Spirit Of Berdine

Spirit Of Berdine
Chapter 12: Love forever


__ADS_3

"Uhuk...bet...ric."


"Aion." Gemetaran.


"La...r...i."


"AKHHHHHHHHH!."


Awalnya kami kira Aion akan aman diujung bagian hutan, yang tidak terkena efek pertarungan Betricania. Kami kira sudah tidak ada manusia jahat lagi disekitar sini!. Kami...kami fikir, kami bertiga sudah bisa pulang.


Tapi...kenapa harus begini.


"Hahaha, apa kau syok melihat dia tiada cantik ?. Kalau kau kesepian kau bisa..."


"Crak!."


"Mati kau, *******ek!."


Jiwa kegelapan memenuhi diri Betricania sekarang, dia tidak bisa membedakan mana kebenaran dengan kebatilan lagi. Semua pandangannya sudah dipenuhinya hasrat membunuh ketika melihat ras manusia telah membuat cinta miliknya mati.


Dibantainya ras manusia itu dengan membabi buta, tanpa ampun, tanpa belas kasihan. Bahkan ia tega membuat kepala ras manusia itu hancur, dengan isi kepala yang berserakan.


"Mati!."


Bola mana tidak terkendali menjadi pemicu Betricania menjadi lebih kuat tak terkendali.


"Mati kalian!."


Nenek ku bilang jiwa 7 legenda bisa membuat Betricania kehilangan jati diri, para 7 legenda bisa membuat Betricania menjadi sisi kelam dirinya. Sisi kelam itu tidak akan bisa dihentikan, baik oleh saudaranya, ibunya, bahkan anaknya.


Dia hanya bisa berhenti kalau mana ditubuh telah terkuras habis semua.


"Mati!."


Ini pertama kalinya aku melihat kegelapan Betricania, mata merah menyala menjadikan dia sebagai sosok monster dunia nyata. Tiada daya selain aku memandangi Aion tergeletak lemas, sudah tanpa detak jantung serta hembusan nafas lagi.


Ya ... dia mati beberapa menit lalu. Akibat ulah manusia jantan gila yang menusuknya dengan bambu runcing pada bagian dada, hingga tembus sampai jantung.


"Hentikan, Betricania."


Seharusnya aku tidak meminta Aion membelikan boneka, seandainya kami bisa pulang sebelum larut pasti kejadian ini tidak akan terulang.


"Mati kalian semua!. BERANINYA KALIAN MEMBUNUH AION KU!!!."


Dibawah langit gelap tanpa rembulan, aku menangis tersedu-sedu, tidak tau sebabnya apa, takut atau sedih yang penting aku menangis dengan sangat pilu.


Boneka kelinciku terlempar jauh dari genggaman ku, dia juga sama dengan yang lain, dia terluka, dia menagis, bahkan bulu birunya telah berubah menjadi merah darah.


"Mati!."


Kalimat bodoh kebencian ku. Kenapa harus keluar dari mulut mu?.

__ADS_1


"Mati!."


"ARGGGGG!."


Mau sampai kapan kau membunuh mereka, sudah cukup teriakan mereka sampai disini saja, aku tidak sanggup.


"TOLONG!!, TOLONG!!."


"Mati!."


"A...ah-ARGHHHH."


Aku mohon Betricania berhenti!."


Manusia jantan semuanya mati ditangan Betricania, tidak tersisa sedikitpun. Dia, dengan keadaan gilanya menghampiri Aion yang sedang sekarat.


"Aion... Aion."


Dia mengangkat kepala Aion keatas pangkuannya, menangis untuk pertama kali bagaikan orang bodoh ditengah hutan.


Aku bisa merasakan dia sedang menggunakan kekuatan sihir untuk memperpanjang kehidupan Aion sekarang. Itu... sangat tidak diperbolehkan!.


"Betric!." Dengan suara samar-samar aku mendekati Aion dan Betricania.


"Elly."


"Betricania. Jangan menagis, aku tidak apa."


"Betricania, kalau sekarang aku mati, aku tidak keberatan." Aion yang gila, ternyata benar kata penyihir kerajaan Berdine, manusia semangkin lama, pikirannya semangkin bodoh saja.


"Hiks!, jangan berbicara begitu!." Betricania pun sama, pikirannya tidak seperti ratu para penyihir Berdine.


Kenapa dia menangis sekencang-kencangnya ?, manusia kan memang punya hidup singkat, seharusnya dia biarkan saja manusia jantan itu mati!.


Tapi kenapa dia tidak rela?


