
"Elly!."
"Elly!."
"Elly kamu dimana ?."
"Tuk." Dia tanpa sada menyenggol tubuhku.
"Ehh?. Elly, ternyata disini kamu, kenapa kamu dibawah meja?."
"Diam, aku sedang tidak mau bicara."
Aku merasa sekarang perasaan ini jadi konyol, seharusnya aku biarkan saja kan, si Betricania ini mau bagaimana, lagian ini kan hidup dia, cinta dia, dan kisah dia, dia tidak wajib menceritakannya kepadaku. Tapi, tapi perasaan ini tidak bisa dikendalikan.
"Aku kesal !."
"Dyar !."
"Kyaaa !."
Sangking kesalnya aku tanpa sadar mengeluarkan bola mana dihalaman belakang rumah.
"Astaga apa itu tadi ?!."
Sedangkan si manusia jantan juga takut-ikutan berteriak.
Sudahlah aku sedang dilema, karena mana tadi si Betricania jadi memarahiku habis-habisan, ia mengomel menghabiskan waktu 39menit telingaku hampir tidak bisa mendengar saat itu, tapi Untungnya Tuhan masih memberikan keselamatan kepada telinga ini.
"Kamu faham kan Elly ?!."
"Iya aku faham!." Aku hanya merespon dengan gumaman kecil.
Setelah lima menit berselang, manusia jantan masuk kerumah sambil membawa sayuran.
Betricania yang melihatnya langsung menghampiri manusia jantan itu, berbagai dialog mulai dimainkan oleh mereka berdua, saat masak pun dialog tak henti mereka ucapkan.
Aku melihat wajah Betricania begitu bagia ketika berdialog serta memasak dengan manusia jantan itu. Dari kejauhan aku hanya terus memperhatikan.
Sampai sudah tiba waktunya masakan mereka selesai, si manusi jantan membawa semangkuk makanan, hmmmm...aku tak tau namanya tapi masakan itu ia letakkan pada meja diatas ku.
"Tuk." Suara piring serta gelas.
"Ohh...siapa ini ?."
Manusia jantan itu tiba-tiba menunduk hingga tubuhnya juga ikut masuk kebawah meja.
Tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki merinding, saat melihat ia mulai mendekat.
"Kyaaa !, Pergi kau manusia jantan !."
"Puk !."
Aku memukul wajahnya seketika, lalu langsung berlari memeluk Betricania, serta bersembunyi dibelakang nya.
"Yaampun, kenapa kamu memukul ku, aku kan tidak berniat menyakitimu."
"Tidak-tidak. Aku tidak suka dengan mu, jadi jangan mendekati ku, apalagi menyentuh ku !."
"Ohh... begitukah ?."
"Hahh".
Apa-apaan ini, aku melihat wajah si manusia jantan itu berubah menjadi sedih, tidak mungkin pukulan tanganku sekecil ini terasa sakit baginya. Akhhh masa bodoh deh pokoknya.
__ADS_1
"Hph !." Aku membuang wajah dari manusia jantan. Tapi Betricania malah berjongkok hingga tingginya selaras dengan ku sekarang.
"Tidak boleh begitu Elly, kita sudah diberi tempat tinggal olehnya, jadi kamu harus menghormati dia."
"Tempat tinggal ?." Tanya ku didalam hati. "Aku tidak pernah mengharapkan tempat tinggal dari manusia jantan ini." Sambung ku lagi dengan hati mendongkol.
"Elly ayo lihat wajahku, kamu jangan begitu dong." Betricania kini sudah mulai mengeluarkan wajah memelas nya dihadapan ku.
"Ck !." Karena rasa tak tahan melihat wajah Betricania aku terpaksa meminta maaf kepada manusia jantan.
"Maaf." Aku mengatakannya dari kejauhan, tanpa memandang sedikit pun.
"Iya tidak apa, aku tau kok anak kecil mu pasti takut dengan orang asing."
Aku kembali merinding saat melihat manusia jantan tersenyum kepadaku. Rasa jijik, marah, emosi secara menyatu terasa dalam diriku.
Aku merasa tidak akan betah tinggal di rumah bersama si manusia jantan itu.
.
.
.
Mau bagaimana pun aku perlu makan, setelah semua berakhir, kami bertiga makan di meja tempatku sembunyi tadi. Ternyata manusia jantan itu membuat sup sayur, benar hanya sayur saja didalamnya, tidak ada campuran lain, hingga aku merasa diri ini bagaikan kelinci atau lembu.
"Elly kenapa tidak makan ?."
