
Untuk bulan madu kami memutuskan berlibur kesebuah pantai dekat dengan desa. Aion bilang sekarang ia memiliki anak, jadi tidak bisa kalau menikmati bulan madu hanya berdua saja, karena itu aku dibawa Aion kesini.
Tapi...aku merasa seperti manusia tembus pandang diantara pengantin baru, mereka sibuk mengumbar cinta antara satu sama lain, sedangkan aku hanya bisa menontonnya bak sebuah film.
“Ayo sayang, buka mulut mu. Aaaa~.”
“Hup!, enaknya.”
“Benarkah?, ini memang menu andalan sih.”
“Bukan, makanan itu enak karena kamu yang menyuapkan.”
“Kyaaa!, Aion hentikan gombalan maut mu.”
“Hiks!, kenapa orang-orang disekitar kusesad semua.” Itulah kira-kira raungan hatiku ketika melihat interaksi Aion dan Betricania.
Aku tak tahan melihat semua kemesraan, pada akhirnya aku memilih untuk pergi meninggalkan ruang lebih besar bagi mereka berdua.
“Huff~. Menyebalkan!.”
Aku menyenderkan tubuhku ke batang sebuah pohon rindang, letaknya tak jauh dari kafe tempat Aion dan Betricania berada.
Lebih tepatnya kini aku sedang mengistirahatkan jiwa beserta raga, disebuah taman sunyi, tenang, namun cantik.
Tiada sangka jika ditempat itu bukan hanya aku seorang, ada anak kecil, dia mungkin seumuran ku juga berada di taman ini. Awal aku melihatnya ketika ia sedang bersembunyi menuju suatu tempat dalam kawasan taman ini juga.
Aku terus mengawasi dia seperti mata-mata, sampai dia akhirnya berhenti didekat semak belukar, tubuhnya berdarah akibat goresan ketika ingin menyebrang kesebalik semak belukar. Aku sempat bingung kenapa dia begitu ingin melewati semak itu, aku semangkin mendekat kearahnya.
“Miauuu~.”
Eh... aku kembali kaget, mengetahui kalau dia tengah menolong anak kucing kelaparan.
“Crack!.”
Sepertinya keberuntungan tidak berpihak kepadaku.
Sangking kagetnya aku tanpa sadar memijak ranting pohon, yang mengeluarkan suara keras, sampai anak tadi menoleh kearah ku.
“Ahhhhh!.”
“Kyaaa!.”
“Siapa kau!, kenapa kau ikut teriak hah?!.”
Dia membentuk siaga pertahanan, karena dia menganggap ku sebagai orang jagat dan keji.
“Aku teriak karena kamu teriak juga tau!.”
“Aku kaget melihatmu, apa yang mau kau lakukan terhadap ku. Menjual ku?, atau menculik ku?!.”
Imege ku sungguh jatuh dimata anak ini, entah kenapa aku kesal dituduh dia dengan tuduhan berbagai macam rupa.
“Heh!, dengar ya. Aku itu gak niat untuk nyulik kamu, gak guna juga. Apalagi sampai menjual mu, memangnya mau ku jual ke siapa ?!.”
Aku yakin anak tadi mulai percaya kepadaku, tapi rasa siaga didalam dirinya membuat ia jadi mengintimidasi ku, dari ujung kepala hingga ujung kaki.
__ADS_1
“Terserah mau percaya atau enggak. Nama ku Elly.” Mengulurkan tangan.
Karena aku rasa semua penjelasan ini percuma, aku mencoba cara pendekatan, siapa tau setelah aku memperkenalkan diri, memberitahu siapa orang tuaku, dia akan mempercayai ku kemudian.
Itu layak dicoba.
“Apa?.” Dia kembali mengintimidasi tangan suci ku.
“Ini namanya perkenalan diri tau.” Aku mulai kesal dibuatnya.
“Ohh...aku Elios.”
Akhirnya dia menyambut tanganku, meski wajah gengsi terlihat begitu jelas.
Nama dia ternyata cukup bagus yaitu Elios, salah satu dewa yang pernah aku dengar dari cerita legenda milik Betricania.
“Hai Elios salam kenal, apa aku masih mencurigakan bagimu ?.”
“Hmmm... sepertinya tidak.” Yakin tak yakin.
“Syukurlah.” Mencoba untuk tidak memperdulikan.
“Tapi kenapa kamu mengikuti ku tadi ?.”
“Hmmm...aku juga mencurigai mu sebagai penjahat tadi.” Berbohong demi kebaikan itu tidak apa.
“Kamu menyukai kucing?.” Aku sekarang berjongkok menyamakan tinggi ku dengannya.
“Iya, mereka sangat lucu, tapi kasihan karena kelaparan.”
“Iya.”
