
Aku menatap nya lamat tak percaya dengan yang kulihat sekarang. "Putri Shuwang." Ucapnya lirih. Aku hanya menghela napas panjang. "Ada apa kamu kemari?" Tanyaku datar. "Aku kemari karena ada yang mau dibicarakan." Ujar Do Jian dia terlihat bersungguh sungguh. Aku berpikir mungkin saja ini ada hubungannya dengan perang.
"Masuklah." Do Jian melangkah masuk dia berdecak kagum melihat seisi ruangan. "Putri,ini.." Aku menganggukkan kepala. "Iya,aku masih membiarkan ornamen ruangan ini sama. Lagipula,bukankah ini kamar mu dulu?" Do Jian tersenyum.
"Putri,aku pikir anda sudah melupakanku." Aku menggelengkan kepala seraya duduk di kursi. "Tentu saja tidak. Kamu kan teman ku." Ujarku meskipun aku tau kata kata ini terasa sangat menyakitkan untuk diucapkan.
"Iya,mungkin putri benar. Teman ya." Suasana kembali hening belum lagi rasa canggung diantara kami. "Do Jian,mengenai tadi apa yang ingin kamu bicarakan."
"Putri Shuwang aku minta maaf. Maafkan aku yang sudah berbuat salah padamu. Aku benar benar minta.." Do Jian bersimpuh mataku berkaca kaca menahan air mata.
"Cukup, Do Jian itu bukan salahmu. Ini semua salahku." Aku memalingkan wajah mengigit bibir.
"Putri.." Aku menghela napas kemudian menatapnya lamat. "Seharusnya,yang minta maaf itu aku bukan dirimu. Aku sudah melakukan kesalahan yang bahkan tidak bisa dimaafkan."
Do Jian berdiri dahinya berkerut menatapku. "Aku sudah membuatmu hidup sebatang kara. Seharusnya,aku pantas mati. Aku ingin kamu segera menghabisiku."
Aku mengambil pedang yong jian memberikan pada Do Jian. Do Jian diam aku menunggu reaksi darinya tapi tak ada respon sama sekali.
"Putri,apakah anda berpikir jika anda tewas semua akan kembali semula?" Do Jian menunduk. "Putri,semua sudah terjadi tak akan ada yang bisa memutar waktu. Semua akan berjalan sebagaimana mestinya."
Do Jian mengambil pedangku meletakkan kembali. Kedua mata nya menatapku seakan tak mau melepaskan ku. Aku tak tau apakah itu tatapan cinta atau rasa kasihan.
Aku sungguh tak mengerti. "Do Jian apa yang akan kamu lakukan setelah perang ini berakhir?" Tanyaku. "Aku mungkin akan kembali ke Wang Jian Li."
__ADS_1
"Tidak." Sahutku cepat Do Jian menoleh dahi nya berkerut. "Apa maksud anda putri?" Ujarnya entah kenapa aku merasa perkataannya terlalu formal padaku sejak rahasia ku ketahuan.
"Aku ingin kamu tetap disini menjadi pemimpin Qia Lian Do dan hidup dengan tenang." Ujarku Do Jian menggeleng.
"Aku sudah tak di terima disini. Bukan kah Li Shang bilang mantan putra mahkota jadi untuk apa diriku disini." Aku menggeleng merasa bersalah telah mengatakan hal itu kepadanya.
"Tidak bagiku kamu tetap putra mahkota Qia Lian Do. Li Shang sudah salah menilai mu. Dia hanya prajurit yang menjalankan tugas dari kaisar." Do Jian tertawa pelan.
"Putri aku hanya tetap menjadi pengawal mu bukan putra mahkota lagi. Dan, kerajaan ku sudah di rebut oleh kaisar Li Quin." Aku menunduk.
"Putri sudah larut malam sebaiknya anda segera istirahat. Aku akan kembali ke kamar." Do Jian bangkit berdiri melangkah keluar kamar.
"Tunggu!" Do Jian berhenti. "Do Jian jangan bicara formal padaku. Walau kita baru bersama tapi aku sudah merasa akrab denganmu." Ujar ku Do Jian mengangguk kemudian dia meninggalkan ku.
.....
