Spirit Of Berdine

Spirit Of Berdine
Chapter 14: Go home


__ADS_3

"Aion?, kamu benar-benar Aion?."


"Lalu siapa lagi kalau bukan Aion."


Impossible kalau dia terlahir lagi ke dunia untuk kesekian kalinya. Apakah di dunia manusia, seseorang memang bisa bereinkarnasi berkali-kali?


"Bagaimana bisa kamu disini? lalu ingatan mu, kau benar mengingat aku?"


Aion tertawa. "Hahaha, entahlah Elly. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku hidup kembali sambil membawa ingatan ini. Apakah tidak bisa kita anggap hidupnya aku lagi sebagai berkat tuhan?"


Mulutku terkunci, apa yang dikatakan Aion aku rasa benar, kenapa harus pusing dengan alasan hidupnya Aion kembali, itu sudah hak peto dari tuhan. Seharusnya aku bersyukur karena mulai saat ini Betric sudah tidak perlu bermenung sepanjang malam hanya untuk memikirkan Aion.


"Kenapa kamu diam, kamu tidak bahagia aku pulang?." Aion mengetuk masuk kedalam lamunanku.


"Tidak... hanya saja aku merasa..." Tanpa sadar ada tetesan air kecil yang jatuh dari mataku, tapi dari awalnya setetes sekarang mengapa berubah menjadi aliran deras? Jantungku berdebar kencang, bahkan lebih kencang daripada debaran ketikan melihat Betric meraung-raung.


Mungkinkah ini yang dikatakan sedih? bisa jadi air ini adalah benda yang disebut dengan air mata, lalu debaran dada bisa saja adalah sinyal kesedihan, tapi kenapa aku merasa sedih? aku sekarang merasa sangat senang karena Aion pulang, terus apa alasan air mata mengalir tanpa henti?


Dikala aku bingung sendiri, Aion memelukku.


"Gadis kecil-mungil, selalu tertidur saat aku gendong ke kafe cantik, selalu bisa terbujuk dengan susu strawberry kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa, tapi gadis kecil ku ini belum faham dengan perasaannya sendiri sungguh sangat malang."


"Apa yang kau katakan dasar bodoh." Memukul dada Aion.


"Dasar. Elly dengarkan aku, kamu menangis bukan hanya karena sedih saja, ada dua penyebab seseorang menjadi sedih. Pertama karena ia benar benar merasa sedih, dan kedua karena ia merasa sangat-sangat bahagia. Jadi saat ini Elly sedang menangis karena merasa bahagia."


"Apakah tangis bahagia itu buruk?."


"Tentu saja tidak Elly, tangis bahagia itu baik."


"Hiks, kalau begitu aku menyukainya."


Drama pun berhenti sampai disitu. Aku memutuskan untuk pulang walau dagangan ku belum habis.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan aku memperhatikan wajah Aion, banyak yang berubah dari dirinya, tapi tetap ada kesamaan dengan Aion yang dulu. Aku jadi bernostalgia dengan kenangan lama, pandangan wanita yang tertarik akan Aion juga tetap sama, padahal si Aion ini sangat jelek.


"Apa sebenarnya standar tampan bagi mereka?. Kalau calon ayahku yang tak jadi turun kesini mereka pasti pingsan."


.


.


.


Jalan setapak pada akhirnya membawaku pulang kerumah, terasa agak aneh karena aku selalu saja pulang sendirian tapi sekarang ada Aion di belakang ku, reaksi Betric juga membuat ku semangkin berdebar.


"Duh! ini tuh rasanya seperti naik rollercoaster. Ada yang menggelitik dari dalam perutku."


"Aku pulang Betric!" Aku membuka pintu rumah dengan perlahan, soalnya engsel pintu sudah lepas satu.


Kulihat tidak ada pertanda Betric berada diruang tamu, aku putuskan untuk mencarinya dikamar sesuai insting. Tentu aku berjalan bersama Aion, ternyata Betric sedang rebahan diatas kasur seperti tanpa beban hidup, wajar kalau dia tidak ada di ruang tamu tadi.


