
Langsung saja sore harinya di tempat karaoke
"Siapa dulu yang akan menyanyi?" tanya Shuichi yang mengambil mik.
"Aku!" jawab Novita yang mengangkat tangan.
"Ini!" kata Shuichi yang memberikan mik pada Novita.
"Kau mau menyanyi lagu apa?" tanya Sayuri.
Setelah itu Novita mencari daftar lagu di buku yang berisi daftar lagu.
"Hmm...". Kata Novita yang berpikir.
"Ketemu!" kata Novita yang menemukan judul lagu yang dituju.
Lalu ia memasukkan koin dan memilih lagu yang di maksud dan cahaya di sekitar mulai gelap dan dipenuhi lampu bulat besar LED.
"Itu kan lagu..." kata Sayuri yang melihat di layar benda elektronik seperti televisi.
Dan Novita menyanyikan lagu yang berjudul Lovely.
[Pikiranku menemukan cara]
Thought I found a way
[Pikiranku menemukan jalan keluar] (ditemukan)
Thought I found a way out (found)
[Tapi kau tidak pernah pergi (tidak pernah pergi)]
But you never go away (never go away)
[Jadi kurasa aku harus tinggal sekarang]
So I guess I gotta stay now
[Oh, aku harap suatu hari nanti aku bisa keluar dari sini]
Oh, I hope some day I'll make it out of here
[Bahkan jika itu memakan waktu sepanjang malam atau seratus tahun]
Even if it takes all night or a hundred years
[Butuh tempat untuk bersembunyi, tapi aku tidak bisa menemukannya di dekat sini]
Need a place to hide, but I can't find one near
[Ingin merasa hidup, di luar aku tidak bisa melawan rasa takutku]
Wanna feel alive, outside I can't fight my fear
[Bukankah itu indah, sendirian?]
Isn't it lovely, all alone?
[Hati terbuat dari kaca, pikiranku terbuat dari batu]
Heart made of glass, my mind of stone
[Menc4b1k-c4b1kku, kul1t menjadi tul4ng]
Tear me to pieces, skin to bone
[Halo, selamat datang di rumah]
Hello, welcome home
[Berjalan keluar dari waktu]
Walkin' out of time
[Mencari tempat yang lebih baik (mencari tempat yang lebih baik)]
Lookin' for a better place (lookin' for a better place)
__ADS_1
[Ada sesuatu di pikiranku (pikiran)]
Something's on my mind (mind)
[Selalu ada di ruang kepalaku]
Always in my head space
[Tapi aku tahu suatu hari nanti aku akan berhasil keluar dari sini]
But I know some day I'll make it out of here
[Bahkan jika itu memakan waktu sepanjang malam atau seratus tahun]
Even if it takes all night or a hundred years
[Butuh tempat untuk bersembunyi, tapi aku tidak bisa menemukannya di dekat sini]
Need a place to hide, but I can't find one near
[Ingin merasa hidup, di luar aku tidak bisa melawan rasa takutku]
Wanna feel alive, outside I can't fight my fear
[Bukankah itu indah, sendirian?]
Isn't it lovely, all alone?
[Hati terbuat dari kaca, pikiranku terbuat dari batu]
Heart made of glass, my mind of stone
[Menc4b1k-c4b1kku, kul1t menjadi tul4ng]
Tear me to pieces, skin to bone
[Halo, selamat datang di rumah]
Hello, welcome home
Yeah, ah
Whoa, whoa
[Halo, selamat datang di rumah]
Hello, welcome home
"Lagunya membuatku merinding dengan ruangan yang terasa sepi walau satu ruangan berisi empat orang". Batin Sayuri dengan rasa merinding.
"Kenapa dia malah menyanyikan lagu itu di sini?" batin Shuichi yang merasa merinding juga.
Lalu Novita menoleh dan memberikan mik pada Sayuri.
"Kau berikutnya Sayuri". Kata Novita yang memberikan mik pada Sayuri dengan senyuman menakutkan.
Sayuri pun takut dan sedikit mundur.
"Ada apa?" tanya Novita.