"Betricania kehidupan ku begitu menyenangkan saat kamu datang, mama... untuk pertama kalinya aku mengungkapkan keinginan ku kepada mama, itu semua karena mu. Berjalan dipasang rumput jauh pun itu karena mu. Tertawa bahagia didalam gubuk itu juga karena mu. Aku sangat senang."


"Mungkin walaupun kamu tidak aku rasakan lagi, aku akan tetap mencintaimu sepenuhnya."


Pria jantan itu tersenyum dikala nyawanya diujung tanduk. Aku sempat kesal karena Betricania melepaskan sihir perpanjangan jiwa miliknya kepada Aion, seandainya dia tidak melepaskan Aion pasti selamat sekarang, tapi karena alasan dia sendiri Aion mati didalam pangkuan dan didepan matanya.


.


.


.


Sejak saat itu sang spirit hidup dalam kesepian, menanti, dan terus menanti kehadiran orang mati untuk hidup lagi.


Spirit pencipta ku, jadi emosional setelah Aion mati, kadang ia menagis dikamar mereka berdua, kadang dia tertawa keras memandangi kebun, kadang ia juga marah atau mengumpat kasar saat ada ras manusia lewat dimatanya.

__ADS_1


Waktu berjalan begitu lama, Betricania tetap menunggu Aion dirumah gubuk tua. Entah apa alasannya, Betricania tidak mau pindah dari situ.


"Betricania makan lah."


"Apa Aion sudah makan Elly, siapkan saja dulu nasi untuk Aion ku." Tersenyum.


"Jangan begitu, Aion sudah mati Betricania."


"Hahahaha!." Dia selalu begitu, tertawa gila ketika mendengar Aion mati.


"Aion ku mati?, tidak mungkin!. Aion ku sedang bekerja ditengah kota, dia akan pulang membawakan susu strawberry kesukaan mu" Lalu tiba-tiba dia akan merasa sedih dengan waktu bersamaan.


"Manusia jantan bodoh!. Apa yang kau lakukan kepada Betricania."


Tanpa disadari aku juga ikut sedih menghadapi takdir dari keserakahan, aku sampai tidak sanggup melihat Kiki boneka pemberian dari Aion. Bulu biru miliknya masih terselimuti darah hingga kini, alasannya aku tidak bisa menatap Kiki dalam durasi waktu lama.



Waktu yang terlewat akhirnya membuat Betricania belajar menerima kenyataan.


Dia mulai merelakan Aion, tapi menyimpan sedikit keinginan untuk Aion hidup lagi.


Betricania memendam kesedihannya dengan cara menulis surat. Dia selalu menceritakan apa saja tentang kehidupannya didunia manusia, kepada Aion. Surat ditulis setiap saat itu, tanpa sadar telah menggunung.


Tapi sayang. Surat itu tidak pernah sampai kepada penerimanya.


*


"Betric aku mau menjual sayuran ini dulu kekota, kamu disini saja!, jangan kemana-mana!."


Sebagai pengganti Aion, aku harus bisa bekerja untuk mendapatkan uang, meski tidak seberapa, yang penting aku mendapat uang.


Pekerjaan ku bukanlah hal bagus, aku hanya bekerja sebagai penjual sayuran di pasar tengah kota. Aku beruntung karena pelanggan setiaku adalah teman dekat Aion dulu.


"Hati-hati dijalan Elly."


Kalau Betricania, aku tidak yakin dia bisa bekerja atau tidak. Dengan kondisi mental buruk bukannya membantu takutnya dia nanti membuat orang panik, jadi tidak masalah aku yang bekerja.


Pasar Estor


"Anak kecil kenapa kamu disini?."


"Aku sedang menjaga warung membantu ibuku."


"Baik sekali kamu ini..."


Semua orang yang menjumpai ku menanyakan pertanyaan sama berulang-ulang kali. Aku hanya bisa menjawab begitu, aku tidak bisa mengatasi bahwa tubuhku saja anak kecil tapi umur ku sudah tua jika Dimata para ras manusia.


"Yo!, Elly apa kabar?."


Pria berambut biru diujung sana itu teman Aion. Dia sekarang sedang menuju kios ku, dia punya sebuah kafe diujung jalan karena itu dia membeli sayuran setiap hari dari kios ku.

__ADS_1


Namanya kalau tidak salah... Alexandre, bisa dibilang orang yang baik, namun dia juga salah satu penggombal ulung dipasar, untung saja aku wanita kecil jadi dia tidak akan menggodaku.


__ADS_2