
pagi ini kami akan pulang kerumah, sekarang kami sedang mengemas barang ke tas, lalu turun ke bawah untuk sarapan.
Selesai sarapan kereta kuda telah menanti kami didepan penginapan, seperti biasa aku duduk disamping Betricania, sambil melihat-lihat pemandangan dari luar jendela.
"Elly mau Boneka tidak."
Dari kejauhan aku dapat melihat toko mainan, aku yakin karena itu Aion menanyakannya kepada ku.
"Hmmmm?..."
Aku tidak langsung menanggapi pertanyaan Aion, aku harus berfikir sejenak. Aku sebenarnya tidak butuh mainan ditoko itu, tapi sebagai jiwa anak kecil aku menginginkan Boneka. huhhh...aku dilema lagi.
"Elly kenapa ?, kalau Elly menginginkannya tidak apa."
"Sabarlah, aku sedang berfikir Aion."
Selagi aku masih berfikir, kereta kuda berhenti tiba-tiba. Aku melihat kearah luar ternyata kereta kuda berhenti didepan toko mainan. Aku melihat wajah Aion, dia tertawa seakan mengatakan bahwa Aion tau semua isi kepalaku.
"Ayo kita lihat Boneka milik Elly."
Aion mengangkat tubuhku dari kursi, hingga keluar kereta kuda aku masih berada didalam gendongannya, Betricania tentu saja dia ikut, bahkan dia sudah memiliki kriteria untuk boneka yang akan dibeli nanti.
Kami bertiga akhirnya masuk kedalam toko mainan, banyak sekali mainan mengagumkan yang aku lihat disana. Aku langsung berfikir pasti toko ini untung besar, karena akan banyak anak-anak kesini untuk membeli mainan keren milik mereka.
"Nah ayo pilih mau yang mana."
Aion menggendong ku kearah rak Boneka, memang semua rak terisi penuh dengan berbagai macam boneka. Dia berjalan perlahan menyusuri setiap rak agar aku dapat melihat boneka satu persatu.
Sepanjang perjalanan ada banyak boneka cantik dan menggemaskan, tapi aku bekum ingin memilikinya.
"Hiii!, apa itu." Disalah satu rak aku menjumpai boneka dengan perawakan seram, bahkan aku sampai merinding melihatnya.
Aion bilang kepadaku boneka itu adalah boneka manekin, ada beberapa orang yang mencari boneka itu untuk berbagai alasan.
"Sebenarnya kenapa toko ini menjulnya, kan bisa membuat anak-anak jadi takut."
Perjalanan kami berlanjut, selama aku melihat boneka, Betricania sudah memilih boneka pilihannya, boneka berbentuk beruang dengan mata hitam dan bulu berwarna kuning, dia bilang boneka ini mengingatkan nya kepada kami berdua, karena mata hitam boneka itu seperti aku, sedangkan buku kuningnya seperti rambut Aion sekarang.
Selagi Aion berbincang dengan Betricania , perhatian ku mulai tertuju kepada boneka disamping, tanganku meraihnya lalu merasakan betapa empuknya boneka itu.
Hatiku jadi bergetar menginginkan dia, boneka kelinci lucu bewarna biru laut, memiliki mata safir bewarna kuning, dan ada pita senada dengan warnanya, ditambah ukurannya hampir sebesar aku."
"Aku mau ini."
Tanpa sadar aku mengucapkan kalimat itu diluar kendali, Aion pun langsung mengambil boneka yang sedang aku pegang saat ini.
"Yasudah ayo kita bayar."
Pipiku terasa panas ketika menggendong boneka tadi menuju kasir, aku tidak pernah merasakan perasaan begini selama ada dikerajaan Berdine. Jantungku berdegup kencang hingga rasanya aku ingin menari, apakah ini yang dinamakan sangat senang?.
"Kami akan membeli ini."
"Baiklah tuan, semuanya jadi XXX..."
"Ini uangnya."
"Terimakasih tuan, silahkan datang kembali."
Kami kembali naik kereta kuda, boneka kelinci yang aku beri nama Kiki tidak pernah lepas dari genggaman ku, sampai tidur pun aku memeluk Kiki dengan erat.
Betricania bilang, aku tidur sambil duduk, jadi Aion menggendongku, meletakkan kepalaku diatas kekinya, aku tertidur pulas sampai satu jam lamanya.
.
.
__ADS_1
.
Untuk mencapai desa kami harus melewati hutan terlebih dahulu, hutan gelap, panjang, nan berbahaya, ketika pertama kali melihatnya aku takut, tidak terbayangkan bahwa sekarang aku akan masuk lagi kedalam hutan itu.
"Gluk!."
"Elly apa kamu takut?."
"Tidak!."
"Benarkah?, kalau kamu takut aku bisa memelukmu."
"Diam Aion aku tidak takut."
"Oky..."
Mungkin karena hari tambah malam, suasana hutan semangkin mencekam, suara aneh bisa ku dengar dari semua penjuru.