"Kamu berharap aku memakan ini ?." Memandang makanan dengan sinis.
"Elly kamu harus makan, syukuri saja yang telah diberikan oleh alam kepada kita."
"Mau bagaimana juga aku tidak akan makan !."
"Sudahlah Betric."
Manusia jantan itu meletakkan tangannya dipundak Betricania sembarangan.
"Heh !." Tatapan mata sinis ku berhasil membuat ia melepaskan tangan kotor dari bahu Betricania.
"Maaf aku menyentuh ibumu sembarangan, nama mu Elly ya ?."
"Basa basi." Aku tidak menghiraukan ucapannya.
"Hmmm Elly, aku akan membuatkan mu telur apa kamu mau ?."
Aku masih menanggapi dia dengan diam.
"Elly jawab pertanyaannya."
"Terserah."
"Oh. Ok-oke."
Suasana makan bersama perlahan mulai hening dan dingin.
Hari yang kami jalani berlangsung secara berulang, tak ada perubahan besar terjadi dalam kehidupan kami. Manusia jantan itu bekerja serabutan agar dapat menghasilkan uang, Betricania mulai belajar bercocok tanam, serta menjaga kebun belakang, sedangkan aku memiliki pekerjaan tidur, makan, lalu terkadang bermain, sungguh indah hidupku bukan ?.
Tapi aku sama sekali tidak pernah merasa senang dengan kehidupan seperti ini, karena tempat tinggal ku haru bersama manusia jantan.
Semangkin hari manusia jantan itu juga semangkin tidak tau sopansantun, ia seakan terus menerobos masuk sampai membuat Diding di sekeliling hati ciptaan ku runtuh.
"Aku membawakan ini untuk mu Elly."
__ADS_1
"Aku membelikan ini, apakah kamu suka ?."
"Ini sangat cocok untuk mu jadi aku membelinya."
Beberapa kali ia selalu pulang dengan barang konyol untuk diberikan kepada ku.
"Elly aku membelikan ini, kamu suka ?."
"Elly lihat dia imut kan ?."
"Elly kamu suka tidak ?."
Lalu beberapa kali itu berubah menjadi setiap hari.
"Elly !, Barang ini adalah sutra terbaik dikota, aku membelinya hanya untuk mu."
Dan beberapa kali telah berubah menjadi keseringan.
Aku hampir gila dengan barang-barang tidak berguna dari dia, ingin rasanya aku membuang semua barang ini serta kembali mengosongkan kamar seperti semestinya.
Tapi terakhir kali aku melakukan itu, Betricania marah besar hingga aku jatuh sakit, selama satu hari satu malam. Jadi cukup hanya dengan alasan itu saja, semua barang menggunung ini dapat aku simpan.
"Sekarang si gila itu akan membawa apa lagi ?." Aku menggerutu dengan kening mengkerut memandang kearah boneka Teddy bear pink disamping bantal.
"Aku berharap kali ini setidaknya ia membawa barang berguna."
"Elly Aion sudah pulang."
"Huff~ aku datang."
Aion Agler, beberapa hari lalu aku mengetahui nama lengkap si manusia jantan. Nama dewa Yunani kuno juga tersemat didalam namanya. Sejak itu aku penasaran, atas apa alasan ia mendapatkan nama sang dewa, karena nama dewa hanya bisa disematkan kepada orang spesial.
"Sudahlah lupakan saja..."
Aku mulai melihat kearah bawah, dari anak tangga aku dapat melihat beberapa kantung plastik ditangan manusia jantan. Kemudian seperti biasa saat aku sudah berada dihadapannya pasti ada satu plastik untuk ku.
"Apa ini ?."
"Buka saja."
Aku pun mulai membuka plastik kresek ditangan, lalu saat melihat isi nya aku menjadi terkejut seketika.
"Susu strawberry?."
"Iya, aku dengar dari Betric kamu menyukai susu, jadi aku membelikan ini untuk mu."
Seperti mejik, hatiku saat itu terasa sangat hangat, aku juga tanpa sadar membuat ekspresi senang didepan manusia jantan. Tapi ini wajar sihh, karena aku sudah sangat lama tidak minum susu.
"Kamu suka ?."
Aku menjawabnya dengan anggukan kecil.
"Syukurlah kami suka." Kemudian senyum yang sudah menjadi kebiasaan kini kembali terukir diwajahnya.
...----------------...
...T O K O H...
Nama: Aion Agler
Karakter: Baik, suka anak kecil, lemah lembut, penyabar.
__ADS_1
Jabatan: Hanya manusia biasa