Elios bagiku seperti anak baik, rasa yang ia miliki sangat peka terhadap lingkungan sekitar. Setelah aku lihat lebih dekat mata Elios ini mirip dengan batu Ruby dari istana Berdine, rambutnya juga mirip denganku, hitam pekat seperti mawar hitam.
Tidak disangka kami adalah dua orang yang menyukai banyak kesamaan, bercerita tentang legenda kuno banyak menghabiskan waktu kami bersama.
Elios berkata, didesa ini ternyata ada legenda Dewi Diana. Legenda menceritakan Diana adalah Dewi yang dikutuk menjadi arwah pemasaran, setiap malam dirinya berkeliaran mencari pria untuk diajak menemani kesendiriannya dalam hutan. Legenda mengatakan bahwa Diana berparas cantik rupawan, hingga pria bisa sangat mudah terpikat olehnya. Karena itu para penduduk desa akan berkurung dalam rumahnya masing-masing ketika bulan purnama muncul.
Jujur saja cerita legenda dari Elios sangat menarik untuk ku, tapi sayang ketika kami asik bercerita orang tua Elios dan Betricania bersamaan memanggil nama kami.
“Elios!.”
“Elly!.”
Cerita kami terhenti sampai disitu, aku pulang berlari menuju Betricania, begitupula dengan Elios yang berlari menuju orang tuanya.
Tak kusangka liburan kali ini akan membawa teman baru, aku begitu senang hingga tidak bisa berhenti tersenyum.
“Wahhh Elly habis dari mana nih, wajahnya ceria sekali.” Aion.
“Aku dapat teman baru.”
Masih banyak yang ingin aku ceritakan kepada Elios, aku jadi ingin mengenalnya lebih dekat lagi, kenapa dia bisa tertarik dengan legenda, Kenapa matanya bisa bewarna biru, dan kenapa dia bisa langsung dekat dengan ku. Aku ingin mengetahui itu semua darinya.
.
__ADS_1
.
.
Beralih dari cerita ku dan Elios, kini kami sedang berjalan menuju pantai yang letaknya tak jauh dari kafe tadi.
Hembusan angin semilir sudah mulai terasa menandakan kami akan segera sampai.
“Wuahhh!.”
Sorak gembira akan pemandangan dihadapanku tidak bisa tertahankan, air biru jernih bak kaca tembus pandang yang menyuguhkan keindahan batu karang membuatmu ingin berenang menelusuri nya, pohon kelapa besar sebagai tempat berteduh juga bisa dinikmati oleh para pengunjung, belum lagi cahaya mentari hangat berpadu dengan semilir angin laut membuatmu akan tertidur dalam hitungan detik.
“Hufff~.” Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk merasakan betapa segarnya siklus udara pada pantai ini.
Aion tertawa bahagia melihat wajah gembira ku, begitu pula dengan Betricania, melebihkan aku, dia sudah menyemplung kedalam air.
“Betricania tunggu aku!.”
“Elly kelamaan sih!.”
Aku berlari kearahnya, bersentuhan langsung dengan air bersuhu hangat membuat ku tertawa geli.
“Hup.” Kulihat kondisi dibawah sini, begitu banyak satwa laut yang indah mempesona.
Aku bermain bersama Betricania dan Aion, kami membuat air mancur air dengan menepuk air sekuat mungkin, tubuh kami pun hal asil jadi basah semua.
Setelah merasa puas aku naik ke daratan untuk bermain pasir putih bersama Aion, dia bilang Aion itu pandai membuat kastil, jadi aku percaya hanya untuk kali ini.
“Bruk!.”
Seperti biasa dia itu hanya besar mulut, kastil yang ia bangun hancur ketika ingin menambahkan pasir tambahan dibagian atas.
“Kamu bakatnya apa sih?.”
“Maaf Elly.” Sedih
“Hay sudah, gimana kalau kita naik Kuda saja?.”
“Yap ayo, aku kesal main pasir, kastilku hancur dibuat Aion.”
Kami meninggalkan Aion sendirian.
“Hei tunggu aku.”
Sambil berlari ia menyusul kami dengan gaya seorang monster, aku refleks menanggapi gayanya itu, aku berlari seakan monster dibelakang ku akan menangkap ku.
Betricania yang aku tinggal hanya bisa tertawa melihat tingkah laku aku dan Aion.
“Huarrr!, Elly aku tangkap!.”
“Kyaaa!, Aion lepas, hahaha.”
Pada akhirnya dia bisa menangkap ku, setelah berhasil menangkap ku, Aion menaikkan ku keatas pundaknya. Aku merasa sangat tinggi bahkan bisa melihat pantai lebih luas dari tadi, aku terpana karena itu.
Sambil menikmati matahari terbenam, aku, Aion serta Betricania menaiki kuda, berjalan-jalan mengitari pantai. Sangat menyenangkan, aku naik kuda bersama Aion, kadang kami ngebut meninggalkan Betricania dibelakang.
__ADS_1