Stargate : Universe

Stargate : Universe
Hand of Usurper


__ADS_3

Kami menderita, sementara mereka bergembira.


Kami menangis, sementara mereka tertawa bergembira.


Kami kehilangan, sementara mereka mendapatkan.


Kami berlari, dan mereka mengejar.


Kami menderita, sementara mereka dipuaskan dengan bakul makan yang tak pernah terhabiskan.


Kami dikubur, dan mereka yang menyediakan peti matinya.


...****************...


“Heh, jadi para bejat ini sudah menghancurkan satu kota, huh ?” gumam Silvia.


Ia terbaring di kasur kamarnya, sambil menggeser-geser tabletnya yang menunjukkan keberhasilan Bulwark dalam menginvasi Arthurians. Bukan Arthurians sebenarnya, melainkan salah satu kotanya, yaitu Pendragon. Semakin lama ia membaca berita baik itu, semakin jijik pula dirinya pada para penjajah dari Bulwark yang disebutkan oleh berita tersebut. Pada akhirnya, ia melemparkan tabletnya ke samping kiri, dan ia kemudian menatap ke atas langit-langit kamarnya.


Kalau aku tinggal di sini, apa itu berarti aku adalah salah satu dari mereka juga ? Para babi-babi rakus itu ?


Lamunannya itu masih terus berlanjut beberapa lama, sebelum akhirnya dibubarkan oleh sebuah suara notifikasi dari tabletnya. Silvia dengan malas menoleh ke arah tabletnya sebentar, sebelum kemudian mengambilnya dan membaca isi dari notifikasi tersebut. Baru membaca beberapa kalimat pembukanya saja, sudah membuat Silvia mendengus kencang karena kesal.


Selamat kepada mechanoid Silvia Ashford, pendaftaran anda masuk ke Akademi Stargazer telah diterima !


Dalam rentang waktu 7 hari mulai dari pesan ini disampaikan kepada anda, anda akan resmi menjadi bagian dari Akademi Stargazer. Perlengkapan sekolah akan segera dikirimkan ke tempat tinggal anda.


Berdasarkan statistik dari tes Mechanoid Basic Skill (MBS), anda telah diklasifikasikan sebagai : Frontline Fighter.


Demikian pengumuman dari kami, Akademi Stargazer, terima kasih.


Kepala sekolah Akademi Stargazer, Lylia Berthoud.


“(Sigh) Siapa juga yang mendaftar, sialan. Benar-benar mengejutkan, penyihir rambut merah itu tidak menyisipkan pesan mutiaranya sedikitpun di sini. Waw.” ucap Silvia pada diri sendiri.


Lagi-lagi, ia menaruh tabletnya di samping kirinya, setelah itu lanjut merenung kembali. Pikirannya dipenuhi oleh berita-berita penjajahan yang dilakukan oleh Bulwark saat ini, hanya itu saja. Silvia mulai berpikir, apa yang sedang dirasakan oleh orang-orang dari dunia itu ?

__ADS_1


Sudah satu minggu lebih ia hanya berdiam di dalam kamarnya, tidur berbaring seperti orang yang sakit kritis di kasurnya. Ia sudah sangat lama tidak melihat keadaan Bulwark sudah seperti apa sekarang. Setelah berguling-guling sesaat di atas kasurnya, Silvia pun akhirnya memutuskan untuk mengambil niat berjalan-jalan keluar dari kamarnya kembali, seperti di hari pertama setelah dirinya dikeluarkan dari Militus. Seperti biasanya, ia berganti baju, mengubah penampilannya, kemudian keluar dari kamarnya hanya untuk disambut oleh kerumunan warga yang berlalu-lalang di depan kamarnya.


Mungkin, aku bakal melihat akademi sialan itu sebentar.


Dan begitulah rencananya kali ini, pergi menuju akademi Stargazer yang bahkan belum dibuka sama sekali. Selama perjalanan menuju ke sana, seperti biasa ia mulai menguping pembicaraan warga-warga di Bulwark secara diam-diam. Ada yang merasa senang dengan keberhasilan Bulwark mengambil alih kota itu, namun ada juga yang ikut merasakan penderitaan para manusia dari dunia lain sana. Silvia tidak mempedulikan empati para warga Bulwark tersebut kepada 'mereka', karena yang ia paling pedulikan saat ini adalah bagaimana caranya ia dapat mengubah orang-orang yang sudah tidak manusiawi itu, termasuk para tentara Bulwark dan Mechanoid-mechanoid nya.


