
"Betric aku pergi dulu ya."
"Oke, hati-hati dijalan Aion."
Tidak tau kapan permulaannya pandangan Betricania mulai berubah kepada manusia jantan itu.
Pandangan berawal dari kasihan, serta pertemanan. Kini berubah menjadi kasih sayang, serta cinta.
"Nyonya."
"Hmmm?."
"Apa anda menyukainya ?."
"Bagaimana ya. Dia terlihat sangat menggemaskan."
Aku memang sudah mengetahui sejak awal Betricania tidak menganggap manusia jantan itu hanya sebagai orang yang ditolong.
Tapi sebenarnya apalah itu cinta ?, mengorbankan semua raga, serta harta hanya kepada orang yang tidak bisa dipastikan setia. Bukankah lebih baik tidak saling mencintai ?, Cinta itu pada akhirnya akan menyengsarakan jika hal diberi lebih banyak dari pada yang diterima. Pada akhirnya pula cinta akan menyebabkan sakit hati, tangisan, putus asa, dan mungkin bisa membuat gila.
Tapi ternyata semua itu tak dapat diatur dengan kata-kata, perasaan, bahkan sihir sekalipun.
"Jadi karena itu nyonya menyukai dia ?."
"Hmm... mungkin, huf~Elly yang aku rasakan ini tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, kamu akan mengerti jika sudah merasakannya suatu saat nanti."
"Tapi dia tidak cocok dengan nyonya, dia sangat kurus seperti tiang listrik."
"Tapi dia tampan."
"Dia miskin!."
"Terus apa bedanya dengan kita sekarang?!."
"Ck!."
Perdebatan ku berakhir percuma, mata Betricania telah tertutup dengan bayangan si manusia jantan bodoh.
Sekarang bagaimana aku harus menyampaikan pesan dari nenek?.
"Kepala ku sakit."
Terlalu berlebihan jika aku mengatakannya, tapi mau bagaimana aku menang sedang frustasi saat ini. Memikirkan manusia jantan itu menjadi ayahku saja, sudah membuatku stres setengah mati. Apalagi dengan beban pesan nenek, rasanya aku ingin berubah menjadi ras kucing lagi.
"Elly ada yang kamu pikirkan?."
"Ya ada, yang kupikirkan dari tadi itu kau, huh dasar."
Aku pengen sih, mengatakan kalimat diatas, tapi gak mungkin juga aku mengatakan hal kasar kepada seseorang yang secara biologis adalah ibuku.
"Nenek bisakah aku mendapat bantuan mu." Berdoa sambil menjatuhkan air mata kedalam.
"Tidak ada yang aku pikirkan."
"Tapi kenapa kamu diam terus."
__ADS_1
"Itu karena aku sedang meratapi nasib."
"Ehhhh ?!."
Lihat, lihat itu, wajah polos yang sekarang berubah menjadi wajah kaget.
"Kenapa reaksi nyonya begitu ?."
"Elly bukankah sudah menyenangkan seperti ini ?. Kita mendapatkan rumah gratis, makan juga gratis, apalagi kamu." Dia meletakkan telunjuknya ke keningku.
"Kenapa aku ?."
"Kamu kan mendapatkan cinta lebih dari Aion."
Tubuhku merinding, spirit yang tidak pernah tersenyum sekarang malah tersenyum bahagia dihadapan ku. Apakah ini yang dikatakan kegilaan cinta ?.
"Jangan tersenyum seperti itu !." Teriakku, dengan tubuh menjauh dari Betricania.
"Hihihi."
"Kyaaaaa!, Hilangkan tampang menakutkan itu cepat!."
Entah sejak kapan Betricania mulai berubah, sikap dinginnya secara bertahap sudah musnah seratus persen, bahkan sikap jail kini sudah merundungi spirit pencipta ku.
"Sebenarnya apa yang sudah dilakukan manusia jantan bodoh kepada Betricania?!!!."
Diwaktu bertepatan, manusia jantan pulang kerumah, menyaksikan perdebatan antar aku dan Betricania.
"Wahhh, kenapa ini ?, Sepertinya seru sekali."
"Kamu sudah pulang?, Kenapa cepat sekali."
"Duke menyukai rancangan taman yang aku buat, jadi aku mendapatkan bonus serta liburan, uang ku sekarang banyak Betric."
"Wahhh syukurlah, aku ikut bahagia".
"Jadi karena mendapat bonus aku berencana mengajak kalian ke sebuah festival."
"Festival yang itu ?."