"Aku tidak apa-apa". Kata Sayuri dengan senyuman tapi masih ada rasa takut dan menerima mik tersebut.
"Menyanyi apa ya?" batin Sayuri yang mentari daftar lagu di buku.
"Wah lagu Lemon, ini saja". Batin Sayuri yang menemukan lagu.
Saat di tengah lagu yang Sayuri nyanyikan terdengar suara ribut dari luar.
"Suara ribut apa itu?" kata Shuichi.
Dan mereka berempat mendengar jeritan pengunjung.
"Ada jeritan seseorang! jangan-jangan...😳!" kata Novita yang terkejut.
"Ayo kita keluar dan matikan dulu lagunya!" kata Novita dengan mengernyitkan alis.
__ADS_1
"Yah". Kata Sayuri dan Shuichi.
Lalu mereka keluar dari ruangan sekaligus mengejek situasi di luar dan mereka melewati kerumunan.
Pemandangan mengejutkan pun terlihat di hadapan mereka berempat.
"Itu perampokan!" kata Novita.
"Apa yang harus kita lakukan?" kata Sayuri.
"Novita, cepat panggil polisi!" saran Shuichi.
"Jangan coba-coba untuk memanggil polisi maka aku akan menyandera pegawai di sini!" kata perampok yang menodongkan pisau di depan salah satu pegawai.
"Sial! sepertinya aku harus!" batin Novita yang siap melakukan kuda-kuda dalam karate.
Lalu Akira menahan gerakan Novita.
"Kenapa kau?" kata Novita yang kebingungan.
"Biar aku saja yang menghadapinya!" kata Akira yang siap.
Setalah itu Akira maju dan mendekati perampok.
"Ada apa nak? kau berani ternyata, hmm apa kau mau di sandera?" kata perampok yang tersenyum sinis.
"Tidak, justru sebaliknya!" kata Akira yang membalas senyum seringai.
"A-apa maksudmu?" kata perampok yang kebingungan dan berhenti menodongkan pisau di depan pegawai.
Dan Akira semakin mendekat.
"Jangan mendekat atau aku akan!" kata perampok yang menodongkan pisau di depan Akira.
Lalu Akira melakukan aksinya hingga mendapatkan pisau itu dan balik menodongkan pisau ke arah perampok.
"Menyerahlah!" kata Akira.
Kemudian perampok itu mengangkat tangan dan mengaku kalah.
"Wah anak itu hebat, kira-kira siapa ya namanya?" kata pengunjung lain.
"Benar". Kata pengunjung lain.
"Aku tidak menyangka Akira sehebat itu 😮". Kata Sayuri dengan tangan menutup mulut.
"Andai aku sehebat itu pasti tadi perampoknya akan kukalahkan!" kata Shuichi yang terkagum-kagum.
"Karena Akira sehebat itu, lalu dia belajar dari siapa?" tanya Sayuri.
"Entahlah, mungkin dengan seorang guru yang hebat, benarkan Novita?" tanya Shuichi.
"Yah, aku juga penasaran dengan siapa dia belajar". Kata Novita dengan eskpresi datar.
Lalu Sayuri menoleh ke arah Novita dan merasa bingung dengan ekspresi datar Novita.
"Ada apa Novita?" tanya Sayuri.
"Ah tidak apa-apa 😅". Kata Novita.
"Aku akan ke depan agar pegawai di sini melapor polisi". Kata Novita yang maju.
"Ah iya". Kata Sayuri.
Setalah itu Novita melewati Akira yang tepat di depan perampok.
"Tahan perampok itu dulu dan jangan sampai lepas! aku akan memanggil polisi!" saran Novita.
Beberapa menit kemudian polisi datang menangkap perampok dan membawanya di mobil.
"Terima kasih sudah melawan perampok itu, kalau bukan karenamu pasti kami dalam bahaya dan juga pengunjung lain". Kata salah satu pegawai.
"Itu bukan apa-apa". Kata Akira.
"Aku hanya tidak ingin kaki Novita kotor karena melawan perampok". Batin Akira.
__ADS_1