Setibanya di sana, di akademi Stargazer, yang Silvia lihat hanyalah para staf akademi yang sibuk melakukan berbagai persiapan upacara penyambutan. Terlihat sangat menyebalkan bagi Silvia. Baginya, pendidikan itu tidak terlalu penting. Asalkan dia punya kemampuan bertarung di atas rata-rata, baginya itu sudah cukup sebagai seorang mechanoid. Silvia masih memperhatikan kesibukan para staf itu, sampai tiba-tiba, seorang gadis kecil berpakaian ungu khas bangsawan Inggris datang dari belakang dan mencolek dirinya dari belakang. Silvia hampir berteriak kencang dan menghancurkan suasana seperti dulu, namun kali ini ia masih berhasil menguasai dirinya sendiri. Silvia menoleh ke belakang, dan saat dilihat, gadis itu tidak jauh berbeda dari gadis-gadis berumur 7 tahunan seperti biasanya, hanya saja yang ini terlihat agak sedikit berbeda, atau terlihat sedikit menyebalkan lebih tepatnya.


“Bocah, kamu siapa ?” tanya Silvia, dengan nada ramah namun juga dengan campuran kekesalan yang dipendam dengan sangat dalam dan tersembunyi.


Gadis itu hanya menatap matanya dengan wajah polos, dan kemudian mulai menutup sebagian dari wajahnya dengan topi fedora berwarna ungu mencokoknya. Gadis itu mendengus, sambil berpose aneh ala anime.


“Kamu tidak mengenalku, anak muda ??”


Apa-apaan dengan bocah yang kesasar dan lancang ini ?


Silvia sudah menduga hal ini akan terjadi. Gadis kecil dengan pakaiannya yang aneh dan menjijikkan di matanya benar-benar sosok yang sangat menyebalkan dan juga di atas rata-rata tingkat kewarasan manusia.


“Hmph, seolah semua orang di sini mau mengenal bocah autis sepertimu.”


“Kamu beraninya memanggilku dengan sebutan autis, Silvia Ashford !? Aku ini Lylia Berthoud, sang kepala sekolah dari akademi ini, tahu !!”


Apa-apaan ini !? Dia tahu namaku dengan jelas, dan bocah bajingan ini juga kepala sekolah di sini !!? Dunia pastinya sedang diserang oleh anomali !!!


“Sudah kuduga, kamu akan terkejut, kan, bocah ? Lebih baik kembali ke kamarmu, atau pendaftaran mu itu akan dibatalkan sekarang juga. Lagipula, aku yang paling berkuasa di akademi ini, mengerti ??”


Bocah 7 tahun sialan. Kalau bukan karena si penyihir merah itu yang selalu menghantuiku, aku pastinya sudah mukul kepala bocah otaku ini sejak tadi, bangsat !!


“Cih, baiklah.”


Dengan sangat terpaksa, Silvia pun meninggalkan Lylia sambil menggerutu sepanjang perjalanannya kembali pulang ke kamarnya. Lagi-lagi, Silvia melewati kerumunan warga yang membicarakan tentang penjajahan Pendragon itu. Kebanyakan dari mereka melihat ke atas, menonton televisi yang menampilkan keadaan lingkungan di sana. Tentu saja bukan kota Pendragon yang telah hangus terbakar, namun alam hijau dan penuh warna di sekitarnya. Benar-benar terlihat sangat indah, dan Silvia sulit untuk membayangkan apa jadinya jika pemandangan itu akan hancur semuanya akibat penjajahan Bulwark. Akankah itu akan pulih kembali ? Atau tetap akan musnah berkat tangan-tangan Bulwark yang merampas segalanya yang dimiliki oleh dunia magis itu ?


Jadi mereka sampai mengirimkan drone-drone ke sana ? Niat sekali mereka menjajah dunia itu.


Melupakan tentang siaran berita Bulwark itu, Silvia lanjut berjalan pulang kembali ke kamarnya. Beberapa saat telah berlalu, dan begitu matanya dapat melihat pintu kamarnya dari kejauhan, ia juga melihat seorang pria yang familiar sedang bersandar di tembok tidak jauh dari pintu kamarnya itu. Dirinya dipenuhi oleh kekesalan seketika, dan Silvia pun berjalan melewati pria itu sambil berpura-pura tidak mengenalinya sama sekali. Tangannya baru saja mau membuka pintu, dan pria itu langsung mengganggunya dengan berbicara kepadanya.

