
" Hiks...hiks...". suara isak tangisku.
" kenapa menangis Yuna?". tanya kakakku yang sedang duduk di sebelahku.
" Ceritanya sedih banget...". ucapku sambil menunjukkan sebuah video.
" Apaan sih? gak sedih sedih amat kok".
" Ah.. kakak!".
" Sudah malam, tidur sana!". ucap kakak sambil menyenggolku pelan.
" Duh... iya iya!". ucapku lalu pergi menuju kamarku.
Esok harinya...
" Kak, mana mama dan papa?". tanyaku.
" Sudah kerja, kamu sih bangunnya siang benget!". ucap Kak Julia.
" Hehehe, gara gara kemarin aku gak bisa tidur...". ucapku.
" Alasan aja... cepat mandi, lalu sarapan ya.."
" Iya kak!". ucapku lalu pergi menuju kamar mandi.
30 menit kemudian~
" Kakak! hari ini sarapan apa?". Tanyaku.
" Roti dan Susu..." Ucap kakak yang sedang menuangkan susu coklat ke gelasku.
" Oh.. begitu". Ucapku lalu memakan Roti yang di berikan kakak.
" Tadi kamu bilang kemarin gak bisa tidur... memangnya gak bisa tidur karena kenapa?".
Tanya kakak.
" Aku kemarin... seperti mendengar suara tangis dari kamar sebelah". ucapku.
__ADS_1
" Kamu juga dengar? kakak kemarin juga mendengarnya... aku kira kamu yang menangis karena sedang menonton video yang kau tunjukan kemarin". Jelas kakak.
" Aku penasaran dengan kamar itu kak! aku ingin coba ke sana!". Ucapku lalu bangkit dari kursiku.
"Jangan Yuna! Mama dan papa melarang kita pergi kesana!" Ucap kakak menghentikanku.
" Justru itu yang membuatku penasaran kak! mengapa mama dan papa melarang kita kesana? pasti ada sesuatu di kamar itu". ucapku meyakinkan kakak.
Kakak pun mulai berpikir, Lalu ia menggenggam tanganku dan mengajakku pergi ke kamar itu untuk memuaskan rasa penasaran kami.
Tepat di depan kamar itu, terasa auranya sangat berbeda, entah kenapa membuat bulu kudukku berdiri. Kakak pun membuka pintu berwarna coklat itu pelan.
" Gelap sekali! Yuna coba kamu hidupkan lampunya".
" Baik kak!" ucapku lalu mencoba menghidupkan lampu, namun sayang lampu itu tak menyala.
" Kakak, aku ambil senter saja ya! kakak tunggu disini dulu!". Ucapku lalu pergi.
Aku pun mencari cari senter di kamarku.
" Ah! ketemu!".
Lalu aku segera pergi menuju kamar tadi, dan tiba tiba terdengar suara teriakan kakak.
"Yuna! Ada sesuatu di atas lemari itu!!" Teriak kakak ketakutan.
Aku pun mengarahkan senter itu ke atas lemari. Dan tidak ada apa apa di sana.
" Kakak... mungkin kakak salah lihat!". ucapku menenangkan kakak.
Kakak pun melihat ke atas lemari untuk memastikan bahwa itu hanya ilusinya saja.
Esok harinya...
" Hoaam! Selamat pagi kak". Ucapku menguap lebar.
" Iya ". Ucap kakak singkat.
"Ada apa dengan Kak Julia? kenapa terlihat pucat sekali?". Gumamku.
__ADS_1
Aku pun terus memerhatikan kakak, dan kakak semakin hari semakin pucat, seperti mayat hidup. Dan juga saat aku bertanya, kakak hanya mengangguk atau menggeleng.
Seperti ada sesuatu yang aneh.
" Kakak! Kakak kenapa sih? Mukanya pucat sekali!". tanyaku.
Dan kakak hanya menggeleng. Aku menjadi sedikit penasaran dengan apa yang terjadi, lalu aku pun pergi menuju kamar kakak untuk memastikan bahwa ada sesuatu yang membuat kakak menjadi bersikap seperti itu.
Sesampainya di kamar kakak, betapa kagetnya aku saat melihat keadaan kamar kakak yang berantakan. Dan juga kakak mencorat coret dinding kamarnya yang bertuliskan " Balas dendam" dan "Mati" dengan cat merah seperti warna darah.
Melihat hal itu, aku pun mulai ketakutan. Tiba tiba terdengar seseorang memanggil namaku dari kamar sebelah. Lalu aku pun pergi ke sana.
Aku pun mencoba membuka itu pelan. Sedikit demi sedikit, suatu sosok terlihat sedang berdiri di kursi, dan tepat saat aku membuka pintu itu lebar lebar, ternyata sosok itu adalah Kak Julia.
" Kyaaa! Kakak?!". Teriakku.
Saat itu, kakak dalam kondisi sedang ternggantung, dan tali melilit lehernya. Aku pun terjatuh karena aku sangat kaget.
" Tidak... TIDAK!!" teriakku keras.
" Apa yang sebenarnya terjadi?! ada apa dengan kamar ini?! mengapa papa dan mama tak pernah memberi tau kami sesuatu tentang kamar ini?!".
" Merekalah yang membunuhku". ucap seseorang di sudut kamar.
" S- siapa?! SIAPA?!". Teriakku ketakutan.
" Aku adalah saudarimu, Nia... Apakah kamu tau? Aku mati karena papa dan mama!".
" Apa?! Tapi papa dan mama bilang Kak Nia meninggal kerena Sakit..".
" Mereka Bohong!! Aku mati karena mereka! mereka selalu memerhatikan kalian! aku tak pernah di perhatikan, bahkan saat aku sedih pun mereka tak meghiraukanku! bahkan saat aku mati, mereka masih bahagia denganmu dan Adik Julia". Ucapnya sambil menangis.
" Dari dulu aku sudah tinggal di kamar ini! kalianlah yang menggangguku!".
" Kak Nia tenangkan dirimu! Aku tau papa dan mama salah, tapi-".
" Maafkan aku adik, kau juga harus ikut denganku.. tenang saja... Ini tidak akan sakit kok, palingan kau hanya merasa sakit sedikit saja saat aku menusukkan pisau ini di jantungmu!". ucapnya sambil membawa sebilah pisau.
Aku terus mundur, hingga tak sengaja terjatuh. Aku sangat ketakutan.
__ADS_1
" SELAMAT TINGGAL! HAHAHA".
#END#