Ayahku bahkan dibarisan depan tapi pada akhirnya malah berakhir mengenaskan. Aku yang masih berumur 7 tahun harus hidup tanpa belas kasih kedua orang tua.
"Tuan Li Shang." Ujar Do Jian suara nya terdengar lemah. Aku menoleh Do Jian dengan zirah nampak gagah duduk dipelana kuda.
"Iya." Ujarku menunduk ada rasa sedih terselip dihati. "Tuan semoga perang ini cepat selesai dan kita bisa pulang kembali ke Wang Jian Li."
Aku menoleh ada secercah harapan muncul disana seperti pelangi yang muncul setelah hujan. "Do Jian." Do Jian menoleh dia tersenyum.
__ADS_1
"Tuan tak perlu risau aku masih harus kembali ada seseorang yang menunggu ku disana." Perkataannya membuat aku terharu ingin rasa nya aku menangis.
"Baiklah,demi orang yang menunggu mu itu aku akan membantu mu menyelesaikan perang ini dengan tuntas." Do Jian mengangguk. Suara terompet terdengar melengking kami mendongak burung gagak beterbangan.
"Sudah waktunya." Ujar Do Weiheng muncul disisiku. "Iya,waktunya sudah tiba." Kami memacu kuda dengan cepat melewati kerumunan orang yang sudah berkumpul dari gerbang sampai perbatasan hutan Shang Huang.
Suara derap langkah kuda terdengar berirama beberapa orang mengelukan nama kami. Namun,langkah kuda kami terhenti Yuen berdiri menghadang kuda yang lewat.
"Yuen!" Ujar Do Jian terkejut aku menatap nya tajam. "Do Jian apa kamu harus pergi?". Do Jian melihat kami berdua bergantian.
"Yuen,diusia ku yang sudah 25 tahun sudah sewajarnya aku terjun kedalam medan perang. Aku sungguh merasa kagum akan tuan Li Shang yang masih muda sudah terjun ke medan perang tanpa takut apapun. Jadi, Yuen aku minta maaf karena sudah mengabaikanmu dan jujur sekarang aku sudah mencintai orang lain. Mungkin sekarang aku merasa bersalah sudah melupakan Yuan yang mencintaiku." Do Jian terdiam melirikku.
"Tapi, aku sadar jika terus hidup dalam kebencian akan membuatmu menjadi buta akan cinta. Yuen,apa kamu tau terkadang rasa benci bisa mendatangkan cinta. Karena, cinta bisa hadir kapan saja tanpa kita duga. Jadi, Yuen kejarlah cintamu yang sesungguhnya karena aku sudah mencintai seseorang yang sedang menungguku." Sahutnya tersenyum Yuen menggigit bibirnya tak terima perkataan Do Jian.
"Do Jian apa kamu tidak sadar jika dia sudah menjadi penyebab keluarga mu hancur?" Do Jian menghela napas memacu kuda nya tak menggubris perkataan Yuen.
"DO JIAN KAU AKAN MENYESAL!" Teriak Yuen keras. Prajurit yang mendengar hanya menggelengkan kepala.
Hutan Shang Huang terlihat jelas kami saling tatap dalam sekali anggukan. Kami memacu kuda lebih cepat memasuki hutan yang gelap.
Atmosfer peperangan tercium pekat membuat kami semakin bersemangat untuk menenangkan pertempuran. "Tuan, aura vampir." Ujar Do Jian.
"Jangan bilang mereka sudah dekat." Sahut Do Weiheng kalut dia sudah gemetaran padahal perang belum dimulai.
__ADS_1
"Do Weiheng, jangan takut kita hanya perlu memusnahkan mereka dengan cahaya jika nanti terdesak. Aku tau kamu belum pernah bertarung dengan vampir. Tapi,perang ini hampir mirip dengan perang biasa. Hanya saja kita harus punya sihir dan senjata yang kuat." Do Jian terkekeh membuat Do Weiheng malu.
"Baik tuan." Do Jian mendekat kemudian berbisik di telinga Do Weiheng. Do Weiheng menatap Do Jian kesal kemudian melucuti dengan cambuk Do Jian mengelak membuat dia terkekeh.