"Tentu saja."
"Kyaa !, Aku sangat senang."
Betricania kelihatan sangat senang ketika mendengar akan pergi kesebuah festival. Bahkan tawanya tidak pernah kulihat dari Betricania istana, kebenaran yang sudah aku dorong sekuat tenaga, kini perlahan mulai menyelinap masuk kembali kedalam hati.
Aku menyadari satu hal lagi, bahwa manusia jantan merupakan kebahagiaan dari Betricania. Tidak ada marah dihatiku, tidak ada benci pula yang muncul setelah menyadarinya, sehingga ini mulai terasa aneh.
"Elly kamu kau ikut."
Ia menyodorkan tangan kepadaku, dengan refleks pula aku meraih tangannya.
Disaat aku bisa jalan sendiri, manusia jantan malah memilih untuk menggendong ku.
"Aku bisa jalan sendiri."
__ADS_1
"Tak apa, jalannya jauh dan berbatu nanti kaki Elly sakit. Saat di festival saja Elly jalan sendiri."
Perasaan apa ini ?, perasaan hangat dan nyaman mulai tercipta dari manusia jantan itu, padahal aku benci, seharusnya aku memberontak, tapi aku malah menerima semua perilakunya dengan suka rela.
Aku tidak bisa menjelaskan kenapa perasaan ku jadi aneh, serta alasan kenapa aku mau digendong olehnya.
Aku juga tidak bisa menjelaskan, bagaimana kronologi tentang aku bisa tidur dipundaknya.
"Dia tidur ?!."
"Iya, sepertinya dia sudah mulai nyaman dengan ku."
Yang penting, aku sudah terbangun didepan pintu gerbang festival.
"Sudah bangun Elly ?."
Didalam waktu mengerjapkan mata, syaraf kepalaku langsung memberontak atas apa yang telah terjadi.
"Aku tertidur ?!, dipangkuan si manusia jantan ini ?!!!."
"Turunkan aku!." Memukul kecil dada Aion.
"Oh oke!."
"Astaga apa yang dilakukan oleh ku tadi ?."
Dengan beban pikiran yang ku buat sendiri, aku berjalan dalam keramaian festival. Tidak ada satu permainan pun yang aku nikmati, kejadian tadi membuatku gila hingg ingin bersembunyi didalam goa.
Walaupun begitu tidak sukanya aku tidur digendongan manusia jantan, bergandengan tangan seperti saat ini membuatku kembali merasakan hal aneh di dada.
"Betric ayo istirahat di kedai itu."
Manusia jantan menunjuk kesuatu arah, aku kesulitan untuk melihat karena tubuh kecil serta banyaknya umat di dalam festival. Tidak ada sepatah kata keluar dari mulut ku, tapi dia sudah langsung mengangkat ku keatas pundaknya.
"Apa yang kau lakukan turunkan aku." Aku memberontak sekuat tenaga. Genggaman tangannya aku akui sangat dahsyat sebagai seorang jantan.
"Elly sepertinya kesusahan melihat, jadi aku angkat agar bisa melihat seluruh festival nya, ditambah banyak orang Elly bisa terluka nanti."
Pergerakan ku berhenti mendadak. "Bagaimana ia tau." Bak penyihir yang bisa membaca pikiran, manusia jantan itu sudah berhasil mengetahui isi kepalaku.
"Sudah sampai."
Ternyata yang ia tunjuk bukanlah sebuah kedai, melainkan kafe cantik dengan banyak menu andalan.
Mataku terbelalak, tak henti melihat kafe indah ini. Manusia jantan, serta Betricania memilih kursi dekat jendela, ketika manusia jantan menurunkan tubuhku kesebuah sofa, aku dapat merasakan betapa lembutnya benda itu.
Aku menikmatinya, hingga makanan pun datang.
Berbagai macam makanan tersaji dihadapan ku, namun sebagian besar makan cocok untuk anak seusia ku. Aku makan tanpa memperdulikan semua opini, tak jarang aku meminta makanan milik Betricania, tak masal aku melakukannya karena dia adalah ibuku.
"Harmonisnya keluarga itu."
Kami sama sekali tidak menyadari sangking asyiknya hari ini. Semua mata orang-orang tertuju kepada kami, sorot mata dengan tatapan kagum atau menginginkan suatu hal, tergambar begitu jelas dari mata mereka yang melihat kami.
Tidak tau mulai dari kapan, mereka mulai menganggap kami sebuah keluarga harmonis.
__ADS_1