Aku semangkin takut, terakhir kali aku memandang keluar jendela, ada burung yang dapat memutarkan kepadanya 180°.
"Kamu takut kan."
"Tidak Betricania." Tegang+wajah pucat
"Masak?."
"Iya, kamu berisik aku mau tidur."
Belum lagi aku merebahkan badan kekaki Aion.
"Brakkk!."
Sesuatu yang patah langsung terdengar sangat jelas.
Dalam pundak Aion aku mendengar sayup-sayup suara ramai diluar.
"Ai~aion, apa itu "
"Tenang Elly itu bukan masalah."
Aku tau kalau diluar sana ada masalah besar, Aion menjawab pertanyaan ku dengan ragu dan sedikit terbata. Betricania juga, pertahanan miliknya sudah keluar sejak lima menit yang lalu.
Aku semangkin cemas, perasaan ku tidak enak...
"Agkhhhh!." Suara teriakan manusia terdengar.
"Aionn." Suaraku sudah parau.
"Tenag Elly, jangan berisik ya."
"Aion apa kamu yakin ini tidak apa?."
Telingaku ditutup dengan tangan besar Aion, tidak ada yang bisa aku dengar dari pembicaraan mereka, kepalaku juga dipaksa Aion untuk tetap terpendam didalam dada bidangnya.
Setelah itu aku tiba-tiba ditinggalkan Aion bersama Betricania.
"Aion kau mau kemana?."
Aion tidak menjawab, dia pergi, mengunci pintu kereta kuda dari luar. Setelahnya Betricania membaluti ku dengan mana pelindung.
Hati kami berdua tidak tenang, walau sudah saling berpelukan, ada perasaan ganjil didalam sini.
"Betricania, kenapa banyak orang kesakitan?."
"Dia sedang dilawan Aion Elly, supaya kita aman pulang nanti."
__ADS_1
"Aion...apa dia tidak butuh bantuan?."
"Tidak, Aion bilang dia bisa mengurusnya, Elly tenag saja ya."
Kaki ini sedari tadi sudah ingin melangkah keluar, guna membantu Aion mengalahkan orang jahat. Tapi Betricania selalu menahanku.
Waktu terasa berjalan lambat untuk ku, Aion tak kunjung masuk kedalam kereta kuda.
"Brak!." Pintu kereta kuda kami jebol.
Seorang manusia jantan berperawakan ganas mencengkram tangan Betricania dengan amat kuat, juga mendorongku dengan hebat hingga terjatuh dari kereta kuda.
"Kyaaa!, lepaskan *****ek."
"Hahaha!, ayo kemari cantik."
"Cih!, jangan mimpi kau!."
"Crack!."
Mana pedang terlihat menembus dada manusia jantan, dia terjatuh tepat disamping ku, darah begitu banyak keluar dari tubuhnya. Baik dari mulut, hidung, maupun jantung nya, kini sudah bagaikan kran darah.
Kulihat wajah Betricania ketika turun dari kereta kuda, dia terlihat kaget serta terpaku. Aku jadi penasaran, aku membalikkan tubuhku kearah Betricania memandang.
"Hah!."
Aroma amis baru tercium oleh ku, lautan darah serta kaum para manusia tersuguh dihadapan ku. Aku tidak bisa berteriak atau menangis sangking syoknya. Ditambah ada beberapa ras manusia mati dalam keadaan tubuh terpotong, yang paling mengerikan, ketika kepalanya terpenggal dan tubuhnya terbelah menjadi dua.
Aku langsung mencari dimana Aion berada, karena aku takut Aion bernasib sama seperti mereka.
"Betricania dibelakang mu."
"Trang!."
Belum lagi aku menemukan Aion, manusia jantan jahat kembali menyerang.
"Kalian ternyata lebih gila dari dugaan ku. Bukan salah ku ya jika kalian mati."
Aku menatap kaget kearah Betricania, mana pedang sudah ngambang berserakan dibelakangnya, aku tau mana pedang itu akan selalu mengejar targetnya sampai mati, semoga saja Betricania tudak berniat begitu.
"Cih!. WANITA..."
"Crakkk!!."
"Crack!."
"ARGHHHHHH!."
"CRRRAKKK!."
"ARGHHHH!, ARGGG!."
Kecemasan ku akhirnya benar, Betricania membunuh 20 ras manusia dalam waktu bersamaan. Aku tak sanggup melihatnya, disebalik tangan kecil ini aku hanya mendengar teriakkan kesakitan meregang nyawa, serta teriakan Aion yang coba menghentikan jiwa sikopat Betricania.
Setelah ras manusia mati...
"Uhukk!, Bet...ric."
"Aion?."
"Lar-i."
"Akhhhhh!, Aion, apa yang kau lakukan kepada suamiku manusia jantan?."
Seharusnya kami tidak liburan, atau membeli boneka milikku Aion.
__ADS_1