anda pikirkan perkataan Yuen. Li Shuwang adalah seorang pembohong. Dia sudah menipu seluruh keluarga kerajaan Wang Jian Li." Ujar Gong Duan. Li Quin mendesah dia menunduk.
"Gong Duan,apa kamu tau siapa dia?" Dahi Gong Duan berkerut. "Apa maksud anda yang mulia?" Li Quin tertawa pelan menggeleng pelan.
"Apa kamu tau dimana Li Shang?" Li Quin menatap Gong Duan yang kebingungan. "Bukannya tuan Li Shang sedang masa penyembuhan. Dan dia katanya akan pulang dalam waktu dekat setelah menyelesaikan perang dengan bangsa Jiangshi di hutan Shang Huan."
"Dia adalah Li Shang yang kalian agungkan. Dan bagaimana bisa aku sebagai ayah menghukum putri nya yang tiada? Menurutmu, Gong Duan apa yang harus kulakukan?" Bibir Gong Duan gemetaran dia baru sadar jika selama ini Li Shang adalah Li Shuwang.
"Maafkan saya yang mulia saya telah salah. Saya tidak tau jika selama ini dia adalah tuan Li Shang. Ampuni saya yang mulia." Gong Duan bersimpuh.
"Sudahlah semuanya tak ada artinya lagi. Dan,sekarang yang dapat kulakukan adalah memberikan penghormatan terakhir." Ujar Li Quin dengan lesu. Yuen tidak terima dia maju kedepan wajahnya tampak marah.
"Yang mulia saya tidak terima itu. Li Shuwang pantas dihukum." Sergah Yuen Li Quin hanya tersenyum samar. "Apakah dengan menghukum orang mati dapat memberikan rasa puas?"
"Tapi,yang mulia.." Li Quin menggeleng. "Nak,walaupun dia sudah berbuat salah. Maafkan lah dia dan lagipula rahasia nya aku minta buatlah tetap menjadi rahasia. Dan kalian semua walaupun kalian semua sudah tau siapa dia. Aku hanya minta kalian tetap menganggapnya sebagai putri kerajaan Wang Jian Li."
__ADS_1
Mereka saling tatap kemudian membungkuk. "Baik yang mulia." Yuen tidak terima dia melangkah keluar dengan tergesa. "Apa hebatnya dia sampai dibela oleh semua orang? Aku benci dia. Dia sudah merebut hati Do Jian orang yang kusuka. Aku akan selalu membenci mu Li Shuwang."
Yuen menyeka air mata yang menetes. Tak ada yang tau bagaimana perasaan nya saat ini. "Yuen,apa yang membuat bisa seperti ini? Dulu kamu adalah wanita yang baik dan menerima semua orang dengan tangan terbuka. Tapi.." Do Jian menghembuskan napas.
"Yang mulia apa kita bisa mulai?" Li Quin mengangguk. Biksu pun memulai ritual kematian Li Shuwang dengan tertib.
Semua nya nampak bersedih bahkan semesta menangisi kepergian pejuang sekaligus putri yang terkenal akan kebijaksanaannya.
Do Jian memandang pedang yong jian yang di tangannya di bawah rintik hujan. "Walaupun,kita belum lama bertemu tapi aku merasa kamu adalah segalanya bagiku. Dan kamu memperlakukan ku dengan baik. Tapi,kenapa kamu menyamar menjadi pria? Hanya untuk balas budi?"
Do Jian menatap genangan air yang memantulkan bayangan dirinya. "Heh,untung saja Yuen tidak menyadari jika aku sekarang memiliki kekuatan Jiangshi. Ternyata, efeknya tidak bekerja terlalu lama."
"Do Jian?" Do Jian menoleh sebuah suara serak memanggilnya. "Putra mahkota Li Luan." Do Jian membungkuk Li Luan tersenyum.
"Duduklah,jangan sungkan terhadapku." Ujarnya santai. Do Jian duduk memasukkan pedang yong jian. Li Luan yang melihat terkesima.
"Itu bukannya pedang Shuwang?" Do Jian menoleh mengangguk air mata Li Luan langsung tumpah.
"Adikku Shuwang diusia muda kamu harus meninggalkan kami. Aku padahal berharap kamu segera pulang dan pergi bersama seperti dulu. Aku memang kakak yang tidak berguna." Do Jian menepuk bahu Li Luan tersenyum.
"Relakan saja putri Li Shuwang pergi dengan damai. Dia akan selalu ada disini kemana pun kita pergi." Li Luan termangu. "Kamu benar Shuwang pasti tidak akan suka melihat kami semua bersedih."
"Do Jian setelah ini kamu akan kemana?" Do Jian tersenyum. "Aku akan pergi mengembara." Li Luan membulatkan mata.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Lalu bagaimana dengan pesan Shuwang?" Do Jian menghela napas. "Saat nanti aku siap aku akan memenuhi permintaannya." Ujar Do Jian mantap.
"Kemana kamu akan pergi?" Do Jian menarik napas menghembuskannya pelan. "Aku akan mengikuti kata hati ku kemana pun aku pergi."