__ADS_1


“Aku kasihan denganmu, Silvia. Harus berganti tampilan setiap kali keluar kamarnya.”


“Tidak usah pedulikan aku. Kamu sudah bukan guruku lagi, bukan ?”


Keheningan menggantung di antara mereka sejenak, sebelum akhirnya dipecahkan oleh helaan nafas Silvia sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya. Tidak ada jawaban atau ucapan lainnya yang terdengar dari mulut Tamashi, membuat Silvia akhirnya berhenti di ambang-ambang pintu sebentar.


“Kamu ikut dalam penghancuran kota itu, bukan ? Kalian benar-benar lebih layak disebut anjing daripada manusia.”


Dan pintu kamar pun ditutup dengan keras. Pikiran Tamashi langsung terngiang-ngiang oleh perkataan Silvia barusan. Hatinya memang sakit, tapi memang benar apa yang dikatakannya. Tamashi dapat merasakan kesengsaraan para manusia yang ada di dunia lain itu, dan semua penderitaan mereka, diakibatkan tidak lain oleh dirinya sendiri.


Tamashi kemudian berjalan meninggalkan kamar muridnya. Mungkin sudah saatnya bagi mereka berdua, untuk berpisah. Entah sampai kapan.


...****************...


Kerajaan Long Zhen, Arthurians timur.


“Inspektur Gong Jing, aku dengar kota Pendragon hancur lebur karena dijajah oleh sesuatu. Apa itu benar ?”


Pria tua berjanggut abu-abu panjang itu mengangguk setuju, sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia membungkuk memberi hormat, kemudian menoleh ke arah tiga orang tetua yang lainnya. Pria tua bernama Gong Jing itu saat ini sedang berada di dalam sebuah ruang pertemuan istana, dengan temboknya berwarna serba merah dan beberapa segel kuning ditempelkan di temboknya.


“Benar tuan, sungguh sebuah berita mengerikan di zaman yang sangat damai dan tenteram ini. Ada beberapa kabar burung juga bahwa lawan yang mereka lawan bukanlah manusia, melainkan ribuan benda terbang raksasa yang menembakkan sihir peledak !!”


“Demi Dewa Agung Huang Di di atas Tiang Zu !! Kenapa kita tidak memberikan satu pertolongan apapun kepada aliansi kita itu sejak dulu !!? Apa yang kita lakukan dengan duduk berdiam diri di singgasana ini sementara mereka semua tengah menderita !!? Gong Jing, sudah berapa lama kabar buruk itu sampai di sini !!?” ucap pria tua yang ada di samping kiri.


“Tenanglah, Deng Mao !! Kita juga punya masalah besar di tanah air kita ini !! Bagaimana dengan serangan dari si brengsek Guan Yu itu, Gong Jing !!? ucap seorang pria tua lainnya yang ada di sebelah kanan Deng Mao.


Keempat tetua itu saling berdebat hingga suara mereka memenuhi seluruh ruangan yang luas itu. Saking sengitnya perdebatan mereka, sampai-sampai Gong Jing tidak dapat mengikuti topik perbincangan mereka, dan akhirnya hanya bisa diam saja. Bahkan jika ia ikut campur untuk menenangkan mereka, yang ia akan dapatkan hanyalah sebutan tidak sopan yang dikatakan dengan keras oleh mereka berempat.


Tiba-tiba, seorang prajurit berbaju armor berwarna biru laut dengan corak naga dimana-mana datang dan membuka pintu ruang pertemuan tersebut dengan keras. Seluruh perhatian kelimanya langsung menatap prajurit berbaju armor biru itu dengan tajam. Sempat ada sebuah kata-kata kasar yang akan dilontarkan oleh keempat tetua itu, namun mereka seketika sadar bahwa orang itu membawa sebuah berita buruk bersama dengannya.


“Bicaralah, Zhang Fei !!” ucap Cheng Yuanzhi, seorang tetua yang duduk di paling kiri.


Pria bernama Zhang Fei tersebut kemudian maju beberapa langkah, setelah itu memberi hormat kepada keempat tetua. Mereka terlihat sangat gugup, panik, dan merasa tidak sabar untuk mendengar kabar buruk yang tidak diketahui itu. Setelah hening beberapa saat, Zhang Fei pun membuka mulutnya.


“Hormat kepada keempat tetua. Sang penjajah yang menghancurkan kota Pendragon itu, mereka datang ke sini !!”

__ADS_1


__ADS_2