"Betric."


"Belum, ini cuman arwahku saja, ragaku masih di pasar."


"Kamu kenapa sih, baru pulang langsung jutek."


"Yaampun kalau aku sudah disini artinya aku sudah pulang Betric."


"Tumben cepat pulangnya."


"Yah karena aku membawa hadiah." Aku berjalan menuju lemari untuk menaruh tas ku.


"Eh, Hadian apa?" Tanya dia, yang disambut langsung oleh suara Aion.


"Seorang manusia jantan yang kau tunggu setiap hari."

__ADS_1


Betric langsung memutar kepalanya kearah Aion, matanya membulat serta tubuhnya bergetar, dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya saat itu.


"Pasti kamu halusinasi lagi kan?."


"Tidak." Aion mendekat kearah Betric.


"Lihatlah apakah aku seperti ilusi?." Lalu semangkin mendekat hingga wajah mereka kini hanya berjarak satu inci.


"Jika mau, kau bisa merabaku." Betric seakan mendengar perintah dari kalimat Aion tadi, tanpa sadar Betric menyentuh wajah Aion dengan jari telunjuknya.


Betapa kagetnya Betric saat menyadari bahwa manusia jantan di hadapannya sekarang adalah Aion. Aku melihat tubuh Betric yang mematung, matanya yang membulat seakan ingin keluar, tak lupa mulut dia yang tengah ternganga dengan lebar. Untung saja tidak ada lalat yang tengah lewat didepan mulutnya.


Tidak mungkin bukan? jika mereka tidak membuat drama pertangisan setelah ribuan tahun tidak bertemu. Jadi yah... sekarang merekapun sedang membuatnya, jujur saja aku langsung merasa seperti nyamuk, manusia tembus pandang, serpihan pasir, atau sejenis dengan istilah itulah pokoknya.


"Hiks...Aion... hiks."


Melihat Betric memeluk Aion sambil menangis, sebenarnya aku cukup lega, karena aku tahu tangisan itu bukanlah kesedihan namun kebahagiaan. Akhirnya spirit yang menciptakan aku tidak perlu lagi menunggu orang yang sudah mati hidup kembali, kini surat yang sudah menggunung pun tidak akan bertambah, dan rumahku bisa lebih lebar tanpa adanya gundukan surat.


"Selamat datang Aion, kau tidak tahu berapa tahun aku menunggu mu kembali."


"Aku sudah bilang kan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu walau aku mati sekalipun."


"Aku bersyukur kamu terlahir dengan ingatan yang sama, walau ragamu berbeda. Karena dengan demikian kau bisa kembali kedekapan ku."


"Walau ingatan ini hilang, sedangkan raga ini berubah. Aku pasti akan selalu kembali ke dekapanmu."


"Terimakasih Aion, aku sangat mencintaimu."


"Aku juga, meski aku mengalami seribu kali reinkarnasi. Aku akan tetap mencintaimu, sepenuh jiwa dan raga ku." Saling berpelukan lagi.


"Oh ayolah, yang benar saja. Buana ini bukan tempat tinggal kalian berdua saja, ada human lain di buana ini, salah satu diantara human tersebut juga jomblo, jadi tolong jangan membuat jiwa jomblo ku ini meronta-ronta." Ucapku di dalam hati.


Aku keluar dari kamar sambil memutar bola mata dengan malas. Sesaat aku merasa terlupakan oleh mereka, perut sudah lapar, trakea kini tandus, usus mengecil, tapi tidak ada apapun yang dimasak oleh si Betricania itu.

__ADS_1


"Hahhhh..."


Aku menghembuskan CO2 sebanyak mungkin, memang tidak ada yang berubah dari rumah ini, aku tetap saja kelaparan. Sedihnya nasibku.


__ADS_2